
Memegang ponsel dengan penantian yang tidak sabaran, Alyan menunggu balasan via chat dari Melviona, pria itu menepuk-nepuk lantai dengan telapak kaki kirinya seperti seorang penjahit.
Ting, sebuah pesan balasan yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul.
Tidak, hari ini aku akan tetap dikantor. _Viona_
Dengan wajah berseri-seri Alyan mengambil jaketnya dan segera memakainya untuk keluar menuju lokasi kekasihnya saat ini.
Sesampainya di tujuan, bukannya sambutan hangat yang ia dapat, lima orang yang tengah duduk berunding didalam ruangan itu, melihatnya dengan ekspresi bingung juga terkejut.
"Apa aku datang disaat yang tidak tepat?" Tanyanya.
"Anda...tuan muda?!" Salah seorang pria yang menyadari siapa Alyan, terkejut tak habis pikir, ternyata rumor Alyan yang mulai berbaur dengan bisnis perusahaan ayahnya itu benar.
"Maaf, kalian lanjutkan saja, aku akan kembali saat kalian selesai"
"Tidak, tuan and_" belum selesai pria itu berbicara, Alyan sudah keluar menutup pintu.
Baru beberapa langkah Alyan menjauh dari pintu itu, sesuatu melintas dibenaknya.
Didalam sana ada tiga pria asing, seorang Stevan dan Melviona kekasihnya yang hanya seorang wanita didalam sana.
"Tidak, tidak boleh" gumamnya.
Pria itu segera kembali, dan membuka pintu tanpa ketukan permisi, kemudian duduk disamping kekasihnya dengan angkuhnya.
Sungguh, saat ini pria itu tidak memedulikan imagenya, padahal baru beberapa saat ketika ia mengucapkan maaf dan keluar dari ruangan itu dengan sopan.
Saat ia telah berada diposisinya, suasana menjadi hening tanpa sepatah katapun dari lima orang lainnya yang ada di ruangan itu.
Merasa diperhatikan oleh ketiga pria asing yang tengah duduk di hadapannya, Alyan menegur mereka "apa?" Tanyanya datar.
"Ti-tidak, kami minta maaf" ucap salah seorang pria didepannya sambil mengalihkan pandangan mereka keatas meja.
"Ja-jadi nona, kami menawarkan...
Menit-menit berlalu, obrolan yang sedikit membeban akhirnya berakhir, dan tiga pria asing itu keluar.
Setelah tiga orang itu berada diluar pintu, Melviona menghela nafasnya sejenak lalu menoleh kearah pria yang ada disampingnya, Alyan.
Mata mereka bertemu, dan kini mereka bertatapan.
Bukannya kesal, Melviona malah tertawa kecil saat pria itu tersenyum manis kearahnya, yah... senyum itu lagi.
"Waah...tuan muda sangat percaya diri ya" Stevan mengacungkan jempolnya kagum.
"Maksudmu aku sangat sombong?" Alyan mendengus, mengetahui terjemahan dari perkataan Stevan.
"Tuan muda yang bilang loh, bukan saya" Stevan tersenyum sambil mengangkat kedua tangan dan bahunya.
"Tunggu sebentar lagi setelah aku menggantikan ayahku, akan kutemukan tempat yang cocok untukmu mencari biaya sehari-hari" Alyan membalas senyum itu namun dengan perasaan kesal.
"Saya menunggunya tuan" Stevan keluar dari ruangan.
"Haaah~ apa aku perlu mencarikan sekertaris baru untukmu?" Tanya Alyan.
"Haha tidak, aku lumayan menyukai Stevan"
Mendengar hal itu Alyan mengernyit, menarik lengan Melviona kearahnya dan mendekatkan wajahnya pada wajah Melviona dalam radius lima centimeter.
"Katakan padaku, apa saja yang kamu sukai dari b*d*bah itu" tanyanya serius.
"Eh, ka-kamu kenapa sih" Melviona segera memalingkan wajahnya "aku menyukainya sebagai seorang sekretaris kok, sekertaris, kamu tau kan? Maksudku dia bekerja dengan baik, yah... begitu yang semacam itu" Melviona menjelaskan nya dengan bingung dan panik.
Melviona tersenyum, lalu memegang pipi kiri pria itu dengan lembut "dari pada menjadi sekretarisku, aku lebih suka menjadi sekertarismu, jadi cepat-cepatlah tumbuh dewasa agar kamu bisa menjadi ayahmu dan merekrut ku menjadi sekertarismu"
"Ah..."
