
"kau hampir mencabuli nya sepenuhnya!" ucap Alyan marah disertai rasa kesal yg mulai bangkit dari dirinya.
Melviona yg panik akan situasi itupun langsung melepas genggaman tangan Farrel dan menarik Alyan keluar, kemudian memasukkan Alyan kedalam mobil.
"Kita pulang" ucap Melviona kemudian menutup pintu mobil Alyan, dan mencari kunci mobil nya dalam dompet nya. "anda duluan saja, saya akan menyusul" ucap Melviona.
Alyan mengerutkan keningnya, kemudian keluar dari mobilnya dan menarik lengan Melviona, kemudian memasukkan Melviona ke dalam mobilnya.
"Eh, mo-mobil ku gimana?" Tanya Melviona.
Alyan tidak memedulikan Melviona, ia malah mengemudi dengan kecepatan tinggi menuju villa, setelah sekian lama, satu kilometer sebelum sampai ke villa, Alyan menghentikan mobil, ia menyandarkan kepalanya di tempat setir mobil lalu ngos-ngosan seperti orang yang baru saja berlari.
"Lo.. maksud ku anda kenapa?" Tanya Melviona.
"Menjauh darinya"
"Ya?"
"Mengenal nya lebih dalam hanya membuat mu dalam masalah"
"Maksud anda Farrel? Apa anda sangat mengenalnya?"
"Tidak, ini ke dua kali kami bertemu"
"Ya kalau gitu bagaimana anda tau bagaimana dirinya yg sebenarnya, anda menegur saya untuk tidak bergaul dengan nya dan mengatakan kalau dia bukan orang baik-baik, padahal anda baru bertemu dengan nya dua kali, sedang kan saya, saya sudah mengenal nya bahkan bersama nya sejak saya kecil, aku menyaksikan dia bertambah dewasa begitu juga dia hingga ia tamat SMP"
"Heh, kamu mengenalnya hanya sebatas dia SMP, dan tidak tau apa yg dia lakukan dan bersama siapa dia semenjak SMA, aku pikir kamu pintar, tapi saat berhadapan dengan nya kamu seperti orang bodoh, tidak tau kalau sifat seseorang itu bisa saja berubah!"
"Ugh, memang nya anda tau apa saat bertemu dengan nya dua kali! Anda menghina nya bahkan memukulinya di depan ibunya, apa anda sudah gila!"
"Lalu kenapa kalau aku memukulinya! Kau marah hanya karna pria brengsek itu! Katakan saja kalau kau menyukai nya dan perasaan mu selalu bertepuk sebelah tangan!"
PLAK!
Melviona sudah melayangkan satu tamparan keras di pipi kiri Alyan.
"Memang benar aku menyukai nya, tapi berbeda dengan rasa suka yg kau pikirkan! Aku menyukai hanya sebatas teman masa kecil seperti kau dengan Nn.Manda!" Ucap Melviona mantap dengan mata yg mulai berkaca kaca.
"Aku mau keluar, buka pintunya" lanjut Melviona sambil mendorong pintu mobil yg sudah di kunci oleh Alyan.
Bukan nya membukakan pintu, Alyan malah kembali melanjutkan perjalanan dengan kecepatan tinggi.
5 menit kemudian, sesampainya di villa, Alyan langsung keluar dan masuk ke dalam villa.
pukul 21.00
Melviona duduk diam di sisi ranjangnya sambil termenung.
tidak ada yg dapat ia lakukan, semua pakaian tidurnya tertinggal di rumahnya, mobil nya pun begitu dan akibatnya, ia tidak punya baju tidur.
Melviona menghela nafasnya pelan kemudian mengambil handuk dan jubah mandi. selesai mandi, Melviona terpaksa memakai jubah mandinya untuk di jadikan baju tidur malam itu.
keesokan paginya, Melviona kembali mandi dan mengenakan pakaian kerjanya lalu memulai harinya seperti biasa, hari yg membosankan~😑😑😑.
pukul 12.30
Melviona kembali di kejutkan dengan kedatangan Kristian bersama salah seorang temannya yang membawa mobil serta koper Melviona ke villa.
