I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 69


Melviona lagi lagi terfokus pada pekerjaan nya, ia tak menyadari waktu yang sudah menunjukkan pukul 01.34 pagi.


Mungkin karena sudah terbiasa lembur di perusahaan, membuat Melviona tidak merasa kantuk dengan cepat.


"apa dia mengalami insomnia?" pikir Alyan yg sudah berkali kali menguap tapi tak disadari oleh Melviona yg asik dengan pekerjaannya.


"Dia pasti kurang tidur" pikir Alyan lagi.


Ia menatap gadis itu dengan tatapan iba, berpikir bagaimana lelahnya gadis itu selama ini. siapa yang harus ia salah kan? apa ayah nya yg menaruh beban berat pada gadis itu, atau dirinya yg tidak tertarik untuk meringankan beban ayahnya? yah...tentu saja, Melviona tidak akan selelah ini tanpa keputusan nya yg ingin bekerja sampai titik ini.


Alyan mendekat dan memeluk Melviona dari belakang, menyangkut kan dagu nya di bahu kanan gadis itu sembari menghirup aroma manis yg berasal dari tubuhnya.


"Alyan?"


"udah mau jam dua loh, kamu nggak ngantuk?"


"nggak, ini bentar lagi selesai kok. lepasin dulu"


"tidak" Alyan menggeleng kecil di bahu gadis itu "aku ngantuk, kalau aku berbaring pasti ketiduran"


"nggak papa, tidur aja"


"aku mau nungguin kamu"


"kalau begitu lepas dulu, aku susah gerak" Melviona berusaha melepas pelukan Alyan, takut bila Alyan mendengar degup jantungnya yang berdetak tak karuan.


"apaan sih, yang gerak itu tangan. bukan kaki" Alyan mendengus mempererat pelukannya.


Melviona pun mengalah, ia kembali melanjutkan pekerjaannya yg sebentar lagi akan selesai, tapi tak selang beberapa lama saat ia kembali larut dengan pekerjaannya, Alyan malah menciumi leher nya dengan kasar.


menetapkan sebuah bintik merah di sana.


"A-Alyan..." Melviona merasa panas, bagaimana tidak? ia sangat sensitif dengan sesuatu yang ada di leher nya.


"sudah selesai?"


"sedikit lagi"


"kalau begitu cepat selesaikan" Alyan kembali mencium leher Melviona. kini sudah dua bintik merah yg tertera di sana.


"uuh, Alyan...kamu membuatku tidak fokus"


"maka fokus lah dengan diriku saja" Alyan mulai meraba paha gadis itu "di sini tidak ada cctv kan"


Alyan memutar wajah gadis itu dan ******* bibirnya, sedangkan tangan lainnya telah menyusup ke dada.


saat itu suasana semakin memanasi hormon keduanya, Alyan sudah memutar pinggang Melviona dan kini Melviona menghadap nya sementara Alyan bersandar di bed head board tempat tidur.


Baru saja Alyan mau menurunkan lengan piyama Melviona, lagi lagi seseorang malah mengetuk pintu.


"nona?" tok tok tok "apa nona sudah tidur? ini saya Stevan, ada masalah penting yg harus saya bicarakan" tok tok tok


meski ke dua orang itu awalnya pura pura tak dengar, namun Stevan yg tak henti hentinya mengetuk pintu membuat Melviona turun dari ranjang sambil merapikan dirinya.


"sialan! kenapa orang orang ini slalu mengganggu di saat yang tidak tepat" tampak Alyan yg merasa geram meninju ninju bantal.


"eh, tuan muda juga ada di sini" Stevan sangat terkejut apa lagi saat melihat tatapan dingin Alyan yg melotot kearah nya "a-apa aku baru saja melakukan kesalahan?" pikir nya.


"ada masalah apa Stevan?" tanya Melviona.


"ah ya, tiba-tiba ada masalah di perusahaan yg terletak di Shanghai, Presdir menginginkan nona yg menyelesaikan masalah di sana"


"apa?!!" Alyan turun dari ranjang, menghampiri Melviona dan Stevan yg sedang berdiri di depan pintu.


