
Alyan memandangi Melviona yang telah tertidur pulas disampingnya.
Kini sudah pukul tiga dini hari, dan pria itu tak kunjung tidur ataupun mengantuk.
Banyak hal yang pria itu pikirkan hingga saat ini belum siap memasuki alam mimpinya.
Alyan menatap langit-langit kamar, sembari menghela nafas keputusasaan nya.
Apa yang sebenarnya pria itu pikirkan? Yah... tidak ada yang tau selain Tuhan dan penulisnya sendiri.
Ia meraih ponselnya, melihat pesan E-Mail yang belum ia baca.
Ternyata, selama Melviona sibuk dengan pekerjaannya, Alyan diam-diam mengurus perusahaan yang ada di London lewat E-Mail yang dikirim oleh sekertaris ayahnya yaitu Ian.
Setelah meletakkan ponselnya di atas meja, Alyan kembali melihat Melviona, menyibak rambut gadis itu yang sedikit menutupi wajahnya.
Perlahan Alyan mendekatkan wajahnya kearah wajah Melviona, mencium lembut bibir gadis itu lama.
Yah... hanya malam yang mendukung perasaannya.
Keinginannya bersama Melviona sirna oleh cahaya mentari dan waktu yang tak tau bagaimana cara menunggu dan apa itu berhenti.
Setiap kali rembulan berjaga dimalam hari dan membuat gadis itu merasa kelelahan lalu tertidur, saat itulah Alyan dapat menikmati kebersamaannya bersama Melviona, walau sepertinya hanya ia yang merasakannya.
Malam yang membuatnya hampir seperti kelelawar, malam yang membuatnya tenang, dan malam yang membuatnya dapat disisi Melviona dalam waktu yang terus berjalan hingga mentari kembali terbit. Yah...hanya malam yang mendukungnya. Malam yang panjang.
Keesokan paginya, Melviona keluar bersama Stevan, sementara Alyan memutuskan mengurung dirinya didalam kamar, lebih tepatnya memutuskan mengerjakan dokumen perusahaan dari London secara diam-diam.
Waktu berjalan begitu saja, langit yang seharusnya bewarna orange di gantikan oleh langit bewarna gelap yang menunjukkan bahwa sebentar lagi hujan kan tiba.
"Dia masih belum pulang" Alyan melihat keluar jendela kamarnya, air hujan yang deras membasahi sebagian permukaan bumi.
Alyan menghela nafasnya, melihat ponselnya yang menyatakan kini telah pukul lima sore.
"Apa dia akan melewatkan makan malam lagi?" Alyan termenung, melihat hujan yang turun dengan derasnya, di sertai dengan kilatan petir yang sesekali menyambar.
Alyan teringat hari dimana ia ditolak oleh Melviona, hari dimana ia mengalami kecelakaan maut lalu dilarikan kerumah sakit.
Apa kali ini akan terjadi hal buruk? Mudah-mudahan tidak, walau kini jantung pria itu berdegup kencang dari biasanya dan perasaannya gundah entah mengapa, yang terpenting sekarang melihat kenyataan bahwa kini ia memiliki Melviona.
Alyan kembali melanjutkan pekerjaannya, dan kini waktu menyatakan pukul tujuh malam, pertanda jam makan malam sudah tiba.
Tapi kenapa tidak ada pelayan yang mengabarinya? Biasanya bila ia terlambat lima menit berada dimeja makan, salah seorang pelayan pasti mencari dan mengabarinya, tapi kenapa kali ini tidak? Padahal kini ia terlambat lima belas menit, apa ada masalah didapur sehingga makan malam sedikit terlambat?
Alyan berjalan keluar kamarnya. saat ia membuka pintu, salah seorang pelayan yang mau melewati kamar Alyan terkejut.
"Tuan muda?"
"Ya? Ada apa dengan tatapan itu? Apa ada yang salah dari penampilanku?"
"Tidak tuan, saya terkejut melihat tuan ternyata masih ada dirumah"
"Hm?"
"Kami pikir tuan sedang keluar, karna seharian ini tuan muda tidak kelihatan, jadi kami tidak mencari tuan dikamar tuan"
"Ohooo" kini Alyan tau apa yg sedang terjadi "kalian malas ya"
"Eh, ma-maafkan kami tuan, kami akan bekerja lebih baik mulai besok"
"Sudahlah" Alyan berjalan melewati pelayan itu.
"Tuan"
"Apa?" Alyan menoleh kearah pelayan itu.
