
Makan malam pun tiba, namun Melviona masih saja belum keluar dari kamarnya.
Tok tok tok "nona?" Pelayan itu membuka pintu, namun tidak melihat kehadiran Melviona "nona? Saya membawakan makan malam nona"
"Aku ada disini, bawa makanannya kemari" seru Melviona dari balkon.
Pelayan itu pun berjalan menuju balkon, disana Melviona sedang duduk disofa sambil membaca sebuah laporan dari perusahaan yang dibawakan Stevan sejam sebelumnya.
"Taruh saja diatas meja" ucap Melviona lagi, dan pelayan itu pun meletakkannya di atas meja yang didepan Melviona.
"Aku masih kepikiran kenapa Presdir pergi tiba-tiba ya?" Tanya Melviona dalam hati.
"Saya permisi dulu nona" pelayan itu pamit untuk pergi.
"Baik, eh iya, apa aku boleh bertanya?"
"Silahkan saja nona"
"Apa benar Presdir pergi karna urusan perusahaan? Soalnya aku masih belum yakin"
"Pagi tadi pukul lima pagi tuan besar sudah berangkat kebandara, tuan besar bilang tidak perlu mengganggu anda dan tuan muda, kami juga diberitahu kalau anda dan tuan muda adalah sepasang kekasih"
Melviona menghela nafasnya "aku masih belum percaya, maksud ku aku tidak yakin kalau Presdir benar-benar pergi karena urusan perusahaan di negara lain" ucapnya lagi menghela nafas, dan meletakkan laporan diatas meja "kamu bisa pergi"
"Baik" Pelayan itu menunduk sekali lalu berjalan keluar.
"Sulit dipercaya, bukan hanya tidak menentang hubunganku dengan putranya, Presdir bahkan pamer kalau aku adalah calon menantunya. Tunggu, calon menantu? Aish..."
🌺🌺🌺🌺🌺
Alyan perlahan membuka pintu kamar Melviona, namun ia segera menutupnya kembali setelah masuk.
Alyan memandangi keadaan kamar Melviona yang sangat gelap, tak ada satu pun lampu yang menyala, bahkan begitu juga dengan lampu tidur.
Saking gelapnya, Alyan tak dapat melihat apa-apa saat menutup pintu, sejenak ia terdiam, berpikir apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
Ia meraba-raba saku jaketnya, dan menyalakan lampu ponselnya, ia mengarahkan cahaya kelantai agar tidak ketahuan oleh Melviona.
Pelan tapi pasti, Alyan berjalan kearah Melviona yang tidur telentang dengan selimut yang hanya menutupi bagian perut sampai kebawah.
"Ah... lagi-lagi baju tidur ini" Alyan berusaha mengontrol dirinya saat melihat dress piyama mini milik Melviona.
Ia menutup matanya dengan kedua tangannya sambil membaca ayat doa yang ia tau. Beberapa menit ia menutup matanya, kini perlahan ia kembali membuka matanya, namun ternyata nihil! Usaha Alyan tidak membuahkan hasil, dan pikiran untuk mengingkari janji untuk tidak menyentuh Melviona tanpa izin, mulai bermunculan.
"Sial" umpatnya.
Ia berbaring didekat Melviona, dan langsung memeluk Melviona.
Baru saja ia memeluk Melviona, gadis itu langsung terbangun dan mendorong tubuhnya.
"Alyan!" Serunya.
"Eh, kok kamu tau ini aku, apa penglihatan mu setajam itu?"
Tak, Melviona menghidupkan lampu tidur didekatnya "memangnya siapa lagi yang berani naik diam-diam diatas tempat tidurku lalu memeluk diriku, selain kamu!" Ucap Melviona kesal.
"Waaah... benar juga" Alyan memegang kedua pipinya yang merona "aku jadi merasa sangat spesial daripada manusia lain"
"hah? apaan sih, turun gih"
"hm? kenapa?" Alyan mengernyit polos, dan kembali memeluk perut Melviona, menenggelamkan wajahnya dalam dekapan gadis itu.
"A-Alyan, kamu kok ingkar janji?! bukannya tadi pag_"
"mana ada? aku kan belum lakuin itu, aku kan cuma janji nggak lakuin itu kalau nggak kamu duluan yang minta, apa aku salah? kayaknya aku belum janji nggak akan meluk kamu loh..." goda Alyan.
"... ternyata kamu..."
"apa? hm?" Cup, Alyan mengecup bibir Melviona "aku juga belum janji nggak akan cium kamu kan?"
