I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 66


Aku berubah pikiran, aku akan berangkat ke Los Angeles besok pagi, malam ini aku menginap di hotel. Aku terlambat penerbangan, jadinya aku tidak sempat menaiki pesawat itu. Apa kamu sudah melihat nya? Kalau kamu membaca pesan ini, tolong segera hampiri Alyan di perusahaan, dia pasti ada di sana, sepertinya dia sudah mendengar berita nya. Tolong katakan kalau aku baik baik saja, dia tidak mengangkat panggilan ku atau membalas SMS ku (aku bertaruh aku masih hidup โ™ฅ๏ธ) -Presdir-


Dan satu SMS lagi muncul, Alfian mengirimkan fotonya yg sedang berada di hotel agar Melviona percaya akan kata kata nya.


Setelah membaca SMS itu, wajah Melviona kaku tanpa ekspresi, entah bagaimana cara ia mengutarakan perasaannya yg campur aduk antara senang, terharu, jengkel, kesal, dan marah.


Melviona memegang bahu Stevan yg masih terisak tangis yg memilukan.


"Nona..."


"Lap ingusmu Stevan, singkirkan air mata yang memalukan itu"


"Apa maksud anda! Jelas jelas Presdir menga_" seketika ucapan Stevan berhenti saat Melviona memperlihatkan foto dan pesan Presdir.


"Presdir... mempermainkan kita๐Ÿ˜‘?"


"Jadi, apa yg sebenarnya terjadi?" Wanita itu kembali bertanya.


Melviona berdiri, begitu juga Stevan dengan wanita itu.


"Bukan apa-apa nyonya, kami hanya sedang di permainkan oleh atasan kami"


Melviona mengambil kantongan tas yg ada di atas etalase kaca "kami permisi dulu"


"Ah, baik, eh coklat mu"


"Maaf, saya lupa" Melviona mengambil coklat panas yang di tangan wanita itu.


"Kami permisi"


"Baiklah"


"Nyonya" Stevan menundukkan kepalanya "maaf soal kejadian tadi"


"Tidak apa-apa"


"Saya permisi"


"Baik, hati-hati, hujan nya deras"


"trimakasih"


"Stevan, ayo ke perusahaan dimana Alyan berada"


"Baik"


Sepuluh menit kemudian, mereka sampai di cabang perusahaan lainnya dan Melviona berlari ke dalam perusahaan.


Melviona memasuki lift, menekan tombol lantai kantor Presdir. Berharap Alyan berada di sana.


Dan memang benar, sesampainya di sana Melviona mendapati Alyan yg duduk di lantai sambil bersandar di dinding kaca transparan ruangan, tampak pria itu terisak tak dapat menahan tangis, ia meraung seperti anak anjing yg kelaparan, dan begitu frustasi bagai candu yang tak terpuaskan.


Melviona menghampiri Alyan yg terduduk sambil mengacak ngacak rambutnya sendiri, ia memeluk pria itu perlahan lalu menepuk punggungnya pelan.


"Sudah, sudah, tidak apa-apa" Melviona bermaksud untuk mengerjai Alyan seolah olah Alfian benar benar ada dalam pesawat itu.


"Aaaaakh! Ayah!" Dengan suara yg sudah serak Alyan meneriaki kepergian ayahnya.


Melviona berusaha menahan senyum dan tawanya, ia menghembuskan nafasnya berulang ulang agar tetap stay dalam menjalankan aksinya.


"Katakan padaku, ini tidak mungkin kan?! Tidak kan?!!" Alyan kembali meraung.


"Iya, tidak mungkin"


"Ayahku tidak mungkin meninggal!!!"


"Benar, Presdir tidak mungkin meninggal" Melviona duduk di samping Alyan, sungguh kali ini jangan kan gelak tawanya, senyum bisunya bahkan benar benar tak dapat ia tahan dan kini keluar begitu saja dari mulut nya.


"Kenapa kau tertawa" Alyan terisak.


Melviona mengambil ponselnya dan menunjukkan pesan Presdir pada Alyan.


"Tidak mungkin" Alyan terkejut tak habis pikir, ia mengambil ponsel Melviona dan mengecek jam pengiriman juga isi pesan itu berkali kali.


"Hahahaha" Melviona masih tertawa hingga perutnya kesakitan.


Alyan mengeraskan rahangnya, menggenggam erat ponsel Melviona di tangannya lalu menatap Melviona.


"Kamu mengerjai ku?"


"Hahaha, ayolah. Presdir yg duluan mengerjai ku dan Stevan sekertaris ku, kalau begitu anak nya juga harus kena dong. hahaha"


"Lucu ya kerjain aku"


"Pake banget"


"Huh" Alyan yg merasa malu segera menyeka air matanya.


"Kamu kayak orang mabuk tau nggak" Melviona merapikan rambut Alyan yg sudah acak-acakan.


"Ah" Alyan sedikit terkejut saat tiba-tiba Melviona memegang rambutnya.


"Maaf ya, soalnya seru aja"


"Hm"


"Ngomong ngomong, kenapa masih belum pulang?"


"Itu..."


"Oh, pasti soal dokumen dokumen itu ya, gimana kalau aku bantu"


"Tidak perlu" Alyan berdiri dan berjalan ke arah sofa diikuti oleh Melviona.


