I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 34


keesokan harinya, Melviona di panggil ke ruang kepsek, ternyata orang tua Bleria datang menuntut Melviona atas tindakan penganiayaan terhadap putrinya, namun Melviona dengan santainya menyelesaikan masalah itu sendiri tanpa bantuan Vera, ternyata Melviona sudah menduga hal ini, dan menaruh cctv yg paling kecil di sudut ruangan kelas nya, sehingga seisi ruangan itu terlihat termasuk kejadian kemarin.


Melviona mengancam ke dua orang tua Bleria dan bermaksud untuk menuntut Bleria, atas penganiayaan dan atas pencemaran nama baik nya.


singkat cerita, masalah kemarin di anggap tidak pernah terjadi, dan situasi nya akan berjalan seperti biasa, hanya saja, kini Bleria hanya dapat makan makanan kantin sekolah dan tidak bisa main keluar diakibatkan orang tua nya tidak memberikan nya uang jajan selama setahun penuh atas permintaan Melviona.


"Melviona, kamu mau nggak jadi guru?" tanya Vera.


"hm? tentu" jawab Melviona tanpa pikir panjang.


"beneran kamu mau?"


"kalau Tante yg minta sih, aku apa boleh buat"


"tapi kenapa?🤔"


"kenapa apanya?


"Kenapa kamu mau jadi guru"


"oh, aku cuma merasa pelajaran nya membosankan, aku sudah tau semua tentang materi yang sudah maupun yg belum di ajarkan, aku cuma nggak tau tentang sejarah negara ini"


"widih, keponakan Tante ternyata pamer juga ya"


"hahaha, nggak jugalah Tan, aku cuma ngasih fakta"


"tapi fakta tetap saja fakta, menyakitkan."


"ya...dari pada bohong"


"emang bohong apa masalah nya🤨"


"bohong itu, sama dengan Snack, walaupun enak, tapi mematikan, beda halnya dengan sayur yg walaupun nggak enak, tapi menyehatkan"


"eits, kalau sayurnya nggak di cuci gimana?"


"itu sih salah orang nya, siapa suruh buka aib orang"


"ck ck ck, ternyata kamu lumayan pintar, yah... walau nggak sepintar Tante sih"


"Aku nggak pernah lepas dari ranking satu loh"


Vera terdiam, lalu, menatap sinis mata Melviona.


"Tante tau kok! Tante pernah nggak masuk sepuluh besar!"


Melviona hanya tersenyum memandangi Tante nya yg kelihatan kesal "haaah~, fakta memang menyakitkan ya"


"Diamlah, Tante sedang mencoba menerima nya"


"Hmmm... ngomong ngomong, aku ngambil matapelajaran apa?"


"Iya ya, kamu...jadi guru apa?" Vera termenung sejenak, namun tak lama ia kembali memandangi Melviona dengan senyum yang menyeringai. "kamu pintar kan?" Vera tersenyum.


"Hm? Tante....baik baik sajakah?"


"😊 Sudah ku putuskan, mulai sekarang kamu jadi guru matematika dari kelas X sampai XII"


"Oh, kirain apa" gumam Melviona memanyunkan bibirnya.


"kamu... beneran mau nggak sih? Tante lagi nggak bercanda loh😕"


"yg bilang canda siapa coba?"


"kamu tau kan? kamu nggak bakal belajar lagi kayak murid yg lain"


"aku tau kok, jadi... kapan aku mulai kerja"


"kerja?"


"di dunia ini nggak ada yg gratis loh Tan?"


Vera menghela nafas kasar nya "udah Tante duga bakal jadi gini, hmmm...karna kamu ngambil nya dari kelas X sampai XII jadi... selama sebulan pendapatan kamu sepuluh juta"


"sepuluh juta? gaji guru di sini lumayan ya...,tapi aku maunya perminggu"


"perminggu ya... berarti dua juta lima ratus dong"


Melviona beranjak dari duduknya dan menatap tantenya dengan percaya diri. "jadi, kapan aku mulai"


"bagaimana kalau besok? kita juga perlu menyusun jadwal mu kan


"tentu, ah ya, aku ingin ruangan sendiri"


"hm?"


