
"kenapa? Kamu tau nggak kenapa dia mendapat posisi sebagai wakil Presdir dan juga mendapatkan proyek sebesar ini? Itu karna dia pintar sekali menggoda Presdir D.A"
"Sury, cukup" Felix kembali menegur Sury.
"Aduuuh... andai saja kamu menyaksikan nya sendiri. Dia benar-benar melakukan aksinya dengan sangat baik, bahkan Presdir D.A memujinya terus menerus hingga bibir nya mengering. Hahaha"
"Nn.Sury, sebaiknya jaga perkataan anda terhadap nona kami" Stevan mulai naik darah.
"Nona apa? Nona kami katamu? Hahaha, kamu benar-benar nekat ya. Hanya demi mendapatkan julukan Ny.Alfian, kamu sampai berniat untuk menikahi duda yang mempunyai anak seumuran dengan mu"
BRAK! Melviona mengebrak meja. Tampak dari ekspresi Melviona yg menyeramkan, membuat Sury terdiam dalam sekejap, entah mengapa ia merasa lidah nya membeku namun bibir nya gemetar hebat melihat ekspresi itu.
"Kalau aku berhasil mendapatkan posisi itu, bagaimana bila aku langsung menghancurkan perusahaan dan masa depan mu?" Dengan nada dingin, Melviona mengancam Sury.
"A-a-ak_" Sury berusaha berbicara membalas Melviona, namun bibirnya masih saja gemetar entah mengapa.
"Ah, benar. Tentu saja, Felix adalah bagian dari keluarga mu, aku tidak mungkin menghancurkan perusahaan kalian bukan. Lalu bagaimana dengan membuat mu lepas dari dunia sosialita juga dunia entertainer, bagaimana menurut mu?"
Lagi lagi Sury gemetar tak menjawab, wajah nya pucat pias dan berkeringat dingin.
"Kalau begitu, silahkan nikmati makan siang mu, Nn.Surry" Melviona berdiri dan berjalan keluar diikuti oleh Stevan yg merasa kagum juga takut dengan sisi lain nona nya itu.
Sepeninggal Melviona dan sekertaris nya, Sury merasa udara kembali muncul dan jantung nya yg sesak memompa udara berkali kali dengan cepat.
Tubuh nya lunglai lemas, getaran tubuh nya mereda dan perlahan ia berbicara dengan gagap "a-apa? Di-dia, baru saja me-mengan-mengancamku?"
Felix hanya terdiam mengamati kembaran nya itu. Ia memang merasa prihatin, namun sikap Sury yg diluar batas nalarnya membuat nya ingin membiarkan gadis itu merenungi kesalahan nya.
Felix berdiri dari duduknya, dan keluar restoran meninggalkan Sury.
2 Minggu kemudian.....
"Apa ada hal yang membuat hati mu senang hari ini?" Tanya Morsy, yah... kini mereka sudah berbaikan.
"Siapa? Aku?"
"Ya, kau senyam-senyum sendiri dari tadi, kau hampir membuat ku berpikir kau sudah gila"
"Hahaha...mana ada? Nggak kok" Alyan tersenyum lagi.
"Ayolah, sejak pagi kau lebih ceria dari hari yg sebelumnya, padahal kau baru putus minggu lalu dari Manda. Bener bener ya, kamu nggak pernah nganggap Manda tuh pacar" timpal Darlen mendengus.
"Itu... dia akan kembali besok" Alyan berusaha menahan bibirnya yang akan melengkung ke bawah.
"Siapa?" Tanya Darlen bingung.
"Melviona" jawab Morsy.
"Melviona? Hah! Melviona bakal pulang besok?!" Darlen terkejut.
Alyan mengangguk semangat "dan lagi, besok kan hari ulang tahun nya" lanjut Alyan.
"Gimana? Kau udah persiapan nggak?" Brave memastikan.
"Udah dong, aku akan pura-pura mengancam nya agar dia mau langsung pulang ke villa ku"
"Acara nya di adain di villa mu?" Darlen memastikan.
"Hehe"
"Undang aku dong"
"Nggak! Kalian nggak boleh datang"
"Kenapa?"
Alyan kembali tersenyum "itu...aku mau menyatakan perasaan ku padanya malam itu" ucap Alyan dengan wajah memerah.
"Ha?! Serius! Kalau gitu aku harus datang!!"
"Tidak! Aku tidak mau ada yang datang, bahkan para pelayan akan ku suruh pergi jalan-jalan ke luar kota selama dua hari hanya karna ini"
"Ya...aku tidak mau ada orang, malu tau" lagi lagi wajah Alyan memerah dengan senyum tak karuan yg segera ia tutupi dengan telapak tangan nya.
