I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 82


"apa paman boleh tau siapa yang membuat keponakanku ini jatuh cinta, sehingga menolak perjodohan ini?" Tanya Fang Zhao.


"Ya...aku juga penasaran, apa kau balikan dengan Manda?" Tanya Alfian.


"Itu! Eh... i-itu..." Alyan tersadar akan apa yang barusan ia katakan, seharusnya ia tidak terbawa emosi! Seharusnya ia minta agar acara pertunangannya diundur lebih lama, lalu sekarang bagaimana? Apa dia harus berkata ia kembali berbaikan dengan Manda? Lalu bagaimana pendapat Melviona tentang ini? Apa ia akan mendengarkan penjelasan terlebih dahulu atau salah paham?


Alyan tenggelam dalam pikirannya, memikirkan jawaban apa yang tepat untuk situasi seperti ini "itu..."


"Sepertinya kau tidak akan memberitahuku" Alfian kini menoleh kearah Mei Yin yang juga kelihatan bingung juga panik "paman yakin, keponakan paman akan memberitahukan nya kan, hahaha Mei Yin, dulu kamu sering membongkar rahasia Alyan padaku, dan kali ini paman ingin tau rahasia Alyan yang lainnya, siapa nama pacarnya?" Alfian bertanya dengan harapan akan mendapat jawaban dari keponakannya yang pikirnya selama ini tak dapat menjaga rahasia Alyan.


"A-aku... aku... tidak akan beritahu" Mei Yin masih menunduk.


"Wah, sepertinya Mei Yin sudah besar" ucap Alfian kagum.


"Ya, aku tidak menyangka sekarang dia bisa menjaga rahasia kakak sepupunya" Fang Zhao ikut terkagum-kagum.


"Melviona" ucap Yun Wei.


"Ya? Apa dia kembali? Mana? Dimana dia?" Alfian bercelingak-celingguk menyapu sekeliling dengan pandangannya.


"Pacar Alyan adalah Melviona, wakilmu Alfian" Yun Wei mengatakannya sekali lagi, membuat semua yang mendengar terkejut sementara Alyan malah merasa dirinya diselubungi kekhawatiran yang mungkin juga kepanikan yang kini tak berguna.


🌺🌺🌺🌺🌺


Melviona kembali kerumah, jam hampir menunjukkan pukul dua belas malam.


Saat ia disambut oleh kepala pelayan didepan pintu, ia sudah merasakan atmosfer yang sulit ditebak keluar dari pintu, apa itu dari kepala pelayan?


Dengan perasaan yang kurang baik, ia melangkah maju memasuki ruang tamu, dan ia dikagetkan dengan keberadaan Alyan dan juga Alfian yang duduk disofa seperti sedang menunggu seseorang pulang, apa yang mereka tunggu Melviona? Sepertinya ia, sang tokoh utama wanita juga merasakan hal yang sama.


"Melviona Walzer" panggil Alfian.


"Ya?" Melviona terkejut saat Alfian memanggilnya dengan nama lengkap.


"Kemari dan duduklah, ada yang perlu kita bicarakan bersama"


Dengan ragu Melviona kembali melangkah, dan duduk disofa.


"Apa... kunjungan tadi kacau gara-gara saya?" Melviona memutuskan untuk bertanya.


Sejak dikantor tadi hanya itu yang ia pikirkan, yah... pergi ditengah-tengah kunjungan seperti itu rasanya tidak sopan.


"tidak, semuanya baik-baik saja" ucap Alfian.


"Oh..."


Alfian terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu, lalu tatapannya mengarah kepada putranya, Alyan.


Alyan menatap ayahnya dengan penuh permohonan, dan dengan ekspresi paniknya itu berhasil membuat Melviona penasaran setengah mati. Sebenarnya apa yang terjadi? Begitu tanyanya dalam hati.


"Haaah~ sebenarnya aku ingin memastikannya secara langsung, tapi... sepertinya kalian harus berunding dulu" Alfian berdiri dan menaiki tangga menuju lantai empat, padahal seharusnya ia bisa saja naik keatas lewat lift kan.


Setiap satu dua anak tangga ia pijaki, Alfian selalu saja menoleh kearah Melviona dan Alyan, membuat dua orang itu merasa diamati secara terang-terangan, sungguh tidak nyaman.


Saat Alfian sudah menghilang, pria tua itu malah kembali dan memata-matai secara diam-diam dan tetap saja, tatapan bagai laser itu menjelaskan bahwa Alfian masih memerhatikan dari jauh.


