
Melviona menggeliat dalam tidurnya, lalu perlahan membuka matanya yang masih sayu.
Ia merasakan sesuatu yang mengelilingi perutnya, dan saat ia melihat kebawah, terlihat olehnya Alyan yang tengah tertidur memeluk perutnya dengan wajah yang tenggelam sempurna didadanya.
Ingin marah namun sayang.
Bukannya menyingkirkan Alyan, ia malah mengelus dan merapikan rambut yang saling taut menaut itu.
Uuuhm... Alyan menggeliat sambil mempererat pelukannya.
"Pagi tadi... Aku kelewatan nggak sih?" Pikir Melviona.
Tok tok tok, pintu kamar di ketuk dari luar, membuat Melviona terkejut.
"Nona..." Pelayan itu memanggil saat tak ada reaksi dari dalam "nona, makan malam sudah siap"
"...."
"Nona?" Tok tok tok "apa nona sedang tidur?" Perlahan, pelayan itu membuka pintu, dan terlihat olehnya Melviona yang duduk bersandar diatas ranjang dengan bagian pinggang hingga ujung kaki ditutupi selimut.
"Ah maaf tadi aku sedang melamun, jadi tidak mendengarmu"
"Apa nona baik-baik saja?"
"I-iya... Aku baik-baik saja"
"Sungguh?"
"Tunggu aku dibawah, aku akan segera turun"
"Baik. Eh iya, lagi-lagi tuan muda tidak kelihatan seharian ini, karena kejadian kemarin jadi saya mengecek kamar tuan, tapi tidak ada orang disana. Apa kali ini tuan muda benar-benar keluar ya?"
"Ah... Ahahaπ aku tidak tau"
"Begitu ya... Kalau begitu saya permisi dulu"
Ceklek, pintu kembali tertutup, dan Melviona akhirnya dapat menghembuskan nafas kelegaannya.
"Hampiiiir saja" Ia mengibaskan selimut dan terlihatlah Alyan dibawahnya.
Mata tidur pria itu tampak tidak tenang, dan alisnya mengernyit seperti seorang yang bermimpi buruk.
"Sepertinya kamu tidak cocok untuk akting pangeran tidur" Melviona tersenyum kecil saat sadar kekasihnya itu sedang mencoba untuk pura-pura tidur.
Alyan membuka matanya, melihat senyum Melviona yang meledek kemampuannya.
"Cepat keluar, para pelayan mencarimu" Ucap Melviona.
"Untuk apa? Toh mereka pikir aku beneran keluarkan" Alyan mendekat dan memeluk pinggang Melviona.
"Masih marah?"
"Eh? Uhmmm... Maksudnya?"
Alyan mendongak, melihat Melviona yang tampaknya sedang berpikir.
"Tadi pagi kamu marahin aku tau" Alyan mempererat pelukannya dan menenggelamkan wajahnya diperut Melviona.
"Oh ya? Aku tidak ingat, kapan ya... "
"Kamu tau nggak? Aku sampai berpikir kamu akan memutuskan ku"
"Ha?"
"Tapi aku sudah bertekad, aku akan bersama denganmu apapun yang terjadi, walaupun...nantinya kamu milik orang lain, aku akan selalu menunggumu"
"Alyan... "
"Aku minta maaf kalau aku 'buat salah, aku akan melakukan apa saja untuk menebusnya"
"Kok kamu mikir aku bakal mutusin kamu trus nikah sama orang lain sih?"
"Aku juga nggak mau mikir sampai sana, tapi...tiba-tiba saja, pikiran itu datang mengusik ku"
Melviona hanya tercengang, tak dapat berkata apa-apa tentang penuturan Alyan. Kalau dipikir-pikir, dia mirip... Guk-guk kecil.
"Kalau gini, boro-boro marah, aku kayaknya bakal tambah sayang deh" Pikir Melviona.
"Alyan"
"Ya?"
"Bisa lepas nggak?"
"Hm? Kenapa?"
"Nggak papa sih, cuma..."
"Hah~ bukan apa-apa" Melviona mengangkat kepala Alyan dari pangkuannya, lalu turun dari ranjang.
"Kemana?" Tanya Alyan.
"Kebawah, mau makan malam. Kamu juga turun gih, tapi hati-hati pas keluar ya" Tanpa jawaban dari Alyan, Melviona keluar dari kamarnya, menuju lift.
Selesai makan malam, Melviona masuk ke ruang kerja Alfian untuk membicarakan produk berupa parfum, yang akan dikenalkan besok untuk umum.
