
"apa ayah mu mengizinkan?" Brave bertanya dengan nada datar nya.
"Hm, ayah tidak terlalu mau memaksa ku berada di rumah utama. Jadi, besok sepulang sekolah aku akan membereskan barang-barang ku dan pindah ke villa"
"Yah... jarak kita jauh lagi deh" Manda menghela nafasnya.
"Maaf ya" ucap Alyan sambil mengelus rambut Manda.
BRAK
"Aku ke toilet sebentar" tiba tiba Morsy mengebrak meja dan pergi ke toilet.
"Ada apa dengannya? Akhir akhir ini dia begitu emosian" Darlen mencibir, namun dengan cepat Brave yg duduk di samping nya langsung menginjak kaki Darlen.
"Aw! Aku salah apa coba?!" Darlen meringis.
"Diam apa ruginya sih"
"Ya nggak bisa ngomong"
1."teman teman, aku pulang dulu ya, man? Mau, aku antar pulang, atau masih mau tinggal?" Kini Alyan telah berdiri dari duduknya.
"Antar aku pulang deh, Brave, Darlen, kami duluan ya"
"Hm" sahut Brave.
"Eh, udah mau pulang? Aw! Brave! Nggak punya hobi lain apa, selain injak kaki berharga ku ini" kini Darlen benar benar kesal saat Brave kembali menginjak kakinya.
🌺🌺🌺🌺🌺
"Nggak mau masuk dulu?" Tanya Manda.
"Enggak deh, aku masih banyak kerjaan di rumah, kalo gitu aku pulang dulu ya"
"Hm, kalau gitu hati hati ya" Manda melambaikan tangannya, dan di balas dengan senyum khas Alyan.
Di perjalanan pulang, Alyan terus merasa gusar.
Yah... seperti yang ia ketahui, bahwa Morsy menyukai Manda sudah sangat lama.
Bahkan Morsy pernah mengatakan kepada nya bahwa ia menyukai Manda, tapi apa yg ia lakukan? Ia malah merebut Manda dari Morsy yg juga sahabat karibnya itu, dan kini hubungan kedua pria itu jauh dari kata baik. Jarak diantara mereka mulai terukur jauhnya, Morsy mulai irit bicara dan nada suaranya selalu saja dingin terhadap Alyan.
Alyan tau, bahwa yg salah adalah dirinya, bukan Manda atau pun Morsy, namun ia slalu ingin menyakinkan sesuatu pada Morsy, bahwa 'cinta tak dapat di paksakan' dan itulah yang kini sedang ia jalani, ia tak memaksa kan Melviona untuk mencintai nya dan ia berharap agar Morsy juga berpikir demikian, sehingga Morsy tidak memaksa kan Manda untuk mencintai dirinya dan mencari orang lain yg mencintai dirinya, itulah yang slalu ingin di katakan oleh Alyan bila Morsy mau mendengarkan nya.
Namun, bongkahan es yg sudah mencair tak dapat di ukir lagi.
"Tuan muda? Ada apa malam malam datang ke mari?" Tanya Olivia, saat tuan muda nya itu tiba-tiba mampir kembali di malam hari.
"Olivia, tolong bawa koper ku ke dalam" ucap Alyan sembari berjalan cepat ke dalam villa.
"Eh, koper?"
Saat Alyan memasuki kamarnya, ia dikejutkan dengan keberadaan seorang gadis di kamar nya.
"Keluar" satu kata yang membuat gadis itu menghentikan aktivitas nya dan menoleh ke arah pintu.
"Kamu kembali?"
"Apa kau tidak mendengar? Kubilang keluar!" Lagi lagi suara Alyan membuat gadis itu terdiam.
"Permisi tuan" tiba-tiba Olivia datang dengan satu koper di tangannya. Ia memasuki ruangan itu, dan tersadar akan suasana yang mencekam itu. "nona, biar saya saja. Silahkan nona beristirahat di kamar nona" ucap Olivia.
"Tapi..."
"Tidak apa-apa nona"
"Baiklah" dengan langkah pelan, Melviona berjalan ke arah pintu dan saat ia keluar, suara hantaman pintu membuat jantung nya sedikit terguncang.
Keesokan paginya, Alyan kembali beraktivitas seperti sebelumnya, ia bangun pukul empat tiga puluh, dan akan berangkat saat jam menunjukkan pukul lima pagi.
"apa ini? Hatiku merasa tidak senang. Apa ada yang salah dengan selai rotinya?" Pikir Alyan, ia mengambil toples selai coklat di hadapannya, dan mencium baunya. Memeriksa apakah ada yg salah dengan makanan nya.
Tidak, tidak ada yg salah. Kali ini Alyan beralih dengan seragam sekolah nya. Sama seperti hari biasanya, tidak ada yg kurang dengan penampilan nya. Namun apa ini? Perasaan kesal, marah, dan...haus akan sesuatu membuat nya tak nafsu makan.
"Chloe" Alyan memanggil Chloe saat gadis itu tertangkap oleh pandangan nya.
"Ada apa tuan muda?" Chloe yg sudah berdiri tak jauh dari Alyan.
"Apa pagi ini ada kejadian aneh?"
"Tidak tuan muda, semuanya berjalan seperti biasanya"
"Kalau begitu" Alyan berdiri dari duduknya dan mendekat ke arah Chloe. "Apa ada yang salah dengan penampilan ku?" Alyan berputar agar Chloe dapat melihat bagian belakangnya.
Chloe memandangi Alyan agak segan. Penampilan tuan muda nya, yg slalu ia dambakan dalam mimpi sebagai sosok suami idaman nya.
Wajah yg tampan, tubuh yang ideal, karir yang sangat bagus, dan di tambah dengan tuan muda nya yg merupakan anak tunggal sekaligus pewaris sah seorang pemilik separuh kekayaan negara.
Sedari awal saat Chloe menjadi pekerja di villa, dirinya memang sudah tak punya harapan, walaupun ia tau bahwa tuan muda nya ini seorang yg baik hati hingga mau mengingat setiap nama mereka yang bekerja di villa, nama-nama yang tak masuk kategori seorang artis, pengusaha terkenal atau pun orang lainnya yg berpengaruh dalam negara.
Status mereka jauh dari para pekerja villa, saking jauhnya, tak mengingat jasa mereka merupakan hal biasa yg sudah sepantasnya.
"Chloe" berkali kali Alyan memetik jarinya di depan wajah Chloe hingga gadis itu tersadar gelagapan.
"Ma-maaf tuan muda"
"Ada apa denganmu? Apa waktu tidur mu kurang? Kau bergadang semalaman ya" Alyan mulai menautkan kedua alisnya menatap gadis yang berdiri di hadapan nya itu.
"Ti-tidak tuan, saya hanya sedang larut dalam kekaguman dalam hati saya"
"Kagum?"
Chloe mengangguk cepat "apa kemarin tuan muda luluran di spa? Kulit tuan muda semakin putih seperti salju dan wajah tuan muda juga semakin tampan. Apa para pelayan di rumah utama pelayanannya lebih baik dari kami yang di sini?" Chloe mulai menunjukkan raut wajah bersalah nya.
Bagaimana tidak tambah putih? Seminggu di rumah sakit, dan seminggu di rumah utama, di tambah lagi Alfian yg membatasi pergerakan Alyan agar tetap di rumah sampai bekas luka di kulit putra nya itu hilang bagai angin lalu yg tak pernah di kenang.