Alyan kini menghela nafasnya, kemudian memandang Melviona dengan penuh sendu.


"Ada apa dengan tatapan itu?" Tanya Melviona dalam hati, gadis itu hanya dapat mengernyit heran dengan sesuatu yang belum ia ketahui kebenarannya.


"Viona..."


"Ya?"


"Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi sebelum itu..."


"...?"


"... baiklah"


Alyan berdiri menggenggam tangan Melviona, membawanya masuk kedalam lift lalu menekan tombol nomor dua.


Melihat ekspresi Alyan yg semakin gelisah, Melviona memutuskan untuk diam saja, walaupun genggaman Alyan terasa sangat erat menggenggam tangannya.


Tak butuh waktu lama, saat lift terbuka dan Alyan kembali membawa Melviona masuk ke kamarnya.


Setelah memastikan diluar tidak ada orang, Alyan pun mengunci pintu.


Saat ia berbalik ia melihat Melviona yang sudah duduk di sofa kamarnya.


Melihat Melviona yg menunggu penuh kebingungan, jantung Alyan kembali berdegup kencang dan lagi-lagi ia dicobai oleh pikiran buruk yang membuatnya gundah.


"Apa sekarang aku boleh tau apa yang sedang terjadi?" Tanya Melviona saat Alyan sudah duduk disampingnya.


"Viona..."


"Hm" Melviona menunggu dengan kesabaran full.


"Viona..."


"Ya? Ada apa? Dari tadi kamu pucat begini, apa kamu sakit?"


"Tidak" Alyan memeluk lengan Melviona dan menyandarkan dagunya dibahu Melviona.


"Kalau 'gini kan aku tambah penasaran"


"Jawab aku dengan jujur"


"Apa?"


"Apa kamu benar-benar menyukai ku?"


"Eh, kenapa tiba-tiba bertanya sepe_"


"Jawab saja"


"Ah, tentu saja. Kita kan pa....caran"


"kenapa ragu mengatakan kalau kita pacaran?"


"hah?"


"mengatakan padaku kalau kita pacaran saja kamu sangat ragu, bagaimana nantinya kalau kamu mengatakan hubungan kita pada semua orang?... sepertinya mustahil untuk itu"


"tidak, bukan seperti itu, aku"


"lalu kapan?"


"eh"


"kapan semua orang tau tentang hubungan kita? kapan kita bisa menjalani hubungan selayaknya kita? kapan kita bisa kencan tanpa membawa perasaan yang gelisah? kapan hah?! kapan..." Alyan kini mengeratkan pelukannya dilengan Melviona dan suaranya bertambah serak juga berat "aku mencintaimu dengan sangat tulus, tapi kenapa? apa kamu masih meragukan ku? katakan padaku, apa yang harus kulakukan agar kamu tidak meragukanku lagi. Karna...karna..aku mencintaimu...aku sungguh mencintaimu, jadi kumohon katakan" Alyan mulai terisak-isak.


Melviona memutar posisinya, melihat ujung mata pria itu yang sudah mengeluarkan air mata, imut dan menggemaskan juga cengeng dalam percintaan, itulah yang ia lihat dari Alyan selama ini, pria itu hanya akan memperlihatkan sisi lemahnya pada orang yang ia cintai.


Cinta, adalah aib bagi pria itu, perasaannya mudah rapuh dan tersakiti, terlebih saat sang ibu pergi, setelah itu jangankan mencari cinta yang lain, melihat orang-orang pun ia takut, takut akan menyukai mereka, akan bersandar pada mereka dan menaruh harapan bagi mereka.


Namun hal itu tidak bertahan lama, setelah ia melihat sedikit keluar, dalam sekejap mata gadis itu datang, dia adalah Melviona gadis yang berpemikiran dewasa juga tegas.


Ia sangat pintar, tapi bukan berarti ia mengajarkan Alyan untuk mencintai atau bercinta. Dibanding kasih, ia mengajarkan bagaimana itu menghormati seseorang, mengajarkan bahwa manusia membutuhkan satu sama lain.


Jangan tertutup, bukan artinya kita harus terbuka, kita hanya perlu mengekspresikannya, bila dia memerhatikan cukup katakan bagaimana suasana hatimu, bila ia peduli cukup minta dukungannya, bila ia khawatir maka tersenyumlah agar ia tidak terbeban, karna ia tulus padamu.