
Melihat adegan yg bergairah itu, Melviona hanya terdiam tanpa ekspresi "kamu kasih liat aku buat apa?" Kini Melviona bertanya dengan suara dingin, entah mengapa tiba-tiba ia merasa kesal dengan Manda.
"Yah... memang nya kenapa kalau buat pamer doang"
"Kamu suka sama Alyan?"
"Yup! Banget"
Mendengar jawaban Manda membuat Melviona bertambah kesal.
"Kamu udah tau dia punya calon tunangan?"
"Hah?! Calon tunangan! Sejak kapan Alyan punya calon tunangan?! Jangan kan calon tunangan, pacar pun Alyan nggak punya, sejak kecil aku mengenal Alyan, Alyan nggak pernah pacaran" ucap Manda penuh penegasan dan penekanan.
"Kamu yakin? Tapi nyata nya berbeda, gadis manis itu bahkan tinggal di villa Alyan, kamu tau itu?"
"Heh, kamu pikir aku bakal percaya? Ternyata otak mu lumayan sempit juga ya" Manda berdiri dan berjalan kembali ke tempat syuting dengan perasaan kesal.
Ia menghampiri Alyan yg tengah di rias.
"Alyan, kamu udah punya calon tunangan?!" Manda bertanya dengan kesal.
Alyan tersentak mendengar perkataan Manda, begitu juga dengan wanita yang tengah merias Alyan.
"Jangan dipikirkan, Manda hanya sedang bercanda" ucap Alyan pada wanita yang tengah merias nya.
"Apa kamu bisa meninggalkan kami berdua?" Alyan bertanya pada wanita itu, dan dengan gugup, wanita itu langsung meninggalkan Alyan dan Manda berdua.
"Aku tanya sekali lagi, kamu udah punya calon tunangan?!" Manda masih mempertahankan emosi nya.
"Kamu dengar dari Melviona?" Alyan balik bertanya tanpa memandangi Manda.
"Jadi, apa itu benar?"
"Hm" jawab nya singkat "jangan beritahu siapa pun"
"Tapi bagaimana bisa! Kamu.....kamu! Apa kamu tidak menyukai ku?!" Kali ini Manda bertanya blak-blakan.
"Aku menyukai mu, tapi hanya sebatas sahabat masa kecil, aku juga menghargai mu sebagai seorang wanita yg akan ku jaga" ucap Alyan pelan, seperti nya ia tahu bahwa Manda sudah lama memendam perasaan padanya.
"Lalu bagaimana dengan ciuman waktu itu! Kamu memperlakukan ku berbeda dengan adegan yg seharusnya!"
"Itu.... sebenarnya ada kesalahpahaman, aku tidak bermak..."
"Aku tidak tau! Aku tidak mau tau! Aku membenci mu Alyan! Aku membenci mu! Aku tidak mau melanjutkan syuting ini bersama mu! Aku tidak mau!!!" Manda berteriak histeris, dan segera melesat pergi dari sana entah kemana, sementara orang-orang yang ada di sana, hanya menatap Alyan dengan penuh tanda tanya.
"Apa yg terjadi? Kenapa Manda pergi?" Tanya sutradara gelisah.
Alyan hanya mendengus "sutradara"
"Ya!?"
"Aku tidak ingin melanjutkan ini, aku akan keluar, aku akan membayar uang kompensasi 10 kali lipat atas pembatalan kontrak"
"Apa?!! Ada apa ini?! Apa yg sebenarnya terjadi?!!" Sutradara tak habis pikir dengan perkataan Alyan.
"Maaf sebelumnya" dengan cepat Alyan meninggalkan sutradara yang berdiri mematung di sana, ia melihat pinggir kolam dan tidak mendapati Melviona di sana, dan dengan cepat ia juga ikut pergi dari sana, sehingga syuting hari itu tidak berlangsung.
Di perjalanan, Alyan melihat Delvin dan Melviona sedang berjalan bersama dengan tawa kecil di kedua nya.
Dan mereka pun pergi dari sana meninggalkan Delvin sendirian.
"Udah nggak waras ya?!" bentak Melviona.
"Heh" Alyan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, membuat Melviona sangat ketakutan di tambah lagi saat ini ia sedang tidak memakai sabuk pengaman.
"Sejak bertemu dengan mu aku memang tidak waras" Alyan mulai buka bicara dengan tatapan tetap ke depan mempertahankan laju mobil yg sangat cepat.
"Hah?! Apa yg kamu bicarakan! Cepat hentikan mobil nya!" Ketakutan Melviona bertambah saat Alyan malah menambah kecepatan hingga batas akhir.
"Alyan! Kumohon hentikan mobil nya!"
"Kenapa? Apa kamu akan meninggalkan ku lagi, seperti dulu?"
"Kumohon hentikan!"
"Sejak awal, kamu terus saja mempermainkan perasaan ku. Bagaimana bisa aku menjadi waras bila mendapat perlakukan seperti itu darimu"
"Alyan, aku tidak tau apa yg kau bicarakan. Jadi tolong hentikan mobil nya!"
"Tidak, sampai kamu menjawab pertanyaan ku"
"Hah?!"
"Aku...akan bertanya untuk yg ke terakhir kalinya, tolong jawab dengan serius, karna aku juga akan menanggapi jawaban mu dengan serius"
"...?!"
"Katakan, apa kamu nyaman berada di samping ku?" Alyan mulai bertanya.
"Tentu saja, tapi tidak untuk saat ini" jawab Melviona dengan kedua tangannya menggenggam erat sabuk pengaman yang telah ia pakai.
Mendengar jawaban Melviona, tampak senyum kecil yang tersungging di bibirnya, dan kecepatan mobil pun menurun. "Apa kamu menyukai ku"
Dengan cepat Melviona menjawab "aku memang menyukai mu, tapi tidak dengan situasi ini"
Lagi lagi Alyan tersenyum kecil. "ini pertanyaan terakhir, apa kamu mencintai ku?"
Kali ini Melviona terdiam, dalam sekejap ketakutan lenyap dari nya. Apa pria ini bertanya serius dengan ku? Melviona mulai bertanya dalam hati. "bagaimana bila aku mengatakan ya? Apa yg akan dipikirkan nya tentang ku? Apa yg akan dipikirkan Presdir Alfian tentang ku? Apa kali ini aku akan menjadi perusak hubungan orang?
Pertanyaan pertanyaan yang tak dapat di lontarkan oleh Melviona terus bermunculan, begitu juga kekhawatiran dan kegelisahan yang mulai menyelimuti nya.
Melihat Melviona yg masih belum menjawab pertanyaan nya, Alyan mulai mengerutkan keningnya. "aku akan bertanya sekali lagi, apa kamu mencintaiku"
Alyan kembali mengulang pertanyaan nya.
"Aku...aku....aku men... tidak, tidak bisa, aku tidak mencintaimu, aku tidak memiliki perasaan semacam itu padamu!"
Seketika, Alyan menghentikan mobilnya di sebuah jembatan, membuat Melviona terguncang akan rem yg tiba tiba itu.
Alyan merasa kan sakit di hatinya, bagaikan seseorang yang sesak nafas, Alyan berusaha mengambil oksigen yang sepertinya tiba-tiba menghilang di udara.
"Lalu.... selama ini kamu menganggap ku apa?!" Alyan bertanya dengan nada marah sambil memegang kedua bahu Melviona. "kamu nyaman di samping ku, kamu juga menyukai ku! Tapi kenapa?! Kenapa kamu tidak mencintaiku?!!"
Melviona hanya diam terpaku, ia tidak tau bagaimana ia menanggapi Alyan.