I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 60


"huh, jadi hanya karna aku meminta mu untuk mengantar jemput ku hari ini, kau jadi ingin pergi? Hah, lucu sekali. Hahahaha" Alyan tertawa namun tak seperti orang yang terhibur.


"Tunggu apa lagi? Cepat pergi" Alyan memberikan jalan pada Melviona. Sejenak Melviona merasa aneh dengan Alyan, entah mengapa, terasa menakutkan baginya mendengar tawa itu dari pada mendengar perkataan dingin Alyan baginya.


"Ayo cepat"


"Alyan..."


"Pergi!"


Melviona menghela nafas nya, kemudian berjalan keluar.


🌺🌺🌺🌺🌺


Melviona turun dari pesawat, dengan koper yg sedang ia tarik.


"Nona, ini kartu kamar nona"


"Trimakasih, ngomong ngomong dimana kamu akan menginap?" Tanya Melviona tanpa menghentikan langkahnya.


"Saya di kamar 1875 nona"


"Kamar kita berdampingan rupanya, disini ada tulisan 1876"


"Hehehe, saya sengaja memesan kamar kosong yg berdampingan"


"Uhmm, Stevan. Mana taxi nya?"


"Di sebelah sini nona"


🌺🌺🌺🌺🌺


Drrrrt...


"Halo, Presdir?"


"Stevan, apa kalian sudah sampai?"


"Sampai dengan selamat Presdir"


"Dimana dia?"


"Nona sedang keluar hotel untuk melihat lihat sekitar"


"Baguslah, biarkan dia untuk hari ini. Kau masih ingat tugas yg ku perintah kan bukan?"


"Tentu saja, saya ingat Presdir"


"Baiklah, kalau begitu jangan biarkan dia lembur lagi. Sembunyikan dan kerjakan sendiri bila ada yg bisa kau kerjakan, mengerti"


"Saya mengerti"


"Dia memang harus bersantai sesekali"


Tut, sambungan telepon putus.


"Jadi, apa kau mau bersaing dengan nya?" Tanya Alfian lagi sambil meletakkan ponselnya di atas meja.


"Aku. Bertahan dengan keputusan ku"


Keesokan paginya, kelas XII-1


Berkali-kali Darlen memukul pelan ke dua pipi Alyan bergantian dan mencubit nya.


"Astaga...ya tuhan, tolong kembalikan Alyan kami..." Tampak dari pelupuk mata Darlen, terdapat kristal bening yang siap jatuh.


"Aakh, kau membuat ku merinding" Alyan menepis tangan Darlen di wajahnya.


Yah, kini Brave dan Darlen berkumpul di kelas Alyan, tak terlewatkan Morsy yg juga ingin tau yg sebenarnya lewat yg bersangkutan.


"Jadi, apa kau benar benar ingin belajar menjalankan bisnis ayahmu?" Tanya Brave.


"Hm" jawab Alyan singkat.


"Katakan padaku, kenapa tiba-tiba kau ingin melakukan nya? Padahal kau pernah bersumpah dihadapan kami untuk tidak menyentuh hal-hal yang berbau bisnis" Morsy bertanya tanpa mengingat masalah nya pada Alyan.


"Aku juga tidak tau, aku hanya menyingkirkan seseorang dari perusahaan"


"Siapa? Ayah mu?" Tanya Morsy lagi.


"Tentu saja bukan, lebih tepatnya wakil ayah ku"


"Wakil ayah mu?"


"Hm, dia sangat menyebalkan, aku tidak tahan bila ia terus mencampuri urusan perusahaan kami"


"Kenapa? Apa karna dia tidak becus bekerja?"


"Lebih parah dari itu, dia orang yang membantah, jutek, galak dan keras kepala. Dia malas bekerja dan membuat keuntungan perusahaan kami menurun pesat"


"Apa?!"


"Oleh karena itu, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi begitu saja"


"Itu karna ayah ku orang yang baik, dia tidak ingin membuat gadis itu kehilangan pekerjaan nya"


"Jadi wakil ayah mu itu seorang gadis? Berapa umurnya? Siapa namanya?"


"Itu..."


"Menurut ku, kau hanya sedang iri dengan nya bukan" Brave kembali buka bicara.


"Apa maksudmu? Bagaimana bisa aku iri dengan nya?!"


"Bisa-bisa saja, buktinya, kau terlalu menjelek-jelekan image nya, dan aku juga tau siapa ayah mu yg sebenarnya Alyan, ayah mu slalu tegas bila itu bersangkutan dengan perusahaan nya, ayah mu tidak akan segan-segan untuk mengatakan maksudnya walau pun orang itu mempunyai relasi kuat dengan nya" ucap Brave "sudah jelas, disini kau menyingkirkan nya karena iri dengan nya kan"


Alyan tertegun, menatap mejanya dengan tatapan kosong "... entahlah. Aku juga bingung. Melihat nya lembur dan bekerja sangat keras membuat ku ingin agar ia berhenti saja. Aku memang ingin dia lelah dan tersiksa dengan pekerjaan nya, tapi...aku tidak sanggup bila terus memandang nya sebelah mata, aku tidak tau menyebut rasa ini apa, yg ku tau aku terus merasa kesal, gusar, marah, dan tak terima. Perasaan ku buruk setiap kali melihatnya, oleh karena itu aku berusaha menyingkirkan nya, aku benci melihat nya" tanpa ia sadari buliran air mata jatuh dari sudut mata nya.


