
Alyan terkejut melihat kedatangan Melviona di ruangan nya.
Apa dia akan membahas kejadian kemarin malam? Apa dia akan mengungkapkan perasaan nya padaku? Pertanyaan pertanyaan yang membuat nya bingung kembali melintas.
"Ada apa kemari?" Tanya Alyan gugup.
"Hm? Mau bantu kamu ngerjain urusan perusahaan, kemarin malam masih belum selesai kan?" Ucap Melviona santai, seolah-olah lupa akan hal yang sudah terjadi. Tapi percayalah, saat ini jantung gadis itu berdegup sangat kencang, bahkan tak tertutup kemungkinan akan meledak.
"Apa dia tidak menganggap serius kejadian malam itu?" Pikir Alyan.
"Apa urusanmu sudah selesai?"
"Hm?"
"Maksud ku, bagaimana kalau kita mengerjakan nya di villa saja"
"oke, kamu bawa mobil"
"hm"
"kalau gitu aku tunggu di depan ya"
Di perjalanan, suasana canggung dan hening menyelimuti di antara keduanya, masing-masing mencari kesibukan sendiri. Melviona membaca dokumen, sedang kan Alyan fokus mengendarai mobil.
"Presdir bilang dia akan kembali seminggu lagi" akhirnya Melviona berbicara duluan.
"ah, oh...."
lagi-lagi mereka berdua diam. apa tidak ada yg ingin ia katakan padaku selain perkejaan? pikir Alyan.
Melviona memang tampak fokus dengan buku di hadapan nya, tapi pikiran nya kacau balau, hatinya tak henti berdegup saat berada di dekat Alyan.
beberapa jam kemudian, mereka sampai di villa, dan segera masuk.
"gimana kalau di kamar ku aja" Alyan menyarankan agar mereka bekerja di kamar nya saja. namun entah mengapa saran pria itu malah membuat Melviona terkejut dan salah tingkah.
"kenapa? padahal ini bukan pertama kalinya aku ke kamar nya" pikir Melviona.
"gimana?"
"ah, o-oke"
"kenapa dia gugup?" pikir Alyan.
Melviona membahas pekerjaan dengan sangat serius, mengingat Alyan yg juga mulai berbaur dengan bisnis, Melviona harus menjelaskan beberapa hal yang tidak dimengerti oleh pria itu.
"hoaam~" Melviona menutup mulutnya saat ia menguap.
"kamu ngantuk?" tanya Alyan "kita bisa lanjutin besok kalau kamu mau"
"nggak, hanya capek doang" Melviona kembali memainkan jarinya di atas keyboard laptop nya.
Alyan terdiam, kini pandangannya tertuju pada gadis itu. ia memandangi gadis itu lekat, memandangi setiap inci wajah dan lekuk tubuhnya yang menggiurkan.
Glek, Melviona menelan ludah nya saat Alyan tiba tiba menyentuh dan mengaitkan rambutnya di belakang kuping nya.
Melviona berusaha untuk tetap tenang, hingga akhirnya Alyan mengecup pipi nya.
Alyan menarik kursi Melviona yg memiliki roda agar mendekat ke arahnya, kini mereka berdua saling berhadapan.
"apa tidak ada yg ingin kamu katakan padaku?" tanya Alyan kepada Melviona yg tengah memaku tak tau harus berbuat apa.
"a-apa?"
Alyan tersenyum melihat Melviona yg sangat gugup, akhirnya ia tau Melviona hanya pura-pura lupa akan kejadian malam itu.
Cup, Melviona tersentak saat Alyan tiba tiba mengecup bibir nya.
"apa benar tidak ada?" tanya Alyan lagi.
"A-Alyan..."
Cup, lagi lagi Alyan mengecup bibir gadis itu "apa mau aku ingatkan?" tampak senyum di wajahnya mengisyaratkan sesuatu yang harus di hindari.
Ting, sebuah notifikasi E-Mail muncul di layar laptop, dan Melviona mengambil kesempatan untuk menghindar dari situasi itu.
Saat ia ingin memutar kursi nya, ternyata Alyan sudah memperkokoh pegangan nya di kedua lengan kursi.
tatapan dan senyum pria itu tak luntur dari nya.
