I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 18


"kepalaku pusing..." Rintih Alyan sambil memijit mijit kening nya sendiri. 


"Masih sakit ya? Bukan nya tadi udah minum obat ya sama Nn.Manda"


"Aaaakh.. kalian sama menyebalkan nya"


"Eh"


"Cepat ambil kan aku air, aku mau minum obat"


"Obat? Oh oke tunggu sebentar" ucap Melviona. 


Tak lama kemudian, Melviona membawakan segelas air hangat ke kamar Alyan dan menaruhnya di atas meja dekat tempat tidur Alyan. 


"Obat ku ada di laci meja itu"


"Baik"


"Uuukh"


"Tuan bisa bangun sendiri kan?"


"Cerewet"


"Apaan nih orang, di khawatirin malah buat orang kesal" pikir Melviona.


"Akh, tangan ku lemas, cepat angkat aku"


"..." Bukan nya membantu Alyan duduk, Melviona malah hanya diam dan sibuk merapikan spray Alyan. 


"Woy! Tuli ya!" Bentak Alyan. 


"Eh, sudah pukul setengah dua belas, dia udah sampai rumah belum ya? Hmm apa aku telepon aja ya"


"Hei!"


"Tapi... bagaimana kalau dia lagi berkendara? Bisa gawat kan kalau telepon sambil berkendara"


Alyan yg sangat amat merasa kesal, memaksakan diri untuk bangun, namun tangannya yang lemas tak dapat lagi menahan beban dan membuat Alyan kembali terjatuh, saat Alyan terjatuh, Alyan sempat menarik lengan Melviona dan akhirnya Melviona ikut jatuh di atas ranjang Alyan, kini Melviona berada di atas Alyan. 


"Ma-maaf" ucap Melviona dan langsung bangun, namun dengan cepat Alyan memeluk pinggang Melviona membuat Melviona tidak bisa bangun. 


"Kamu udah punya pacar ya?"


"Eh, saya...."


"Apa kamu lupa janjimu?"


"Janji?"


"Kamu benar benar lupa?"


"Sa-saya tidak tau maksud tuan"


Raut wajah Alyan berubah lesu tatapannya seperti orang yang sedang kecewa melihat Melviona yg tidak tau maksud Alyan. 


"Sudah lah, bantu aku bangun" ucap Alyan melepas pelukannya di pinggang Melviona. 


Melviona pun segera berdiri dan membantu Alyan duduk di ranjangnya. 


Suasana menjadi sangat hening dan canggung, sampai Alyan selesai meminum obat nya. 


"Tadi pria yg di gerbang bersama mu itu kekasih mu ya"


"Yg di gerbang.." gumam Melviona sambil mengingat ngingat pria yg bersamanya di depan gerbang. "oh, pria itu adik laki laki saya satu satunya."


"Adik?"


"Yup, namanya Kristian, sekarang dia kelas 1 SMA"


"Memang nya kakak adik biasanya bisa pelukan lalu mencium pipi ya"


"Dia tau sampai mana sih?" Pikir Melviona. "tentu saja, apalagi sejak kecil, ayah dan ibu kami jarang bersama kami kecuali saat liburan semester, jadinya ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama ku dari pada bersama ayah ibu"


"Begitu ya..."


"Iya, hmm, kalau begitu saya undur diri dulu"


"Hm" 


"Kristian ya... "Gumam Alyan. 


🌺🌺🌺🌺🌺


Keesokan harinya di RS terdekat. 


"perban nya sudah bisa di lepas, jangan lupa untuk selalu meminum obat dan meneteskan obat mata hmm, akan lebih baik bila anda dibantu untuk meneteskan nya, akan berbahaya bila kejadian itu terulang lagi" jelas sang dokter mata. 


"Lagi? Apa maksudmu" tanya Alyan. 


"Saya tau mengapa mata anda jadi begitu, perawat anda yang memberi tahukan nya pada saya, yah... memang iya sih masing-masing orang punya pengalaman yang memalukan tapi..." ucapan Sang dokter tersentak saat melihat tatapan dingin Alyan "ah, saya baru ingat, ada pasien di kamar 27 yg harus saya periksa, kalau begitu saya permisi dulu"


Tok tok tok


"Tuan muda, mobil nya sudah saya parkir di depan, ayo kita pulang" ucap Melviona. 


"Kamu..!" Geram Alyan. "sabar...dia cewek, walaupun ngeselin banget tapi dia... tetaplah cewek" pikir Alyan. 


