I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 8


"lah, tumbenan kamu makan siang, emang nya di sekolah belum makan?" tanya Melviona dari dalam kamar nya.


"belum..."


"haaaah, kalo gitu pesan aja"


"lama"


"ya....kalo nggak sabar, sana ke resto"


"jauh"


"nih, anak minta di tabok ya?" gumam Melviona dengan geram. Melviona berdiri dan membuka pintu kamarnya kemudian turun ke lantai ruang tamu dan di ikuti oleh Kristian.


"hp baru?" tanya Kristian saat melihat kakak nya mengambil ponsel dalam sakunya.


Melviona tidak menjawab, ia langsung menelpon orang tua mereka yg berada di London.


"mah, aku mau bicarain sesuatu nih" ucap Melviona. Kristian terkejut saat tau Melviona sedang menelepon sang mama, Kristian langsung menghampiri Melviona dan berusaha merebut ponsel Melviona. namun, belajar dari kejadian yang sudah pernah terjadi, Melviona kini menggenggam ponsel nya dengan erat.


"kak...!😨" rengek Kristian, yg masih belum dapat merebut ponsel kakak nya.


"mau bicarain apa sih Mel? sekarang mama lagi masak nih, buruan" jawab sang mama.


"tentang Kristian"


"Kristian? ulah apa lagi sekarang?" tanya sang mama menghentikan kegiatannya.


saat Melviona menceritakan tentang kejadian malam party ultah Kristian, sang mama sangat marah, ia memukul pinggir wajan yang berada di atas kompor gas dengan sendok. dan membuat masakan untuk makan malam ia dan suaminya tumpah di lantai.


"KRISTIAAAAN!" teriak sang mama di ponsel.


"i-iya mah? apa mama kehilangan sesuatu?" tanya Kristian.


"awas ya, mama bakal telpon lagi sesudah membereskan ini" geram sang mama kemudian mengakhiri panggilan telepon.


"aaakh! ini semua gara gara kakak, semuanya gara gara kakak!" kesal Kristian.


"apa? coba kamu sebutkan sekali lagi? ini gara gara siapa coba?" tanya Melviona yg mulai marah.


"gara gara aku, semuanya gara gara aku, aku yg salah, aku minta maaf" jawab Kristian bergegas ke kamarnya sambil menghentak hentakan kaki nya di sepanjang jalan kamarnya.


pukul 16.00 WIB.


Melviona bangun dari tidur siang nya, dan mulai membersihkan rumah dan pergi ke mall untuk membeli sayuran dan kebutuhan sehari hari.


pukul 17.00


Melviona sudah memulai kegiatan nya yaitu memasak makan malam. tak lama saat Melviona menyimpan makanan yg sudah siap ke dalam lemari, ponsel nya bergetar.


"halo, mah" sapa Melviona saat tau panggilan itu dari mamanya.


"Mel, Kristian mana? kok ponsel nya nggak di angkat?" tanya sang mama.


"eh, mungkin lagi di kamarnya, ketiduran kaliya?" jawab Melviona naik ke lantai atas dan menuju kamar Kristian.


tok tok tok


"Kristian~ "


"..."


tok tok tok


"Kristian, bangun!"


tok tok tok


"nih anak tidur atau mati sih" gumam Melviona sambil mencoba untuk membuka pintu kamar Kristian yg terkunci dari dalam.


"Kristian! dalam hitungan ke 3, kalo kamu belum bukain ni pintu, nggak bakal ada makan malam"


belum sempat Melviona mulai menghitung Kristian sudah membuka pintu.


"apa?" tanya Kristian dengan tatapan malas.


"mama nelpon" ucap Melviona sambil menyodorkan ponsel nya pada Kristian.


"jangan macam macam ya, itu hp baru" sambung Melviona.


"halo, mah"


"dasar anak nakal! udah bosan hidup ya!" ucap sang mama tanpa basa-basi.


"maaah, Kristian udah gede ma, Kristian udah nggak perlu di tegur lagi, Kristian tau apa yg Kristian buat, apa yg Kristian lakuin, dimana Kristian pergi, sama siapa Kristian temen, sama siapa Kristian jahat, sama siapa Kristian ba..."


