I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 29


Alyan datang sendiri ke tempat syuting, ini lah hari pertama Alyan memulai dunia hiburan yg sebenarnya. 


Alyan berperan sebagai seorang mahasiswa kampus yg sangat jenius namun phobia akan sentuhan wanita saat sang ibu meninggal dimana ia baru berumur 8 tahun. Hingga pada akhirnya ia bertemu dengan Manda, seorang gadis manis yg lincah.


pukul 18.00, Alyan selesai syuting.


"waah~! kamu keren banget!" seru Manda.


"hm, ah walau begitu aku memiliki banyak kesulitan dengan naskahnya" ucap Alyan.


"hm? bagian mananya?"


"saat, seorang wanita menyentuh ku, aku harus memarahi mereka, rasanya agak tidak nyaman"


"nggak papa kok, inikan cuma akting, mereka pasti mengerti"


"aku nggak terlalu berharap sih"


"ah, ngomong ngomong, sutradara mengajak kita untuk minum bersama, kamu mau ikut?"


"tidak, aku ada keperluan di rumah"


drrrrt... drrrrt...


ponsel Alyan berbunyi, ternyata panggilan dari ayahnya.


"halo, pah?"


"kamu udah cari pengganti nya?"


"pengganti apa?"


"ck, bukannya perawat mu itu sudah mengundurkan diri? atau...ah, benar juga kan kamu sekarang ikut syuting, seorang perawat sudah tidak di butuhkan lagi..."


"pah..."


"apa?"


"siapa yang mengundurkan diri? jangan bilang..."


"Tentu saja Melviona, memang kamu punya dua orang perawat"


"hah, hahaha! jangan bercanda dong pah, dia aja belum kabarin aku kok"


"belum?! papa pikir kalian sudah membicarakan ini sejak dulu, kalau kamu memang nggak percaya papa bisa kirim foto surat pengunduran dirinya"


"ah, sudah lah, aku capek, jangan ganggu aku"


Alyan menutup panggilan itu, namun saat ia ingin memasukkan nya ke dalam saku nya, ponselnya berbunyi.


Ting!


sebuah pesan MMS masuk ke dalam ponsel Alyan.


Alyan seketika terkejut, melihat apa isi pesan itu. foto surat pengunduran Melviona yg di kirim oleh ayahnya!


"hahaha yg benar saja, lagi lagi dia bertindak tanpa sepengetahuan ku"


"kamu kenapa sih? itu apa yg masuk?" tanya Manda.


"ayo kita pergi"


"kemana?"


"bukan nya tadi kamu meminta ku pergi untuk minum?"


"beneran?! kalau gitu ayo kita berangkat~!” seru Manda girang.


🌺🌺🌺🌺🌺


Ternyata sudah pukul 21.45, Melviona menghela nafasnya pelan, ia sedang mengendarai mobil menuju villa, ia berniat untuk membereskan kopernya.


namun di perjalanan, Melviona melihat segerombolan orang berlarian keluar bar yg ada di pinggir jalan, mulanya Melviona terus melanjutkan perjalanan nya, namun saat melihat Manda yg berada di antara gerombolan itu Melviona menghentikan mobil nya, Manda menunjukkan ekspresi takut dan gelisah, raut wajahnya memucat dan berkeringat dingin. 


Sesudah memarkir mobilnya di pinggir jalan, Melviona keluar dan bertanya pada Manda yg terkejut melihat Melviona menghampiri nya. 


"Apa yg terjadi?" Tanya Melviona. 


Melviona menoleh ke dalam bar itu, dan melangkah masuk ke dalam, ia terkejut saat melihat Alyan sedang memukuli seorang pria yang kini tengah tersungkur di lantai tak berdaya, bahkan saat Melviona melihat sekitar bar itu, ternyata banyak pria dewasa yang sudah pingsan di lantai! Seperti nya itu pengeroyokan, pikir Melviona. 


"Hentikan." Ucap Melviona datar. 


Alyan menoleh ke belakang, melihat Melviona yg tengah berdiri di belakang nya. 


"Haaah~" Alyan menghela nafasnya agak kasar, sambil memandangi Melviona dengan tatapan fokus. 


"Aku benci wajah itu" gumam nya. "wajah itu... mirip dengan nya. Haaa...aku benci..."


tiba-tiba Alyan ambruk, dan tertidur di lantai.


