
"apa semua nya sudah siap?"
"Sudah tuan, tapi bagaimana dengan alkohol nya? Menurut saya itu cocok untuk acara yg akan tuan adakan"
"Aku? Heh, kalau aku sih mana mau acara beginian, merepotkan tau nggak"
"Kalau tuan tidak mau, kenapa acara nya di adakan disini?"
Alyan menghela nafas panjang nya "kamu tau Manda kan, dia slalu saja keras kepala"
"Jadi ini permintaan nona Manda?"
"Hm"
"Kalau begitu saya minta maaf"
"Tidak perlu minta maaf"
"Oh, kalau begitu bagaimana dengan alkohol nya tuan?"
"Tidak perlu, Darlen akan memba...ah, benar juga. Darlen kan tidak tau Manda bawa teman"
"....?"
"Siap kan saja alkohol nya"
"Baik tuan" Eloise menundukkan kepalanya dan beranjak pergi.
"Tunggu"
"Ada apa tuan?"
"Dimana gadis itu?"
"Gadis? Gadis yg mana tuan?"
"Gadis itu"
"Iya tuan, di sini ada 9 orang gadis, yg mana tuan maksud?"
"Ck" Alyan menggaruk kepalanya yang tak gatal. "sudah lah, seperti nya dia tidak ada di villa"
"Maksud tuan nona muda?"
"Iya, tapi jangan kasih tau siapa siapa kalau aku menanyakan nya"
"Kenapa?"
"Loise, dengar. Bagaimana kalau dia salah paham dengan pertanyaan ku, dia pasti mengira aku menyukai nya kan"
"Tidak"
"Apa maksudmu"
"Nona muda tidak akan berpikir seperti itu, nona muda kan sudah punya pacar"
"Pacar?!!"
"Eh tu-tuan, kecil kan suara tuan, bagaimana kalau tiba-tiba nona muda ada di sini"
"A-apa maksud mu, dia su-sudah punya pacar?!"
"Hm" Eloise mengangguk kan kepalanya "tapi sepertinya nona mau merahasiakan hubungannya dengan orang itu, jadi setiap kami bertanya nona akan menjawab bahwa itu hanya sahabat nya"
"Sahabat?"
"Iya, tapi kami tidak percaya. Bagaimana mungkin ada sahabat se mesra itu, apa tuan tau? Nona bahkan sudah lima kali mengizinkan orang itu menginap di villa, tepatnya di kamar tuan muda"
"Hah?! Siapa! Siapa orang itu?!" Dengan geram Alyan menuntut jawaban pada Eloise.
"Kami tidak tau tuan, yg jelas pria itu sangat tampan"
"Tampan katamu?!"
"Eh, tuan sepuluh kali lipat lebih tampan dari orang itu kok, hehe"
"Sudah berapa lama mereka menjalin hubungan?"
"Satu bulan lebih ya"
"Apa tuan tau, orang itu terus saja berada di sekitar nona, saya juga pernah melihat orang itu sedang mengikat rambut nona di depan gerbang, kalau tuan tidak percaya, tuan bisa menanyakan hal ini pada pak satpam, dia pasti akan berkata hal yang sama denganku" Eloise masih saja terus mengoceh tanpa memperhatikan Alyan yg mulai mengeras kan rahangnya dan mengepalkan kedua tangannya.
"Saya hampir tak percaya, orang itu bahkan menjilati tangannya yg ia pakai untuk membersihkan makanan yg menempel di bibir nona muda"
"Sial!"
"Eh, tuan, maaf kan saya" Alyan segera beranjak pergi dari sana, mengambil kunci mobilnya dan mulai mengendarai nya, namun baru saja ia sampai di gerbang, lajunya berhenti karena empat mobil yg akan masuk lewat gerbang.
"Alyan?" Manda segera turun dari mobil dan berdiri di depan mobil Alyan sambil merentangkan kedua tangannya.
