
"mau kemana?" Tanya Alyan saat melihat Melviona menuruni tangga.
"Kerumah sakit"
"Tapi inikan baru jam sembilan, kamu juga perlu memerhatikan kesehatanmu, tidurlah sebentar lagi" bujuk Alyan.
"Kamu sendiri bagaimana?" Tanya Melviona tersenyum.
"Aku kan..."
"Haha, sudahlah. Tidur lebih lama bisa membuatku menjadi putri tidur"
"Tidak masalah, karna setiap kali ingin membangunkan mu, aku tinggal menciummu kan" goda Alyan.
"Wah, baru kemarin kabar buruk melanda, kamu masih sempat-sempatnya bercanda ya"
"Aku serius, lagiankan operasinya berjalan lancar. Dokter bilang ayahku sudah bisa keluar dua minggu lagi"
"Begitu ya..."
"Hm, makanya jangan terlalu khawatir. Karna aku bisa saja kesal jika kamu mengkhawatirkan hal lain selain aku"
"Memangnya kamu anak-anak?"
"Ya, terserah kamu mau bilang aku apa, yang penting tatapan dan perhatian hangat mu tetap tertuju padaku" ucapnya tersenyum cerah.
Deg! "...se-sepertinya kamu sedang bertengkar dengan ayahmu"
"Bertengkar?"
"Seharusnya kan kamu tidak bisa berkata-kata manis dihari seperti ini"
"Kenapa? Apa kamu tidak nyaman?" Tanyanya dengan raut wajah polos.
"Ti-tidak, bukan begitu, maksudku... Ah sudahlah ngomong-ngomong kamu tidak lupa sekolah kan?"
"Sekolah...? Entahlah, sepertinya aku akan menambah cuti, atau aku berhenti saja ya?"
"Hah?! Tidak, tidak boleh! Bagaimanapun pendidikan itu yang utama, kamu mengerti!"
"Hm? ...baik..."
"Kalau begitu, aku pergi dulu ya" Melviona segera keluar dari pintu utama villa.
Sesampainya dirumah sakit, Melviona memasuki ruangan VIP yang sudah beberapa bulan ini ia kunjungi. Ya, ruangan dimana Kristian berada.
"Kakak~!" Suara riang yang hampir terasa asing kini teringat kembali.
Benar, suara itu berasal dari Kristian,
walaupun terlihat pucat dan lesu, namun semangatnya tetap ia pertahankan, terlebih saat melihat kedatangan Melviona.
Mungkin ini hal yang benar-benar tidak dapat diprediksi, disaat ayahnya mengalami kecelakaan dan harus menjalani operasi, Kristian malah siuman dari koma panjangnya.
Antara sedih dan senang, yang membuat Melviona harus tetap tegar untuk menjalani semuanya.
"Bagaimana pagi ini? Maaf kakak kesiangan"
"Tidak kok, pagi ini aku ditemani sekalian diperiksa oleh kakak perawat"
"Hm? Siapa?"
"Hehe, aku tidak tau" Kristian tersenyum manis saat kepalanya dielus oleh Melviona.
"Dasar anak nakal, baru saja sembuh sudah berbicara tentang kakak perawat"
"Tidak kok, aku hanya ingin kakak tidak khawatir, lagian... Kayaknya kakak perawat itu lebih kepergaulan ibu-ibu kompleks deh"
"Ng?"
"Itu loh kak, masa dia ngajak aku gosip" ucap Kristian bergidik.
"Hahaha, ada-ada aja sih jadi anak" Melviona malah tertawa mendengar perkataan Kristian.
🌺🌺🌺🌺🌺
"bagaimana keadaan Kristian?" tanya Walzer yang masih berbaring diatas ranjang rumah sakit.
"dia baik-baik saja, Melvi bilang pagi ini dia begitu bersemangat" jawab Yersia.
"haah~ bagaimana bisa aku terjebak dalam keadaan seperti ini disaat putra ku siuman dari koma panjangnya"
"sudahlah... khawatir kan saja dirimu, lagi pula semua ini tidak akan terjadi jika saja papa tidak mengiyakan ajakan Presdir"
"benar, bagaimana dengan keadaan Presdir?"
"beliau sudah dibawa pulang dua jam yang lalu"
"hm?"
"keamanan rumah sakit ini tidak terlalu ketat, oleh karena itu sekertaris Ian memaksa agar Presdir dirawat dirumah saja"
"begitu ya" Walzer menghela nafas pelan "mah..."
"ya?"
