
"heh, kamu punya otak nggak? kamu itu di tugaskan buat ngerawat Alyan! jangan karna Presdir sendiri yang turun tangan buat memperkerjakan orang seperti mu kamu jadi bisa kurang ajar ya!" ucap Manda dengan suara tinggi.
"mata anda kenapa?" tanya Melviona.
"sesuatu menusuk mata nya" jawab morsy.
"hah?! ketusuk apa?!" tanya Melviona yg mulai merasa ngeri.
"aku juga tidak tau, dari tadi dokter juga menanyakan apa yang menghantam mata kanannya tapi dia tidak menjawab" ucap Morsy.
"Manda juga tidak mengatakan nya" lanjutnya.
"Manda...?" pikir Melviona, Melviona termenung, mencoba untuk mengingat ngingat kejadian dimana Manda dan Alyan hanya berdua dan kapan mata kanan Alyan belum terluka.
"pffft!" Melviona menutup mulutnya mencoba untuk menahan tawa yg seperti nya tak dapat tertahan lagi.
"kenapa?" tanya Morsy.
"no-nona Manda, pfft, apa itu karna obat tetes mata? hahaha... hahaha...!"
"a-apa yg kau katakan?! jangan bicara omong kosong deh!" ucap Manda panik sambil melirik ke arah Alyan yg sudah menundukkan kepalanya dan mengepalkan tangannya dengan kuat.
"obat tetes mata?π€" gumam Morsy yg masih merasa bingung.
Melviona menahan tawanya yang sempat keluar sambil memegang perutnya yang terasa sakit dan masuk ke dalam mobilnya dan kembali melepaskan tawanya.
"eh, kamu... kenapa?" tanya Manda, saat melihat Alyan memegang lengannya dengan kuat.
"bawa aku ke mobilnya" ucap Alyan datar.
"ya?"
"cepat."
"ba-baik" Manda menuntun Alyan ke luar mobilnya dan membuka pintu belakang mobil Melviona.
"eh, eh apaan nih?" tanya Melviona kaget.
saat Manda mau masuk ke dalam mobil, Alyan menghentikan nya. "kamu bareng Morsy saja"
"ta-tapi bagaimana kalau dia ngeb..."
"jalan!"
"hah?" gumam Melviona.
"cepat jalan!"
"ah, ba-baik"
Melviona menjalankan mobil nya menuju villa.
"Manda! kamu ngapain? ayo masuk" ucap Morsy yg sudah membuka kan pintu.
πΊπΊπΊπΊπΊ
"bisa pelan dikit nggak?" ucap Alyan.
"tapi ini kan kecepatan standar" balas Melviona.
"akh!" Alyan merasa kesakitan saat ia berdiri di dalam mobil dan kepala nya menghantam langit langit mobil.
"ka-kamu ngapain sih? duduk yg benar dong" ucap Melviona menghentikan mobilnya.
"aku duduk di depan"
"hah?"
"bantu aku keluar"
"ini orang buat ulah apa lagi sih?" pikir Melviona.
Alyan membuka pintu mobil dan keluar dari mobil.
"cepat! kalau nggak aku nggak bakal mau masuk mobil!" ancam Alyan yg kini sudah berdiri di luar.
"minta di pukul ya?" gumam Melviona, ia kemudian keluar dari mobil dan menuntut Alyan masuk ke kursi bagian depan.
"puas?"
"apa?"
"ma-maksud saya apa tempat duduknya nyaman tuan muda?"
"nggak, kayak duduk di atas batu"
"oh, kalau gitu kenapa nggak duduk di belakang aja!" geram Melviona.
"kamu berani memarahi ku?"
"tentu saja tidak!" ucap Melviona kesal kemudian masuk ke dalam mobil dan kembali melanjutkan perjalanannya.
"keong" gumam Alyan.
"hah, saya nggak amnesia loh, bukan nya tadi tuan bilang saya harus pelan?" ucap Melviona yg berusaha menahan amarahnya.
"kalau bukan amnesia, bisa jadi delusi kanπ"
"kamu.... uuukh" Melviona menambah kecepatan mobil sampai 160km/jam.
"aaakh....! pelan pelan,...!!! woooy!!!"
25 menit kemudian.....
