I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 45


Alyan tiba-tiba bangun pukul empat dini hari, ia merasa kan pening di kepala nya. Saat ia perlahan membuka mata nya, ia langsung melihat pemandangan yg tak biasa ia lihat. 


Berkali kali ia mengedip kan kedua matanya, dan hal itu tak kunjung menghilang dari pandangannya. 


Ini bukan mimpi, atau pun halusinasi, ia benar benar melihat Melviona tengah tertidur di sampingnya sambil memegang punggung tangan nya. 


Perlahan Alyan melepas genggaman Melviona dari tangannya, lalu menatap langit langit ruangan. 


Sesaat ia terkejut saat mendapati dirinya berada di RS, lalu setelah lama berpikir dan mengingat apa yang sebelumnya terjadi, ia pun mengeluh pada dirinya sendiri. 


Malam itu, setelah keluar dari resto, ia mengingat dirinya mampir di sebuah bar kecil, ia ingat dirinya meminum banyak wine dan pada akhirnya ia tertidur. 


Cukup sampai di situ, ia sungguh tak mengingat apa pun setelah nya, hingga nyeri di kepala nya mulai kembali melanda. 


Ia kembali menoleh ke arah Melviona yg tengah tertidur, perlahan ia menyibak rambut yang sedikit menutupi wajah gadis itu.  "Cantik...." Alyan mulai meracau, pikirannya mulai berfokus pada gadis itu, bagai seseorang yang telah di hipnotis, Alyan tak sadar akan tindakan nya. 


Ia mulai mendekat kan wajah nya hingga hidung nya bersentuhan dengan hidung Melviona, mungkin hal itu yg membuat niat nya mundur, saat Melviona menggeliat merasa geli di hidung nya. 


Alyan segera menghela nafasnya yang tak beraturan, jantung nya berdegup kencang, rasanya suara degupan itu akan membangun kan gadis itu. 


Berkali kali Alyan berusaha menenangkan jiwa dan raganya, namun hal itu sia-sia saat Melviona tiba tiba mendekat dan memeluk nya. "rasanya dunia berpihak pada ku" Alyan mulai memikirkan hal hal aneh. 


Perlahan Alyan mengulur kan tangan nya dan membalas pelukan Melviona. 


Sungguh, saat ini ia berpikir bagaimana cara agar waktu juga berpihak padanya, ia sangat ingin waktu berhenti saat itu, entah ia harus mengorbankan status nya atau kekayaan yg ia nikmati, kini hal itu bukan apa-apa bila ia telah memiliki Melviona, ia rela mengorbankan apapun untuk gadis itu, walaupun gadis itu tidak pernah membalas perasaan nya, atau.... gadis itu memang tidak tau tentang perasaan nya? Entahlah, saat ini Alyan sedang menikmati waktu yg telah di berikan padanya, walau ia tau ia tak dapat melakukan hal yg lebih dari itu. 


Waktu berlalu sungguh cepat, kini jam menunjukkan pukul lima dini hari, dan dengan sendirinya Melviona terbangun. 


Sama saat Alyan terbangun sejam yang lalu, Melviona juga terkejut akan hal itu, di tambah lagi posisi mereka yg saling berpelukan dan kaki Alyan yg menindih kaki nya. 


Dengan tergesa-gesa, Melviona turun dari ranjangnya hingga hampir membuat nya terjatuh. 


Melviona tak menyangka ia akan tertidur saat menenangkan Alyan, ia bahkan lupa kapan ia tertidur. 


"Uuugh..."tiba tiba Alyan ikut terbangun. 


"Ka-kamu udah bangun?" Dengan gugup Melviona menatap Alyan yg masih dengan mata sayu. 


"Hm" Alyan hanya tersenyum melihat Melviona. 


"A-aku, ma-maksud ku ada apa dengan mu?! Kamu kemari dengan keadaan mabuk dan membuat ku tidur di sofa! Dasar!" Melviona bergerutu dengan raut wajah kesal. 


"Beneran? Kamu tidur sofa😕?" Alyan berusaha menyembunyikan senyum nya, ia tau Melviona sedang berbohong, dan ia tidak ingin membuat Melviona malu. "maaf" 


"Sudahlah, kamu cepat pulang, nanti terlambat sekolah"


Alyan melirik ke arah jam tangannya, dan melihat jam menunjukkan pukul lima lewat dini hari "kayak nya nggak sempat, aku sampai di villa pukul sembilan"


"Ya udah, kamu nggak usah sekolah, sana pergi" Melviona mulai mendorong Alyan dari atas ranjang. 


