I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 50


"Maksud ayah Sury? Dia gadis yang memuakkan, jangan kan untuk di cintai olehnya, Aku saja tidak mau mencintai nya walau hanya sekedar memberi perhatian yg secukupnya untuk nya" ujar Alyan sombong.


"Waakh, kepercayaan diri mu menghancurkan image mu, sungguh memalukan"


"Kenapa? Apa aku salah? Atau ayah tidak mempercayai ku? Hah! Bagaimana mungkin 😯?! Seorang ayah tidak mempercayai putranya 🤔?"


"Bukan, ayah percaya pada mu, masalah nya, yg sedang ku bicarakan bukan anak bernama Sury itu. Kau saja yg kepedean nya tingkat dewa"


"Kalau bukan dia, lalu siapa lagi?"


"Sudah lah, ayah ingin istirahat, kau juga harus istirahat, ini sudah larut malam" ayah Alyan berjalan menuju kamar nya yg ada di lantai satu.


"Jadi, apa ayah mengizinkan ku pergi"


"Yah... terserah kamu saja" ayah Alyan menjawab dari kejauhan, dan terdengar suara pintu tertutup, seperti nya Presdir Alfian sudah menutup pintu kamar nya.


"Siapa lagi wanita yg di maksud ayah?" Dengan bingung Alyan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Keesokan paginya, tepatnya hari Sabtu, dimana sekolah di tiadakan setiap akhir pekan, Alyan sudah memacu mobilnya menuju villa yg ia rindu rindukan.


Untuk beberapa alasan, Alyan sudah mulai menjalani hidup nya seperti biasa, ia mulai kembali tersenyum ceria, walau terkadang ia termenung dalam kegelapan malam kamar nya, yah... semuanya, semuanya kembali seperti semula walau lebih tepatnya kembali semula sebelum ia kembali bertemu Melviona, gadis kecil yg amat ia rindukan kini sudah menjadi gadis dewasa yang membuat dirinya terpesona dan ingin mendekap nya erat agar tak dapat pergi seperti dulu, dimana gadis itu pergi tanpa pamit, kembali ke negara asalnya.


Namun, seperti yang pernah ia dengar 'cinta tak dapat dipaksakan' oleh karena itu, ia tak ingin menyiksa gadis itu, walau ia tau kini ia sedang tersiksa, luka dalam hati nya masih terbuka dan terus di taburi garam setiap kali ia mengingat penolakan gadis itu padanya, tapi, buatnya itu bukan apa-apa, itu hanya luka dalam yg dapat ia sembunyikan, bahkan bila para dokter memeriksa atau me ronsen nya, luka itu tak akan terlihat, karna itu ia akan terus menangis dalam diam agar kesedihan nya tak dapat di ketahui oleh orang di sekitarnya, ia sudah menyembunyikan nya rapat-rapat, jadi harap tak ada yang terlalu penasaran untuk mengungkit nya😁(no kepo).


"Tuan muda, anda kembali?" Dengan wajah terkejut Windi mendapati tuan muda nya itu sudah berdiri lima meter di hadapan nya yg tengah membersihkan halaman dari dedaunan kering.


"Ya, aku hanya berkunjung" jawab Alyan tersenyum.


"Apa tuan muda benar benar sudah baikan?"


"Seperti yang kamu lihat, aku yg sekarang sudah sangat se..." Perkataan Alyan terhenti saat pandangannya mendapati seorang gadis yang tengah berada di atap villa.


"Dia..."


"Ah, nona Melviona ya? Nona tinggal di villa dua bulan yg lalu"


"Ha?"


"Presdir sendiri yang menginginkan hal itu, katanya ia sudah menganggap nona sebagai Putri nya sendiri, dan karna putra nya tidak merawat villa, jadi beliau ingin putrinya yang mengganti kan putranya" jelas Windi.


Alyan hanya tercengang dengan penuturan Windi, "jadi.... Jangan bilang menantu yang dimaksud ayah...." Lagi lagi Alyan mendongak ke atas, memandangi Melviona yg seperti nya tengah membersihkan air kolam renang. "tidak, aku pasti keliru, tidak mungkin ayah menjodohkan ku....ah, benar! Pasti karena ayah tidak memiliki seorang anak perempuan jadi dia ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki anak gadis" Alyan begitu antusias memikirkan hal yg tak masuk akal itu. "oooh, jadi begitu"


"Ya tuan? Ada apa?" Windi bingung saat tiba-tiba Alyan bergumam tak jelas.


"Ah, tidak, tidak ada apa-apa, kalau begitu apa aku bisa masuk?"


"Tentu, ini kan villa tuan muda, untuk apa meminta izin"


"Yah...karna adik perempuan ku yg kini sudah memiliki nya" lanjut Alyan yg sudah memasuki ruang tamu.


"ha, adik perempuan? Siapa? Nona Melviona?" Windi di tinggal dengan kebingungan.


Alyan memasuki kamarnya, ia berbaring menatap langit langit kamar nya yg sudah lama ia tinggalkan. "Dari pada villa, ini sama seperti rumah utama bagi ku" Alyan bergumam lalu menghela nafasnya. "ayah benar" ia menghela nafas berat nya "hidup ku dipenuhi ego" perlahan, Alyan menutup matanya dan tertidur. Ia tidur beberapa jam, dan terbangun mencium sesuatu yang enak.


Dengan langkah yg terseret-seret, Alyan berjalan menuruni tangga. Pandangannya masih tak siap untuk terbuka lebar, oleh karena itu ia memegang tangga agar tak terjatuh.


