
"murid pindahan harus tau diri" Bleria mendorong kepala Melviona dengan jari telunjuknya berkali-kali. "aku baru tau, kalau ada ****** sebelagu ini" lanjut nya kemudian memegang pipi Melviona. "uhmm, seperti nya fisik mu perlu direnovasi"
Melihat hal itu, Alyan tak tinggal diam, ia tau bagaimana Bleria slalu melangsungkan aksinya, bila ia membenci seseorang. "Bleria, Lep..."
"Hei" potong Melviona.
"Waaah, gitu dong, nggak seru kalau nggak ada perlawanan" ucap Bleria tersenyum.
Melviona berdiri dari duduknya, menatap tajam mata Bleria, sambil perlahan mendekati Bleria lebih dekat. "kali ini, aku melepaskan mu, jangan ganggu aku lagi" ucap Melviona datar.
Mendengar perkataan Melviona, Bleria merasa kesal, dan langsung menarik rambut Melviona.
Tentu saja, semua mata tertuju pada mereka terutama Alyan, Alyan langsung beranjak dari duduknya dan melerai mereka.
Namun saat melirik Melviona sesaat, Alyan langsung tercengang.
"Minggir!" Melviona mendorong Alyan yg telah menyelamatkan nya. "kali ini kata sabar tak ada dalam kamus ku lagi" Melviona melempar kacamata nya, di lantai dan merapikan rambut nya yg telah terurai.
"Masih sok cantik lagi" Bleria kembali menghampiri Melviona, dan dengan cepat Melviona menjungkirbalikkan Bleria ke lantai, sehingga pakaian Bleria kotor dengan air pel yg mengalir dari tempat Melviona.
Melviona menghela nafas kasar nya, dan mendekati Bleria "ayolah, itu belum seberapa" Melviona Kembali mendekati Bleria, dan membanting kepala Bleria ke lantai hingga berdarah.
Melihat semua nya semakin memburuk para siswa mulai menjauhi tempat itu, takut apa bila Melviona mengenai mereka. Namun beda halnya dengan Alyan yg langsung memeluk Melviona dari belakang, menahan tangan Melviona agar berhenti melakukan aksinya.
"Lepas!" Bentak Melviona saat tiba-tiba ia di peluk oleh Alyan.
"Aku bilang lepas! "Bentak nya lagi sambil meronta-ronta di pelukan Alyan.
"Mel" lirih Alyan yg mulai kewalahan dengan gerakan Melviona "jangan gesek gesek" bisik nya di kuping Melviona.
BUAGH!
Melviona berhasil menjungkirbalikkan Alyan. "Alyan Alfian, kuharap kamu dapat melihat situasi sebelum beraksi" ucap Melviona menarik kerah Alyan.
"APA APAAN INI?!" Teriak seorang wanita yang tengah berdiri di pintu kelas. Wanita itu ialah guru seni yg terlambat masuk kelas.
🌺🌺🌺🌺🌺
"Aduuh Mel... Kok bisa jadi gini?" Tanya kepala sekolah yg juga Tante Melviona.
"Gini loh Tan, aku udah sabar bwaaanget, di jahili sama mereka, trus cewek itu datang nendang meja aku, udah gitu, dia ngejambak lagi." Jelas Melviona.
"Trus, Alyan kenapa bisa kena?"
Seketika wajah Melviona memerah, mengingat keluhan Alyan saat ia di peluk oleh nya.
"Ya ampun..! Wajah kamu jadi merah padam, kamu sakit? Ayo Tante antar ke UKS"
"Nggak usah Tan, aku hanya pening, mikirin masalah ini"
"Kamu aja pening, apa lagi Tante" Vera menghela nafas panjang nya, lalu memijit kepalanya sendiri. "kenapa harus anak itu sih 😰" gumam Vera dan masih dapat di dengar oleh Melviona.
"siapa? Bleria?" tanya Melviona Bingung.
