I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 87


"ada apa?! ada apa?!" Tanya Darlen tak sabaran.


"Alyan..." Lirih Manda, dan Alyan yang juga penasaran mendengar dalam diam tanpa menoleh kearahnya.


"Ayahmu... mengalami kecelakaan lalulintas..."


Deg! Seketika degup jantung Alyan terhenti mendengar perkataan itu, wajahnya pucat dan kedua lengannya yang tengah memeluk Melviona mulai melemas.


"Apa ini yang ingin disampaikan oleh Viona? Tapi mengapa dia menangis dan seketakutan ini? Tidak mungkinkan dia sudah menganggap ayahku sebagai ayah mertuanya 🤔" pikir Alyan.


"Tidak, tunggu dulu. Bukan saatnya memikirkan hal itu. A-ayah... Kecelakaan?!"


Alyan mempererat pelukannya, saat ini rasa perih dihatinya mendengar ayahnya mengalami kecelakaan sama besar saat melihat Melviona menangis tersedu-sedu dalam dekapannya.


"Mereka pasti baik-baik saja... pasti" ucap Alyan lembut.


"cepat, kita harus kerumah sakit sekarang" Brave berdiri dari duduknya, begitu pula dengan yang lainnya.


"Ayo, kita kerumah sakit" ucap Alyan lembut pada Melviona.


"Tidak" lirihnya "aku... harus mengurus sesuatu. Pergilah..." Melviona segera kembali menyeka air matanya dan berjalan melewati Alyan menuju tangga.


"Vi..."


"Alyan, cepatlah!" Manda menarik lengan Alyan.


Sesampainya dirumah sakit, Alyan kembali dikejutkan oleh keadaan.


Ternyata bukan hanya Alfian, ayah dari Melviona, Walzer juga ikut dalam kecelakaan itu, dan kondisi mereka berdua sangatlah kritis.


Masing-masing dari mereka kini tengah berada dalam ruang operasi yang berbeda.


Yah...sedari awal Alyan tidak berpikir kecelakaannya akan separah ini, ia juga baru tau dari sekertaris Ian yang telah berada duluan disana, bahwa mobil terjatuh dalam jurang.


"Memangnya dari mana saja kau!" Bentak Alyan geram, menarik kerah kemeja Ian.


"Maaf tuan muda, saya juga tidak tau bila Presdir akan pergi tanpa sepengetahuan saya"


"Dasar tidak berguna! Apa selama ini ayahku meringankan pekerjaanmu karna Viona ada?!"


"Saya minta maaf" tanpa perlawanan, sekretaris Ian hanya dapat mengucapkan maaf.


Melihat kedua mata Ian yang mulai memerah dan berair, membuat Alyan semakin kesal.


Ia mendorong Ian, dan melepaskan cengkramannya, memalingkan pandangannya kearah pintu operasi ayahnya.


"Bagaimana dengan Tn.Walzer?" Tanya Alyan.


"Sama dengan kondisi tuan besar, beliau juga dalam keadaan kritis"


"Sialan!" Umpat Alyan.


Beberapa jam berlalu, Alyan masih belum meninggalkan lokasi, sementara yang lainnya kecuali Ian telah pulang kerumah masing-masing.


"Pulanglah tuan muda, saya yang akan menemani Presdir" ucap Ian.


"Ya, tentu saja kau akan menemaninya, tanpa kau temani ayahku bahkan tidak bisa beranjak dari tempatnya!" Umpat Alyan lagi.


"Tuan.."


"Diam!" Alyan berdiri dan berjalan pergi dari sana.


Saat Alyan berjalan dilorong rumah sakit, ia berpapasan dengan Yersia, ibu Melviona.


"Tuan muda..."


"Bagaimana dengan keadaan suami anda?" Tanya Alyan.


"Saya juga masih belum tau" jawab Yersia lesu.


"Saya turut sedih"


"Hmh..."


"...apa Viona ada?" Tanya Alyan.


"Melvi? Tidak...dia hanya datang sekali. Sepertinya dia masih bersiap-siap"


"Bersiap-siap? Bukannya sekarang..." Alyan melihat jam tangannya, 03.35 begitu ditunjukkan oleh jarum jam tangannya.


"Kalau Viona tidak kemari, pasti dia ketiduran kan" gumam Alyan.


"Ketiduran?"


