I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 63


"eh, tuan..." Wajah Chloe pias seketika saat melihat kehadiran Melviona di depan pintu utama, memandangi dirinya dan tuan muda nya.


"Kenapa Alyan memanggil Chloe dengan nama ku?" Pikir Melviona.


"Di-dia nona muda tuan..."


"Hm?" Alyan menggeleng "tapi bukannya tadi kamu bilang kamu Melviona? Kenapa jadi dia?" Alyan yg masih mabuk merasa bingung.


"Tu-tuan!" tiba-tiba Chloe berdiri "maafkan saya! Saya menyukai tuan muda sejak pertama kali saya bekerja disini! Jadi, saya ingin di cintai tuan sebentar dengan berpura-pura menjadi nona muda!" Seru Chloe.


"Maaf kan saya nona" Chloe membungkuk dalam-dalam "sekali lagi maaf kan saya"


"Eh, apa yang kau katakan Viona? Untuk apa kamu meminta maaf?" Lagi lagi Alyan menarik Chloe dan memeluk nya, yah... bagaimana pun caramu menjelaskan nya, saat pria itu mabuk, semuanya harus sesuai pemikiran nya yg diluar alam sadar nya.


Cuit cuit cuit....


Alyan terbangun saat mendengar cuitan burung Pipit di pagi hari yg akan menjelang siang itu.


Lebih tepatnya, kini sudah pukul 10.30 pagi.


Dengan kepala yg masih pening, Alyan memaksakan diri untuk bangun. Ternyata dia tertidur di sofa. Sejenak Alyan memerhatikan dekorasi ulang tahun yg sudah sirna dan di gantikan dengan pemandangan bersih yg biasa ia lihat.


Ia juga melihat sebuah mangkuk sup di atas meja.


"Masih panas" pikir Alyan saat ia menyentuh tempat sup itu, sepertinya belum sampai setengah jam setelah sup itu di buat.


Bukan hanya itu, ada selembar kertas di atas meja yg berisi kan permintaan maaf dari Chloe, juga pernyataan pengunduran dirinya.


Sejenak Alyan termenung, mengingat baik baik kejadian kemarin, dan untungnya ia mengingat nya dengan jelas apa yang ia lakukan, mungkin itu karna dia tidak meminum obat perangsang seperti malam itu.


Melviona diam seribu kata, ia hanya dapat termenung memandangi Kristian yg keadaannya masih sama, tak ada peningkatan.


Meskipun pandangannya mengarah pada Kristian, namun pikiran nya melayang dari sana, terbang ke sana kemari mengganggu dirinya seperti seekor lalat.


Kejadian kemarin malam kembali muncul di benak nya tanpa izin, ia mengingat penjelasan Chloe, maksud dari dekorasi ulang tahun, dan permintaan maaf dari nya.


Melviona juga tidak menyangka bahwa Chloe akan mengundurkan diri dari pekerjaannya "apa Alyan akan mengingat kejadian kemarin?" Gumam nya.


Drrrrt...


Sebuah panggilan masuk muncul dilayar ponsel nya, dan itu adalah Stevan sekertaris nya.


"Ya?"


"Nona, saya ingin mendengar kelanjutan nya lebih detail" tanpa bertele-tele, Stevan mengatakan maksudnya.


"Apanya?"


"Ayolah, kemarin nona cerita tentang tuan muda kan, tentang kejadian kemarin di villa nya. Tapi karna baterai ponsel nona kembali lowbat, nona bilang bakal lanjutin besok kan?!"


"Oh, sudahlah, aku juga sudah lupa"


"Nona....!"


"Kamu berani meneriaki ku?"


"Maaf"


"Jadi... kemarin aku mengecek ponsel ku, dan ternyata memang benar yg dikatakan pelayan itu, kalau Alyan sudah mengirimkan ku pesan pukul empat sore, tepat setelah kita turun dari pesawat kemarin, tapi melalui ponsel pak satpam yg bekerja di villa"


"Pesan apa itu?"


"Hmm, semacam pesan ancaman, mau aku bacakan"


"Bacakan! Bacakan!"


