
melihat sikap mu yg sangat mencintai Alyan, membuat ku jadi teringat masa muda" ayah Alyan mulai mengenang masa masa cinta monyet nya.
"Haissh, andai waktu bisa kembali, aku ingin menikmati masa muda ku sebaik baiknya"
"Hahaha, setiap orang memang slalu menginginkan hal yg mustahil" ayah Sury menambahkan.
"Jadi bagaimana? Saya ingin tanggal pertunangan nya di tentukan hari ini" seorang wanita elegan buka bicara, seperti nya ia ibu dari Sury.
Ayah Alyan termenung sejenak, lalu kembali berbicara "soal itu, sebaiknya kita bertanya dulu pada mereka, aku tidak ingin ada ketidak nyamanan dalam segala tindakan kita para orang tua"
"Ayah aku..." Baru saja Alyan mau menyampaikan isi hatinya, Sury menyela.
"Om, kalau bisa aku sama kak Alyan mau acara nya Minggu depan"
"Hah?!" Alyan terkejut tak percaya akan ucapan Sury yg sungguh tak masuk akal di fikirkan nya. Ia menatap Sury dengan tatapan horor, namun Sury yg seperti nya tau bahwa Alyan yg tak menyukai dirinya, hanya dapat mengalihkan pandangannya ke arah ayah Alyan sambil tertawa kecil.
"apa itu tidak terlalu cepat?" Ayah Alyan balik bertanya.
"Tidak, aku dan kak Alyan sudah membicarakan hal ini sejak lama, rasanya waktu terlalu lama mengulur perasaan kami"
"Bagaimana dengan mu, Alyan?"
BRAK!
Alyan berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan meja makan.
"Maaf, seperti nya ada kesalahpahaman di sini" ayah Alyan berusaha menenangkan suasana.
Cukup lama suasana hening itu berlangsung, hingga Melviona selesai memakan makanan nya.
"Saya ke toilet sebentar" Melviona meminta izin dan hanya di jawab anggukan pelan oleh Ayah Alyan.
Saat memasuki toilet, langkah Melviona langsung terhenti, ia melihat Alyan yg tengah berdiri di depan kaca toilet itu dengan air kran wastafel yg terus mengalir.
"Ngapain di sini?" Melviona mematikan kran air.
Alyan tak menjawab, ia hanya menoleh dan menatap Melviona tanpa suara.
Tatapan nya cukup datar, Melviona yg membalas tatapan itu, melihat mata yg memerah dan wajah yg di basahi air. Hampir satu menit Alyan menatap Melviona, hingga membuat Melviona tak nyaman dengan tatapan lekat itu.
"Santai aja gih, lihat nya" Melviona mengalihkan pandangannya ke kaca sambil mengucak-ngucak matanya yg sedikit terasa perih.
Namun Melviona Sadar saat melihat pantulan di kaca, ia melihat Alyan masih menatap dirinya, Melviona pun merasa gelisah akan hal itu, ia memutuskan untuk memasuki salah satu toilet yg ada di sana.
Baru saja Melviona ingin berbalik ke arah toilet, Alyan langsung menarik lengan nya, membuat Melviona hampir kehilangan keseimbangan.
"Katakan, apa yang kurang dariku" Alyan bertanya dengan suara dingin, kini tatapan nya mulai sedingin suaranya.
"A-apanya?" Tanya Melviona balik, kini ia benar benar merasa gelisah, sedikit rasa takut mulai muncul dalam hati nya. Apa yg akan pria ini lakukan dengan nya? Saat ini ia merasa dirinya terancam.
"Katakan!" Alyan mulai meninggikan suaranya "katakan apa yang kurang dariku?! Apa aku kurang baik! Apa aku kurang pintar?! Katakan!! Aku akan berusaha mengubah nya, katakan!!!" Suara Alyan mulai menggema di ruangan itu. Apa yg salah dengan nya? Hingga ia membuat Melviona merasa bingung juga takut.
Melviona hanya terdiam dengan hati yang masih terkejut, ia mendorong Alyan, membuat genggaman Alyan terlepas dari nya.
Ia segera berlari keluar dari dalam sana, ia kembali ke ruang makan dan mengambil tasnya.
"Kamu mau kemana?" Ayah Alyan bertanya.
"Saya mau pulang tuan, tiba-tiba ada telepon darurat dari rumah sakit" Melviona berbohong.
"Kalau begitu aku akan menyuruh sopir ku untuk mengantar mu"
"Ada apa dengan nya?" Ayah Sury bertanya.
"Adiknya mengalami koma, mungkin adik nya kembali siuman" ayah Alyan menghela nafasnya lalu tersenyum kecil "dia sungguh anak yang baik hati, dulu dan sekarang ia tetap mempertahankan sikap nya"
"Dulu?"
"Ya, dulu dia adalah anak perempuan yg berhasil membuat Alyan berhenti menangisi kepergian ibunya"
"Aku dengar, negara asal wanita itu Indonesia, apa Alyan pernah datang ke Indonesia?" Sury bertanya.