Melviona terkejut, dan langsung menghampiri Alyan, berusaha membuat Alyan tersadar, namun karna Alyan tak merespon, terpaksa ia harus diangkat dua orang lelaki ke dalam mobil Melviona. 


Melviona mengantar Alyan ke villa, dan di perjalanan, Alyan terbangun. 


"Ugh.." rintih Alyan. 


"Eh, kamu udah bangun?"


"Melviona?" Gumam Alyan dengan nafas berat. 


"Kita lagi perjalanan pulang, jadi kamu bisa kembali tidur, butuh waktu lama untuk sampai ke villa"


"Melviona" panggil nya. 


"Ya?"


"Kepala ku sakit"


"Itu karna kamu kebanyakan minum"


"Aku mau muntah"


Mendengar hal itu, Melviona langsung menghentikan mobilnya. "cepat keluar, jangan sampai kamu muntah di dalam mobil"


Alyan pun segera keluar, namun bukannya pergi untuk muntah, ia malah langsung membuka pintu mobil bagian depan dan duduk di samping Melviona. 


"Kamu ngapain?! Sana pergi!" Bentak Melviona. 


Alyan hanya tersenyum manis memandang Melviona, membuat Melviona merasa aneh. Bukan hanya itu, Alyan lalu mengunci pintu dan kaca mobil. "ka-kamu kenapa sih?" Tanya Melviona yg mulai merasa gelisah. 


"Aku takut" ucap Alyan pelan. 


"Hah?"


Tiba tiba Alyan memeluk Melviona. 


"Aku takut kamu ninggalin aku kayak dulu" lanjut nya. 


"Tu-tu-tunggu, apa kamu bisa ngomong tanpa sentuhan fisik?😫" Tanya Melviona, berusaha menjauh kan wajah nya karna tak tahan dengan bau alkohol yg menyengat di tubuh Alyan. 


Alyan kemudian melepas pelukannya dan menatap lekat Melviona. "hei..mau dengar cerita?" Tanya nya. 


"Tidak, trimakasih, sebaiknya kamu kembali tidur saja" ucap Melviona sambil mengibas ngibaskan tangannya di depan wajahnya. 


"Baiklah, jadi...ini tentang teman ku..." Ucap Alyan memulai ceritanya. 


"Oh ayolah, sudah lagi ini tempat tertutup, sebaiknya tidur dan bermimpi" sela Melviona. 


"Dia...anak perempuan yg manis dan cantik, namanya... Viona"


Mendengar nama panggilan nya di sebut oleh Alyan, seketika ia terdiam. 


"Walaupun begitu, kita tidak boleh tertipu dengan usia mungil nya, karna dia... memiliki pemikiran dewasa dibanding para pelayan di rumah ku kala itu"


"Dibanding menghibur ku saat aku kehilangan ibuku, ia malah membentak ku dan mengataiku cengeng, dan...secara tidak langsung dia slalu menyemangati ku dibalik kata kata nya yang slalu membuat ku kesal" ujar Alyan lalu menghela nafas berat nya. "percaya atau tidak, tapi aku sudah menyukai nya sejak seminggu aku mengenalnya, dimana saat itu usia ku baru delapan tahun, haaah~, tak kusangka ia pergi tanpa pamit" lanjut nya kemudian bersandar di kursi nya dan memejamkan matanya. "Hingga saat ini... kebiasaan pergi tanpa pamit nya slalu terulang"


Cukup lama Alyan berhenti bicara, dan Melviona berpikir bahwa Alyan sudah tertidur pulas. 


Melviona termenung sejenak, raut wajahnya memucat dan tampak berkeringat, la kemudian melanjutkan perjalanan ke villa. 


Sesampainya di villa ia memopong Alyan ke kamarnya, sesudah menyelimuti Alyan dengan selimut, ia tidak langsung ke kamarnya. Ia duduk di pinggir ranjang Alyan dan termenung, ia berpikir soal cerita Alyan di mobil dan menyambungkan nya dengan teman masa kecil nya di London, sudah cukup lama ia melupakan teman nya itu, sehingga kini ingatan masa lalu nya hanya teringat samar samar. 


Sesekali ia melirik ke arah Alyan, ia masih berpikir tentang hal itu dan banyaknya pertanyaan yg memenuhi benak nya.