"Ya, dia pasti sangat lelah dan ketakutan, baguslah dia memilih untuk beristirahat" Alyan tersenyum kecil sembari menghela nafasnya.


"Apa ada sesuatu di wajah saya?" Tanya Alyan.


"Ah, tidak, tidak ada, saya permisi dulu"


"Ah, baiklah" Alyan segera bergeser dari posisinya untuk memberikan jalan pada Yersia.


"Sepertinya ada yang tidak beres" begitu pikirnya.


Beberapa saat kemudian, akhirnya salah seorang dokter keluar dari ruang operasi Alfian.


"Bagaimana dengan ayah saya dok?" Tanya Alyan.


"Jangan khawatir, operasinya berjalan lancar. Beliau memiliki stamina yang tinggi sehingga dapat keluar dari rumah sakit dua minggu lagi" jelas dokter itu.


Alyan menghela nafas leganya, begitu juga dengan Ian yang masih terjaga sampai dini hari.


"Saya permisi" ucap sang dokter.


"Syukurlah..." Begitu kata yang keluar dari mulut sekertaris Ian.


"Hei kau" panggil Alyan.


"Ya?" Ian mendongak menatap Alyan.


"Untuk apa kau masih disini? Kau bermaksud untuk bolos ya?"


"...saya tau perkataan saya ini terlalu berani, tapi hari ini saya memang berniat untuk bolos"


"Hah?"


"Maaf, tapi saya akan menemani Presdir sampai tiga hari kedepan"


"Sudah gilaya? Perkataan mu membuat bulu kudukku berdiri tau! jangan bilang kau menyukai ayahku"


"Itu karna tuan muda berpikir hal yang tidak-tidak"


"Heh, apa maksudmu?"


"Entahlah, apa mungkin karna sekarang tuan muda punya kekasih yang sesungguhnya"


"Diamlah, berbicara denganmu hanya membuatku kesal, kupikir kau berbeda dengan sekertaris Stevan, tapi ternyata tidak. Kalian sama saja, bahkan status kalian dalam perkerjaan pun sama saja, Sekertaris Ian dan sekertaris Stevan" Alyan mendengus.


"Untung saja aku tidak punya saudara, entah kenapa aku benci dengan persamaan ini"


"Itu karna tuan muda sosok yang tidak mengalah"


"Aku?"


"Ya, tuan muda keras kepala dan merepotkan. Untung saja nona Melviona mau menjadi kekasih tuan"


"Hei kau!"


"Pulanglah bila tidak ingin mendengar saya berbicara"


"Hari ini kau sungguh berani ya"


"Itu karna atasan saya sedang tidak mendengar saya berbicara"


"Huh! Lihat saja nanti. Akan ku pastikan kau orang pertama yang kupecat saat aku akan menggantikan ayahku"


"Tolong jangan bercanda" Ian tersenyum sinis, membuat Alyan merasa sangat-sangat jengkel melihatnya.


Tanpa balasan sepatah katapun, Alyan berjalan pergi dari sana.


Baru saja ia keluar dari gedung rumah sakit, ia melihat Melviona yang tengah membuka pintu mobil dipinggir jalan.


"Viona" panggilannya.


"kamu masih disini?" tanya Melviona tercengang.


"seharusnya aku yang bertanya padamu, kupikir sekarang kamu sedang tidur"


"ah..."


"... bagaimana dengan operasi ayahmu?"


"lancar" jawabnya singkat dengan nada lesu, membuat Alyan merasakan hal yang mengganjal pikirannya semakin penasaran.


"dengar... sepertinya ada yang masih belum bisa kamu katakan padaku, tapi kumohon... alangkah baiknya jika perasaan itu tidak dipendam sendiri olehmu" Alyan mengelus pipi kiri Melviona lembut sambil tersenyum.


"aku juga berharap begitu, tapi apa yang akan ku sampaikan ini tidak akan menyakiti hatimu? jika saja iya, aku akan mengatakannya. Tapi sepertinya aku tetap tidak bisa, sekarang aku sedang bimbang, mana yang harus aku duluankan? tekatku? apa perasaanmu? aku tidak bisa memilih... kuharap suatu hari nanti, seiring berjalannya waktu aku bisa memutuskan hal ini tanpa rasa bersalah. Tapi apa hal mustahil itu bisa kuputuskan? aku tidak tau, semoga harapan tipis ini masih bisa bertahan" pikir Melviona disepanjang jalan menuju villa.