
"aku juga sering mendengar nya menyebut nama mu saat ia tertidur di kelas. Kamu tau kan, tempat kami sampingan, hehe"
"..."
"Sejak awal dia menjadi kekasih ku hanya karna aku meminta pertanggung jawaban nya, padahal aku tau dan semua orang juga tau, kalau ciuman itu hanya adegan dalam film saja, dan kami tidak harus menjalin hubungan asmara sama seperti di dalam film" Manda mulai menitikkan air matanya "aku yg egois ini, meminta nya untuk mempertanggung jawabkan hal konyol, padahal itu cuma ciuman bukan hubungan intim, hiks....hiks.."
"Manda..."
Manda segera menyeka air matanya "oleh karena itu jangan pernah sia sia kan Alyan! Kamu pikir kamu siapa sok jual mahal pada sahabat ku! Kamu juga nggak secantik aku, hiks"
"Aku belum kepikiran, aku punya banyak pekerjaan, dan aku tidak bisa membagi perhatian ku padanya. Aku hanya akan membuat nya terluka"
"Kalau begitu berkorban lah sedikit, apa kamu tau, kenapa Alyan memilih melanjutkan perusahaan ayahnya dari pada dunia hiburan? Itu karna kamu yg bekerja sangat sibuk dan membuat nya ingin agar kamu lebih memerhatikan dirinyanya dari pada pekerjaan"
"Eh"
"Alyan membuat perjanjian pada ayah nya, jika Alyan bisa sebanding dengan mu, maka ayah nya akan menyingkirkan mu dari perusahaan" ucap Manda
"Meskipun Alyan membenci hal hal yang berkaitan dengan perusahaan, tapi demi dirimu, demi mendapat perhatian mu, demi melihat mu yg hidup tanpa rasa lelah, Alyan berusaha untuk menyingkirkan mu dari perusahaan dan mempelajari hal-hal yang bahkan tidak ia ingin kan. Alyan mengorbankan hobinya demi dirimu, sekarang bisakah kamu berkorban sedikit dengan nya?"
Melviona menghela nafas nya, mengambil minuman nya dan menyedot nya hingga setengah gelas habis.
"Melviona.." kini Manda berbicara dengan nada normal "banyak hal yang aku ketahui tentang mu darinya, oleh karena itu aku membenci mu selama bertahun-tahun, tapi aku baru sadar, aku memang tidak bisa menempati hatinya yg sudah di isi oleh mu, aku hanya sebatas sahabat. tidak lebih dari itu"
Melviona mengulur kan tangan nya "apa aku juga bisa menjadi sahabat mu?"
"Ah" Manda tertegun, dan tak lama ia tersenyum dan menyambut tangan Melviona "tentu saja, Haha"
🌺🌺🌺🌺🌺
Alyan ku serahkan pada mu. Aku akan berangkat malam ini saja -Presdir-
"Kenapa harus buru buru?" Gumam Melviona.
"Ya? Ada yang nona perlukan?"
"Tidak. Aku hanya sedang bingung, kenapa Presdir harus berangkat malam ini? Besok pagi juga bisa kan"
"Mungkin Presdir ingin menikmati malam yg panjang di dalam pesawat"
"Stevan"
"Ya?"
"Kalau kamu tidak tau tinggal bilang saja, jangan membuat ku jengkel dengan jawaban mu"
"Hehehe, saya hanya bercanda. Ngomong ngomong nona mau makan siang di mana? Ini sudah jam makan siang"
"Aku sedang tidak ingin keluar"
"Kalau begitu sebutkan makanan nona, saya akan keluar untuk membeli nya"
"Uhm..ah, aku lihat ada toko roti yg baru saja buka saat perjalanan kemari. Bisa kamu pilih kan beberapa roti yg enak?"
"Tentu, nona suka rasa apa?"
"Coklat"
"Minuman nona?"
"Terserah kamu saja"
"Baik, kalau begitu saya permisi dulu"
"Stevan, tunggu"
"Ya?"
"Aku tidak punya waktu untuk menjenguk mu di rumah sakit. Jadi, perhatikan jalan raya"
"Saya juga nggak Sudi di jenguk sama nona kok, huh!" Dengan kesal Stevan berjalan keluar dari ruangan Melviona.
Sedangkan Melviona hanya tertawa kecil karna berhasil membalas sekertaris nya itu.
Waktu berlalu begitu cepat, dan jam menunjukkan pukul sembilan malam.
"Nona..." Tampak Stevan yg terbengkalai di atas sofa sedang merengek.
"Aku sudah bilang, kalau ingin pulang, pulang saja sendiri" ucap Melviona.
"Bagaimana kalau ada perampok? Atau tiba-tiba saja lampu mati dan hantu muncul? Nona pasti pingsan kan"
"...." Melviona memutuskan untuk tidak menghiraukan Stevan.
"Nona...saya lapar... pulang yuk"
"..."
"Nona...nona...NO-NA!!!!!" Stevan akhirnya berteriak dengan lantang.
"Pu~lang! Yuk!!!" Lagi lagi ia berteriak mencobai kesabaran nona nya itu sambil tertawa cekikikan sendiri.
"ISTRI SAYA NUNGGU DI RUMAH. NOVA!!!"