"Sekali lagi saya minta maaf, gara-gara saya tuan besar dan nona muda makan lebih dulu"
"Melviona? Dia ada dibawah?'
"Eh, iya tuan, nona mu_" belum selesai pelayan itu berbicara Alyan sudah berlari cepat kebawah menuju meja makan.
"kamu sudah pulang?" Dengan girangnya Alyan kini sudah duduk di bangku yang ada di depan Melviona.
"Eh, katanya kamu keluar" Melviona sedikit terkejut dengan kehadiran Alyan.
"Nggak kok, dari tadi aku dikamar aja"
"kapan kamu pulang?" Tanya Alyan tanpa memedulikan ayahnya.
"Dari tadi, sebelum hujan"
"Hah? Jadi tadi kamu pulang lebih cepat?"
"Ya, kira-kira lewat pukul empat aku sudah pulang"
"Kenapa tidak memberi tahuku?!"
"Tunggu dulu" Alfian memandang dua orang didepannya yang sedang makan berhadapan.
"Ups, aku lupa ayah ada disini" ucap Alyan dalam hati. Ia menyadari sikapnya terhadap Melviona pasti membuat ayahnya curiga.
"ada apa dengan kalian?" Alfian mengernyit kesal.
"Presdir pasti marah, mengetahui aku punya hubungan dengan putranya" Melviona menggigit bibir bawahnya sambil menggenggam erat sendok ditangannya.
"hiks, apa aku memudar seiring berjalannya waktu? apa kalian tidak melihatku berada disini? haaa~ seandainya saja ada ramuan pengembali waktu, aku pasti akan membelinya walau harus menggadaikan lima perusahaanku" Alfian berdiri dan berjalan menuju lift.
"fyuh~ aku pikir apa" Melviona menghembuskan nafas damainya.
"ayah ini, ada-ada saja. Dia hampir membuatku jantungan" Alyan meraba dadanya sendiri.
"kamu punya riwayat penyakit jantung?"
"eh, tidak. Tadi aku gelisah setengah mati, jadi jantungku berdegup kencang seperti hampir... meledak"
"meledak?!"
"Dibanding itu, bibirmu berdarah loh" Alyan menyentuh bibir Melviona, namun saat Melviona tersadar ada salah seorang pelayan yang melintas, gadis itu langsung menepis tangan Alyan.
"eh?"
"tadi aku juga sama gelisahnya denganmu, jadi begini deh" ucapnya sambil mengelap bibirnya dengan tisu.
"aku sudah selesai makan. slamat malam" Melviona juga berdiri dari duduknya bersiap-siap menuju kamarnya.
"eh, nggak nungguin aku?" Alyan melahap makanannya cepat.
"memangnya kenapa?"
Alyan tak menjawab, ia terus melahap makanannya dengan cepat.
Melviona tersenyum kecil, lalu kembali duduk ditempatnya "makannya pelan-pelan, mau sampai tengah malam aku tungguin juga bukan masalah" ucapnya sambil tersenyum manis, membuat Alyan merasa bersalah membuat gadis itu menunggunya.
"eehm...aku sudah siap" Alyan berdiri dari duduknya.
"mau kemana? nggak papa kok, terusin aja makannya, belum habis tuh"
"aku dah kenyang"
"belum" Melviona menggeleng "pelayan tidak mencarimu dikamar itu karna mereka pikir kamu keluar sejak pagi, bisa aku artikan mereka tidak melihatmu sejak pagi yang berarti kamu nggak keluar kamar seharian kan"
"kok tau"
"haissh, kok kamu dikamar seharian ini sih? tuh habisin makanan yang ada diatas piringmu, sia-siain makanan nggak baik loh" Melviona mengingatkan, dan Alyan kembali duduk dan memakan makanannya pelan.
"uhmm, bagaimana besok?" tanya Alyan.
"ah itu..."
"kamu sibuk lagiya..."
"eh enggak kok, besok aku nggak ada urusan sama sekali"
"benarkah?!"
"hm, jadi aku bisa piknik bersamamu"
"yeah!" Alyan tampak sangat senang mendengar kabar dari Melviona.
"tapi...aku nggak tau sama hujannya" Melviona menunduk sambil menghela nafasnya.
"benar juga, sampai sekarang hujannya masih belum berhenti, malah tanpa deras lagi" ucap Alyan dalam hati. Mendengar rintik-rintik hujan yang mengenai atap rumah.