Alyan berjalan mengikuti bau makanan yang menuntunnya, hingga ia tersadar saat ia menarik kursi dan duduk di sana. Ia mulai mengucak ngucak matanya, dan apa yang ia lihat! Ia tak sadar bahwa kini ia bukan di rumah utama namun di villa dimana Melviona tinggal di sana.


Namun berbeda dengan Alyan, yg bersikap seolah baik baik saja, ia mengambil makanan di atas meja dan memakannya tanpa memedulikan keberadaan Melviona yg duduk di depan nya.


"Bagaimana keadaan mu..." Tanya Melviona dengan suara pelan.


Alyan menghentikan makannya, tampak pria itu termenung sejenak lalu menatap Melviona yg juga sedang menatap nya. "itu mata masih normal kan" jawab Alyan dengan senyum meledeknya, kemudian kembali makan.


"Apa kamu akan kembali tinggal di villa?" Tanya Melviona lagi.


Tak! Alyan membanting sendok di atas meja. "akh, selera makan ku hilang" keluh nya. "hei, apa biasanya kau makan sambil bicara? Heh, sungguh tidak tau etika makan" Alyan berdiri dari bangku nya. "sudah makanan nya tidak sesuai dengan lidah ku" lanjut nya kemudian berjalan meninggalkan Melviona.


"Alyan, aku minta maaf" gumamnya saat Alyan menghilang dari pandangannya.


Sama seperti Alyan, Melviona yg sekarang sudah berubah, untuk menghindari Alyan, Melviona meminta tolong pada Vera agar dapat ia mendapat kan surat kelulusan tanpa harus bersekolah.


Hal itu pun di tanggapi remeh oleh Vera, asal kan Melviona tetap menghadiri ujian kelulusan.


Tak lama setelah ia berhenti beraktivitas di sekolah, ia kembali bertemu Presdir Alfian, mendengar Melviona yg sudah berhenti dari pekerjaannya, membuat sesuatu terlintas di benak paruh baya itu. Pria itu menawarkan nya pekerjaan, dan dengan senang hati Melviona menerima nya, Melviona sangat setuju akan saran Presdir Alfian, ia akan menggantikan ibunya yg bekerja di perusahaan sebagai seorang sekretaris. Awalnya hanya seperti itu, namun melihat kejeniusan Melviona yg berlipat-lipat di banding Walzer yg juga masuk kategori jenius, membuat Presdir Alfian menaikkan jabatan Melviona dengan fakta yang telah ia ketahui dengan kepala matanya sendiri.


Walzer memang tau akan tingkat kejeniusan putrinya yang di luar akal sehat manusia biasa, namun menjadikan Melviona sebagai wakil Presdir membuat nya berpikir akan motif terselubung yg mulai tercium baunya.


"Ayolah Walzer, apa kau tidak kasihan dengan ku yg tak pernah istirahat walau di akhir pekan ini?"


"Saya tidak bermaksud demikian Presdir, saya juga tau akan jerih payah Presdir selama ini, namun menjadikan Melviona sebagai wakil anda sendiri, bukan kah hal yang berlebihan?"


"Jadi, apa kau mau mengganti kan posisi Putri mu Walzer? Padahal aku pernah menawarkan jabatan sebagai direktur pada mu" dengan tatapan menyelidik, Alfian mulai berpikir, apa Walzer cemburu dengan putrinya sendiri 🤨?


"Saya tidak pernah berpikir untuk cemburu pada putri saya sendiri"


Deg! Tiba-tiba Alfian tersentak dengan perkataan Walzer, apa ini? Bagaimana bisa dia tau apa yg kupikirkan? "Walzer, apa ada yang kau sembunyikan dariku? Maksud ku soal dirimu yg indigo?🧐"


Walzer menggeleng, intuisi seorang ayah memang jauh lebih kuat bila bersangkutan dengan putrinya, jangan meremehkan kasih sayang orang tua, Alfian.


"Raut wajah anda mengatakan hal itu, Presdir"


"Benarkah? Entah mengapa aku jadi meragukan mu"


Bagaimana tidak? Jawaban Walzer begitu pas dengan pertanyaan yang muncul di benak nya.


"Presdir, terlepas dari kedudukan saya, siapa orang tua yang tidak menginginkan masa depan yang cerah untuk anak nya? Saya juga senang saat anda menunjuk nya sebagai wakil anda sendiri, namun di balik itu, saya juga menghawatirkan putri saya"


"Oh, maksud mu kau mencurigai ku? Aku?"


"Bukan kah jabatan itu di berikan kepada seseorang yang berhubungan darah dengan Anda?"


Sejenak Alfian terdiam "maksud mu Alyan?" Alfian menghela nafasnya "Alyan dan Melviona berbeda, Alyan tak sejenius putrimu Walzer. Entah apa pendidikan yg ia dapat hingga ia bisa begitu membanggakan, aku pun menginginkan anak seperti itu Walzer, tapi bukan artinya aku membenci putra ku. Alyan hanya butuh proses untuk menjadi seorang seperti ku, kalau pun dia tidak mau, aku tidak terlalu memaksa kan, aku akan menyerahkan perusahaan ini kepada orang yg ku percaya"


"Maksud anda..."


"Benar, aku begitu ingin menjadi kan putri mu dalam bagian keluarga ku, walau Alyan tidak menginginkan Melviona sebagai pendamping hidup nya, yah.... setidaknya sebagai anak angkat aku juga tidak terlalu masalah dengan hal itu, bagiku dulu dan sekarang, Melviona sudah ku anggap putri ku, walau aku tau dia masih memiliki dua orang tua yang sangat menyayangi nya.... kupikir dengan satu orang tua lagi dalam hidupnya tidak akan membebaninya"


HAYO... SIAPA BELUM LIKE? HIHIHI😁


JAGA KESEHATAN YA.


SEE YOU NEXT ALL😘