"tuan! tuan muda! apa anda bisa mendengar saya?" tanya pak satpam panik.
"Alyan kenapa?" tanya Darlen.
"Morsy sama Manda mana?" tanya Darlen yg mengikuti Melviona ke kamar Alyan.
"di jalan" jawab Melviona.
"kok kalian nggak nyampe bareng?"
"saya tidak tau, mungkin mobil mereka kehabisan bahan bakar"
"oh, kalau gitu kalau Alyan bangun, bilang kalau aku balik ke rumah"
"baik"
"haaaah, sudah jam 18.12 lagi lagi hari yg panjang" gumam Melviona yg sudah sampai di depan pintu kamar Alyan.
"dimana Darlen?" tanya Brave.
"pulang ke rumah katanya" jawab Melviona.
"hmm, aku juga mau balik, kamu jaga Alyan seperti nya dia sangat kelelahan"
"aku juga kelelahan tau" pikir Melviona. "baik"
pukul 18.30
"aaah! nona satu itu mana sih?! biasanya nempel terus sama pria ini" kesal Melviona sambil melihat ke arah Alyan.
drrrt drrrt drrrt....
"siapa?" gumam Melviona saat melihat nomor tak dikenal menghubungi nya. "halo?"
"ini aku Morsy, aku hanya mau bilang kalau aku sama Manda nggak balik ke villa malam ini"
"ah, ba-baik, tapi..."
tuuut tuut tut..
"di matiin? haiiissh... nggak setia kawan banget sih jadi orang, terlebih lagi nona satu itu, nempeeeel mulu, lah pas orang nya lagi sakit sakitan malah di biarin, semuanya pada pulang rumah, apa aku pulang rumah juga ya? aaah...tapi lihat orang sakit yg di buang kan jadi kasian ...π’" saat Melviona memasukan ponselnya ke dalam saku rok nya, dan memalingkan pandangannya ke arah Alyan ia di kejutkan oleh Alyan yg sudah membuka matanya.
"ah! i-itu...ah, aha rupanya tuan muda sudah bangun ya! kalau gitu saya permisi dulu ya" ucap Melviona dan segera kabur dari tempatnya.
"hei.." panggil Alyan dengan suara lembut.
"eh, apa ada yang tuan perlukan?"
"kamu nggak kasian liat orang sakit yg di buang?" tanya Alyan.
"eh, maksud tuan muda..."
"tidak, tidak jadi" ucap Alyan kemudian membalikkan tubuhnya ke arah lain.
"oh, kalau gitu saya permisi"
keesokan paginya.
pukul 07.00
"Natalie, apa tuan muda sudah bangun?" tanya Melviona.
"hm? saya belum melihat nya sejak saya bangun pagi, mungkin tuan muda masih tidur"
"oh, kalau begitu aku mau mengecek nya di kamar"
"baik"
cklek.
"tuan, apa anda...eh sudah bangun" ucap Melviona saat melihat Alyan sudah duduk di atas ranjang nya.
"kenapa?" tanya Alyan tak memandang Melviona.
"tidak, saya hanya memastikan Anda masih ada di kamar "
"kenapa? apa akan merepotkan jika aku kemana mana dengan mataku ini?"
"udah tau masih nanya" gumam Melviona.
"oh, kalau begitu kamu bisa keluar"
"eh?"
"tenang saja aku tidak akan keluar dari sini"
"kok gitu sih? apa perasaan tuan muda sedang buruk?" tanya Melviona.
"perasaan ku memburuk saat kau mulai bicara"
"kalau begitu saya tidak akan bicara agar perasaan tuan muda membaik"
"itu lebih baik"
"ngomong ngomong mata tuan muda sebelah kiri kelihatan lebam"
"hei"
"apa?"
"barusan kamu sendiri yang bilang kalau kamu tidak akan berbicara agar suasana hati ku membaik"
"hmm, kalau di pikir pikir mana bisa perasaan seseorang membaik kalau tidak bercerita atau... semacam curhat gitu, jadi aku.."
"kemarilah, duduk di sini" ucap Alyan sambil menepuk nepuk pinggir kasur nya.
Melviona yg masih bingung hanya dapat mengikuti ucapan Alyan.
"memang nya ada apa?"tanya Melviona yg kini sudah duduk di pinggir ranjang Alyan.