"udaaah, sana pulang, nanti kemalaman lagi," ucap Melviona.
"tapi, tapi kan kami baru sampai"
"masa bodo, ini juga demi keselamatan kamu sama teman kamu tau" lanjut Melviona sambil mendorong Kristian keluar.
"ugh... nggak mau!" rengek Kristian.
"hah?"
"aku nggak mau pulang! aku capek tau! tangan dan bokong kami keram!" ucap Kristian.
"eh, benar juga ya, tapi..." Melviona termenung sejenak, berpikir bagaimana ekspresi Alyan saat melihat Kristian di villa setelah kejadian kemarin.
"pantai?"
"hm, kalian jalan lurus saja dari sini, sekitar setengah kilometer kalian akan menemukan pantai di sana"
"hmm, kalau gitu...oke"
tak lama setelah kepergian Kristian bersama temannya, Melviona pun ikut menyusul mereka sambil membawakan satu kotak muffin dan 2 botol minum penyegar.
"waaah... muffin!" ucap teman Kristian kegirangan.
"ooh, jadi itu sebabnya kakak nggak langsung bareng kami ya?" tanya Kristian kagum.
"hmm, aku nggak mau kejadian kemarin terulang lagi, makanya aku bawa kalian kemari saja" jelas Melviona.
"kejadian kemarin?" gumam teman Kristian bingung.
"cerita nya rumit" lanjut Melviona.
"ah iya, kenalin, nama ku Felix, aku seumuran sama Kristian jadi apa aku juga boleh panggil kakak" tanya nya dengan senyum manis nya.
"seperti nya kali ini Kristian punya teman yang polos" pikir Melviona.
"tentu saja" ucap Melviona membalas senyum Felix.
"ngomong ngomong, kakak kurang suka fashion ya?" tanya Felix.
"fashion? tentu saja aku suka, aku juga kan seorang wanita, tapi aku tidak mau fashion yg terlalu mencolok"
"oh, aku juga begitu, aku suka yg sederhana tapi berkualitas"
"hahaha, kita punya selera yg sama rupanya"
"kok kayak di kacangin ya..." ucap Kristian dalam hati.
"hahaha iya, kapan kapan apa kakak mau mampir ke rumah ku?"
"pfuut! ohok ohok ohok! aakh! apa kau gila! bosan hidup ya?! bagaimana bisa kau mengundang kakak ku datang ke rum..." belum selesai Kristian berbicara Melviona langsung memotong.
"baiklah" sela Melviona tersenyum. "kapan kapan aku akan mampir ke rumah mu"
"benar kah!?" tanya Felix masih tak percaya.
"berikan ponsel mu" ucap Melviona.
"buat apa?" tanya Felix sambil memberikan ponsel nya ke tangan Melviona.
tak lama setelah Melviona mengotak ngatik ponsel Felix, ia kemudian mengembalikan nya.
"aku sudah menyimpan kontak ku di ponsel mu, jangan lupa kirim alamat nya ya"
"kakaknya Kristian?" gumam Felix saat melihat nama kontak Melviona di ponsel nya ialah 'Kakaknya Kristian'.
"ah, kalau gitu aku pulang dulu ya, jangan kelamaan di sini" ucap Melviona.
"cepet banget" ucap Felix.
"hahaha, aku cuma mau nganterin kalian ini, kalau gitu aku pergi duluya, ah Kristian, nanti kamu boncengin Felix di motor mu kan, hati hati ya, pelan pelan, nanti kecelakaan, taati aturan lalu lintas" ucap Melviona.
"iya iya... cerewet banget sih"
"hah?!"
"ah, nggak, Felix akhir akhir ini cerewet banget kayak ibu ibu aja, hahaha, iya kan lix"
"hah? aku kenapa?" tanya Felix bingung.
"awas ya, kalau Felix jadi kenapa kenapa, jangan harap kamu bakal baik baik saja" lanjut Melviona.
"iya ...maaf..."