🌺🌺🌺🌺🌺
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, dan tak ada tanda-tanda kedatangan Melviona. Bahkan Alyan menunggu di depan gerbang, memerhatikan jalan melihat apakah mobil Melviona datang, namun hasilnya nihil.
Alyan memutuskan untuk menunggu lebih lama, mungkin jalanan macet, begitu pikir nya untuk menghibur hatinya yg berdegup kencang tak sabar menanti kedatangan Melviona.
Satu dua jam berlalu, kini sudah pukul sebelas lewat, dan Alyan menyadari bahwa Melviona memang tidak akan datang, ia mengecek ponselnya dan tak ada balasan dari Melviona padanya.
"Apa dia memang berniat untuk tidak menginjak kaki lagi di villa ini?" Ucap nya sendiri pada gelas anggur yg sedang ia genggam.
"Kenapa dia terus saja mempermainkan perasaan ku?" Tanya nya lagi pada gelas itu.
Alyan meminum anggur yg telah ia persiapkan untuk dirinya dan Melviona, anggur mahal itu kini tertinggal setengah botol lagi di atas meja dan Alyan yg sudah benar benar mabuk terus saja minum.
"Tuan, dimana nona muda?" Tiba-tiba Chloe datang sambil menarik gelas berisikan anggur itu di genggaman Alyan.
"apa...? Apa itu kamu, Melviona?" Gumamnya.
"Saya kembali karna penasaran dengan acara nya, tapi kenapa tuan malah minum sendiri di sini? Mana nona?"
Alyan tak menyahut, ia menarik pergelangan tangan Chloe dan membuat Chloe terjatuh dalam dekapan nya "kamu dari mana saja, Melviona..."
🌺🌺🌺🌺🌺
Pada akhirnya, Melviona memutuskan untuk menuruti keinginan Stevan yg ingin acara ulang tahun mereka diadakan bersamaan.
Melviona yg sudah terbalut gaun mini bewarna ungu, membuat mata lebih tertuju padanya dari pada Stevan, yg menggunakan setelan coklat.
"Ada apa Stevan? Harus nya kamu senang kan? Bukan kah, hari ini hari yg begitu kamu nanti nantikan"
"Iya sih, tapi saya tidak menyangka akan jadi seperti ini"
"Kenapa?"
"Para tamu undangan lebih memerhatikan nona dari pada saya"
"Hahaha, tuh kan. Aku juga udah bilang nggak mau ikut kamu malah ngeyel, kena batunya kan"
"Hiks...saya mengaku salah"
"Ngomong ngomong, ini hadiah dariku" Melviona memberikan sebuah kotak kepada Stevan.
"Eh, ternyata nona..." Stevan terharu saat mendapat kado ulang tahun dari Melviona.
"Inikan hari ulang tahun mu juga, jangan bilang kamu nggak nyiapin aku hadiah juga ya" Melviona menautkan kedua alisnya.
"Ah, i-itu..." Stevan menoleh ke arah lain "saya... terlalu fokus pada persiapan acara nya, jadi..."
Melviona menghela nafas nya, lalu tersenyum "tidak apa-apa, aku akan menganggap perhatian orang orang di sini yg seharusnya milik mu adalah hadiah untuk ku"
"Eh"
"Maaf ya" Melviona tersenyum sangat manis, sampai membuat Stevan terkejut dengan wajah yang mulai memerah.
"I-iya, saya memaafkan nona. Trimakasih atas kadonya"
"Eh, kamu kenapa?" Melviona merasa bingung saat tiba-tiba Stevan menundukkan kepalanya tak berani menatap dirinya.
Acara berlangsung dengan sangat meriah, hingga Melviona yg merasa lelah, pamit pulang terlebih dahulu.
Di perjalanan, Melviona sudah memiliki perasaan tak nyaman, hingga saat ia membuka pintu villa dan melihat Alyan yg sedang bermesraan dengan Chloe terlebih posisi Chloe kini berada di atas Alyan berbaring di atas sofa ruang tamu.
"No-nona!?" Dengan cepat Chloe turun dari atas Alyan, namun Alyan segera menahan lengannya dan menarik nya kembali, membuat gadis itu kini terduduk di pangkuan nya.
Alyan memeluk Chloe dari belakang dan mencium leher gadis itu. "Melvionah.. siapa dia....?" tanya Alyan pada Chloe yg ia pikir Melviona.