BRAK! Melviona mengebrak meja "bisa diam nggak sih! Pada ngaku-ngaku udah punya istri lagi"
"Nona sih, jam segini masih nahan saya di kantor"
"Siapa yang nahan? Aku dah bilang, kalo mau pulang ya pulang sana!"
"Tapi nona"
"Kalo kamu masih nungguin aku disini, aku pecat kamu sekarang juga"
Stevan beranjak dari tempat nya, mengambil jas nya yg tergelatak di atas meja dan berjalan perlahan menuju pintu.
"Saya pulang nih"
"Sana pulang!"
"Pulang nggak"
"Iya-iya" namun, saat Stevan menggapai pintu dan mendorong nya, tiba tiba...
Ctar! Seketika gemuruh petir memecah di langit malam dan tak lama hujan turun.
"Stevan!" Panggil Melviona.
"Ya?"
"Tunggu, Tunggu aku" Melviona mengambil tas dan ponsel nya, lalu dengan cepat berlari ke arah Stevan yg ada di depan pintu.
"Nona takut ya..." Goda Stevan.
"A-apaan sih? Ayo cepat pulang, katanya tadi mau pulang" Melviona mendorong pintu dan keluar diikuti oleh Stevan.
"Naik mobil saya saja?" Tanya Stevan.
"Iya deh, cepat"
Melviona berjalan mengikuti Stevan.
"Jangan lupa sabuk pengaman nya nona" Stevan mengingatkan.
"Ah, iya" Melviona segera memasang sabuk pengaman nya yg hampir ia lupakan.
"Sebaiknya malam ini nona menginap di hotel, saya tidak sanggup mengantar nona ke villa dengan cuaca ini"
"Ya udah, bawa aku ke hotel. Kamu yg bayar ya"
"Kok saya?"
"Karna aku bos nya"
"Dasar"
"...Hujan nya tambah deras ya" Melviona memerhatikan sekitarnya di balik kaca jendela mobil yg juga ikut kehujanan.
"Stevan, apa toko roti itu sudah tutup jam sekarang?"
"Eh, nona mau makan roti?"
"Hujan hujan gini roti sama coklat panas paling top loh"
"Aduuh..." Stevan mendengus dan tak lama memberhentikan mobilnya di depan toko roti yg memang masih belum tutup.
"Biar saya saja yg turun"
"Tidak, aku mau pilih sendiri" Melviona dengan cepat turun dari mobil dan memasuki toko roti yg lumayan besar itu.
"Masih belum tutup ya?" Tanya Melviona pada wanita pemilik toko itu.
"Toko kami tutup pukul sepuluh malam"
"Oh. Waaah... banyak banget jenisnya" mata Melviona berbinar-binar melihat berbagai macam jenis roti yg disusun rapi di dalam etalase kaca.
"Nona suka roti ya?"
"Sangat" jawab Melviona namun tatapan nya tak lepas dari isi dalam etalase itu.
"Nona bisa cicipi satu-satu"
"Benarkah?"
Wanita itu mengangguk sambil tersenyum.
"Aish, sayang sekali, saya harus cepat pulang. Kalau begitu saya langsung pesan saja, yg ini, ini, ini dan ini"
"Baiklah, kalau boleh saya sarankan. Hujan hujan begini sangat cocok dengan coklat panas, apa nona mau?"
"Ya, tolong dua"
"Baiklah"
Saat wanita itu sibuk membungkus pesanan Melviona, tiba-tiba sebuah berita televisi membuat nya syok.
Di akibat kan cuaca yang tiba tiba dan tak dapat di prediksi Pesawat XXX yg bertujuan ke Los Angeles tiba tiba mengalami kecelakaan.
Saat ini di temukan 356 orang penumpang meninggal dunia, 201 luka parah dan 178 penumpang masih belum dapat di temukan
"Ya ampun! Bagaimana bisa cuacanya tidak dapat di prediksi? Aku turut berduka, kasihan yg anggota keluarga nya menumpangi pesawat itu" ucap wanita pemilik toko sambil menyodorkan kantongan tas pada Melviona.
"Tidak mungkin..."Melviona gemetar, kakinya lemas seketika dan terjatuh ke lantai.
Wanita pemilik toko itu pun panik dan segera menghampiri Melviona, begitu juga dengan Stevan yg sedari tadi memerhatikan Melviona dari dalam mobil.
Stevan segera keluar dan memasuki toko.
"Nak? Aduh, nak kenapa?" Wanita itu bertambah panik saat melihat Melviona yg pucat pasi dan menitikkan air mata.
"Nona?! Ada apa nona?!" Stevan ikut panik.
"Stevan..."
"Ya?! Ada apa nona?"
Dengan tangan gemetar Melviona menunjuk televisi yg masih menyala itu, dan Stevan yg segera melihat berita itu juga ikut gemetar, terkejut menghadapi kenyataan.
"Tidak..." Gumam Stevan.
"Aduh, kalian berdua kenapa?" Sang wanita itu bingung dengan dua orang yg terkejut saat mendengar berita itu "apa ada keluarga kalian di pesawat itu?" Tanya wanita itu lagi.
"Presdir... tidak mungkin! Presdir!" Stevan ikut menitikkan air mata.
Ting! Sebuah notifikasi SMS masuk ke ponsel Melviona, dengan keadaan masih gemetar gadis itu menyeka air matanya dan melihat pesan itu. Betapa terkejutnya ia saat melihat pesan itu dari nomor Alfian.