"Mau kemana? Kami udah jauh jauh ke sini loh"
"Akh" Alyan meninju klakson mobil dan membuat Manda terkejut mendengar suaranya.
"Alyan!"
"Ck, iya-iya maaf, nggak sengaja ketekan" Alyan memutar mobil nya dan kembali memasuki halaman villa.
"wah..maaf, aku baru tau yg datang akan sebanyak ini, dan membawa hanya secukupnya saja untuk kita" Darlen menaruh sebuah kardus bir di atas meja pondok.
"Tidak apa-apa, aku tau akan begini, jadi aku juga sudah mempersiapkan nya" Alyan melihat ke arah Eloise, dan Eloise pun mengangguk masuk ke dalam villa.
"Silahkan duduk" Alyan mempersilahkan teman teman Manda yg ikut datang. Ternyata Manda membawa 11 orang gadis, lebih satu dari yg ia janjikan.
"Kok gitu sih, kita ikut bantu juga ya, manggang nya" seorang gadis berbicara dengan nada manisnya.
"Tidak, kalian kan tamu, bagaimana bisa kami memperkerjakan tamu" Alyan menolak dengan halus.
"Tamu? Hehe, bentar lagi bukan tamu kok, jadi kamu nggak usah sungkan sama kami" gadis itu memeluk lengan Alyan sambil tersenyum.
Namun dengan cepat Alyan melepas nya "apa aku menyebalkan?" Gadis itu bertanya dengan raut wajah bersalah.
"Ah, bukan. Manda pencemburu, dia akan kesal dan akan memarahi ku, juga membencimu"
"Begitu ya, pasti susah ya"
"Hm?"
"Berikan ponsel mu"
"Untuk apa?" Dengan ragu Alyan menyodorkan ponselnya kepada gadis itu.
"Hehe" gadis itu mulai memainkan jarinya dia atas layar ponsel Alyan, tak lama ia mengembalikan nya. "Aku sudah menyimpan nomor ku kedalam"
"Eh?" Alyan kembali mengecek ponselnya "mana?"
"Aku sudah menghapus nya dari riwayat panggilan jadi, kalau nanti aku menelepon mu, angkat ya"
"Tuan" Eloise datang bersama Olivia dengan masing-masing satu kardus berisi bir di dalamnya.
"susun di atas meja"
"Baik tuan"
Berbeda dari dugaan-dugaan yg ada di benak Alyan dan Morsy, ternyata acara itu cukup meriah walau sederhana, ada yg bernyanyi dengan gitar, ada yg berganti gantian untuk memanggang, menari dan yg paling membangkitkan suasana ialah Darlen yg berbicara tanpa rem dengan sebotol bir yg hampir habis ia minum. Seperti nya Darlen sudah benar benar mabuk.
"Hei Manda!" Darlen mulai mengoceh pada Manda.
"Tadi siang kau bilang aku apa hah?! Asal kau tau ya! Aku tidak jomblo! Kini aku sudah punya pacar!" Darlen merangkul gadis yg duduk di sampingnya "benar kan sayang" Darlen bertanya dengan gadis itu.
"Hahaha, iya benar" gadis itu tertawa, yah... apa pun yang ia katakan pasti akan dilupakan.
"Kau dengar itu Manda! Aku tidak jomblo seperti yg kau katakan"
"Hahaha, baiklah-baiklah, kalau begitu bisakah kau berhenti minum? Kita akan mulai permainan serunya sekarang"
Permainan seru? Semuanya bertanya tanya dalam hati, kecuali Manda dan sebelas orang temannya.
"Nah, ini dia" Manda mengeluarkan satu kotak bewarna hitam dan menaruh nya di atas meja juga sebuah kardus berisi kan kertas warna-warni yang telah digulung kecil dan rapi.
"Pil perangsang?" Alyan kelihatan bingung saat melihat kotak hitam yg Manda taruh di atas meja.