I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 16


"coba sentuh keningku" ucap nya.


baru sebentar Melviona menyentuh kening Alyan, ia langsung melepas tangannya. "panas, tuan muda demam?"


"hm" jawab Alyan singkat. 


"bisa gawat kalau Presdir tau dia demam, gaji harian ku bakal di potong habis 😱" pikir Melviona kemudian berdiri dari tempat nya. 


"mau kemana?" tanya Alyan yang sudah menggenggam tangan Melviona. 


"eh, saya mau membeli obat demam" 


"tidak perlu, aku hanya butuh tidur sebentar" ucap Alyan, menarik tangan Melviona membuat Melviona kembali duduk di pinggir ranjang nya. "apa kamu tahu, semalam aku tidak bisa tidur" lanjut nya yang kini sudah berbaring di ranjangnya. 


"kenapa?"


"bukan apa-apa, aku hanya kepikiran sesuatu, hoaaam...aku mengantuk" 


"eh, bagaimana dengan sarapan pagi tuan?"


"aku nggak mau sarapan aku mau tidur, nggak liat apa ini mata panda!"


"kalau nggak mau sarapan, setidaknya minum obat"


Alyan tidak menjawab ia malah menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebalnya dan memunggungi Melviona. 


"tuan, kalau tuan tidak minum obat, saya bisa dapat masalah loh" 


"bodo amat!"


"uukh..." Melviona yg merasa kesal berdiri dan keluar dari sana. 


🌺🌺🌺🌺🌺


"man, Manda? Manda!" panggil Morsy. 


"eh, ah apa?" tanya Manda. 


"lagi mikirin Alyan?"


"kok tau?"


"tidak, soalnya kamu ngelamun nya lama, jadi aku pikir kamu lagi mikirin Alyan"


"hahhh, itu semua gara gara kamu tau!"


"aku?"


"iya, masa di tengah perjalanan kamu langsung putar mobil dan malah ke sini"


"kenapa? memang nya rumah aku nggak bagus ya?"


"nggak"


"hahaha, sadis banget, tapi...aku benar-benar nggak ada maksud lain,  saat melihat bahan bakar yang tidak mencukupi sampai di villa Alyan aku jadi mencari tempat yang mungkin masih bisa kita tempati. lagian villa Alyan ada di tempat terpencil sih, jadi nggak ada yang jual bahan bakar mobil, umh... kecuali kalau kemarin kamu mau dorong mobil, mungkin pukul 2 pagi kita bisa sampai di sana itu pun kalau tidak ada hewan buas atau para begal kalau ada mung..."


"cukup! alasan kamu kebanyakan, aku tau kamu suka aku dan aku sudah dua kali menolak pernyataan cinta darimu, tapi nggak gini juga kan, kamu berusaha membuat ku buruk di mata Alyan! kalau memang bahan bakar mobil nggak cukup, kok baru di putar balik pas di tengah jalan, kenapa tidak di cek saat kita mau pulang dari rumah sakit?!!"


BRAK! 


Morsy memukul meja yang ada di depannya dan menatap tajam Manda. 


"apa?!" tanya Manda sombong dan sedikit ketakutan. 


Morsy memalingkan wajahnya dan menghembuskan nafasnya kasar. 


"ok, sekarang aku anterin kamu ke villa Alyan" ucap Morsy berjalan ke garasi mobil. 


sesampainya di villa Alyan, Manda melihat Melviona sedang menjemur spray. 


"Alyan mana?" tanya Manda yg kini berdiri di belakang Melviona. 


"kenapa?" tanya Melviona balik. 


"banyak tanya lagi"


"Tidak kok, kayaknya baru satu"


Manda merasa kesal, ia mendekati jemuran dan menjatuhkan semua spray di tanah kemudian langsung berjalan cepat ke dalam villa. 


"Tenang saja, aku akan menyuruh Olivia untuk mencucinya kembali" ucap Morsy berjalan ke arah Melviona. 


Melviona cuma dapat terdiam dan kembali mengambil spray kemudian memasukkan nya ke dalam keranjang kain dan pergi ke dalam villa. 


"Olivia~"panggil Melviona dari dalam tempat pencucian kain. 


"Iya nona, ada yg bisa aku lakukan?"


"Tolong cuci kembali spray ini"


"Haaah...maaf seperti nya aku membuat Nn.Manda kesal"


"Oh"


"Kamu tidak marah?"


"Walaupun marah, apa yang bisa kami lakukan? Dia adalah nona muda dari keluarga kaya, juga teman masa kecil tuan muda Alyan"


"Teman masa kecil? Begitu ya..."


