I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 89


BRAK! Alyan membuka pintu dengan keras.


"Alyan? Ada apa kemari?" Tanya Melviona yang tengah duduk bersimpuh diatas sofa, mengelap rambut basah Kristian.


Alyan tidak menjawab, ia menatap Kristian yang juga tengah menatapnya dengan tatapan datar tanpa ekspresi.


"Kak, siapa pria kolot itu?" Tanya Kristian mendongak melihat Melviona.


"Ah...dia_"


"Aku pacar kakakmu bodoh" sela Alyan kesal.


"Ya ampun, mereka bertemu lagi" pikir Melviona panik. Pasalnya, selama Alyan dan Kristian saling mengenal, tali kedamaian mereka tidak pernah terhubung.


"Pacar kakakku? Apa kau bercanda?"


"Heh! Sudah mau adu pukul ya" balas Alyan kesal.


"Kak..." Kristian kembali menatap Melviona dengan tatapan memelas, lebih tepatnya tatapan jitu yang sering ia gunakan sebagai obat pereda amarah kakaknya saat ia berulah fatal.


"A-Alyan! jangan menakuti adikku seperti itu, dia baru saja sadar kemarin" dengan cepat Melviona memalingkan tatapannya dari raut wajah itu.


Alyan berjalan lalu duduk didepan Kristian, tatapannya melotot dan penuh dengan kekesalan yang bisa meledak kapan saja "huh, kenapa sidekil ini harus sadar sih" umpatnya sedikit bergumam.


Melviona hanya diam pura-pura tidak mendengar, karna ia tau bila sekali lagi ia memarahi Alyan, maka hubungan Alyan dan Kristian akan menjadi musuh bebuyutan secara permanen.


"Bagaimana kalau kamu tidur sekarang? Bukannya tadi saat mandi kamu bilang mengantuk?"


"Iya, tapi sekarang tidak. Gara-gara pria itu, aku jadi berfirasat akan tidur lebih lama lagi" Ucap Kristian menatap Alyan sebelah mata.


"Saat mandi? Jangan bilang..." Alyan mengalihkan pandangannya kearah Melviona.


"Memangnya kenapa kalau kakakku memandikan ku?" Tanya Kristian dengan senyum menyeringainya.


Alyan melotot kesal, tangannya yang ia kepalkan sedari tadi telah mengeluarkan urat, dengan rahangnya yang keras dan menggertak, sepertinya sudah saatnya roket amarah meluncur.


"Kri-kristian kan adikku, lagipula staminanya masih lemah untuk mandi sendiri" jelas Melviona panik dengan suara pelan.


Alyan tak menjawab, wah~ sepertinya waktu peluncuran roket amarah sudah mulai terhitung mundur, apa tiga puluh detik lagi? Tidak, sepertinya sepuluh detik lagi😊.


Melviona berpikir keras dalam panik, entah mengapa untuk pertama kalinya ia sepanik ini dalam mencari sebuah solusi.


"Sa-sayang, bukankah hari ini cuacanya sangat panas~"


"Ya?" Alyan terkejut mendengar Melviona, begitu pula dengan Kristian yang terpaku dalam keheningan.


"Aku bilang, bukankah hari ini sangat panas? Aku akan pergi sebentar membeli air dingin" Melviona segera turun dari sofa, dan berjalan cepat menuju pintu.


"Aaaa! Bagaimana ini? Bagaimana ini?!" Teriaknya dalam hati, Melviona memegang kedua pipinya yang memanas, suara degup jantungnya berdetak kencang seolah dapat didengar oleh seseorang yang berada di lorong itu "ah ya ampun! Memalukan, kenapa harus sekarang sih aku bicara tanpa berpikir?!" Teriaknya lagi dalam hati.


Sementara disisi lain...


"H-hei! Apa kau demam?" Tanya Kristian saat melihat wajah Alyan yang semakin lama semakin memerah.


"..." Alyan diam tak menjawab, sepertinya ia sedang memproses sesuatu dalam benaknya.


"Ti-tidak mungkin, jangan bilang ini pertama kalinya kakakku memanggilmu seperti itu semenjak kalian pacaran?! Oh astaga, sulit dipercaya"


"...ya... sulit dipercaya" gumamnya tersenyum "bagaimana bisa panggilan sederhana itu membuat jantungku berdebar seperti ini?" Lanjutnya.


Tak lama kemudian, Melviona kembali dengan sekantung plastik putih berisikan ice cream.


"Ah, Haha maaf kelamaan, tadi jalanan sempat macet" ucap Melviona sembari menaruh barang beliannya diatas meja.


"Kak, tiba-tiba aku mengantuk"


"Ah, baiklah" Melviona kembali berdiri dan membopong Kristian menuju ranjang.


"Apa gordennya perlu ditutup?" Tanya Melviona seusai menyelimuti Kristian.


"Mhm..." jawabnya singkat.


Melviona pun berdiri, berjalan kearah dinding kaca dan menarik gorden sehingga sinar matahari tidak masuk kedalam.


Saat ia berbalik, ia melihat Alyan yang dengan santainya menikmati ice cream yang dibeli Melviona.


"Ternyata hanya aku saja yang heboh" pikir Melviona tersenyum kecil.


Melviona kembali berjalan kearah sofa, ia mengambil sebuah tas berisi laptop yang ia tinggal dibawah meja.


