I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 54


"Jadi, permainan nya ialah, kita akan menyanyikan sebuah lagu pendek sambil mengoper botol bir ini, bagi siapa yg saat lagu nya berakhir dan botol masih berada di tangannya, orang itu wajib mengambil salah satu gulungan kertas dari dalam kotak ini. Nah isi dalam gulungan ini ada dua macam, yaitu pertanyaan dan tantangan, bagi siapa yg mendapatkan pertanyaan dan berhasil menjawabnya dengan benar, maka ia akan selamat, tapi bagi siapa yg tak mau menjawab pertanyaan itu atau ketahuan berbohong maka ia harus meminum segelas besar bir.


Sedangkan bagi siapa yg mendapatkan tantangan dan tak mau atau tak dapat melakukan nya, maka..." Manda mengangkat sekotak pil perangsang yg ada di atas meja "orang itu...harus meminum satu pil ini" ucap nya dengan senyum menyeringai nya.


"Oke! Siapa takut!" Ucap Darlen mantap.


Permainan pun berlangsung, dan yg pertama korban ialah salah seorang gadis yg di bawa Manda, pertanyaan cukup sederhana 'sebutkan nama orang yang kamu tiduri pertama kali!' dan gadis itu menjawab pertanyaan itu dengan rona diwajahnya.


Permainan berlangsung cukup lama, dan ya, Brave yg penuh misteri tak dapat menjawab pertanyaan dan telah meminum 5 gelas bir.


Manda segelas, Delvin 3 gelas, sedang kan Darlen dan Morsy tidak. Darlen menjawab semua pertanyaan yg ia dapatkan tanpa ragu, bahkan menjelaskan setiap detail nya, ia juga berhasil melewati tantangan yg ada di sana, berbeda dengan Morsy yg slalu berhasil lepas dari botol bir itu.


Di tengah-tengah malam yg meriah itu, sebuah mobil memasuki halaman rumah.


"Waah! Apa yang dilakukan Melviona di sini?" Darlen berjalan terhuyung-huyung menghampiri Melviona dan menarik gadis itu ke pondok.


"Eh, ada apa ini?" Melviona merasa bingung.


Darlen mengangkat secarik kertas dan mengarahkan nya ke wajah Melviona. "Lamar orang yg kamu sukai?" Melviona bertambah bingung saat membaca kertas yg diberikan Darlen.


"Semuanya, perhatikan aku" Darlen mengambil tutup botol bir dan berusaha untuk setengah berlutut di hadapan Melviona walau keseimbangan nya mulai menghilang "Melviona, maukah kamu menjadi istri ku?" Tanya nya sambil memberikan tutup botol bir itu kepada Melviona.


"Waaah~!" Semuanya kagum dengan Darlen.


"Terima! Terima! Terima!" Terdengar suara banyak orang yg mendukung Darlen.


"A-apa maksud nya ini?" Melviona kebingungan melihat banyak orang yang bertepuk tangan sambil mengatakan 'TE-RI-MA!'


"Maaf, tapi aku sedang sibuk" Melviona berbalik namun Darlen menggenggam lengan nya. "Ayolah Melviona, kau akan membuat ku gagal dalam tantangan ku" ucap nya.


"Di kertasnya hanya tertulis lamar orang yang kamu sukai, di sana tidak di tulis kan orang itu harus menerima mu" Alyan buka bicara.


"Oh ya?" Delvin kembali membaca secarik kertas itu "aaah, benar-benar, di sini tidak di haruskan orang itu harus menerima lamaran ku, hei Manda! Bagaimana caramu menyusun tantangan menjebak ini, Melviona hampir saja membenci ku"


"Ayolah, tak ada tantangan yg menjebak di sini, kau saja yang terlalu bodoh untuk mengartikan nya, apa kau bisa membaca hah?!" Waah, ternyata Manda sudah mabuk hanya dengan segelas bir.


"Haissh, Melviona ayo duduk lah" ajak Darlen.


"Tidak, aku masih ada urusan"


"Ck, urusan apa ha? Tengah malam begini siapa yg mau bekerja? Katakan padaku kepada siapa kau bekerja, aku akan menghancurkan perusahaan nya"


"Ah, D.A, aku bekerja untuk perusahaan D.A"


"D.A? Perusahaan ayahnya Alyan?"


"Hm"


"Hahaha, tadi aku hanya bercanda, bagaimana bisa aku menghancurkan perusahaan D.A, milik orang tua sahabat ku, tidak mungkin kan hahaha"


"Lihat dirinya, ternyata pikiran nya langsung jernih bila menyangkut perusahaan ayahmu" ucap Brave kepada Alyan.