"jangan kan ke Indonesia, Alyan bahkan pernah seperti seorang penjelajah, tapi..." Ayah Alyan berhenti bicara saat melihat Alyan kembali.
"Kakak dari mana saja?"
Alyan tak menjawab, ia hanya mengambil ponselnya yang ia tinggalkan di atas meja dan kembali pergi.
Dan di sisi lain, Melviona yg telah sampai di RS, langsung memarkir kan mobil nya di parkiran mobil.
Ia dengan gontai, berjalan pelan menuju ruangan Kristian, ia membuka pintu dengan napas tak beraturan.
Sejenak ia memikirkan sikap Alyan terhadap nya, namun semakin memikirkan hal itu, ia semakin tak mengerti, yg bisa ia lakukan sekarang ialah menenangkan pikirannya dan segera tidur.
Ia menoleh ke arah Kristian yg keadaannya masih sama seperti saat ia tinggalkan tadi.
ia menghampiri adik nya perlahan, dan duduk di kursi yg sengaja ia taruh di samping ranjang Kristian.
"Kapan kamu bangun?" Melviona bertanya pada Kristian yg dalam keadaan koma, ia tau bahwa Kristian tidak akan menjawabnya, namun ia tetap saja bertanya dan berbicara pada Kristian, berharap suatu saat adiknya itu akan menjawab dirinya. "Kapan kamu bangun?, Kakak mau cepat cepat pulang.... bi Ami pasti kangen sama kamu, kamu mau teman teman mu jerawat batu hanya karena merindukan mu?"
"Kakak juga rindu, kakak kangen...." Tiba-tiba buliran air mata jatuh dari matanya, membasahi pipinya dan lalu menetes di atas ranjang Kristian. Cukup lama Melviona menangis dalam diam nya, hingga ia merasa lelah dan mengantuk, ia pun menyeka air matanya dan berdiri dari duduknya, ia bermaksud untuk bersiap siap tidur di ranjang nya.
Betapa terkejutnya Melviona saat ia berbalik dan mendapati pintu ruangan terbuka lebar, pikiran nya mulai kembali berputar, dan ia dengan jelas mengingat bahwa terakhir kali ia masuk, ia telah menutup pintu, meskipun ia juga ingat bahwa ia tidak menguncinya.
Melviona berjalan ke arah pintu, dan segera menutup nya.
Namun Melviona kembali dikejutkan dengan adanya Alyan di atas ranjang nya.
Siapa pun tau, dengan bau alkohol yg menyengat di tubuh pria itu, menandakan bahwa ia telah mabuk.
Dengan sedikit guncangan pelan, Melviona berusaha membangun kan Alyan.
Namun, berbeda dengan yang di harapkan, Alyan malah berbalik memunggungi Melviona.
Apa yg dilakukan pria ini disini? Mengapa tujuan nya setelah mabuk disini, bukan di villa atau rumah sahabatnya? Sebenarnya apa yang membuat pria ini mabuk hingga bau alkohol di badannya sungguh menyengat?
Banyak pertanyaan yg tak terjawab kan dalam benak Melviona, hingga Melviona kembali disadar kan dari lamunannya saat Alyan tiba-tiba terisak.
Lagi lagi Melviona di buat bingung, ia berjalan ke sisi lain ranjang dan melihat Alyan menitikkan air mata.
"Hei, Alyan? Alyan, apa kamu baik baik saja?" Sedikit kekhawatiran muncul dalam hati nya, bagaimana bisa seorang pria dewasa menangis?!
"Alyan? Hei, bangun" berulang ulang Melviona berusaha menyadarkan Alyan.
"Ibu..." Tiba-tiba Alyan menyebut ibunya dalam tangis. "ibu...Alyan minta maaf Bu...Alyan yg salah...." Alyan menyalahkan dirinya dalam mimpi nya.
"Alyan janji bakal jadi anak baik, jangan tinggalkan Alyan Bu..." Lagi lagi Alyan mengingau. Cukup manis ia bicara begitu, namun hati Melviona tergerak, ia merasa kasihan mendengar hal itu. Entah apa yg terjadi pada masa lalu pria itu, atau kah, itu hanya mimpi dimana ia bertemu dengan alm.ibunya.
Dengan lembut, Melviona yg kini tengah duduk di pinggir ranjang, mengelus rambut lebat Alyan.
Ia termenung sambil menenangkan Alyan yg masih terisak. Bohong bila ia mengatakan wajah Alyan bukan tipe nya, namun sifat kekanak-kanakan Alyan membuat Melviona terkadang menganggap Alyan sebagai Kristian, terlebih lagi saat ini Kristian sedang berada dalam dunianya sendiri, entah itu dunia yg bagaikan lorong gelap tak berujung, atau dunia yg sungguh indah sehingga membuat nya lupa akan dunia nyata.