
Akhir pekan yg di tunggu tunggu pun tiba, Melviona berencana untuk tidur seharian, namun beberapa saat dia berbaring di atas ranjang nya, ia tak dapat masuk ke alam mimpi.
Ia pun memutuskan untuk membaca, namun kali ini ia sungguh merasa bosan untuk membolak-balik halaman buku yg sudah ia ketahui isinya.
Cukup lama Melviona duduk di sofa sambil menatap langit langit ruangan dengan mulut menganga.
Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari zona nya.
Saat ia keluar dari ruangan Kristian, tatapan nya menoleh ke arah pintu ruangan istri dr.chris, dimana Delvin masih mengurung diri di sana. Awalnya Melviona ingin mengajak Delvin keluar bersama nya, namun mengingat Delvin yg masih berduka hingga kini, rasanya cukup kaku bila sedang bermain di luar.
Melviona berjalan kaki menuju tempat yg cocok untuk di jadikan nya sebagai tempat refreshing, dan akhirnya, 30 menit berjalan pelan, ia sampai di pinggiran danau yang tenang.
Ia berteduh di salah satu pohon di pinggir danau, sambil merasakan angin sepoi-sepoi yg menarik nya ke dalam mimpi.
Akhirnya Melviona tertidur dipinggir danau di bawah pohon yg rindang. Berjalan cukup lama membuat nya lelah, di tambah lagi cuaca yang tak begitu terik, bercampur dengan angin yg sejuk, membuat nya larut akan dunia nya.
Hingga hampir dua jam, akhirnya Melviona terbangun saat merasakan pegal di pangkuan nya.
"Delvin?" Melviona tak habis pikir saat melihat Delvin kini sedang tertidur di pangkuan nya dengan lengan kirinya yang menutupi matanya.
Melviona berusaha mengondisikan pandangan nya yg masih sensitif akan sinar matahari, dan kembali memandangi Delvin yg masih dengan keadaan tenang di tempat.
Drrrrt....
Ponsel Delvin bergetar di saku celana nya, membuat nya segera terbangun dan mendapati Melviona yg tengah menatap nya dengan sejuta tanda tanya.
Ia mengambil ponselnya, dan ternyata panggilan masuk dari ayahnya. Tanpa pikir panjang, Delvin langsung menolak panggilan itu.
"Siapa?" Melviona mulai bertanya.
"Ayahku" jawab nya singkat.
"Kenapa di tolak?"
"Karna aku udah punya kamu"
"Hah?"
Delvin hanya tersenyum kecil "kamu tau apa yg paling aku benci?"
"Apa?"
"Pertanyaan, tapi entah mengapa rasanya nyaman bila kamu bertanya pada ku, aku seperti di khawatir kan" Delvin mulai membuat Melviona bertambah bingung, sebenarnya apa yg terjadi pada pria ini saat ia mengurung diri? Melviona bertanya dalam hati kecilnya, ia merasa Delvin yg sekarang berada di hadapannya bukan Delvin yg biasa ia jumpai, bagaikan sedang berbicara dengan seseorang yang hanya mirip dengan Delvin.
"Kamu suka dikhawatirkan?"
Delvin hanya mengangguk semangat.
"Kalau begitu apa kamu siap menjawab jutaan pertanyaan ku?"
Lagi lagi Delvin mengangguk semangat menunggu pertanyaan Melviona.
"Kamu anak yg baik" ucap Melviona pelan sambil mengelus rambut lebat Delvin.
Mendapat perlakukan yg bagaikan anak kecil, Delvin merasa tenang, ia seperti kembali ke masa masa ibunya masih hidup, hingga tanpa sadar, ia yg tengah berbaring di pangkuan Melviona, langsung memeluk pinggang Melviona dengan erat.
Melviona merasa kan tubuh Delvin yg sedikit gemetar "seperti nya dia menangis" ucap Melviona dalam hati saat melihat Delvin yg menyembunyikan tangisnya, padahal ia pernah menyaksikan Delvin menangis secara terang terangan di hadapannya.
"tidak apa-apa" hibur Melvi.
"Aku yakin, kamu juga begitu sedih dengan keadaan adikmu" Delvin menyeka sisa sisa air matanya dan memandangi Melviona yg hanya terdiam dengan raut wajah sedih.
"... benar, kamu memang benar, aku sangat sedih dan begitu tersiksa akan kerinduan, tapi... harapan membuat ku tegar, aku akan menunggu nya sadar, karna di banding siapapun, aku lebih menyayangi nya, walaupun kelakuan nya tak sebaik yg diharapkan namun kupikir itu yg membuat ku tidak merasa kesepian, dia... membuat ku merasakan kehangatan keluarga" ucap Melviona dengan senyum yang terukir di bibirnya. Perlahan air matanya mengalir ke pipi manisnya, dan itu membuat Delvin merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, kamu anak yang baik" Delvin mengusap air mata yang mengalir di pipi Melviona.
"Eh, kok gitu sih 😢" Melviona merasa bingung saat mendengar ucapan Delvin.
"Saat kamu mengatakan aku 'anak yg baik' aku merasa senang dan terharu, kupikir bila aku juga ikut mengatakan hal itu pada mu maka kamu akan merasakan hal yang sama" Delvin tersenyum kecil.
Melviona hanya tercengang dengan penuturan Delvin, hingga senyum di bibir nya kembali dan ia tertawa kecil.
Delvin pun ikut tertawa, rasanya senang saat melihat Melviona kembali tersenyum, ia ingin menjadi satu satunya orang yang dapat membangkitkan semangat dalam hidup gadis itu, walaupun ia tahu, Melviona lebih menyayangi Kristian lebih dari siapapun.
"Pasangan baru ya" tiba tiba suara seorang wanita mengejutkan dua orang itu.
Sebelum Melviona menoleh, wanita itu sudah berjalan dan duduk di samping nya.
"Manda?"
"Sudah ku duga, ada yg nggak beres dalam hubungan kalian, ternyata benar kalian pacaran 😯" ucap Manda dengan antusias, ia memandangi Delvin yg tengah berbaring di pangkuan Melviona.
"Tidak, kamu salah, kami hanya teman biasa"
"Oooh, teman ya" Manda mengangguk kan kepalanya pelan "kamu yakin banget sih, kalau aku percaya! Mana ada teman yang semesra ini!"
"Kamu gila ya! Udah di bilangin cuman teman" Delvin yg tampak marah mulai bangkit dari pangkuan Melviona dan duduk.
"Sudah lah, ngomong ngomong, bagaimana bisa kamu ada di sini?" Tanya Melviona.
"Hari ini kami akan syuting di sebelah sana" Manda menunjuk ke arah taman yg di penuhi para crew, dan penggemar yg berusaha memasuki taman.
"Nah, itu Alyan, Alyan~!" Manda memanggil Alyan yg tengah melihat ke arah mereka, dan dengan cepat Alyan memalingkan wajahnya.
"Dia kenapa sih? Perasaan tadi dia lihat ke arah sini kan" Manda mulai kesal dengan sikap Alyan.
"Mungkin dia memang nggak dengar"
"Ah, iya kemarin kami melakukan kiss scene, kamu mau lihat?" Tiba-tiba Manda menunjukkan video yg ia salin diam diam, dan ia tunjukkan pada Melviona.