"Udah makan?" tanya Melviona.


"Belum"


"Kenapa?"


"Lupa?"


"Nggak papa, aku nggak lapar kok"


Kryuuuuk, suara perut Alyan membuat keheningan dan kecanggungan di antara keduanya.


"Haha, aku baru saja membeli roti di perjalanan, mau?"


"Tidak perlu, aku tid_"


Kryuuuuk, lagi lagi suara perut Alyan menghancurkan image pria itu.


"Halo? Stevan, kamu dimana? Kenapa nggak naik? Iya, bisa antarkan roti yg aku tinggalkan di mobil kemari?"


Tak lama kemudian, Stevan muncul dan menaruh barang belian Melviona di atas meja.


"Saya pulang dulu ya" Stevan pamit pulang.


"Eh, nggak nunggu aku? nggak mau makan?"


"Saya baru ingat, hamster saya takut petir, saya harus cepat cepat pulang"


"Tapi_" belum selesai Melviona berbicara, Stevan sudah hilang dari pandangan nya "aku kan nggak bawa mobil..." Melviona melanjutkan perkataannya pelan.


"Tidak apa-apa, aku akan mengantarmu pulang" ucap Alyan.


"Oh, kalau begitu maaf merepotkan"


"Tidak apa-apa"


"Ah, ini rotinya. Ayo dimakan" Melviona mengeluarkan kotak roti dalam kantongan.


"Eh, udah dingin" gumamnya saat mendapati tempat coklat panas itu sudah tidak panas lagi.


"Aku akan kembali memanaskan nya, dimana_"


"Tidak perlu, kamu disini saja, biar aku yang memanaskan nya"


"Oh, oke"


Alyan berdiri dan berjalan keluar ruangan, dan tak lama ia kembali lagi lalu duduk di samping Melviona.


"Ternyata coklat panas ya"


"Iya"


"Kamu masih suka coklat?"


Melviona mengangguk sambil meminum coklat nya.


"Selera mu memang nggak berubah ya"


"Hm?"


"Dulu saat kita kecil, kamu juga suka yg mengandung coklat"


"Dulu?"


"Mungkin kamu sudah lupa, tapi tidak apa-apa, cukup aku saja yang mengingat nya" Alyan tersenyum.


"Coklat enak loh"


"Aku tau, dulu kamu juga slalu mengatakan hal yg sama"


"Hm?"


"Aku bahkan tak habis pikir, kamu bersikap seperti orang dewasa saat itu, apa lagi saat Kristian berada di samping mu, kamu sering menasehatinya seperti seorang tetua, apa lagi saat aku dan Kristian bermain di pinggir sungai waktu itu aku ingat kamu berkata begini 'bahaya bermain di pinggir sungai! Kamu mau di telan buaya? Menurut buku yg aku baca, buaya ada di air yg tidak asin. Jadi segera menyingkir dari sana' hahaha, padahal itu kan sungai nya nggak ada buaya, itu sungai buatan, hahaha"


"Ah, i-itu...aku...aku tidak ingat pernah mengatakan itu" wajah Melviona tiba-tiba memerah, ia sebenarnya ingat. Tapi hal itu sangat memalukan untuk kembali di bahas.


"Kamu sering menegur kami ini itu, tapi kenapa sekarang tidak?"


"A-aku... aku mana ada kayak gitu!"


"Nggak mau ngaku ya, lalu bagaimana dengan gigi ompong mu? Aku ingat saat kamu di bawa di rumah sakit gigi hanya karna kebanyakan makan coklat, saat kamu pulang dua gigi depan mu di copot hahaha"


"Uugh" wajah Melviona benar benar merah padam mengingat hal itu.


"Ayolah, tidak perlu marah, aku tau kamu ingat. Sekarang mari kita lihat bagaimana kondisi gigimu"


"Baik kok, aku rajin gosok gigi tau"


"Sini aku lihat" Alyan mendekat kan wajah nya dan Melviona membuka sedikit mulut nya.


"Hmp!" Melviona terkejut karna bukan memeriksa, malah mencoba.


Alyan mencium bibir Melviona, ciuman yg sangat dalam, lalu melepaskan nya.


Melviona terengah-engah mengambil napas nya berulang ulang, hingga Alyan kembali mencium nya, ia melu*at bibir gadis itu, sedangkan tangan lainnya mengarah kan tangan Melviona untuk melingkari leher nya.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


"Hahaha! Aku tidak tau ternyata Melviona sejahil ini" Alfian tergelak tawa saat melihat video yg dikirim oleh Stevan, video yg berisikan rekaman diam diam Stevan dimana Melviona memeluk dan mengerjai Alyan.


"Lalu bagaimana?" Alfian bertanya pada Stevan di telepon.


"Saya meninggalkan mereka berdua Presdir, saya seperti pagar bila berada di sana"


"Hohoho, baguslah, ternyata kau tau apa yg harus dilakukan"


"Trimakasih tuan"


"Cepat pergi, dan ambil rekaman cctv ruangan dimana kau meninggalkan mereka berdua kemarin, kirim kan pada ku rekaman nya"


"Baik Presdir, saya akan segera mengabari anda"