I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 72


Melviona memasuki kamarnya, bersiap siap untuk mandi dan tidur.


Hari ini Melviona lembur di perusahaan, mengurus banyak hal tentang dekorasi perusahaan, pendaftaran karyawan baru, pertemuan di sana sini dan lain sebagainya.


Ia bersyukur Stevan cukup lihai dalam perusahaan, oleh karena itu selain mengurus jadwalnya, Stevan juga ikut membantu pekerjaan nya.


Saat Melviona berjalan mendekati ranjangnya, ia menyadari ada seseorang di bawah selimut.


Siapa lagi kalau bukan Alyan, yg sudah tertidur saat menunggu nya kembali.


Berbicara soal Alyan, Melviona memang sempat kesal dengan kelakuan Alyan yg meninggalkan bintik merah di lehernya tanpa sepengetahuannya, ia yakin Alyan mengetahui tanda itu di lehernya, hanya saja karna ia sengaja jadi ia membiarkan nya saja.


Namun di sisi lain, mengingat sifat Alyan yg mirip ibunya, sepertinya pria itu cuman ingin agar tak ada pria lain yg mendekati nya.


Dan alasan lebih lanjutnya akan ia tanyakan esok pagi sebelum ia berangkat kerja.


Hari ini ia akan membiarkan pria itu tidur dengan nyenyak, berpikir dalam mimpi alasan apa yg tepat untuk menjelaskan semuanya.


🌺🌺🌺🌺🌺


"bintik merah? Aku tidak tau apa maksudmu" dengan polosnya Alyan menjawab pertanyaan Melviona.


"Apa kamu tau, gara gara itu aku sangat malu, apa lagi rekan bisnis dan Stevan melihatnya, aku tidak tau apa ada orang lain yg melihat nya sebelum aku menyadarinya?"


"..." Alyan terdiam, ia masih mempertahankan wajah tak berdosa nya sambil sok berpikir keras "entahlah, apa yang kamu maksud bekas gigitan nyamuk?" Alyan menaikkan kakinya di atas ranjang dan duduk bersandar di atas sana.


"Alyan. Jelas jelas kemarin kamu mencium leher ku dan meninggalkan bekas di sana, dan sekarang kamu tidak tau apa yg aku bicarakan?" Melviona menganga tak percaya.


"Oh, ayolah. Kamu yg amnesia atau aku yang berhalusinasi tentang kejadian itu"


Alyan menarik tangan Melviona, membuat Melviona lagi lagi terduduk di pangkuannya.


"Apa kejadian nya seperti ini?"


Alyan mengeratkan pelukannya.


"Seperti ini, lalu..."


Kini Alyan mencium leher Melviona kasar, dan meninggalkan bekas yang sama seperti yang kemarin.


"Seperti ini?"


Melviona terlonjak, segera berdiri namun dengan cepat kembali di tarik oleh Alyan dan di peluk.


"Sekarang kamu tidak bisa mengelak, bintik merah yg ku maksud adalah yg seperti ini" Melviona hanya menunjuk letak yg baru saja di cium Alyan.


"Oh" Alyan tersenyum dan mencium pipi Melviona.


"Itu tanda kepemilikan sayang, bukan bintik merah atau pun bekas gigitan nyamuk"


"Hah?"


"Katakan padaku, apa Stevan masih berbicara santai dengan mu? Atau bagaimana jarak antara kalian? Apa masih sama seperti biasanya?"


Melviona menggeleng dalam bingung, sebenarnya apa maksud pria ini?


"Nah, itu adalah fungsi tanda kepemilikan sayang. Dia seperti obat nyamuk yg membuat nyamuk menjaga jarak darinya bahkan menjauhinya. Lihat lah, Stevan sekarang menghargai mu sebagai seorang atasan, bukan sesama nyamuk, kenapa? Karna tanda kepemilikan ini" Alyan kembali mencium leher Melviona "ternyata ini sungguh efektif ya" Alyan tersenyum bangga.


Melviona menepuk keningnya sambil menggeleng tak percaya Alyan akan memberikan jawaban yang sulit untuk ia pahami dan hindari.


Sungguh, apa pria ini benar benar memikirkan jawaban yg tepat dalam mimpinya? Astaga, apa dia tidak punya hal lain untuk di mimpikan? Ia membuat ku tak bisa berkata-kata.


