I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 75


"Alyan" Melviona terkejut.


"Aaaa" Alyan menyodorkan sendoknya dimulut Melviona.


"Aku udah kenyang, kamu bisa mak_" saat Melviona berbicara, Alyan langsung memasukkan sendok kedalam mulut Melviona.


"Anak pintar" ucap nya.


Melviona lagi-lagi tertunduk malu, saat Mei Yin dan ibunya yg tengah memerhatikan mereka dengan mulut menganga.


Dengan pelan, Melviona mengunyah makanan yang ada dalam mulutnya lalu kembali melihat Alyan yang tersenyum padanya.


"Tenang saja, bibi pandai jaga rahasia kok" ucapnya lagi seakan tau kekhawatiran Melviona.


Stevan yg dengan cepat kembali dari toilet, segera duduk ditempatnya.


"apa aku baru saja melewatkan sesuatu?" tanyanya dalam hati.


Drrrrt...


Ponsel Yun Wei bergetar, dan ia langsung mengangkatnya.


"halo?...iya...hm...baik, saya akan segera kesana...hm, baiklah" dengan terburu-buru, Yun Wei berdiri dari duduknya, bersamaan dengan Melviona dan sekertarisnya Stevan.


"maaf Nn. Mel, tapi saya punya urusan mendadak, mohon pengertiannya"


"tidak apa-apa, masih ada banyak waktu untuk berkumpul lain kali"


"hm, kalau begitu saya permisi" Yun Wei tersenyum lalu keluar.


"nona?"


"kita kembali ke perusahaan" Melviona mengambil tasnya.


"ah ya, Viona aku"


"kamu bisa mengirimi ku SMS, aku kembali dulu" Melviona keluar dari sana diikuti oleh Stevan.


Mei Yin tertegun, menyadari raut wajah Alyan yang kecewa "kakak mau bilang apa sama kak Melvi?" tanyanya.


"ah, bukan apa-apa..."


"bukan apa-apa apanya? muka kakak kayak mau nangis gitu"


"apaan sih, aku nggak nangis tau"


"lah terus?"


"besok kan akhir pekan, aku mau ngajak dia piknik. Udah lama kami nggak nikmati waktu bersama"


"oooh, bilang dari tadi kek"


"emangnya kenapa? kamu mau bantuin aku?"


"ya... aku cuma penasaran saja sih, hehe"


Alyan menghela nafas panjangnya, melirik tempat duduk Melviona sejenak.


"jangankan diakhir pekan, saat ini pun melihatnya selama sepuluh menit sudah seperti keberuntungan bagiku" gumamnya.


"yah, aku turut merasakan kesedihan kakak, seharusnya kak Melvi bersenang-senang diumur nya yang masih belia, kenapa harus kerja sih?" gerutu Mei Yin.


"ngomong-ngomong, kayaknya kamu sengaja deh, buat Melvi benci denganku"


"eh, maksud kakak apa?"


"jangan panggil aku sayang-sayang lagi"


"kenapa? itukan untuk menyempurnakan akting kita kak"


"iya, aku tau. Tapi Melviona juga bisa marah. yah, meskipun nggak kelihatan" Alyan memakan makanannya.


"hm? bagus dong"


"apanya?"


"aku mau lihat gimana kalau pacar kakak marah, kalau dia benar-benar marah maksudku dia menunjukkan kemarahannya, itu berarti dia masih suka sama kakak"


"heh, nggak pake tes juga aku tau dia suka sama aku"


"Kakak tau darimana?"


"ya dari tampanglah"


"memangnya kakak bisa tau perasaan kak Melvi dari tampangnya doang?"


"ya nggak lah, kamu pikir aku ini cenayang? maksudku dari tampangku, penampilanku, profesiku"


"hm? aku nggak ngerti"


"ya...tampan keren mapan gini, siapa nggak suka coba?"


"kepedean "πŸ˜‘


"ya nyatanya emang gitu kan?"


"tau ah"


🌺🌺🌺🌺🌺


"nggak di balas?" Alyan mendengus saat SMS nya tak dibalas oleh Melviona, lalu meletakkan ponselnya diatas meja cafe yang ada dihadapannya.


"eh, Alyan ya?" seorang gadis bersama dua orang temannya berdiri dihadapan Alyan "wah, beneran Alyan! kyaaa~"


"apa aku mengenalmu?" dengan nada datar Alyan bertanya.


"uhm...kami penggemarmu, apa kami bisa ambil foto?"