"Bahkan rumor nya sejak lahir ibunya tuan muda dan ibunya nona Manda sudah menjodohkan anak mereka dan berjanji untuk menikah kan mereka bila mereka sudah dewasa nantinya, sayang nya saat kelas 3 SD, ibunya tuan muda Alyan meninggal dunia"


"Kenapa?"


"Kata nya sih nyonya besar mengidap penyakit kanker rahim dan tumor di bagian dadanya"


"Mengerikan"


"Iya kan, kematian nyonya besar membuat tuan muda menjadi anak yang cenderung suka menyendiri di kegelapan kamar nya, dan juga tidak mau sekolah maupun bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, tapi untungnya itu tidak berlangsung lama, entah kenapa suatu hari ia jadi sering keluar diam diam, dan baru kembali dengan pakaian kotor di sore hari"


"A-apa dia di buly?!"


"Tidak, bukan itu setiap kali dia kembali, dia pasti pulang dengan perasaan gembira,"


"Gembira? Memang nya dia pergi ke mana?"


"Hmmm, saat pengasuh tuan muda bertanya pada tuan muda sih, tuan muda cuma bilang dia menyukai seorang gadis manis, lucu bukan, padahal baru anak kecil, hahaha tuan muda memang menggemaskan ya waktu kecil"


"Gadis kecil itu siapa?"


"Siapa lagi kalau bukan Nn.Manda? Walau pun tuan merahasiakan identitas gadis itu, tapi kami tetap tau kok, soalnya tuan muda sangat perhatian pada nona semenjak hari itu"


"Begitu ya... tapi kok jadi ngegosip?"


"Ya?"


"Bukan nya kita sedang membicarakan soal spray kotor ini?"


"Eh, iya ya, maaf, aku sudah bicara hal yg..."


"Sudah lah, cerita nya juga lumayan seru kok, hmmm kalo gitu aku pergi dulu ya"


"Baik"


🌺🌺🌺🌺🌺


Tok tok tok...


"Alyan? Apa kamu masih tidur? Aku masuk ya.." ucap Manda, kemudian membukakan pintu perlahan dan masuk ke dalam, namun saat Manda mendekati Alyan, ia melihat Alyan menggigil seperti orang kedinginan di balik selimut tebal. "Alyan, apa kamu sakit" lanjut nya, sambil mencoba merasakan panas di kening Alyan dengan telapak tangan nya. Tanpa pikir panjang, Manda langsung mengambil air dingin yg di campur es ke dalam baskom dan langsung mengompres kening Alyan. 


"Uuukh.... Manda..." Lirih Alyan dengan setengah sadar. "apa itu kamu...?"


"Wajah mu pucat, bibir mu mengering, dan kamu keringat dingin, apa kamu demam? Dimana perawat barumu? Apa dia tau kamu sakit?" Tanya Manda dengan nada kesal. 


Alyan hanya mengangguk pelan, pertanda bahwa Melviona juga tau kalau dia sakit. 


"Dia tau? Lalu dia kemana ninggalin kamu? Tadi aku lihat dia sedang asik bersenang senang dengan para pelayan sambil minum teh, kurang ajar banget sih dia" lanjut Manda. 


Alyan dengan pelan mengangkat tangan kanannya dan menunjuk ke arah laci meja kamar nya " obat...disana...."


"Obat? Memang nya dia belum kasih kamu minum obat juga?" 


Alyan hanya dapat menggeleng kan kepalanya pertanda tidak. 


"Iiih ...! Cewek itu benar benar mau kamu mati ya" ucap Manda sambil mengambil kotak obat di laci meja kamar Alyan. "Udah makan belum?"


Lagi lagi Alyan menggeleng kan kepalanya. 


"Belum?! Bagaimana bisa minum obat kalau nggak makan?! Aku akan menyiapkan bubur untuk mu" lanjut Manda, bergegas ke dapur. 


Di depan pintu dapur, Manda dan Melviona saling berpapasan. 


"Itu untuk siapa?" Tanya Manda saat melihat semangkuk bubur di atas talam yg di bawa Melviona. 


"Tuan Alyan" jawab Melviona datar. 


"Heh, baru ingat punya pasien, dasar cewek nggak tau diri! Kamu tau kan tugas mu apa di sini kata Presdir?!"


"Saya tau jelas kok"


"Lalu kamu kenapa ngebiarin Alyan yg sedang sakit sendirian! Bahkan dia belum di beri obat atau sarapan!"


"Ini baru saya bawa"


Manda kembali berulah, ia dengan marah melempar bubur yg di buat Melviona ke lantai, membuat mangkuknya ikut pecah berkeping-keping di lantai.