Glek, Melviona menelan ludah nya.
"Alyan"
"ya?" tampak pria itu menunggu pernyataan Melviona.
"aku..."
Alyan menunggu dengan senyum.
"aku..."
Tok tok tok
"tuan, nona, waktu nya makan malam" ucap salah seorang pelayan dari balik pintu yg tertutup itu.
"lapar, aku lapar"
"haissh" Alyan tampak sangat kecewa, ia melepaskan genggamannya dari lengan kursi dan dengan cepat Melviona pergi keluar.
Dengan langkah lunglai Alyan menyusul Melviona di meja makan, ia menarik kursi dan duduk di sana.
Sejenak ia memandang Melviona yg tengah makan dengan lahap, kemudian ia menghela nafas keputusasaan nya dan tatapan nya beralih ke arah banyak makanan yg tersaji di atas meja.
Hampir semua makanan yg ada di atas sana adalah kesukaannya, namun saat itu nafsu makannya hilang seketika.
Ia menyendoki makanan ke atas piring nya dengan malas, dan mengunyah makanan itu dengan geram.
Tak lama kemudian, Melviona yg menyelesaikan makan malam nya lebih cepat, pergi lebih dulu dari sana dan menaiki tangga menuju kamarnya.
Melihat Melviona yg sudah beranjak dari tempat nya, Alyan pun ikut menghentikan makan nya dan mengikuti Melviona di lantai dua.
Baru saja Alyan mau memasuki kamar Melviona, pintu itu sudah tertutup. Bahkan terkunci dari dalam.
Alyan mendengus kesal "kenapa malah dikunci" pikir nya, lalu kembali kekamar nya.
Sedangkan di sisi lain, Melviona yg masih berdiri di balik pintu, memegang dadanya yang berdegup sangat kencang.
"Astaga. tidak, ini tidak boleh" Melviona berusaha menegur perasaannya yg mulai goyah.
Ia berjalan ke dalam kamar mandi dan bermaksud untuk segera mandi dan tidur.
Selepas mandi, Melviona memakai dress mini tidurnya yg bewarna putih.
Baru saja ia meletakkan hairdryer di dalam laci meja riasnya, seseorang mengetuk pintu.
Cklek, Melviona terkejut saat mendapati Alyan di depan pintu kamarnya.
"kamu udah mandi" Alyan memandangi pakaian Melviona. Manis, begitu pikir nya.
"ah, i-iya. ada apa?"
Alyan mengangkat laptop dan tumpukan lembaran kertas yg ada di tangan nya.
"gi-gimana kalau besok saja"
"ini nggak banyak lagi, tanggung banget" Alyan masuk ke dalam kamar Melviona tanpa izin sang penghuni dan menaruh barang bawaannya di atas ranjang.
"kenapa nggak di atas meja aja?"
"tuh, bandingin meja kamu sama ini"
Melviona melihat mejanya yg di penuhi buku dan tumpukan dokumen dari perusahaan. sejenak ia terdiam, tentu saja. walau mejanya dan meja Alyan berukuran sama, tapi meja Alyan tak seramai mejanya.
Melviona menghela nafas nya dan menaiki ranjang. lagi lagi jantung nya berdegup kencang saat di dekat Alyan, namun hal itu bisa ia tangani bila sudah terfokus dengan perkejaan.
Alyan menatap Melviona yg sedang mengikat tinggi rambutnya ke atas.
leher jenjang gadis itu terlihat menawan, dan rambut panjang coklat ikalnya terlihat anggun.
"salon mana?"
"hm?"
"rambut kamu cantik, salon langganan kamu dimana?"
"ah, nggak. aku nggak pernah ke salon, rambut ku memang sejak dulu ikal begini"
"aku nggak percaya, ikal cantik coklat begini masa alami, rambut ibu ayah mu kayaknya nggak ada yg ikal deh, trus rambut ibumu nggak secoklat ini"
"aku juga nggak tau kenapa bisa jadi secoklat ini, kalau rambut ikal ku mungkin karena aku sering menjalin nya di rumah"