I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 52


"Eh, nggak juga kok, pekerja di rumah utama membosankan, mereka kaku dan tak dapat di ajak bicara seperti kalian"


"Benarkah?" Chloe tiba tiba merasa senang, ia mendongak menatap Alyan.


"Hm, setiap perilaku, candaan dan keinginan ku slalu di tanggapi serius oleh mereka. Contoh nya, saat aku bergumam mau makan pizza, mereka langsung porak poranda di dapur untuk membuat kan ku pizza"


Mendengar penjelasan Alyan, membuat Chloe ciut dan kembali menundukkan kepalanya dalam.


"haissh" Alyan mengacak-acak rambut Chloe "kalian sudah seperti keluarga bagiku, dari pada pekerja aku lebih membutuhkan teman bicara. kau tau, di rumah utama sangat panas karna keramaian mereka, mereka terus saja mondar mandir dan berkeliaran di dalam rumah seperti sedang berada di musium hahaha"


"tuan"


"tapi aku juga tidak mau suasana sepi, dengan adanya kalian kehangatan tercipta di villa yg berhektar-hektar ini, trimakasih ya"😊


🌺🌺🌺🌺🌺


"sudah lah, tak perlu melakukan hal semacam itu. Aku juga sering menelantarkan villa ku kok" Alyan menolak permintaan Manda.


"Iiih, tapi kan nggak sampai berbulan-bulan" Manda masih bersikeras mempertahankan keinginannya.


"Benar, kita memang harus melakukan acara itu. Bukan nya villa itu sama seperti rumah utama bagimu" timpal Brave.


"Tuh kan, Brave yg bijak juga membenarkan pendapat ku, kamu kenapa sih? Darlen, Morsy, ayo bujuk Alyan" pinta Manda lagi.


"Alyan, sebaiknya ikuti saja permintaan nya, kuping ku akan mengeluarkan nanah bila ia terus saja mengeluarkan suara sumbang nya itu" bisik Darlen namun dapat di dengar jelas oleh semua nya.


"Hei! Aku menyuruh mu untuk membujuk nya, bukan meledekku. Dasar jom-blo"


Nyut, perkataan Manda benar benar mengakhiri segalanya, menusuk tepat di hati nurani Darlen, Brave, dan Morsy.


"Memang nya kenapa kalau aku jomblo! Aku juga nggak mau kayak gini!" Balas Darlen.


"Trus, kenapa masih belum punya pacar?" Manda mulai antusias untuk membalas Darlen.


"Itu...."


"Makanya, jadi cowok nggak usah pasang tampang manis gitu"


"Manda..." Alyan memegang punggung tangan Manda.


"Aku akui, sebagai seorang artis, fans mu juga banyak. Tapi apa kamu nggak capek bersikap manis dan imut di atas panggung setiap kali kamu konser?"


BRAK! Darlen mengeras kan rahangnya, dan kedua tangannya sudah mengepal kuat di atas meja.


Manda langsung pucat, begitu pula dengan yg lainnya saat melihat sosok Darlen yg berbeda. "Apa ini? Di-dia juga bisa marah?" Ucap Manda dalam hati.


"Kau terus saja mengataiku, apa kau pernah mengintrospeksi diri mu sendiri? Kau terus saja tersenyum cerah di depan kamera sama seperti ku, juga yg lainnya. Tapi di belakang kamera, sikap mu sungguh memuakkan! Setidaknya aku belum pernah menunjukkan sikap ku sama seperti mu. Tapi kali ini kau membuat ku sudah tak tahan lagi"


BRAK, sekali lagi Darlen mengebrak meja dan berdiri. "Alyan!"


"Y-ya?"


"Acara itu harus di rayakan!"


"Eh? Darlen kau..."


"Pukul tujuh malam nanti, mari berkumpul di villa mu, aku yg akan menyiapkan miras nya" usai mengatakan hal itu, Darlen meninggalkan tempat itu dan menuju kelas nya.


"Ada apa dengan nya?" Alyan berusaha menenangkan hati nya yg masih merasa tegang.


