I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 81


Disebuah restoran mewah, disalah satu ruangan VIP, tiga orang pria bersama dua orang gadis berada didalam sana.


Alfian, Alyan, Stevan, Mei Yin dan Melviona.


"apa kau sungguh mengantuk?" Tanya Alfian saat melihat Alyan yang menguap beberapa kali.


"Apa ayah kemari hanya ingin menanyakan hal itu? Oh ayolah, ayah mengacaukan tidur ku"


"Bersiaplah, malam ini kita berkumpul dirumah bibimu"


"Rumah bibi?"


"Setahuku malam ini dirumah nggak ada acara deh, apa paman hanya ingin bertemu saja?" Pikir Mei Yin.


"Untuk apa?" Tanya Alyan lagi.


"Jangan banyak tanya. Melviona"


"Ya?"


"Kamu juga, bersiap-siaplah malam ini, kita akan pergi bersama"


"Saya? Tapi hari ini_"


"Sekertarismu bilang hari ini kamu tidak terlalu banyak urusan, jadi apa kita bisa pergi?"


"Te-tentu, baiklah" jawab Melviona.


"Aku kemari untuk menyampaikan itu, sekalian makan siang bersama kalian, terutama denganmu yang jarang makan malam dirumah" Alfian menghela nafasnya, sambil melihat kearah Melviona.


"Saya minta maaf" ucap Melviona.


"aku sungguh berharap kau adalah bagian dari keluarga kami" gumam Alfian lalu melahap makanannya.


"Ya?" Melviona kurang mendengar perkataan Alfian barusan.


"Bukan apa-apa"


🌺🌺🌺🌺🌺


Jam menunjukkan pukul lima sore, dan ia berpikir sudah saatnya pulang untuk bersiap-siap.


Melviona membangunkan Alyan yg kembali tertidur disofa, yah... pria itu kembali tidur setelah pulang dari restoran.


Sesampainya dirumah, Melviona merebahkan dirinya diatas kasur, masih banyak waktu sebelum berangkat kerumah Mei Yin.


Jam berlalu, Alfian dan Melviona sedang menunggu Alyan dilantai satu.


"Kenapa anak itu lama sekali?" Tanya Alfian.


"Saya akan mengeceknya dulu" Melviona berjalan menaiki tangga.


Tanpa mengetuk pintu, Melviona masuk begitu saja kedalam kamar Alyan, dan ia terkejut dengan apa yang ia lihat.


Alyan yang sepertinya sudah siap sedari tadi malah duduk didepan layar laptopnya dan sibuk sendiri.


"Viona?" Alyan yang juga ikut terkejut dengan kehadiran Melviona, segera menutup laptopnya sebelum Melviona semakin mendekati dirinya.


"Kamu lagi ngapain? Main game?" Melviona sudah menduga.


"Ah, eh itu... Iya, tadi aku lagi main game, game nya sangat seru"


"Tapi kenapa langsung ditutup?"


"Aku juga tidak tau, tanganku refleks melakukannya"


Melviona mengernyit "kamu tidak lupa kita akan keluarkan, malam ini"


"Tidak kok, aku tidak lupa, tapi..." Alyan tersenyum lalu menarik lengan Melviona, membuat Melviona terduduk dipangkuan nya.


"Tapi 'gimana kalau kita nggak usah ikut? Kita lanjutkan yang kemarin, okay?" Alyan mulai menciumi leher Melviona.


"Eh?!" Melviona sangat terkejut "ti-tidak bisa, ayahmu sudah menunggu dibawah, jangan mengecewakannya"


"Ayah cuma ingin bertemu paman kok, jadi kita nggak ikut juga bukan nggak apa-apa"


"Uuh... Alyan..."


Alyan menahan tengkuk Melviona dan mencium bibirnya.


Melviona yang hampir terbawa suasana, segera tersadar saat tangan Alyan merayap di bawah roknya. Ia berdiri dan mundur beberapa langkah "Alyan, berhenti menggodaku, ayahmu sudah menunggu dibawah" ucapnya tegas kemudian segera berlari keluar.


Sebelum menuruni tangga, ia mengeluarkan ponselnya, memastikan tidak ada bekas yang ditinggal Alyan dilehernya.


🌺🌺🌺🌺🌺


Sesampainya di rumah Mei Yin, mereka disambut dengan hangat.


Canda tawa dimulai bahkan sebelum berkumpul dimeja makan.


Diatas meja sudah tersaji berbagai macam jenis makanan yang kelihatan sangat lezat.


"Hari ini putrimu sungguh cantik Fang" puji Alfian.


"Dia bukan putrinya Alfian, dia hanya wakil Alfian di perusahaan" ucap Yun Wei.


"Wakil? Wah, dia kelihatan sangat muda"


"Hahaha, akupun berpikir demikian saat pertama kali melihat kejeniusannya, dia begitu mirip dengan Walzer" Ucap Yun Wei lagi.


"Walzer? Hum.. setelah dipikir-pikir kau benar juga"


"Tentu saja, dia putrinya Walzer, Haha" mendengar ucapan Alfian, Fang Zhao dan juga Yun Wei terkejut.


"Aku baru tau kalau dia putrinya Walzer" ucap Yun Wei "pantas saja aku merasa familiar saat melihatnya, wajahnya mirip ibunya"


"wah... ternyata ini putrinya yang sering ia bicarakan itu" Fang Zhao menganga tak percaya.


