I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 80


Pagi yang cerah, tentunya memberi suasana hati yang ceria bagi beberapa orang, dan tentu saja tidak dengan Alyan yang saking kesalnya, ia tidak bisa tidur dan pada akhirnya begadang semalaman.


Melihat matahari yang sudah muncul, Alyan turun dari ranjangnya, melihat jam dinding yang menunjukkan tepat pukul delapan pagi.


Alyan menuruni tangga, melihat ayahnya dan Melviona yang baru saja duduk di kursi meja makan.


"Alyan? Ada apa denganmu? Apa tidurmu nyenyak?" Tanya Alfian saat melihat kondisi putranya yang sungguh mengenaskan.


"Hm? Oh, aku tidak apa-apa" jawabnya lesu.


"Kau tampak lesu. Lihat, apa tadi kau sudah bercermin? Kau seperti siluman panda"


"ha..? Aku tidak apa-apa, sungguh"


"Haissh... Apa kemarin dia begadang semalaman untuk bekerja?" Tanya Alfian dalam hati.


"Jangan paksakan dirimu"


"Hm..." Alyan memakan makanannya.


Saat aktivitas makan sedang berlangsung, Alfian kembali buka bicara "ah ya, kemarin sukses besar ya, Melviona"


"Ya, saya juga tidak menyangka penjualannya begitu meningkat"


"Jadi bagaimana? Apa parfumnya kembali diproduksi?"


"ya, tapi hanya lima jenis"


"Begitu ya..." Alfian mengangguk seakan tau apa maksud Melviona.


"Bagaimana dengan hari ini?"


"Hari ini? Tentu saja saya akan kembali bekerja"


"Hahaha, maksudku bukan itu, uhmm apa kamu akan pergi ke suatu tempat pagi ini? Aku dengar dari Stevan pagi ini kamu ada pertemuan di sebuah cafe ya"


"Ah, ya benar saya hampir lupa, trimakasih telah mengingatkan"


"Bagaimana kalau Alyan ikut bersamamu?"


"Hm?"


"Dia harus belajar bagaimana caranya bertemu dengan calon rekan bisnis, apa kamu tidak kebe_"


"aku mau" jawab Alyan semangat.


"Ohoho, lihat sipanda ini, dia begitu bersemangat" Alfian menggeleng kecil "dia begitu bersemangat belajar cara bertemu rekan bisnis, sekarang aku yakin, kemarin dia begadang semalaman untuk bekerja. Sungguh keturunan ku" pikir Alfian bangga.


"Yeah! Aku akan bersama Viona seharian~" pikir Alyan.


🌺🌺🌺🌺🌺


Mobil melaju dengan kecepatan standar, dan ditengah-tengah keramaian pagi, Alyan begitu menikmati perjalanannya bersama Melviona.


Setibanya di cafe, Alyan memutuskan untuk diam agar tidak menganggu pekerjaan Melviona.


Cukup lama Melviona berbincang dengan pria dewasa dihadapannya, hingga saat pria dewasa itu mulai berbicara tentang hal yang membuat Alyan kesal.


"Ngomong-ngomong, saya sudah membeli setiap parfum buatan anda loh"


"Benarkah? Wah... Saya jadi tidak enak"


"Haha, tidak perlu begitu. Parfum anda sungguh bagus, istri dan anak saya begitu menyukainya"


"oh, baguslah kalau begitu"


"Uhmm, perihal soal parfum yang sudah saya beli... Saya tidak menemukan parfum yang beraroma sama dengan nona, bahkan sepertinya tidak dengan Romantic Perfume"


"Ya?"


"Saya mencari-cari aroma yang sama dengan yang nona pakai, tapi sepertinya tidak ada yang mirip"


"Maaf, tapi...saya tidak suka bila paman satu ini berusaha mencoba menggoda teman saya" Sela Alyan, membuat Melviona, Stevan bahkan pria itu terkejut juga canggung, berbeda dengan Alyan yang berbicara begitu percaya diri.


"ah itu, saya hanya_"


"saya tau teman saya ini selain berbakat dia juga cantik, tapi tolong jangan sekali-kali mendekati teman saya, karna dia sudah punya kekasih"


"kekasih? apakah itu benar, nona?" tanya pria itu.