"Cepat, nanti kena tilang loh"


"Iya iya"


"Waah, mata tuan sudah nggak di perban lagi, itu artinya sudah mulai membaik nih"


"Diam, kalau saja kamu bukan cewek, sudah ku ajak tawuran dari dulu"


"Ck sudahlah argumen mu memang tiada ujung nya"


Sesampainya di villa, Alyan langsung merebahkan diri nya di atas sofa ruang tamu dan tidur. 


"Uhm, tuan?" Panggil Melviona. 


"Hm" jawab nya dengan suara datar. 


"Akhir pekan nanti saya boleh cuti nggak?"


"Terserah, memang nya kamu mau kemana?"


"ke rumah"


"buat apa?"


"Ah, karna ada tamu yang datang akhir pekan nanti di rumah, saya sih nggak tau siapa tamunya sampai aku harus cuti, tapi... kayaknya tam..."


"Nggak boleh!, aku berubah pikiran, kamu nggak boleh pergi kemana pun tanpa sepersetujuan ku" tukas Alyan tegas.


"Kok gitu sih? Apa tuan mau saya jadi Rapunzel yg terkurung dalam menara?"


"Menarik sih, tapi ini villa mewah bukan menara kuno dalam dongeng, lagian kita kan barusan pulang dari rumah sakit"


"I-iya sih tapi..."


"Aku bilang nggak! Ya nggak!" Bentak Alyan kemudian pergi ke kamarnya dengan perasaan kesal. 


"Dia kenapa sih? Harus nya aku yg marah kan,.... dasar aneh" gumam Melviona. 


Di lain sisi bukannya pergi ke kamarnya, Alyan  malah pergi ke atap tempat kolam renang ada, ia duduk di kursi santai lipat yg ada di dekat kolam dengan raut wajah yang masih cemberut. 


"Apa apaan sih dia, kayak orang bodoh aja, nggak tau apa kalau di saat saat akhir pekan adalah hari yang bagus untuk para orang tua menjodohkan anak mereka, terlebih lagi dia kan masih muda belia, atau...lebih tepatnya masih di bawah umur" gumam Alyan.


"GRAAAAKH!!!" Teriak seseorang dari belakang Alyan membuat Alyan terkejut. 


"Aaaa! Uwaaah!"kejut Alyan kemudian terjatuh ke kolam renang. 


Byur...


"Siapa sih!" Teriak Alyan kesal. 


"pehea ʻoe i kauā" sapa Darlen dalam bahasa Hawaii. 


"Apaan sih?! Ini jantung mau kabur tau!" Kesal Alyan. 


"Kabur? Kayak lagi berburu aja" gumam Darlen. 


"Pulang dari Hawaii?" Tanya Alyan yang kini sudah naik ke atas. 


"Yup! Disana seru loh... Ada banyak kakak kakak cantik"


"Heh, kakak kakak cantik? Artis?"


"Bukan"


"Model?"


"Bukan juga"


"Idol?"


"Bukan, salah lagi~"


"Kalau bukan itu, ya bagaimana bisa di bilang Kakak cantik. KACAN KW tau nggak! hoax!" 


"Penampilan tidak di lihat dari status tau"


"Siapa bilang? Coba kalau kamu lihat orang baju compang camping di pinggir jalan, kita bisa simpulkan kalau dia itu pengemis atau gelandangan"


"Nggak juga kok, kadang para petani memakai baju compang camping saat bekerja agar tidak merusak baju bagus mereka" 


"Yaaa tetap aja kan, mereka kerja untuk uang"


"Ck ck ck, jadi orang yang kerja untuk uang itu pengemis?"


"Gitu deh"


"Haissh jadi selama ini Presdir pengemis?"


"Hei! Jaga ucapan mu!"


"Lah tadi..."


"Itu....beda halnya, ah sudahlah lupakan saja, aku ingin bertanya sesuatu pada mu"


"Hm? Katakan"


"Jadi....begini, aku punya sepupu, dia slalu mengikuti ku kemana pun, kupikir seperti nya dia menyukai ku, lalu suatu saat dia bilang akhir pekan ini dia mau kembali ke rumah orang tua nya karna ada urusan keluarga, menurut mu... bagaimana? Apa aku harus mengizinkan nya pergi atau tetap bersama ku?"


"Sepupu mu itu..."


"cewek"


"cewek ya, apa kau tau urusan keluarga apa yang harus ia hadiri?"


"Dia bilang, ada tamu penting yg harus di sambut"


"Seorang tamu, di akhir pekan? Dan sepupu cewek harus pergi...hm..." Tak lama setelah Darlen merenungkan hal itu ia langsung memukul meja yang ada di samping kursi. 


BRAK!