"sama siapa kamu baik, gitu! jadi sama teman cewek kamu itu..... siapa namanya? la..laora"


"Sarah ma"


"ah, iya Sarah, Sarah cewek itu, kamu mau mempermalukan keluarga kita?!"


"ya nggak lah ma, lagian itu kan nggak sempet terjadi"


"kemungkinan apaan sih ma? dia aja belum liat punya aku kok"


"uuukh, anak satu ini ....mama nggak mau tau ya, mama sudah bicarakan soal ini sama papa kamu, mengingat banyak ulah yg kamu lakukan selama ini, dan liburan sekolah kurang 2 Minggu lagi, mama papa sudah memutuskan agar kalian berkunjung di London, sampai liburan berakhir!"


"APA!"


"liburan kali ini di isi dengan didikan dan kedisiplinan kamu"


"tapi, tapi bagaimana dengan ren..."


tuuut tuuut tuuut


"di matiin?! akh, sialan!"


"hm? tadi ibu bilang apa? sampai kamu syok kayak orang struk gitu?" tanya Melviona.


"kakak tau nggak, ibu dan ayah meminta kita untuk pergi ke tempat mereka!"


"London?"


"iya!"


"HAH!" Melviona mengambil ponselnya di tangan Kristian, kemudian kembali menelpon sang mama.


"mah, beneran nih, kami pindah ke sana?!"


"maaf ya sayang, tapi nggak mungkin juga kan Kristian di bawa tapi kamu nggak, jadi kamu harus ikut juga" ucap sang mama.


"tapi mah, aku berencana untuk belajar selama masa liburan!"


"sayang, Kamu juga harus istirahat, sebenarnya kamu nggak papa kok kalau kamu nggak masuk juara umum, dan juara tingkat Nasional. cukup masuk 10 besar dalam kelas aja udah mendingan"


"tapi mah, tetap aja aku nggak mau ke sana!"


"kenapa?"


"karna....karna di sana...."


"udah deh, anggap saja lagi cari pengalaman, boleh kan?"


"mhm"


"oke, kalau gitu saat penerimaan rapor, ibu akan kirim tiket pesawat ke London"


"Iyah..."


tuuut tuuut tuuut.


"kok di iya in sih?" tanya Kristian.


"malam ini nggak ada makan malam" ucap Melviona, kemudian masuk ke dalam kamarnya.


"a-apa? tapi aku kan udah buka in pintu"


"terserah, kalau mau makan, makan sendiri sama hantu"


"kaaak, kaaak!"


2 MINGGU KEMUDIAN....


"Kristian, kamu udah siap belum, kita udah mau terlambat ke bandara!"


"bentar, bentar, ini aku udah mau turun kok" jawab Kristian.


"semua ruangan udah di kunci kan"


"sudah"


"kalo gitu ayo berangkat"


setelah menempuh perjalanan lewat pesawat selama berjam jam, akhirnya kakak beradik itu pun sampai di bandara London, di sana mereka juga sudah di tunggu oleh kedua orang tua mereka di bandara.


sesampainya di rumah ke dua orang tua mereka, mereka bergegas mandi.


pukul 20.00


"Mel, kamu udah berencana nggak, cari pengalaman dimana?" tanya sang ibu saat aktivitas makan malam mereka sedang berlangsung.


"hm? belum mah, kayak nya aku jaga rumah aja deh, sekalian ngurusin Kristian" jawab Melviona.


"nggak! aku nggak mau! aku bukan tipe anak rumahan kayak kakak!" sahut Kristian.


"soal Kristian biar papa aja yg ngurusin, kamu tinggal cari kegiatan" sambung sang papa.


"hah?! setuju! biar aku sama papa aja, lagian aku kan anak cowok" lanjut Kristian.


"dasar, papa sama anak sama saja, pah, papa nggak boleh ajak Kristian minum loh, kayak tahun lalu, nanti semua lantai rumah habis di muntahin lagi." ucap sang mama.


"iya mah, iya"