"Mungkin Manda sudah kelewat batas" Brave tersenyum sinis menatap Manda.


"A-apa?! Aku kenapa, aku hanya mengatakan yg sesungguhnya kok" Manda memperbaiki duduknya.


"Hah?! Darlen yg minta kamu iya'in, memangnya kamu pacar nya Darlen" Manda merasa tak terima.


"Ah, i-itu... Darlen seram sih" Alyan menunduk malu.


"Hah?"


"Benar juga sih, baru kali ini dia marah, palingan kalau diledek dia cuma kesal doang kan" ucap Brave." Tadi dia bilang akan menyiapkan miras kan? Apa kali ini dia mau minum?"


"Alyan, aku ajak teman teman ku boleh nggak sih" Manda kembali melontarkan keinginan nya.


"Siapa saja?"


"Ya... nggak tau, yg jelas teman teman K-Pop aku, sama rekan teman ku yg baru-baru ini naik daun"


"Kamu ngapain bawa-bawa orang kayak gitu? Kita nggak bakal adain konser di villa man, kita hanya akan panggang daging sama minum miras saja"


"Apaan tuh, kayak acara kemahan anak Pramuka"


"Manda..."


"Duh, aku janji kok, nggak bawa banyak teman"


"Serius?"


"Iya"


"Jadi kamu ajak berapa orang?"


"Uhmm, sepuluh, aku bawa sepuluh orang aja deh"


"Sepuluh?!" Sontak Alyan dan Brave terkejut.


"Kenapa memang nya? Itu Udah orang yang paling-paling dan harus ikut, maunya ada sekitar tiga puluh orang, tapi... yaudah deh. Dari pada acara nya sepi gitu" jelas Manda. "Ah, iya. Kamu bilang kita bakal buat BBQ kan, acara nya mesti diluar ruangan dong, kamu bisa beresin semua kan, ah! Aku lupa, kalau gitu di pondok yg ada di depan villa kamu aja, nanti nya..."


"Sssst" Alyan menaruh telunjuknya di depan bibir Manda. "Aku tau, aku tau. Kalau gitu aku ke toilet sebentar"


"Eh, yan! Alyan! Tunggu, aku juga mau ikut" Brave berlari ke arah Alyan, meninggalkan Morsy dan Manda berdua di kantin.


"Mereka kenapa sih?" Manda merasa kesal.


"Aku ke kelas" Morsy berdiri dari duduknya.


"Ah, iya. Morsy, kau ikut ya, jangan sampai nggak datang"


"Untuk apa aku ke sana? Membosankan" Morsy kembali melangkah kan kaki nya, namun Manda segera menahan lengannya.


"Morsy, kamu ada masalah apa sih sama Alyan? Kamu hindarin dia terus, kamu bicara nya juga slalu irit kalau ada dia. Kamu tau nggak Alyan terus saja merasa sedih dengan sikap mu yg tib_"


"Lalu bagaimana dengan ku?! Apa kamu juga pernah memikirkan kesedihan ku? Kamu terus saja membicarakan soal Alyan padaku, padahal kamu juga tau kalau aku menyukaimu sama seperti kamu menyukai Alyan, dan apa yang kau lakukan!"


"Mo-morsy..."


"Aku slalu memperlakukan mu dengan baik dari pada Alyan, tapi kenapa pada akhirnya kamu masih saja mau dengan nya, dulu dan sekarang sifat nya padamu masih sama seperti saat kalian bersahabat, apa kamu tak pernah berpikir akan hal itu? Kenapa kamu begitu tak adil dengan kami berdua? Apa karna dia pewaris sah perusahaan ayahnya? Apa karna dia yg lebih dulu mengenalmu dari pada aku? Katakan, katakan Manda?!"


"Morsy, aku...."


"Sudahlah, aku akan pergi ke acara itu" Morsy meninggalkan kantin menuju kelas nya.


"Apaan sih, dia bilang katakan! Eh, aku udah mau ngomong malah pergi. Haissh, bagaimana bisa Alyan mendapatkan teman se **** ini, jadi malu kan, sama yg di kantin 😀"