
tiba tiba ada seseorang yang tengah berjalan di dekat mobil mereka dan tak sengaja mendengar percakapan Melviona dan Alyan.
"orang itu kenapa sih?" gumam Melviona.
"wajah nya memerah" ucap Alyan.
kemudian orang itu yg sadar ia tengah di perhatikan dari dalam mobil, bergegas pergi dari sana menuju tempat dimana ia memarkir mobilnya.
"jangan jangan...dia salah paham saat aku teriak ya" ucap Melviona dalam hati.
CUP
"ah" Melviona terkejut saat tiba tiba Alyan mengecup pipi kiri nya.
"cepat sembuh ya" ucap Alyan.
"ka-ka-ka-kamu ngapain sih?!" tanya Melviona gugup dengan suara nyaring.
wajah nya yg tak di rias, tiba tiba memunculkan rona pipi yg memesona.
"bukan apa-apa kok, ayo berangkat" ucap Alyan kemudian memalingkan wajahnya ke jendela di samping nya sambil menutupi setengah dari wajah nya dengan telapak tangannya.
sesampainya di perusahaan film...
"di-dia kenapa ada disini?!" tanya Manda sambil menunjuk ke arah Melviona yg berada di belakang Alyan.
"aku juga malas tau ketemu kamu" gumam Melviona memanyunkan bibirnya😒.
"ah, aku pikir punya seseorang untuk mendampingi ku adalah hal yang yg bagus" ucap Alyan.
"tapi kenapa harus dia?!" tanya Manda.
"hahaha, sebentar lagi dia kan harus pulang, jadi memberinya beberapa pengalaman bukan lah ide buruk"
"uukh...! hei jalang! jadi orang kok nggak tau diri!"
"heh, jalang?" tanya Melviona seraya menatap dingin Manda.
Manda yg menerima respon Melviona pun tersentak, dan sedikit merasa ciut dalam hati nya, memang Melviona yg memiliki setengah sifat keibu-ibuan membuat kebanyakan gadis gadis lainnya tak berani melawan Melviona, karena sifatnya itu juga ia bisa menaklukkan Kristian di dalam genggamannya.
"lu-lupakan itu, maksud ku, apa kamu tau bila kamu menyetujui kontrak dengan perusahaan ini, maka kamu dan aku akan jadi rekan kerja" ujar Manda.
"rekan kerja?" tanya Alyan kebingungan.
"iya, pak direktur bilang, rencananya kamu akan menjadi tokoh pemeran utama dalam film yg akan di tayangkan tahun ini"
"oh, begitu ya... terus kamu?"
"pastinya dong, aku jadi pemeran utama wanita dalam film ini saat tau kamu yg bakal jadi pemeran utama pria nya."
"hmm..film kali ini genre nya apa?"
"soal itu, kamu bisa tanyakan langsung pada pak direktur" ujar Manda kemudian merangkul lengan Alyan. "yuk, membuat orang menunggu lama nggak sopan loh" lanjut Manda, dengan senyum sinis mengarah ke Melviona.
"kamu, ngapain di sana? nggak ikut lagi?" tanya Alyan pada Melviona yg masih belum beranjak dari posisinya.
"ah iya, aku belum makan siang, aku ke kafe dulu ya" ucap Melviona.
"ini nggak lama kok, kamu tungguin aku makan juga, atau kita..."
"iiih..! kamu kok gitu, pak direktur lagi menunggu kita loh, kamu nggak mau kecewain direktur kan?" sela Manda.
"hm, kalau gitu aku pergi duluya, kabarin kalau urusan nya udah selesai" ucap Melviona kemudian keluar dari gedung besar itu.
sesampainya di sebuah kafe, Melviona memesan secangkir kopi dan sepiring cake, ia duduk di bangku yg berada di samping dinding kaca transparan kafe itu sambil menikmati sesendok cake dengan pelan dan penuh ketenangan.
"haaah... akhirnya, jarang jarang bisa gini" gumam Melviona sambil menatap jalanan di luar.
ia melamun dan memerhatikan orang orang yang berlalu lalang, hingga lamunan nya sampai di kejadian tadi siang saat Alyan mengoleskan obat di pipinya. wajah Melviona tiba tiba memerah kembali, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
"dia ngapain sih? sudah gila ya?" tanya Melviona dalam hati.
"tapi... ngomong ngomong...dia memanggil ku Viona saat di mobil... hmmm...apa aku salah dengar ya?"
Ting!
ponsel Melviona berbunyi, dan ia segera memeriksanya, ternyata pesan teks dari Farrel.
"lo ada waktu besok siang?" tanya nya.
"gw nggak tau, memang nya ada apa?" balas Melviona.
Ting!
"gimana ya?" gumam Melviona.
"hmm, gw kabarin besok pagi aja deh, gimana?"
Ting!
"ok, gw tunggu ya😊" balas Farrel.
Melviona menghela nafasnya pelan sambil menaruh ponselnya di atas meja.
Ting!
pesan teks kembali muncul di layar ponsel Melviona, namun kali ini Alyan.
"semua sudah beres, kamu dimana?" tanya nya.
"cepet banget! kafenya yg kejauhan atau memang dia yg buru buru ya" gumam Melviona. "oh, aku segera kesana" balas Melviona kemudian langsung memasukkan ponsel nya ke dalam tas nya dan keluar dari kafe.
sesampainya di perusahaan film, Alyan langsung masuk ke dalam mobil dengan ekspresi marah bercampur kesal.
"cepat" ucap Alyan.
"kemana?" tanya Melviona.
"kafe"
"kafe mana?"
"kafe yg tadi kamu datangin"
"hm?"
"aku mau kesana"
"maksud kamu apa sih?" tanya Melviona bingung sambil mengernyitkan dahi nya.
"uuukh, tuh kan, gara gara terlalu tergesa-gesa akhirnya jadi begini"
"hah?"
"liat ponsel mu"
Melviona pun langsung membuka ponselnya dan melihat satu pesan lagi dari Alyan. "nggak perlu, aku mau ke sana, kirim kan saja alamat kafenya" ucap Alyan dalam pesan teks itu.
"eh, jadi..."
"dan sampai sekarang aku belum dapat balasan nya, jadi cepat antar kan aku kesana"
"manja banget sih" pikir Melviona. "ka-kalau gitu aku balas sekarang aja deh" ucap Melviona sambil mengotak ngatik ponsel nya.
"nggak perlu, salah nya kamu juga kok, nggak nungguin aku"
"ah, hahaha, soalnya tadi aku laparnya luar biasa, sampai sampai orang pun ku bayangkan steak daging sapi." ucap Melviona.
"maaf"
"untuk apa?"
"pasti kamu belum banyak makan kan di sana"
"eh, hahaha nggak juga kok, karna saat aku kelaparan banget, jadi aku makan nya buru buru"
"tetap saja, aku minta maaf"
"bukan masalah, kalau gitu sekarang kita mau kemana?"
"pulang"
"pulang? oh, oke"
"tunggu sebentar"
"hm?"
"aku yg nyetir, tangan mu pasti pegal"
"iya sih, kalau gitu kita tukaran tempat"
sesampainya di villa...