"Iya, iya" dengan cepat Alyan merapikan dirinya dan berjalan ke arah pintu. 


"Ngapain? Sana pergi" suruh Melviona saat Alyan tersenyum kearah nya. 


"Aku pinjam mobil kamu, boleh?"


"Sana pergi" sambil melempar kan kunci mobilnya ke dada Alyan. 


Ia membayang bayangkan kejadian di RS malam itu, dan sesekali ia berkhayal menambah kan kejadian canggung di dalam nya. 


Pukul 10.00 pagi, Alyan terbangun saat mendengar ponselnya yang terus berdering tanpa henti. 


Segera setelah ia mengangkat panggilan masuk di ponselnya, ia diingatkan tentang syuting yg sudah ia lupakan. 


Dengan cepat Alyan turun dari ranjangnya dan berlari kecil ke kamar mandi. 


Setelah selesai bersiap siap, ia segera berangkat ke lokasi syuting. 


Di sana, ia kembali bertemu dengan Manda yg telah selesai di rias, melihat pakaian Manda yg terlihat mencolok, ia teringat akan adegan dimana mereka akan melakukan first kiss dalam drama  romansa itu. 


20 menit Alyan berada di ruang rias dan akhirnya ia pun keluar dengan mengenakan setelan hitam. 


Hatinya yg belum siap akan first kiss itu, membuatnya melakukan banyak kesalahan saat berdialog. 


Setelah berjam-jam, akhirnya adegan yg berusaha di hindari oleh Alyan pun tiba. 


Manda beradegan sebagai gadis yg tengah mabuk dan akan di cium diam diam oleh Alyan. 


Dengan hati yang berdegup kencang pada kedua nya, mereka akan melakukan hal itu. 


Perlahan Alyan yg kini telah menahan tengkuk Manda, mulai mendekat kan wajah nya hingga hidung keduanya bersentuhan. 


Di tengah tengah suasana canggung itu, tiba-tiba Alyan teringat akan kejadian di RS bersama Melviona, ia teringat saat hampir mencium bibir mungil gadis itu. 


Seketika, pandangannya terhadap Manda berubah, ia kembali berkhayal bahwa gadis yg kini berada di depan nya ialah Melviona. 


Dengan penuh nafsu, Alyan ******* bibir Manda, hingga membuat Manda yg mulanya terkejut, perlahan membuka mulutnya, membuat pria itu leluasa dengan aktivitas nya. 


Alyan yg baru pertama kali berciuman, membuat nya merasa ingin melakukan nya dalam waktu yang lama. 


Mereka tidak memedulikan ratusan mata yang kini sedang menyaksikan adegan panas mereka, seolah-olah di dunia ini hanya ada mereka berdua. 


"Cut!" Sutradara yang merasa terangsang dan menggebu-gebu menyaksikan hal itu, segera menghentikan dua orang remaja yang tengah bercumbu itu. 


Dengan napas terengah-engah, mereka mengusaikan adegan itu, kini itu bukan lagi ciuman diam diam, namun ciuman pemabuk cinta. 


Alyan mengatur kembali napasnya hingga titik normal, namun hal itu sia sia saat pikiran nya juga kembali. 


Ia kembali tersadar akan hal yang ia lakukan, dan dengan siapa ia melakukan nya. 


Hal itu membuat perasaan nya bercampur aduk, antara terkejut, marah, gelisah, bersalah dan sedih. 


Berbeda dengan Manda yg merasa dirinya di cintai Alyan secara diam-diam. 


Rasanya bagai terbang ke surgawi cinta, hatinya berdegup kencang setiap kali memikirkan adegan itu, wajah nya memerah, dan bibir nya terasa hangat. 


Alyan langsung memasuki ruangan penata rias, perasaan campur aduk itu masih bergelora dalam dirinya, membuat nya hampir depresi. 


"Bagaimana bisa aku melakukan hal itu pada orang yang tak kucintai? Bagaimana bisa aku melakukan hal itu pada sahabat ku sendiri? Apa yg akan di katakan Melviona bila ia mengetahui hal ini? Bagaimana ekspresi nya? Apa dia akan dengan lapang dada memikirkan hal ini hanya adegan belaka?


Banyak hal yang membuat Alyan khawatir, ia mengkhawatirkan perasaan Melviona yg bahkan tak diketahui siapa pemilik hati gadis itu.