"oh, penggemar...aku lupa siapa aku sebenarnya" ucapnya dalam hati.


Alyan mengembangkan senyumnya, dan memperbolehkan gadis-gadis itu mengambil beberapa gambar bersamanya.


🌺🌺🌺🌺🌺


"haaaaah~ capek" Melviona menutup pintu kamarnya dan berjalan kekamar mandi.


Selepas mandi, Melviona yang lupa dengan baju gantinya, memutuskan untuk keluar dengan hanya menggunakan handuk yang ia lilit ditubuhnya.


Namun, baru membuka pintu, ia dikejutkan dengan keberadaan Alyan tepat didepan pintu.


"ka-kamu ngapain kesini?" tanya nya.


Alyan terdiam tak menjawab, wajahnya memerah, jantungnya berdegup kencang, dan pandangannya tak berkedip.


"Alyan?"


"ma-maaf" Alyan segera berbalik.


"handuknya kok kekecilan gitu?"


"bukannya dari kemarin handuknya kecil gini" Melviona berjalan melewati Alyan.


"aku lupa ngambil baju gantiku" ucapnya memasuki ruang ganti.


"apaan sih dia, nggak tau apa aku cowok normal" gumamnya.


Alyan berjalan mendekati meja rias Melviona.


"aku belum pernah melihat parfum ini, apa ini parfum yang akan diperkenalkan minggu depan?" Alyan menyemprotkan parfum di hadapannya, dan mencium wanginya.


"ini kan parfum yang kucium darinya, apa dia benar-benar berniat memperkenalkan parfum ini minggu depan? sayang sekali, kupikir ini khusus untuknya sendiri"


"kamu masih belum keluar?" Melviona berjalan kearah Alyan dengan piyamanya yang lagi-lagi menunjukkan belahan dadanya yang membuat Alyan slalu gugup.


"ah, itu...aku mau tidur disini denganmu"


"hm? dua hari lalu kamu habis kepergok sama pelayan, bagaimana kalau kejadian itu terulang lagi?" Melviona duduk di pinggir ranjangnya, sambil mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.


"kali ini nggak lagi kok" Alyan berbaring dan menyelimuti dirinya.


"kamu tau tidak, sepertinya aku sudah kecanduan sama kamu"


"hm?"


"aku sering bermimpi buruk saat tidak tidur di sampingmu, rasanya sungguh menakutkan"


"benarkah? kamu mau menggodaku lagi rupanya"


"tidak, aku sedang serius"


Melviona tersenyum, dan meletakkan hairdryer di atas meja. Melihat kearah Alyan yang juga tengah menatapnya.


"aku bermimpi kamu pergi lagi"


"aku?" Melviona tertawa kecil sambil mengelus rambut Alyan.


"itu pasti hanya perjalanan bisnis, aku pasti akan kembali, kalau tidak kamu bisa ikut denganku, seperti saat ini"


Alyan menahan tangan Melviona yang ada di kepalanya, menggenggamnya erat seakan sentuhan itu tidak akan ada lagi dalam hidupnya.


"kamu pergi. jauh sekali...aku bahkan tidak tau keberadaan mu. Dan kita... tidak bertemu lagi" Alyan menaruh tangan Melviona di pipinya. Air matanya mengalir di ujung matanya, dengan sedikit isakan tangis yang menggoyahkan Melviona.


Melviona mendekati Alyan, mencium kening pria itu lembut dan mengusap air matanya "itu tidak akan pernah terjadi, aku akan menjamin hal itu padamu" hiburnya.


Alyan menyeka air matanya, dan teringat akan suatu hal "apa kamu sudah melihat pesan ku?" tanyanya.


"hm? kamu mengirim pesan? aku tidak tau" Melviona mengambil ponselnya dan mengeceknya.


**Apa kamu ada waktu besok? -Alyan-


Kalau ada mari piknik. -Alyan-


Apa kamu sudah membacanya? -Alyan-


Kalau sudah tolong balas. -Alyan**-


Pesan berturut turut dari Alyan terlihat oleh Melviona saat itu "kamu mengajak ku piknik?"


"hm, apa kamu mau?"


"... besok aku ada urusan"


"apa itu sangat penting? besok kan akhir pekan"


"maaf"


"apa urusannya tidak bisa diundur?"


"tidak"


"kalau begitu bagaimana kalau besoknya lagi, itu hari minggu"


"aku tidak tau, aku akan mengabarimu besok"


"ck, kamu sebenarnya suka siapa sih? aku, atau pekerjaanmu? pilih salah satu"


"eh?"