Melviona menghela nafasnya "iya-iya, kamu nggak salah, berhenti menunjukkan raut wajah sok polosmu itu"
"kenapa? apa aku jelek?"
"munafik"
"ng?"
"kamu kelihatan munafik kalau begitu, wajah polos tapi keahliannya dalam berhubungan menyamai kaisar g*g*lo"
"katakan padaku, apa itu pujian atau hinaan?"
"kenapa?"
"karna jawabanmu nantinya yang akan menentukan ekspresiku"
"... hinaan" jawab Melviona ketus.
"hah, ...hiks" Alyan kembali menenggelamkan wajahnya dalam dekapan Melviona dan memeluknya sangat erat.
"pfft... hahaha aku bohong kok, itu pujian haha, duuuh manis banget sih" Melviona menepuk-nepuk kepala Alyan.
"sungguh?" dengan tatapan penuh harapan, Alyan mendongak menatap Melviona.
"iya, sungguh" Cup, Melviona mengecup kening Alyan, membuat pria itu terdiam sekaligus tercengang.
"apa ciuman itu..."
"ng?"
"eh, enggak kok, itu sekedar penghibur saja"
Alyan mengernyit "aku nggak terhibur"
"hm? terus sekarang aku harus buat apa?" tanya Melviona bingung.
"...kamu jangan pura-pura nggak tau" Alyan mencium leher Melviona.
"uuh, tidak... kalau 'gitu sama saja kamu ingkar janji"
"makanya..."
"aish... Alyan kamu tau tidak?"
"apa?"
"kalau keseringan nanti aku sakit loh"
"sakit?"
"iya, aku punya kenalan di Indonesia, istrinya masuk rumah sakit selama sebulan loh"
"hah, kenapa?!"
"ya, itu. Keseringan berhubungan, suaminya mesum sih"
"parah banget"
"iya ya, parah banget, pake acara sebulan lagi, istrinya nginap di rumah sakit"
Alyan mengeratkan pelukannya "nggak jadi"
"apa?"
"tiba-tiba aku merasa ngantuk, lain kali aja"
"ya Tuhan, imut banget sih jadi cowok" pikir Melviona.
"kalau 'gitu, semoga mimpi indah~"
"kamu juga"
🌺🌺🌺🌺🌺
Keesokan paginya
"nona sudah baikan?" Tanya Stevan sembari membuka pintu mobil bagian belakang.
"iya, trimakasih" Melviona masuk lalu tersenyum, dan Stevan menutup pintu lalu ikut masuk kedalam.
"nona curang loh"
"apanya?"
"kok saya tidak diberitahu kalau nona sudah menjalin hubungan dengan tuan muda? jadinya kan saya kena imbas dari Presdir"
"haaah~ kita sudah membahas ini kemarin kan"
"tapi tetap saja, saya merasa dikhianati" Mobil melaju keluar gerbang dengan kecepatan standar.
"padahal nona kan bisa cerita pada saya, kenapa malah nona Mei Yin yang tau duluan?"
"kamu pikir aku bodoh? sudah jelas kamu akan langsung mengadu pada Presdir"
"tapi nona nggak tau kebenarannya, saya ditugaskan Presdir, bukan hanya sebagai sekertaris nona juga sebagai pelindung dan mata-mata yang melaporkan siapa saja pria yang perhatian pada nona"
"kalau begitu, pertama-tama kamu harus melaporkan dirimu sendiri"
"kenapa?"
"kamu kan juga perhatian dengan ku, aku masih ingat loh... demi aku yang tetap memakan makanan kesukaanku, kamu rela pergi ke minimarket untuk membeli odol dan sikat gigi, haha"
"itu kan sudah tugas saya"
"benarkah? bukannya tugasmu hanya melakukan apa yang ku perintahkan? seingatku aku nggak tugasin atau nyuruh kamu buat beli itu deh"
"... sa-saya hanya melakukannya untuk"
"jangan bilang untuk menjaga kesehatanku ya, atau kesehatan atasanmu, kalau begitu kamu lebih perhatian dari yang lain. Bagaimana ya ekspresi Presdir saat mendengar ini?"
"eeeh?!"
"kamu dipindahkan ke Australia nggak ya? atau ke Flores? atau... ke luar?"
"sa-saya hanya..."
"kamu tau kan apa maksudnya keluar? di PECAT"
"No-nona!!!"
"hahaha, maaf..aku hanya bercanda"
"hiks, nona keterlaluan"