I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 79


Melviona keluar dari lift setelah lift itu terbuka, dan ia berpapasan dengan Alyan yg ingin melewati lorong itu.


"Kok baru pulang?" Tanya Alyan.


"Urusannya baru kelar" jawab Melviona singkat, sembari berjalan kekamar nya.


Alyan mengikuti Melviona, dengan alis yang tertaut mendengar jawaban itu.


Sesampainya didalam kamar, Melviona mengeluarkan ponsel dalam sakunya, lalu menaruhnya diatas meja. Ia berjalan memasuki kamar mandi, tanpa memedulikan Alyan yg sedari tadi mengikutinya dengan tatapan kecewa.


Menyadari Melviona yang sedang mandi, Alyan pun hanya menghela nafasnya sembari berjalan menuju balkon.


Ia menggeser pintu balkon agar terbuka lalu melipat kedua tangannya di balkon sembari menatap langit yang saat itu berbintang.


"Lagi-lagi..." Sejenak Alyan terdiam, tatapannya memelas, dan tak berkedip menatap langit.


"Dia pasti sangat lelah ya" ucap nya pelan.


"Ibu...apa pada akhirnya wanita yang kucintai akan meninggalkan ku?"


"Aku sudah ditinggal pergi sebanyak dua kali, saat ibu pergi ke surga, dan saat Viona pergi tepat saat aku menyadari perasaanku"


"Aku tau, saat itu aku masih kecil, dan perasaan sukaku tidak dapat dianggap serius, tapi... selama bertahun-tahun perasaan itu masih teguh dalam hatiku hingga sekarang"


"Apa ibu tau? Sebahagia apa diriku saat kembali bertemu dengannya? Sebahagia apa diriku saat ia menjadi kekasih ku? Aku bahagia bu... sangat bahagia"


"Tapi terkadang aku takut dengan kebahagiaan itu, aku takut terbiasa dengan kebahagiaan itu, karna aku tidak tau... bagaimana caranya menjalani hidup tanpanya"


🌺🌺🌺🌺🌺


Melviona keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang melilit ditubuhnya.


"Apa dia sudah keluar?" Pikirnya saat tidak melihat Alyan. Melviona tidak terlalu ambil pusing, ia memasuki ruang ganti dan mengenakan piyama tidurnya.


Saat ia keluar dari ruang ganti, ia kembali melihat Alyan yg baru saja keluar dari balkon.


"Kamu ngapain diluar?" Tanya Melviona.


"Ah, cuma cari angin" Alyan kembali menggeser pintu balkon agar tertutup.


"Diluar kan dingin" Melviona menghampiri Alyan.


"Dingin? Sepertinya aku kepanasan, jadi nggak terasa"


"Kepanasan? Kamu demam" Melviona merasa sangat panik dan berjalan kearah meja dekat tempat tidur untuk mencari obat demam.


Sementara Alyan yang tak tau apa yang dipikirkan Melviona, hanya dapat diam menghampiri Melviona dan duduk dipinggir ranjang memerhatikannya mengacak-acak isi laci meja.


"Lagi cari apa?" Tanya Alyan.


"obat demam, tapi kok nggak ada? Perasaan ada disini deh"


"Obat demam? Buat siapa?... tunggu" Alyan terdiam, lalu tersenyum kecil "apa dia pikir aku sakit?" Pikirnya


"Lihat dirimu, untung saja aku cepat tanggap, kalau tidak kamu nggak mau kasih tau aku kan"


"Uhmm Viona, aku nggak demam kok"


"Hah?" Melviona menoleh kearah Alyan.


"Serius, mungkin penghangat ruangannya terlalu tinggi, jadi aku agak sedikit gerah"


"Hm?" Melviona terdiam, merasakan suhu ruangan kamarnya "nggak kok, ruangannya nggak sepanas itu, kamu lagi bohong ya" Melviona menatap Alyan dengan tatapan menyelidik.


"Eh, mu-mungkin karna kamu baru saja mandi, makanya nggak kerasa"


"....." Melviona tetap saja diam dengan tatapan yang sama.


"Aku serius Viona" Alyan merasa sangat terbebani dengan tatapan itu.


Melviona mendekatkan wajahnya kearah wajah Alyan, dan menyatukan keningnya dengan kening Alyan, berharap pria itu tidak berbohong akan kondisinya.