"Ingat ya, aku akan menagih janji ini suatu saat nanti"
"Tapi aku kan belum berjanji"
"Sekarang sudah" Melviona tersenyum cerah dengan jari kelingkingnya yang ia kaitkan dengan jari kelingking pria itu.
"Pilih aku loh...aku akan membencimu seumur hidup bila kamu tidak merekrutku"
Kedua ujung bibir Alyan terangkat dan melebar "baik!" Ucapnya semangat "kamu harus menagihnya ya!"
πͺπΊπ’, hanya itu, dengan begini aku bisa sedikit merasa lega, karna setidaknya aku bisa yakin dirimu tidak akan pergi pada saat itu. Aku berharap kamu akan menagih janji ini, walau nantinya aku juga tidak akan melupakan dan mengingkari janji ini, karna ketika saat aku sudah memenuhi janjiku, hatiku bisa merasa lega sepenuhnya. Karna setelah itu, aku akan melakukan apapun agar tidak ada pria lain yang berhubungan denganmu selain aku, tidak terkecuali Farrel sahabat masa kecil dan sekarangmu. πΌπ ππ£ π πͺ π₯ππ¨π©ππ ππ£ π ππ’πͺ π©ππππ ππ ππ£ π₯ππ§π£ππ πππ§π₯ππ ππ§ πͺπ£π©πͺπ π₯ππ§ππ πππ§π π¨ππ¨ππ πͺ
Beberapa hari kemudian, Melviona, Alyan dan juga Stevan memutuskan untuk kembali ke London.
Sebenarnya, Melviona bisa saja berlama-lama di Shanghai namun, mengingat Kristian yang sudah lama tidak ia temui, membuat pekerjaannya terpaksa menyerah untuk rasa rindu yang semakin membesar.
Kabar kepulangan mereka didengar oleh para sahabat yang juga sudah lama ditinggal, dan setelah mengobrol banyak pada Manda diponsel, akhirnya Alyan menyerah dan membiarkan pesta penyambutan dilakukan di villa.
"Bagaimana?" Tanya Alyan sembari mengikuti Melviona yang membawa kopernya kedalam kamar.
"Uhm...kalian lakukan saja, aku berencana untuk menginap di rumah sakit menemani Kristian" ucap Melviona.
"Maksudmu malam ini kamu tidak akan kembali?" Alyan mengernyit mendengar Melviona.
"Ya, jadi tolong sampaikan maafku pada mereka nantinya"
"Ka-kalau begitu kita batalkan saja, aku akan menginap bersamamu malam ini di RS" ucap Alyan.
"Eh, Haha kok gitu? Bukannya kamu sudah janji dengan teman-teman mu?"
"Tidak apa-apa, mereka pasti akan mengerti, tidak mengerti pun aku tidak peduli" Alyan masih bersikeras untuk ikut dengan Melviona.
"... kamu tidak boleh bersikap seperti itu, mereka kan melakukan itu karna senang dengan kepulangan mu, jangan mengecewakan mereka dong"
"tapi"
"lagian aku ingin sendiri dengan Kristian, sudah lama aku tidak mengobrol dengannya, yah... meskipun hanya aku yang bicara, boleh kan?"
πΊπΊπΊπΊπΊ
Melviona memegang kemudi mobil, menjalankannya dengan kecepatan standar dan berhenti disebuah toko roti.
Kring~ lonceng kecil yang ada diatas pintu berbunyi saat Melviona masuk kedalam.
"wah, sudah lama saya tidak melihat nona" wanita pemilik toko itu menghampiri Melviona, membawanya disalah satu meja dan duduk bersama dengannya.
"saya baru saja pulang dari perjalanan bisnis"
"ng? sudah kuduga, walau sesaat tapi saya pernah berpikir nona mungkin sudah bosan dengan roti jualanku"
"eh?! bu-bukan kok! bukan seperti itu!" Melviona menggeleng cepat dengan kedua tangannya juga melambai cepat didepan dada.
"hahaha, aku sudah dengar saat nona masuk berita koran, kabar nona memecat seluruh karyawan perusahaan kecuali cleaning servis sangat panas loh saat itu"
"ah,... aku tidak tau kalau kabar itu masuk dalam koran" Melviona menunjukkan ekspresi bingung diwajahnya.