Sementara dilain sisi, Alyan bermain gitar diteras rumah. Saat satu dua lagu ia nyanyikan sendiri tanpa para fans yang biasanya menyoraki dirinya, ia teringat dengan salah satu album lagu, yang batal di rilis. Lagu yang sebenarnya ia buat untuk Melviona, dimana saat itu mereka masih belum menjalin hubungan, dan lagu itu selesai ia buat sehari sebelum ia mengalami kecelakaan maut.
Alyan termenung sejenak, kemudian jarinya mulai memetik gitar, dan ia pun menyanyikan lagu itu, lagu yang bila diubah kebahasa Indonesia berjudul
πΌπ πͺ πππ£πππ£π©πππ’πͺ
Aku merenung slalu merenung
Sungguh rasa ini tak terbendung
Ingin sekali ku sampaikan
Tapi tak tau kedepan
Aku mencintaimu
Sungguh aku mencintaimu
Hati ini memilihmu
Jadilah pendamping hidupku
Dalam hidupku telah berjanji
Mencintaimu sampai mati
Menyayangimu hingga tak terganti
Sayang kuingin buah hati
Aku mencintaimu
Kumohon lihat aku
Ku kan slalu menunggumu
Hingga akhir hayatku
Aku mencintaimu
Sungguh aku mencintaimu
Hati ini memilihmu
Jadilah pendamping hidupku
ππ΅ππͺπ· ππ΅π―π²πͺπ·
Keesokan harinya, seperti recana yang telah ditetapkan, produk berupa parfum itu mulai dipromosikan ditelevisi. Ada delapan jenis parfum yang diperkenalkan saat itu, dan semuanya yang diracik oleh Melviona. Penjualan jauh lebih tinggi dibanding perkiraan, selain produknya yang tampak berkelas, aromanya sungguh menawan, salah satu parfum yang paling digemari dan diperebutkan adalah Romantic Perfume, parfum yang bernuansa musim semi berkelas itu telah menjadi koleksi termahal bagi para bangsawan yang membelinya. Ya... Melviona sudah menyadari hal itu sejak lama lebih tepatnya sadar akan kualitas produknya yang sungguh membingungkan saat masa peracikan, selain pemilihan aroma yang sulit, ia juga harus melihat bahan yang tidak berbahaya bagi kulit. Romantic Perfume ini di produksi hanya sebanyak lima puluh buah, dengan harga yang luar biasa melonjak, setelah lima penjualan awal. Hal itu lah yang menjadikan Romantic Perfume sangat terbatas penjualan nya.
Waktu yang tetap berjalan, membuat suasana lambat laun berbubah menjadi malam, dan setiap orang sibuk dengan perubahan itu, ada yang pulang kerumah, memasak makan malam, pergi menghadiri suatu acara malam, atau bersiap-siap tidur lebih awal.
Begitu juga dengan Melviona, yang sangat sibuk dengan pekerjaannya, sehingga harus makan malam direstoran kemudian kembali ke pekerjaannya.
"kalau begitu, saya pamit pulang dulu, selamat malam"
"selamat malam" balas Melviona.
Stevan pun mengendarai mobilnya keluar dari halaman rumah itu menuju hotel terdekat. Ya, Stevan yang awalnya menginap satu atap dengan Melviona, langsung bergegas pindah kehotel terdekat, sehari sebelum tibanya Alfian di Shanghai. Tidak ada yang tau motif dari perpindahan Alfian, dan sekali lagi hanya Tuhan dan penulis yang tau motif dibalik ini.
"Selamat malam nona, lagi-lagi nona lemburya" kepala pelayan, menyambut.
"ya... hari ini sungguh melelahkan"
"Persiapan mandi nona sudah dipersiapkan, silahkan naik keatas"
"Trimakasih, lagi-lagi saya merepotkan ya"
"bukan masalah nona, ini memang sudah tugas kami"
Melviona memasuki lift, dan menekan lantai tiga "haaah~ sepertinya sekarang aku tau, kenapa lift dipasang dirumah ini"
Alfian memang sudah lebih dulu menjalani hari yang sungguh-sungguh melelahkan, dan tentunya berjalan menaiki tangga sepulang kerja, merupakan hal yang menambah beban dan terkadang membuat hati kesal.
Tapi kenapa dirumah utama tidak dipasang lift ya? padahal presdir lebih lama menetap disana, dari pada dinegara lain.