Puk, puk, puk, Morsy menepuk bahu Alyan "sudahlah, akan sangat memalukan bila ada orang lain yg melihat mu menangis"


Manda terkejut saat ia memasuki kelas dan ingin duduk di bangkunya, ia mendapati Alyan yg terisak tanpa suara, juga teman-teman nya yg ikut menghibur Alyan di sana.


"Alyan, kamu menangis?" Akhirnya, setelah beberapa hari terakhir diam, Manda pun ingin berbicara dengan Alyan, sepertinya amarah nya sudah mereda.


"Manda?" Darlen segera menutup wajah Alyan dengan buku "jangan lihat, ini privasi pria sejati"


"Minggir" Manda melempar kan buku itu, dan memegang kedua pipi Alyan.


"Manda? Hiks...maaf" Alyan merasa bersalah karena tak dapat menahan air matanya dan malah menangis seperti wanita.


"Tidak apa-apa, aku nggak marah lagi kok" Manda yg berpikir Alyan menangis karna dirinya. Mendekat dan memeluk Alyan dengan erat, dan pelukan itu pun di balas oleh Alyan tanpa perlawanan.


Sedangkan Morsy hanya tersenyum kecil, sepertinya dia mulai menutup hati dari Manda.


Drrrrt...


Ponsel Alyan bergetar.


"Siapa?" Tanya Manda.


"Nggak tau" Alyan mengecek ponselnya.


β™₯️My Honey β™₯️ is calling...


"Eh, siapa nih" Alyan terlihat panik saat melihat nama panggilan itu.


"Kamu selingkuh?" Duga Darlen.


"Nggak! Aku_"


"Alyan..." tampak raut wajah Manda yg terlihat suram dan menyeramkan "katakan, siapa gadis itu"


"eh, serius. Aku juga nggak tau"


Tut, ponsel Alyan berhenti bergetar saat panggilan masuk itu tidak di angkat, namun tak lama panggilan itu kembali masuk dan membuat suasana hati Manda sungguh suram.


"Baru dua hari aku diemin, kamu udah cari yg baru ya!" Teriak Manda. "Kamu udah mau putus dari aku ya?! Kamu nggak hargain aku sama sekali!"


"Man...Manda. Deng_"


"Apa! Apa lagi hah?! Lihat nama panggilan itu di ponsel mu! Panggilannya sangat mesra! Lah aku?! Coba aku tengok apa nama panggilan ku di kontak mu! Pasti Manda doang kan? Nggak ada panggilan mesranya! Terus setiap kali kita SMS san kamu juga nggak pernah kasih emoticon love sama aku! trus apa aku tanya itu kamu jawab! Palingan kamu nanya aku udah makan nggak? Udah tidur nggak? Lagi ngapain? Lagi dimana? Kamu nggak pernah tanya aku bareng siapa? Bareng cowok atau cewek? Hubungan ku sama cowok itu? Kamu, kamu nggak pernah nganggap aku pacar kamu tau nggak!" Manda mencurahkan isi hatinya dengan lantang, hingga siswa yg ada di sana bahkan yg sedang lewat pun berhenti untuk menyaksikan perdebatan sepasang kekasih yg bikin iri itu.


"Man..." Alyan menyadari air mata yg mengalir di pipi gadis itu. "ini bukan seperti yg kamu pikirkan, aku juga nggak tau ini siapa"


"Beneran kau nggak tau?" Morsy memastikan, dan dengan cepat Alyan mengangguk pertanda dia memang tidak tau. "Lalu kenapa tiba-tiba ada nama itu di kontak ponsel mu? Setauku ponsel mu ada polanya kan?"


lagi-lagi Alyan mengangguk "lihat ini" Alyan menaruh ponselnya di atas meja dan membuka nya dihadapan teman-teman nya dan Manda.


"M?" Darlen termenung saat melihat pola kunci Alyan yg di bentuk huruf M.


"M itu... Apa Manda?" Duga Brave.


"Eh, ah iya. Manda. Pola ku memang berbentuk M karna awal nama Manda M"


"Kamu pikir aku bakal percaya gitu? Awalan nama M juga orang punya banyak kok! Di kelas kita saja ada tiga orang, aku, Mersi, dan Max!"


"Max cowok Man" Alyan membenarkan.


"Man, Man, Man! Kamu pikir aku Superman apa?!"


"Eh, bukan gitu"


"Tau ah Bisa-bisa saja, M itu juga awalan nama gadis itu kan!"


"Enggak! Aku serius, M aku ambil dari awalan nama kamu sayang"


"Tuh kan, karna udah kepergok baru panggilan nya sayang" 😭 Manda mulai menangis menjadi-jadi.


"Manda... kamu jangan nangis dong" Alyan merasa sangat panik, ia melihat kearah teman temannya, namun dengan cepat mereka mengalihkan pandangannya bahkan mereka beranjak dari duduk dengan alasan yg berbeda setiap orang nya di waktu yg tidak tepat.


HELLO MY FRIENDS πŸ‘‹


I look forward to your support.


Don't forget to like, comment and vote. See you at another time πŸ˜šπŸ˜‰