"Nona muda, penyakit sindrom iritasi usus besar tuan muda kembali kambuh. Tuan muda memanggil nama nona terus menerus, tolong segera pulang"


"Memang nya tuan muda punya riwayat penyakit semacam itu?!"


"Tentu saja tidak"


"?"


"Sebelum aku menjadi perawat nya, Presdir pernah mengatakan tentang penyakit itu pada ku"


"Tentu saja, mereka berdua kan berkerjasama. Ya...aku juga nggak tau, kenapa Presdir ingin sekali menjadi kan ku perawat anaknya"


"Maksud nona?"


"Sebulan setelah aku mendengar penyakit Alyan, aku berniat untuk mempelajari penyakit dan gejala gejalanya yg tiba tiba timbul untuk dapat merawat nya lebih baik. Siapa sangka? Ternyata dia berbohong. selain tidak menunjukkan gejala penyakit, dia bahkan memakan makanan yang seharusnya tidak dimakan oleh orang yg mengidap penyakit itu"


"Woah, ternyata nona begitu kompeten soal pekerjaan"


"Ya intinya, malam itu Alyan yg sudah mabuk, jadi salah mengira bahwa seorang pelayan adalah aku"


"Kasihan sekali tuan muda"


"Hm?"


"Tuan muda sungguh malang, padahal malam itu selain merayakan ulang tahun nona, tuan juga berniat untuk menyatakan perasaan nya pada nona"


"Oh, ayolah. Kamu membuatku seperti manusia paling berdosa di muka bumi ini"


"Nona sungguh kejam"


"Kejam apanya? Kalau tidak karna permintaan mu, aku sudah langsung pulang ke villa saat itu"


"Tapi nona juga tidak memerhatikan ponsel nona yg sudah nona nonaktifkan dan lupa kembali menyalakan nya kan"


"Kau berani menyalahkan ku?"


"Tolong maafkan saya"


"Stevan"


"Ya?"


"Apa kau juga akan melaporkan tentang hal ini pada Presdir?"


"Eh"


"Aku tak sebodoh yg kamu pikirkan Stevan, seperti yg kamu katakan, pilihan Presdir slalu yg terbaik"


"Itu..."


"Aku tau, selama ini selain bekerja dengan ku, kamu juga bekerja dengan Presdir bukan. Setiap gerak gerik ku kamu laporkan pada Presdir kan"


"Saya..."


"Kalau tidak salah, kamu adik kandung nya sekertaris Ian itu kan? Sekertaris sekaligus tangan kanan Presdir"


"No-nona..."


"Tapi, bisakah kamu merahasiakan hal ini pada Presdir?"


"... maaf nona, tapi setelah nona bercerita setengah kemarin, saya juga langsung melaporkan nya pada Presdir"


"Oh..."


"Saya benar-benar minta maaf"


"Stevan"


"Ya, nona"


"Kamu jauh lebih kekanak kanakan dari pada Alyan maupun adikku. Kamu sudah umur tiga puluh tahun dan masih belum beristri, bagaimana akhirnya kalau kamu mempunyai keluarga sendiri?"


"Hiks, huwaaa!😭 Nona psiko_"


Tut, Melviona langsung memutuskan panggilan sembari menghela nafasnya.


Akhirnya pikiran nya kembali, rasanya lega setelah bercerita kepada orang lain. Saat di Indonesia, Melviona lebih sering bercerita pada Rina sahabatnya, tapi sekarang jarak memisahkan mereka, bahkan biaya telepon antar negara tidak berpihak pada mereka.


Sejenak Melviona terdiam, lalu mengelus rambut Kristian yg semakin memanjang.


"Kupikir kamu dapat mengucapkan selamat ulang tahun pada kakak mu ini. ternyata tidak bisa juga ya" Melviona hanya dapat tersenyum menerima kenyataan.


Melviona memutuskan untuk berada di sisi Kristian seharian itu, ia mengelap Kristian dengan kain basah, dan menukar pakaian adiknya itu "aku yakin, selama berbulan-bulan pasti 'itu' mu bau sekali" Melviona cekikikan sendiri, ia tidak tau bahwa ayahnya Walzer lah yang rutin membersihkan dan mengganti CD adik laki-laki nya itu.