"Viona baru saja pulang dari Los Angeles, kenapa dia pergi lagi?!"


"apa masalah nya serius?" tanya Melviona.


"tidak terlalu serius, tapi masuk dalam kategori serius" jawab Stevan.


"Baiklah, tunggu aku di bandara besok pagi"


"hah?!" Alyan terkejut, baru saja ia menjalin hubungan asmara dengan Melviona dan gadis itu sudah akan pergi lagi.


"saya sudah membereskan koper saya nona, kita akan berangkat bersama di bandara besok pagi. apa saya boleh menginap di sini?"


"ah, baiklah. aku akan menyuruh pelayan membereskan kamar tamu"


Alyan menahan lengan Melviona saat Melviona ingin keluar.


BRAK! Alyan membanting pintu dengan keras. Lalu kembali menaiki ranjang dan berbaring di sana.


"kamu bisa kembali ke kamar mu sekarang, aku akan menyelesaikan ini dalam lima menit lagi"


"..." Alyan terdiam, tak menggubris Melviona.


Tak lama kemudian, Melviona membereskan barang-barang yang ada di atas ranjang dan menata nya rapi di atas meja.


ia mendekati Alyan yang tampak sudah tertidur, memukul pelan lengan pria itu agar terbangun, namun hal itu sia sia, sepertinya dia tertidur sangat pulas, begitu pikir nya.


Melviona pun memutuskan untuk tidur di sofa. Tapi baru saja ia berjalan menjauh dari ranjang, Alyan yg ternyata belum tidur langsung menarik pergelangan tangannya dan membuat Melviona terjatuh di atas kasur.


Dengan cepat Alyan menyelimuti Melviona dengan selimut dan memeluk gadis itu.


"ternyata kamu belum tidur"


"jangan pergi. oke?"


"eh, maksud kamu..."


"kamu di sini saja, aku akan meminta ayah agar mengurus nya sendiri"


"tidak, ini memang sudah tugas ku sebagai wakil Presdir"


"tapi kita kan baru saja pacaran"


"pa-pacaran?!" seketika wajah Melviona merona mendengar hal itu.


"kita pacaran kan?"


"ki-kita...kita..."


"apa kamu membenci ku?"


"tidak. kita... pacaran..." Melviona segera menenggelamkan wajahnya di dada bidang Alyan.


"dia malu" pikir Alyan.


"Jangan pergi, okay?"


"ah" sejenak Melviona termenung "aku harus pergi, maaf"


Alyan mengernyit "lihat dia, baru pacaran saja dia sudah meninggalkan di hari pertama, bagaimana nantinya kalau dia menjadi istri ku? aku harus menyingkirkan nya dari perusahaan lebih cepat" ucap Alyan dalam hati.


"aku ikut"


"hah?"


"aku bilang aku ikut, titik" Alyan memejamkan matanya dan mempererat pelukannya.


"lalu bagaimana dengan di sini?"


"memang nya para direktur di kasih upah buat apa"


"iya sih, tapi bukannya Presdir juga menugaskan mu di sini?"


"menugaskan apanya? aku juga baru belajar"


"tapi"


"kalau kamu ingin perusahaan bangkrut, maka aku akan tinggal di sini"


"tidak! jangan lakukan itu, jangan sentuh apa pun yang terkait perusahaan selama aku pergi"


"makanya bawa aku. kamu nggak bawa aku, aku juga bisa nyusul sendiri. memang nya Shanghai itu milik mu, sampai kamu melarang ku kesana?"


"bukan itu, gimana dengan sekolah mu?"


"ambil cuti nggak susah kok"


"kamu kira itu kampus?"


"ya... tinggal di setor uang aku bakal tetap di kasih hadir kok sama sekertaris"


"haissh... Alyan, kamu tuh nggak boleh_"


"sssst... kita bentar lagi pergi, jadi simpan tenaga mu dan tidur lah, aku juga ngantuk"