"Yah... begitu lah"


"Kalau boleh saya tau, ayah saya cerita apa tentang saya?" Melviona sangat penasaran.


"Aku berteman dengan ayahmu semenjak lima tahun yang lalu, alasanku berteman dengannya cukup unik, itu karna dia begitu irit bicara dan sangat dingin, sungguh sangat bertolak belakang dengan ibumu"


"Ayah bersikap dingin?"


"Ya awalnya sih begitu, setiap kali aku bercerita aku merasa seperti radio rusak, namun suatu hari, saat aku mengajaknya minum sampai mabuk... hahaha" Fang Zhao menghentikan ucapannya dan malah tertawa terbahak-bahak.


"Aku sampai berpikir, apa dia Walzer yang kutemui dulu? Hahaha, dia bercerita sangat lama dalam mabuknya, dan semuanya menceritakan dua orang anaknya yang ia tinggal di Indonesia"


"Ayah ternyata sangat memikirkan kami" pikir Melviona.


"Dari sekian banyak yang ia ceritakan, aku tertarik mendengar cerita tentang putrinya"


"Kau tertarik dengan kehidupan putrinya Walzer? Jangan-jangan..." Alfian menatap Fang Zhao dengan tatapan menyelidik.


"Tidak tidak, aku bukanlah pedofil seperti yang kalian pikirkan, aku tertarik hanya karna Walzer bercerita seolah yang ia ceritakan adalah dirinya"


"Maksud paman?" Alyan yang sedari tadi mendengarkan juga ikut penasaran.


"Dia bilang putrinya itu pendiam dan cukup pasif, selain belajar materi putrinya tidak punya hobi lain, putrinya memang slalu membanggakan nya soal prestasi, tapi terkadang ia menyalahkan dirinya sendiri yang membuat kehidupan sosial putrinya itu terbatas"


"Memangnya di Indonesia kamu tidak punya banyak teman?" Tanya Alyan.


"Hm? Dibanding teman, mereka hanyalah kenalan" jawab Melviona.


"Kenalan?"


"Yah...aku mengenal mereka hanya karna mereka teman sekelas dan teman Kristian"


Mendengar hal itu, Alyan kembali terdiam "Oh, pantas saja dia menampar ku saat aku memaki-maki Farrel" pikir Alyan sembari mengenang masa-masa menyedihkan itu.


Setelah selesai makan malam, dua keluarga itu berkumpul diruang tamu, sedangkan Melviona segera kembali ke perusahaan saat menerima panggilan dari Stevan.


Dimeja ruang tamu, sudah disajikan teh, dan lagi-lagi para orang tua bercerita hal-hal remeh seolah menjadi kata pengantar sebelum memasuki isi pokok dari inti pembicaraan yang sebenarnya.


"Jadi bagaimana dengan yang kita bicarakan minggu lalu, Alfian?" Tanya Fang Zhao.


"Kalian membicarakan tentang apa minggu lalu, sayang?" Tanya Yun Wei.


"Hoho, bukan apa-apa, ini hanya tentang anak-anak, Fang Zhao dan aku berpikir bagaimana kalau kedua anak kita di tunangkan saja, setelah selesai sekolah acara pernikahan baru akan diselenggarakan secara meriah" jelas Alfian, membuat semuanya kecuali dua pria dewasa itu terkejut tak habis pikir.


"Apa maksud ayah?!" Tanya Alyan.


"Apalagi? Mengingat kalian sepasang kekasih, juga ayah dan ibu Mei Yin adalah paman dan bibimu, lebih baik kalian menikah saja, sekalian untuk mempererat hubungan kekeluargaan kita"


"Apa?!" Alyan masih tak percaya saat mendengar apa yang telah direncanakan ayah dan pamannya di belakangnya tanpa sepengetahuannya.


Mei Yin yang juga ikut terkejut, melihat kearah ibunya, dan ibunya Yun Wei hanya dapat menggeleng pertanda ia juga tidak tau soal perjodohan ini.


"Dari rencana kami... Bagaimana kalau acara pertunangannya akhir pekan nanti?" Ucap Fang Zhao.


"Ya, kita adakan secara kekeluargaan saja, tempatnya dihotel bintang lima"


"A-ayah... bagaimana kalau kita pikir-pikir lagi? Kami pacaran belum lama, 'gimana ka_" belum selesai Mei Yin berbicara, Alyan malah berteriak menyela.


"Tidak mau!" Ucapnya.


"Alyan, apa maksudmu? Seharusnya kalian berdua senang, kenapa kalian malah..." Alfian bingung dengan sikap Alyan.


"Aku bilang tidak! Ya tidak! Ayah selalu saja menjodohkan ku dengan orang yang tidak kucintai! Lalu apalagi ini?! Pertunangan?!"


"Tidak kucintai? Apa maksudmu? kalian tidak saling mencintai?" Tanya Alfian lagi.


"Iya... Ini hanya ideku agar pacar kak Alyan cemburu, tidak kusangka paman dan ayah akan langsung memutuskan hal ini saat mengetahui hubungan palsu kami" ucap Mei Yin tertunduk.


"Pacar? Alyan, kau sudah punya pacar?" Tanya Fang Zhao.


"Tentu saja!" Jawabnya percaya diri.


"Dan aku sangat mencintainya! Lebih dari apapun"


JANGAN LUPA TAP JEMPOLNYA YA😘