I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 59


"A-apa yg kamu lakukan" Melviona menjauhkan diri nya.


"Ada apa dengan mu, aku hanya ingin menutup jendela nya. Bagaimana kalau tiba-tiba ada perampok yg melempar kan sesuatu ke dalam? Apa lagi di sini masih jauh dari perumahan" ujar Alyan kembali memperbaiki duduknya.


"Ah"


"Jangan jangan....kau berpikir aku akan_"


"Tidak! Aku tidak berpikir kau akan mencium ku!!"


"Aku belum bilang kata mencium loh, bagaimana bisa terlintas di pikiran mu tentang hal itu"😏


"Bagaimana tidak, kejadian malam itu slalu menghantui ku" pikir Melviona.


"Tau ah!" Dengan cepat Melviona kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Sedangkan Alyan hanya tersenyum kecil menahan tawanya.


"Tapi aku serius loh, tiap kali melihat mu aku seperti melupakan sesuatu yang penting"


Lagi lagi Melviona merona.


"Kau sakit?" Tanya Alyan.


"..."


"Ah, sungguh. Apa aku harus bertanya pada Manda tentang apa yg kulakukan saat malam itu"


"Tidak! Jangan tanya! Malam itu, kamu sungguh memalukan"


"Benarkah? Sebenarnya apa yang kulakukan?"


"I-itu, kemarin kamu menari seperti monyet! Iya monyet!"


"Hanya itu?"


"Kenapa?! Malam itu kamu seperti orang gila, kamu memanjat pohon dan bernyanyi di sana"


"Ck, aku meragukan hal itu🤔 menurut pengalaman ku, jangan kan bernyanyi di atas pohon, aku saja tidak bisa memanjat"


"Ah, itu bagaimana bisa aku tau! Aku hanya mengatakan apa yang aku lihat"


"Uhmm, benar kah?"


"Diam lah, atau aku akan menurunkan mu di sini!"


"Baik-baik. Aku akan diam, santai saja mengendarai mobil nya"


Sesampainya di depan gerbang sekolah, Alyan keluar "jangan lupa untuk menjemput ku sepulang sekolah nanti" BAM, Alyan menutup pintu mobil dan berjalan cepat tanpa mendengar kan jawaban dari Melviona.


Di sekolah, sama seperti kemarin. Manda mengacuhkan Alyan.


"Apa kalian sudah baikan?" Tanya Brave.


Alyan menggeleng pelan "tidak, boro-boro baikan, bicara aja nggak" jawab Alyan.


"Eh, itu bukan nya teman yg di bawa Manda ke acara kemarin, bagaimana kalau kau bertanya padanya?" Darlen menunjuk seorang gadis cantik yg baru saja memasuki kantin.


"Tidak perlu"


"Kenapa?" Tanya Darlen.


"Aku sudah mendengar semuanya dari Melviona tadi pagi"


"Tadi pagi? Jadi kalian tinggal bersama? Apa Manda tau?" Tanya Darlen.


"Tau ah, dia bilang aku menari seperti monyet bahkan memanjat pohon dan bernyanyi di atas sana"


Pffft, Morsy berusaha menahan tawanya walau sedikit makanan keluar dari mulutnya.


"Hahaha, Melviona memang yg terbaik. Sudah kubilang kan, malam itu kau sangat memalukan" timpal Brave.


"Bwahahah 🤣 ngakak banget! Serius kemarin kau melakukan hal itu?! Hahaha, bagaimana bisa aku ambruk tanpa menyaksikan adegan langka itu" Darlen tertawa terbahak-bahak.


"Ya....aku tau aku memalukan, tapi aku juga merasa itu tidak benar"


"Kenapa tidak? Aku masih sadar saat kau melakukan hal itu yan" Brave berbohong.


"Ya karena aku nggak bisa manjat lah, kalian juga tau itu kan"


"Aku tau kau takkan percaya, aku bahkan berniat untuk merekam mu saat itu dan memasukkan nya di sosmed dengan caption 'pewaris sah perusahaan D.A sekaligus aktor terkenal ini, berniat melakukan konser ekstrem' hahaha" Brave kembali berbohong dengan baik seakan akan hal itu benar.


"Aaakh! Sungguh memalukan" Alyan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Pukul empat sore, bel pulang berbunyi dan para penghuni sekolah berhamburan keluar menunju tempat yang ingin mereka tuju.


Tak terkecuali Alyan yg juga bersiap siap merapikan ranselnya dan keluar dari kelasnya.


Bruk, Alyan bertabrakan dengan seorang gadis saat ia baru saja keluar dari pintu.


"Maaf" Alyan membantu gadis itu berdiri.


"Eh, Alyan?"


"Kau?"


"Kamu pasti ingat aku dong"


"Iya aku ingat, kau yg menyimpan nomor mu ke dalam ponsel ku malam itu kan"


"Waaah, ternyata kamu terus memikirkan ku ya"


"Tidak juga, aku bahkan hampir lupa dengan wajah mu"


"Kalau begitu aku pulang dulu, ada seseorang yang menunggu ku"


"Eh, tunggu!" namun Alyan sudah berlari jauh.