"Kamu kerja?" Tanya Alyan.


"Ya, banyak yang harus aku selesaikan" jawabnya tanpa melihat Alyan, ia menyalakan laptopnya dan jarinya mulai menari diatas keyboard.


Melihat Melviona yang mulai fokus dengan perkerjaannya, membuat Alyan merasa tidak pantas untuk mengeluh saat itu, ya setidaknya untuk meringankan beban pikiran kekasihnya.


"Akhir-akhir ini sekertaris Ian sangat giat berkerja ya"


"Ng?"


"Ya, aku dengar dia yang mengurus perusahaan di London saat kita tengah berada di Shanghai"


"Giat apanya? Itu kan aku yang kerjakan" pikir Alyan mendengus.


"Kenapa?" Tanya Melviona.


"Bukan apa-apa, nih cobain" Alyan menyendoki ice cream nya dan mengarahkannya kepada Melviona.


"Eh?"


"Kamu kerja aja, biar aku yang nyuapin kamu. Gimana?"


Waktu berlalu begitu cepat bagi Melviona yang tengah sibuk dengan pekerjaannya, kini jam menunjukkan pukul delapan malam, sementara Kristian masih belum bangun, begitu pula dengan Alyan yang tertidur diatas meja dengan tangan yang ia lipat diatas meja sebagai bantal.


Saat Melviona mengelus rambut Alyan dengan lembut, pria itu malah terbangun.


"Sudah siap?" Tanyanya yang kini duduk sambil mengucak matanya.


"Belum, tapi sepertinya hari ini sudah cukup. Mau ku panggilkan taxi untuk pulang?"


"Eh, kamu tidak ikut?"


"Hm, aku akan menemani Kristian disini"


"Ah..." Alyan merangkul Melviona, sepertinya pria itu masih belum sepenuhnya bangun.


"Kalau begitu aku juga tinggal" gumamnya.


"Eh, bukannya besok kamu kesekolah"


"Mhm...aku tau, lagian sekolah lebih dekat dari sini"


"Tidak bisa begitu, bagaimana dengan seragam sekolahmu?"


Alyan terdiam sejenak "... sekolah sialan" umpatnya.


"Alyan, kamu..."


Belum selesai Melviona berbicara, Alyan sudah menabrakkan bibirnya dengan bibir Melviona.


"Panggil aku sayang..."


"Eh"


"Walaupun itu panggilan biasa, tapi entah kenapa terasa luar biasa saat kamu memanggilku begitu"


"Aly_"


"Sayang"


"Ah, sa-sayang..."


Tangan Alyan mulai menyusuri pinggang Melviona, sementara ciuman diantara mereka semakin mendalam.


Melviona melingkarkan tangannya di leher Alyan, menikmati sensasi yang sepertinya takkan terelakkan lagi.


Namun, baru saja Alyan ingin melepas jaketnya, Kristian malah terbangun.


"Uuh... kakak..." Panggilnya.


Melviona yang terkejut segera menjauh dari Alyan, ia berdiri sembari merapikan pakaiannya dan berjalan menghampiri Kristian.


"Kakak..." Panggilnya lagi.


"Ya? Kakak disini" Melviona mengelus rambut Kristian.


"haus..." Lirihnya.


Segera setelah mendengar permintaan Kristian, Melviona mengambil segelas air dan menaruhnya diatas meja.


Ia membantu Kristian agar terduduk diatas tempat tidur, lalu memberikannya minum.


"Haaah~" Kristian menghela nafas lega sesudah meminum air.


"Kakak..."


"Ya?"


"Aku mimpi buruk"


"Hm?"


"Aku takut..."


"Tenang saja, kakak akan menemanimu disini, kakak tidak akan pergi" hibur Melviona.


"Mhm..."


"Ah ya, Alyan, sepertinya kamu harus pulang sekarang"


"Aku? Kenapa? Bukannya kita masih belum selesai" ucap Alyan santai, membuat wajah Melviona merona seketika, berbeda dengan Kristian yang bingung akan apa yang sebelumnya telah terjadi.


.


.


.


.


.


ℍ𝕒𝕝𝕠!!! π•›π•¦π•žπ•‘π•’ π•π•’π•˜π•š π••π•–π•Ÿπ•˜π•’π•Ÿ π•œπ•’π•π•šπ•’π•Ÿ 𝕒𝕕𝕒𝕝𝕒𝕙 π•‘π•–π•Ÿπ•ͺπ•–π•žπ•’π•Ÿπ•˜π•’π•₯ 𝕓𝕦𝕒π•₯π•œπ•¦.


π•Œπ•Ÿπ•₯π•¦π•œ π•šπ•₯𝕦, π‘»π’“π’Šπ’Žπ’‚π’Œπ’‚π’”π’Šπ’‰ π‘©π’‚π’π’šπ’‚π’Œ.


𝘿π™ͺ𝙠π™ͺπ™£π™œπ™–π™£ π™ π™–π™‘π™žπ™–π™£ π™¨π™šπ™‘π™–π™‘π™ͺ 𝙠π™ͺπ™£π™–π™£π™©π™žπ™ π™–π™£.


β“ˆοΈŽβ’ΊοΈŽβ’ΊοΈŽ β“ŽοΈŽβ“„οΈŽβ“„οΈŽ β“ƒοΈŽβ’ΊοΈŽβ“οΈŽβ“‰οΈŽ!