"papa minta maaf ya"
"tetap saja papa minta maaf, seharusnya papa tidak merepotkan keluarga"
"pah... papa kepikiran tidak sih?"
"...?"
"banyak kecelakaan yang terjadi, mulai dari kecelakaan Kristian, Tuan muda Alyan, lalu papa bersama Presdir"
"...ya, dan semuanya kecelakaan lalulintas kan ya" Walzer tersenyum kecil "yah tidak apa-apa, yang terpenting mama sama Melvi masih baik-baik saja" gumamnya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu dari luar membuat perhatian sepasang suami istri itu teralih.
"ah, maaf menganggu" Alyan masuk dengan sebuket bunga juga sekeranjang buah-buahan segar ditangannya.
"tuan muda? ada perlu apa kemari?" tanya Yersia.
"saya datang untuk menjenguk" Alyan memberikan buket bunga bersama dengan sekeranjang buah kepada Yersia.
"terimakasih atas perhatian tuan" ucap Yersia tersenyum.
"Uhm... bagaimana keadaan anda?" tanya Alyan.
"sudah lebih baik berkat kehadiran tuan muda"
"ah..." Alyan tersipu mendengar hal itu, apa calon mertuanya akan bersikap seperti ini selamanya? bahkan saat ia memiliki cucu dari Alyan? oh ayolah...jangan berbicara begitu formal terhadapnya, itu hanya akan membuat suasana menjadi canggung.
"itu...ba-bagaimana kalau anda, maksudku kita...ah tidak, tidak jadi" Alyan mengurungkan niatnya untuk memulai pendekatan terhadap calon mertuanya.
suasana menjadi hening dan bertambah canggung, sepasang suami istri itu menatap Alyan dengan tatapan tercengang yang membuat Alyan panik entah mengapa.
"apa ada yang ingin tuan muda sampaikan?" tanya Yersia.
"...apa anda tau dimana ruangan ayah saya?"
"oh, Presdir sudah dibawa kerumah oleh sekretaris Ian beberapa jam yang lalu"
"eh, bukannya ayah baru bisa keluar dua minggu lagi?"
"itu karna kesehatan dan keamanan Presdir yang utama"
"wah, padahal sekertaris Ian bilang, dia akan menemani ayah dirumah sakit sampai tiga hari kedepan, tidak kusangka dia bertindak tanpa pemberitahuan terlebih dahulu" Alyan mengernyit kesal.
"hahaha, beliau mungkin lupa memberitahu tuan muda"
"tidak, pria itu memang sengaja ingin cari gara-gara denganku" Alyan menyapu sekeliling dengan pandangannya "ngomong-ngomong, apa Viona ada?"
"tidak, dia tidak kemari"
"tapi bukannya tadi dia bilang mau kerumah sakit"
"oh, sepertinya rumah sakit yang dimaksud adalah rumah sakit putra saya berada"
"hm? bukannya baru kemarin ia menjenguk putra anda, kenapa hari ini..."
"itu karna putra saya sudah siuman"
"hah? si-siuman?!" Alyan terkejut tak habis pikir mendengar perkataan Yersia.
Yersia tersenyum "ya, sungguh mengejutkan bukan? malam dimana ayahnya mengalami kecelakaan ditaburi oleh malam dimana putra saya sadar, saya jadi bingung, apa saya harus sedih atau senang saat ini"
Alyan hanya terdiam, berusaha memproses apa yang ia dengar, oh jadi itu sebabnya Melviona tidak ikut bersama kerumah sakit, suasana hatinya juga sulit ditebak. Begitu pikir Alyan.
"tuan? tuan muda?"
"ah ya? maaf" Alyan segera tersadar dari lamunannya.
"kalau begitu saya pamit, maaf menganggu waktu calo_ maksud ku anda berdua" Alyan bergegas pergi dari sana.
"hahaha, bukankah tuan muda sangat manis?" Yersia tertawa kecil.
"Haha, yah... barusan bukannya dia ingin mengatakan maaf mengganggu waktu calon mertua?"
"ya, mama juga merasa tuan muda ingin mendekatkan diri pada kita"
"baguslah kalau begitu"
"ya, tapi sayang sekali. Melvi memutuskan untuk kembali ke Indonesia"
"a-apa?!"
"papa masih ingat Sarah?"
"Sarah? siapa?"
"Sarah, anak gadis yang ngasih makan obat perangsang pada Kristian"
"oh, kenapa?"
"Dia hamil anak Kristian, bulan depan mau lahiran"
"HAH?!!"