"bukan itu, hanya saja...kamu tau kan latar belakangnya Alyan? dia pewaris tunggal dari berbagai perusahaan ayahnya yg berbeda beda, keluarga mereka masuk 10 besar keluarga terkaya di dunia sepanjang sejarah" jelas Vera dengan mata membesar.
"trus😕" lanjut Melviona tak mau tau.
melihat sifat Melviona yg tak mau tau, Vera langsung histeris dan mengucak ngucak rambut nya sendiri.
"huwaaa...! kamu pikir sekolah semewah ini apa menurut ayahnya?!"
"apa?"
"sarang semut! huwaaa"
"walau menurut ayahnya sekolah ini sarang semut, tapi kan sarang semut juga bahaya" ucap Melviona santai.
"hahaha, iya dong, karna Tante aku jadi kayak di rumah"
🌺🌺🌺🌺🌺
Melviona berjalan ke ruang UKS, dan tidur di salah satu ranjang, cukup melelahkan baginya melewati setiap hari terutama hari ini, Melviona tertidur tak lama setelah ia berbaring, namun sekitar satu jam ia tertidur, ia merasa disekitar pinggangnya terasa sedikit berat, saat Melviona membuka mata perlahan, ia melihat tangan mulus seorang pria memeluk pinggang nya, tangan yg terasa familiar, dengan warna kulit seputih salju, Melviona memutar kepalanya, dan ternyata benar, Alyan tengah tertidur di sampingnya.
Melviona yg merasa agak terkejut, langsung bangun, namun ternyata Alyan yg seperti juga terbangun langsung menarik kembali Melviona ke arahnya, membuat Melviona kembali tertidur di lengan nya. "bolos sampai pulang yuk," ucap Alyan dengan suara berat dan mata yg masih setengah terbuka memandangi Melviona.
"Alyan, aku akan membunuh mu" ancam Melviona.
"iya-iya, aku tau aku bakal mati, jadi kita tiduran bentar yuk, untuk salam perpisahan, ya?" Alyan memeluk Melviona dalam dekapan nya, kemudian berbisik di telinga Melviona "kamu tau nggak? aku tadi menderita banget loh" ucap Alyan. "itu loh, aku nggak punya pelampiasan setelah kamu gesekin"
"Alyan, tutup mulutmu, tadi itu di luar prediksi, cepat lepaskan aku" lanjut Melviona sambil berusaha melepaskan pelukan Alyan.
"tuh kan, kamu gesek lagi" ucap Alyan.
"apaan sih?! gila ya!" kali ini Melviona meninju dada bidang Alyan.
"awh! kayak nya hidup ku nggak lama lagi nih, kita rayain salam perpisahan yuk"
"uuugh...! ALYAAAN~!"
"hahaha, jangan marah marah dong, nanti cepat tua, mang kamu mau nyusul aku ya?"
"Alyan, kam.!"
"Mel?" lirih Alyan dengan raut wajah aneh.
"apa?! tuh kan, kualat!😤"
"udah nggak tahan nih, udah tegang banget dia" lanjut Alyan.
"maksud kamu apa sih" Melviona melirik ke ************ Alyan, dan melihat milik Alyan sudah menggembung di balik celana nya.
"ALYAAAN!" Teriak Melviona mulai merasa gelisah.
"sssst...🤫" Alyan mendesit.
"kamu tenang dan tidur aja" ucap Alyan dan diikuti oleh Melviona.
Alyan memeluk Melviona yg masih gelisah, membuat Melviona kini merasa terpaku. "dia maunya ini"
"hm?"
"mau rasain pelukan"
"kamu apaan sih"
"tenang, dia mulai tidur kok"
"Alyan"
"hm?"
"aku akan membunuhmu setelah ini"
"aku tau"
"aku juga bakal pisahin dia dari tubuh mu"
"aku ta.."
tiba-tiba, ************ Alyan kembali menegang.
"jangan gitu dong, tuh lihat, dia jadi tegang kembali kan"