"eh, tidak itu_"


"melihat ekspresi anda yang begitu terkejut mendengar teman saya ini punya kekasih, membuat saya begitu yakin bahwa anda punya maksud lain selain dari pekerjaan ya, tapi saya tegaskan satu hal. Saya bisa saja langsung memutuskan kontrak pekerjaan ini kalau anda bersikap kelewatan lagi"


"Alyan, kamu..." Melviona merasa sangat bingung dengan sikap Alyan, begitu juga dengan Stevan yang tidak tau bagaimana cara mendiamkan tuan mudanya itu "di suruh diam pasti marah, diajak keluar pasti marah, di marahi balik sudah pasti aku dipecat" Stevan terperangkap dalam dilemanya sendiri.


Alyan yang melipat tangannya didepan dada, menatap pria itu dengan dingin dan sinis, sementara pria itu hanya dapat berpaling dari tatapan itu.


"ti-tiba-tiba saya teringat ibu saya" pria itu berdiri dari duduknya, begitu juga dengan Stevan dan Melviona.


"maaf nona, ibu saya sedang sakit keras, saya harus menjenguk nya dikampung"


"baiklah, semoga beliau cepat sembuh, maaf untuk kejadian hari ini"


"ti-tidak apa-apa, kalau begitu saya permisi dulu" dengan langkah cepat pria itu keluar dari cafe.


"huh, dasar om-om mesum, manusia tipe itu memang tidak boleh dibiarkan" Alyan mendengus kesal.


"Alyan, kamu membuatnya takut" Melviona menegur Alyan.


"dia pantas mendapatkan nya" tanpa rasa bersalah karna telah mengacaukan pertemuan Melviona, Alyan berjalan duluan memasuki mobil.


"dasar anak ini, kenapa kau tidak menyuruhnya diam Stevan?"


"maaf nona, tapi saya bukan sekertaris Ian" Stevan mengangkat bahunya dan juga berjalan memasuki mobil.


Melihat dua orang yang terlalu acuh, Melviona memutuskan untuk menenangkan diri. Melviona berjalan kearah mobil, didalamnya dua orang itu sudah siap diposisi semula saat berangkat pagi tadi.


Melviona membuka pintu mobil bagian belakang, dan duduk berdampingan dengan Alyan, melihat Alyan yang sepertinya masih kesal dengan pria itu, Melviona hanya dapat menghembuskan nafas panjang.


Diperjalanan menuju perusahaan, Alyan sempat menguap beberapa kali, sepertinya efek dari begadang semalaman timbul.


"tuan muda bisa pulang duluan, hari ini nona cuma punya pertemuan sekali, dan itu pertemuan tadi" Stevan menyarankan.


"aku belum meminta saranmu, jadi diam saja" balas Alyan dingin.


"haha, saya cuma ingin_"


"tutup mulutmu" lagi-lagi Alyan menjawab dengan dingin.


Sesampainya di perusahaan, Melviona memasuki ruangannya diikuti Alyan dan Stevan.


Saat memasuki ruangan, lagi-lagi Alyan menguap "kamu bisa pulang kalau mau, sepertinya aku akan lama berada di perusahaan" ucap Melviona.


"hm? baguslah kalau begitu" jawabnya.


"...?" Melviona dan Stevan menatap Alyan penuh kebingungan.


"aku bisa tidur disini lebih lama" Alyan berbaring di sofa dan tidur disana.


"haissh, tuan muda ini, padahal kasur dirumahnya jauh lebih nyaman dan luas, tapi kenapa dia mau tidur disini? tuan muda memang tidak pernah ku mengerti" gumam Stevan.


"kau bisa kerjakan urusanmu Stevan, aku akan memanggilmu bila perlu sesuatu"


"baik, saya permisi dulu" setelah mengangguk sekali Stevan pergi keluar.


Alyan tertidur cukup lama, dan waktu menunjukkan jam makan siang.


Baru saja Melviona ingin menelpon Stevan, pria itu sudah berada didepan pintu bersama Alfian dan Mei Yin.