"rasanya agak tidak nyaman bila seorang siswi menyamai posisi seorang guru"


"makasih Tan, kalau gitu aku permisi dulu ya"


Melviona keluar dari ruangan kepsek dan menuju kelas nya. ia melihat seorang guru tengah mengajar di dalam.


tok tok tok


Melviona mengetuk pintu kelas.


"dari mana saja kamu!" tanya sang guru.


"ruang kepsek"


"ruang kepsek? oh, kamu murid yg tidak tau diri itu?!"


"maaf, tapi saya tidak mengerti maksud anda" ucap Melviona berjalan kearah tempat nya.


"dasar kurang ajar! siapa suruh kamu duduk!"


Melviona mengambil ranselnya, dan barang barang dalam lokernya.


"kamu mau kemana?" tanya Alyan menggenggam lengan Melviona.


Melviona menatap Alyan dingin, lalu melepas tangannya dengan kasar dari genggaman Alyan. "bukan urusan mu” ucap Melviona lalu berjalan ke arah pintu.


"hah?! wah! lihat gadis ini! dia pikir ini rumah nya, dia sesuka hati masuk ke luar kelas tanpa izin" ucap sang guru dengan suara tinggi.


Melviona menghentikan langkahnya, dan berbalik menatap sang guru. "saya harap anda bisa bersikap sopan, terhadap sesama rekan"


"apa?!"


Melviona berjalan keluar dan bermaksud untuk kembali ke RS.


sesampainya di RS, ia melihat keadaan Kristian sama seperti sebelumnya.


ia menghela nafasnya, dan duduk di sisi ranjang Kristian. "dasar pemalas" ucap Melviona sambil mengelus rambut Kristian. "kerjanya tiduuuur Mulu, nggak ada rasa bersalahnya sama kami yg terus kerja cari uang buat biayain kamu"


gumam Melviona lalu tersenyum kecil.


CUP


Melviona mengecup kening Kristian yg masih di perban. "kalau kamu punya rasa bersalah, setidaknya bangun lah dari tidur panjang mu, kakak janji nggak akan nyuruh kamu buat beres beres rumah" tanpa sadar Melviona menitikkan air mata kemudian menangis terisak Isak tanpa suara.


"cepat bangun ya..."


keesokan paginya, Melviona bersiap siap ke sekolah, kini Melviona tidak perlu memakai seragam sekolah, ia dapat memakai pakaian formal yg baru ia beli kemarin.


"pagi tan~" sapa Melviona.


"pagi~, wah...kamu can... tunggu dulu"


"hm?"


"Tante mau nanya, rambut kamu kok di kuncir terus? lalu... kacamata kamu.."


"oh, kelihatan ya?" Melviona melepas kacamata nya.


"pake banget"


Melviona menghela nafas panjang nya sambil menatap kacamata bulatnya "kalau saja kemarin aku nggak ngelempar kacamata ku... pasti sekarang nggak ada bekas retakan kan"


"kamu rabun dekat apa jauh sih?"


"nggak dua duanya"


"hah? terus kamu make kacamata buat apa?"


"buat jaga jaga, soalnya dulu aku sering baca buku sampai larut malam"


"sekarang?"


"ya nggak lah Tan, masa aku baca buku yg aku udah tau isinya?"


"minta" Vera mengulurkan telapak tangannya ke arah Melviona.


"apanya?"


"kacamata itu, berikan, berikan sama Tante"


Melviona perlahan menaruh kacamata nya di atas telapak tangan Vera, dan dengan cepat Vera memasukkan kacamata bulat itu di dalam laci mejanya.


"eh, Tante ngapain?"


"Tante nggak habis pikir deh, sama kamu. jadi selama ini kamu make kacamata tanpa alasan? kamu tau nggak, kamu jelek banget pake kacamata ini, udah lagi bulat lah, nggak ada elegan nya sama sekali”


"ya nggak apa-apa kan, kaca mata tetap kacamata"