"Kau sudah lama menunggu?" Tanya Alyan yg segera memasuki mobil Melviona.


"Apa kamu tidak bisa naik taxi saja? Aku masih banyak urusan di perusahaan"


"Tidak, kau pikir kau dapat menginap di villa ku begitu saja hah? Ingat, di dunia ini tidak ada yg gratis, ayo jalan"


Melviona melaju kan mobil nya. diperjalanan pulang, Alyan terus saja memerhatikan Melviona yg berbicara lewat headset bluetooth di kuping sebelah kirinya, pembicaraan mereka tampak serius, saking serius dan pentingnya, Alyan tidak mengerti apa yang tengah Melviona bicarakan dengan orang yang menelponnya itu.


"Hei..." Panggil Alyan dengan suara pelan, pertanda ia sangat bosan.


"Melviona..." Panggil nya lagi namun Melviona masih saja fokus dengan orang yang sedang berbicara dengan nya lewat headset itu.


"Apa yg kau lakukan" Melviona merasa kesal saat tiba-tiba Alyan menarik headset di kuping Melviona, dan malah memasangnya di kuping nya sendiri.


"Woy! Kalau kerja, kerja sendiri! Dasar bodoh, masih saja dipantau oleh atasan seperti anak bayi" Alyan memaki-maki orang yg berbicara dengan Melviona tadi.


"Alyan? Apa ini kau?" Tiba-tiba Alyan terkejut saat mendengar suara yg familiar itu lewat headset bluetooth di kuping kanan nya.


"Farrel?"


"Wah, ternyata benar dirimu? Jadi kau yg membuat Melvi tidak bisa meeting bersama ku?"


"Apa maksudmu?"


"Alyan kembali kan itu pada ku" Ucap Melviona tanpa menoleh kearah Alyan.


"Melvi memintaku untuk membatalkan pertemuan dan membahas nya lewat telepon saja karena ada seseorang yang harus dia antar ke habitatnya"


"Habitat?!"


"Hahaha, aku bercanda. Ngomong ngomong, ternyata kau serakah juga ya. Saat itu kau bilang sudah menyerah, kenapa sekarang berubah pikiran?"


"Apanya yang berubah pikiran"


"Oh, jadi masih tetap dengan perkataan mu ya, kalau begitu tepati ucapan mu ya. Ingat kau itu laki laki sejati, dan laki laki sejati tidak akan melanggar ucapan nya"


"Terserah, jangan ganggu dia lagi, bagaimana kalau tiba-tiba kami mengalami kecelakaan di jalan hanya karena mu, apa kau akan tanggung jawab?!"


"Kalau Melvi sih iya, kalau kau....OGAH"


"Hei! Kau mulai berani ya"


"Sudahlah, berikan headset nya pada Melvi"


"Mimpi" Alyan melepaskan headset bluetooth itu dari kuping nya dan melemparkannya keluar lewat jendela mobil.


"Alyan!" Seru Melviona


"Cepat jalan, kau mau aku usir dari villa?"


Melviona mencengkeram erat setir mobil dan dengan geramnya, ia kembali melanjutkan mobilnya.


"Dimana dia?" Tanya Alyan saat tidak melihat Melviona ikut makan malam bersama nya.


"Nona sedang ada di kamarnya tuan" jawab Windi.


"Kenapa dia tidak ikut makan, apa dia sakit?"


"Nona sedang merapikan barang-barang nya tuan"


"Hm?"


"Saya dengar nona akan pergi ke perusahaan pusat besok"


"Apa?!" Alyan merasa sangat terkejut dan berlari menaiki tangga menuju kamar Melviona.


BRAK! Dengan kasar Alyan mendobrak pintu kamar Melviona yg tidak terkunci.


Ia melihat Melviona sedang menarik resleting kopernya agar tertutup.


"Apa kau akan ke Los Angeles besok?"


"Hm" ucap Melviona.


"Kenapa hah?!"


"Ada proyek yang harus aku pantau"


"Tidak boleh!"


"Kenapa?"


"Aku bilang tidak boleh ya tidak boleh! Aku tuan rumah disini! Kau harus mematuhi ku!"


"Kalau tidak?"


"Aku akan mengusir mu" ancam Alyan.


"Baiklah, kalau begitu usir saja aku"


"VIONA!"


"Aku tidak punya waktu untuk meladeni kekanak-kanakanmu, Alyan. Minggir"


"Aku bilang jangan! Memang nya apa bagusnya di sana?"


"Hm? Yah... kalau dipikir-pikir di sana aku bisa bangun pukul tujuh pagi, dan mengendarai mobil hanya dalam dua puluh menit. Uhmm, dan yg terakhir di sana aku tidak perlu menjadi sopir pribadi orang"