🌺🌺🌺🌺🌺


Melviona duduk merenung di belakang meja kerjanya, dan Stevan menyadari hal itu, hal yang membuat pikiran nona nya itu melayang tak tenang pada tempatnya.


"Nona? Apa ada yang bisa saya bantu?" Akhirnya Stevan bertanya.


"Benar, ada yang menganggu. Apa menjalankan perusahaan dari awal terlalu sulit baginya? Ya... Siapa suruh dia membuat keputusan yang bahkan sulit tuk ku impikan" pikir Stevan.


"Nona..."


"Ah, maaf" Melviona memperbaiki duduknya.


"Ada apa?"


"Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Ah, tidak. Aku akan mengerjakan nya sendiri"


"Uhm... bagaimana dengan makan siang mu nona? Apa nona ingin berkunjung ke kantin perusahaan? Restoran mewah? Atau...."


"Hehe...Maaf merepotkan mu, tapi tolong belikan makan siang sama seperti kemarin ya"


"Haissh... baiklah" baru saja Stevan berbalik menuju pintu, Alyan dengan seorang gadis memasuki ruangan.


"Tuan muda, ada perihal apa kemari?" Tanya Stevan.


"Aku mengantarkan makan siang Melviona"


Alyan menyerahkan kotak makan kepada Stevan dan berjalan ke arah sofa diikuti oleh gadis yang ia bawa tadi.


"Siapa dia?" Tanya Melviona dalam hati.


Gadis itu 30 cm lebih pendek dari Melviona, rambutnya hitam, dan terjatuh sempurna di bahunya.


Ia memiliki mata yang sipit, bibir yg mungil dan penampilan yang imut.


"apa dia kenalan Alyan?" Tanya nya lagi.


Melviona berjalan menghampiri tiga orang itu yg tengah duduk di sofa, Stevan sedang membuka kotak makan, sedangkan Alyan dan gadis di sampingnya tertawa sambil memerhatikan layar ponsel gadis itu.


"Mereka sedang lihat apa?" Banyak pertanyaan yang tersimpan di benaknya.


Melviona duduk di samping Stevan, sambil menatap dua orang di depannya yg entah mengapa membuat nya jengkel.


"Ah iya" gadis itu menurunkan ponselnya dan melihat Melviona, sepertinya ia sadar Melviona menatap nya sedari tadi "apa kakak cantik ini Melviona?" Tanya gadis itu dan di jawab dengan anggukan serta senyum dari Alyan.


"Waaah, kalau gitu kenalin. Aku Lian Mei Yin" gadis itu memperkenalkan namanya sambil mengulurkan tangannya ke arah Melviona, dan disambut baik oleh Melviona sendiri.


"Kakak bisa panggil aku Mei Yin"


Melviona tersenyum, sepertinya gadis di hadapannya ini gadis yang baik, begitu pikir nya "senang berkenalan dengan mu" ucap Melviona.


"Kakak juga, kekasih ku ini sering membicarakan kakak, sepertinya hubungan kalian sangat dekat ya. Iya kan sayang" gadis itu melihat ke arah Alyan.


"Eh" tampak Alyan terkejut melihat kelakuan Mei Yin, sejenak ia terdiam lalu tersenyum "iya" jawab nya.


Apa?! Pacar! Apa aku tidak salah dengar?! Melviona merasa sangat marah dan bingung, ia tidak melepas genggaman Mei Yin, dan tampak gadis itu merasakan genggaman Melviona yg mengerat.


Melviona melotot ke arah Alyan, meminta penjelasan dalam bentuk telepati tanpa melepas genggaman nya.


Alyan merasa bingung, entah dia tau Melviona marah akan hal apa, yg jelas sekarang Melviona sama sekali belum mendapatkan penjelasan.


"sayang..." Mei Yin melirik ke arah Alyan, dan saat Alyan melihat Mei Yin, ia sadar genggaman Melviona terlalu erat sampai membuat gadis di sampingnya itu sedikit meringis.


Alyan segera menarik tangan Mei Yin dan menyalami Melviona "apa hari mu menyenangkan?" tanya Alyan sambil tersenyum.


Melviona tidak menjawab, ia menarik tangannya kasar dan mengambil kotak makan yg ada di atas meja.


Alyan masih merasa bingung, sambil memerhatikan Melviona yg makan dengan perasaan kesal.