"Bagaimana bisa gadis itu bekerja di perusahaan ayahku? aku harus menanyakan" ucap Alyan.


"Tidak"


"Ayolah, aku juga merindukan mu"Darlen menarik tangan Melviona naik ke atas pondok dan ikut duduk di samping nya di atas lantai berupa kayu jati yg mengkilat.


Melviona pun hanya dapat pasrah, apa yang kau pikirkan tentang orang mabuk? Bila kau melawan nya maka kau juga akan ikut mabuk dalam kegilaan nya. Oleh karena itu, Melviona hanya menurut, dan memilih untuk duduk manis sesuai perkataan Darlen sambil membaca sebuah laporan yg ia bawa dari perusahaan.


Walau agak ribut mendengar lagu yg memecah di tengah malam itu, namun Melviona hanya diam dan fokus dengan laporan keuangan yg tengah ia periksa.


Hingga ia mendengar Alyan membacakan tantangan yang ia dapat.


"Waah, ciuman nya harus panas ya" goda salah seorang gadis.


Manda pun menghadap Alyan dengan malu-malu "ayo sayang, cium aku" ucap Manda yg sudah menutup matanya. Namun cukup lama Manda masih belum merasa kan sesuatu di bibirnya, ia pun membuka matanya perlahan dan melihat Alyan yg terdiam menatap secarik kertas itu.


"Ada apa sayang? Bukan kah tantangannya harus mencium kekasih mu saat ini? Apa lagi yg kamu tunggu, ayo cium aku"


"Maaf" ucap Alyan pelan.


"Apa maksudmu? Bukan kah aku kekasih mu?"


"Maaf" hanya itu yg dapat Alyan lontarkan dari mulutnya.


Morsy menyadari hal itu, tentu saja. Walau kalian sepasang kekasih, tapi Alyan tidak mencintaimu, begitu pikir nya.


Morsy mengambil kotak perangsang yg masih belum terbuka dan melemparkannya ke dada Alyan. "Sesuai peraturan, kau harus meminum bila kau tak dapat melakukan tantangan yang kau dapatkan" ucap Morsy.


Perlahan Alyan mengambil kotak itu dan mengambil satu tablet di dalam nya.


"Sebagai gantinya, kamu bisa menentukan jumlah pil yg akan ku minum" ucap nya.


"Apa itu benar benar pil perangsang?" Melviona merasa terkejut.


"Suruh dia meminum 3 butir!" Darlen memukul meja.


"Hei, ada apa dengan mu? Aku tau kau sedang mabuk berat, tapi apa itu tidak berlebihan? Aku pernah melihat perangsang jenis itu, dosisnya sangat tinggi, setengah pil bisa membuat junior mu meronta-ronta" jelas Brave.


"Entahlah, aku mengantuk" tiba tiba Darlen ambruk di lantai dan tertidur pulas.


"Jadi, kamu ingin aku minum berapa?" Tanya Alyan lagi.


Manda hanya dapat tertunduk dalam dengan kedua tangannya yang sudah mengepal di bawah meja, dan tak lama senyum kecil terukir di wajahnya. "Baiklah, sesuai keinginan mu, sayang" Manda mengambil, dan mengeluarkan lima pil dari tempatnya "silahkan, apa kamu perlu air juga untuk menelan nya?" Manda membuka sebotol bir dan menaruh nya di depan Alyan "silahkan, sayang"


"Tidak, jangan lakukan itu, menurut penelitian kesehatan, mengonsumsi pil perangsang berlebih tanpa memedulikan dosis pemakaian nya, maka akan berakibat fatal bagi kesehatan" Brave berusaha menghentikan Alyan.


"Diam lah, ini bukan urusan mu" Manda kembali tersenyum "Aaah! Siapa yang berani menendang kaki ku?!" Manda yg merasa kakinya di tendang langsung melihat kebawah, dan dengan cepat secara diam-diam Melviona merebut pil yg ada di tangan Alyan, saat ia menghitung jumlah pil yg ia rebut, ternyata hanya empat, masih tersisa satu di genggaman Alyan.


Tatapan Melviona dan Alyan kembali bertemu, Melviona mengisyaratkan agar Alyan membuangnya diam-diam, namun apa yang di lakukan pria gila itu, ia malah tersenyum dan memasukkannya ke dalam mulutnya kemudian meminum bir yg telah di buka Manda.


Manda terkejut saat mengetahui Alyan serius meminum nya, ia tak tau bila yg di minum Alyan hanyalah satu bukannya lima.