Merasakan suhu tubuh Alyan yang memanas, Melviona merasa panik dan kecewa, namun seketika Alyan menarik tengkuknya dan mencium bibirnya.


Melviona yang merasa sesak dengan ciuman tiba-tiba itu, berbeda dengan Alyan yang begitu menikmatinya.


Tangan Alyan yang lainnya mulai menyusuri pinggang gadis itu dan... Bruk.


Melviona terjatuh diatas tempat tidur dengan nafas tersengal-sengal, sementara Alyan berada di atasnya, bertumpukan kedua telapak tangannya dan kedua lutut kakinya diatas kasur, mengunci Melviona.


"Alyan, kamu bohong, kamu ternyata demamkan"


"Bagaimana bisa tubuhku tak terasa panas bila berada didekat mu"


"Hah?"


Sekali lagi Alyan mencium bibir Melviona, namun kini terasa sangat bernafsu.


"Aku bergairah bila didekat mu, sayang"


"Alyan..." wajah Melviona merona seketika.


"jangan pergi" dua kata yang diucapkan Alyan, dan ia kembali melanjutkan aksinya.


Ia mencium Melviona, sementara tangannya telah merayap didada Melviona. Suasana semakin memanas, dan ciuman menurun ke leher.


Melviona hanya dapat menggigit bibir bawahnya, saat merasakan Alyan yg sesekali menggigit kecil lehernya.


Alyan membuka jaket putihnya bersamaan dengan bajunya, dan kini terpampang lah tubuh seorang atletis yang berotot. Alyan memang kelihatan polos dan lemah, lebih tepatnya seperti pria manja yang hanya tau dance diatas panggung dan bernyanyi serta berperilaku manis didepan para fans, namun ternyata orang memang tidak bisa dipandang dari luarnya saja ya🤔


Cklek, pintu terbuka "Nona~!" suara khas Stevan terdengar sangat riang.


"eh, ternyata nona sudah tidur ya" dari depan pintu, Stevan melihat Melviona tengah tertidur membelakanginya dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga leher.


Stevan terdiam sejenak, menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan berjalan mundur sambil menarik pintu agar tertutup "aneh, apa nona memang setinggi itu ya..." pikir Stevan, saat tadi mengingat kaki nonanya itu kelihatan lebih panjang dari yang biasa ia lihat.


"hoaaam~" Stevan mengantuk "haissh, sia-sia saja aku mengkhawatirkan hal yang tidak mungkin, pulang ah, ngantuk"


Stevan pulang, sementara disisi lain suasana panas berubah menjadi canggung yang menyebalkan.


"itu tadi... sekertaris Stevan?" Alyan masih merunduk dalam selimut.


Melviona menarik selimut dan menutupi kepalanya, kini mereka berdua berada dalam selimut "tadi kamu lupa kunci kamar ya?"


Alyan tersenyum, mengira senyumannya yang manis itu akan menebus kecerobohannya "maaf, aku lupa" ucapnya sembari memeluk Melviona.


Melviona menghela nafasnya pelan "Alyan"


"hm"


"mau lanjut?"


"boleh?" Alyan langsung memperlihatkan ekspresi gembiranya.


"buruan kunci pintunya"


Alyan segera turun dari ranjang, dan seketika Melviona teringat akan suatu hal yang mirip dengan kecerobohan ini.


"tunggu, gimana dengan kamar mu?" tanya Melviona gelisah.


Sebentar Alyan terdiam, lalu tiba-tiba matanya membelalak "gawat, aku juga lupa 'ngunci"


"hah?!" Melviona ikut terkejut, memikirkan apakah pelayan, Stevan, atau... bisa saja Alfian memeriksa kamar Alyan dan sang penghuni tak ada disana, maka kecurigaan akan hubungan mereka akan timbul.


Alyan berlari keluar, menuruni tangga kelantai dua, dan memasuki kamarnya diam-diam.


Ia mencari kunci kamar nya di atas meja, dimana ponselnya juga ia tinggal disana.


Ting! notifikasi SMS masuk, awalnya Alyan tidak memerhatikan, karna ia ingin segera kembali kekamar Melviona setelah mengunci pintu kamarnya, namun setelah melihat nama pengirim pesan dari layar ponselnya, ia pun membacanya.


Tetap disana, jangan kemari. Aku sudah mengunci pintu kamarku, kita lanjutkan lain hari saja. Kumohon mengertilah. _Viona_