
Melviona duduk di pinggir ranjang nya, memerhatikan taman depan rumah di balik dinding kaca transparan kamar nya.
"haaaah... kayak nya harus beli yg baru" gumam Melviona kembali melihat ponsel nya yg rusak.
Melviona berdiri dan segera berganti pakaian, ia kemudian keluar dari kamarnya dan melihat lantai ruang tamu yg bersih.
"uhuk uhuk uhuk, berdebu banget sih, kayak peti harta Karun aja!" terdengar suara gaduh Kristian dari dalam kamar tamu.
"kayaknya lagi beresin kamar tamu" pikir Melviona kemudian keluar dari rumah dan menyalakan mobil nya, pergi ke bank terdekat.
sesampainya di bank terdekat, Melviona memarkirkan mobilnya dan keluar dari mobilnya, saat Melviona mau menutup pintu mobilnya dan berbalik, ia terkejut melihat Farrel yg juga baru saja keluar dari mobilnya.
"melvi?" ucap Farrel ketika mata mereka saling bertemu.
"ah, Fa-Farrel? apa kabar?" tanya Melviona.
Melviona dan Farrel adalah sahabat dari kecil, tapi saat farrel tamat SMP, dia di kirim ke Inggris untuk melanjutkan sekolahnya di sana.
"baik, Lo sendiri gimana?" tanya Farrel balik.
"baik kok, btw kapan pulang?" tanya Melviona penasaran.
"Minggu lalu, maaf karna nggak sempat mampir ke rumah Lo soalnya gw sibuk banget"jawab Farrel.
"nggak papa, tapi, Lo kenapa pulang lebih awal ke Indonesia? padahal kan liburan sekolah 2 Minggu lagi" tanya Melviona lagi.
"itu...ah, gw hanya kangen sama ortu aja, jadi gw ambil ujian lebih awal dan akhir nya gw libur lebih awal dari yg lain nya"
"oh, mau ngapain kesini?"
"gw ada janji sama teman cewek di sekitar sini"
"hm, kalo gitu gw tinggal ya dadah....π"
"dah..." balas farrel melambaikan tangannya.
Melviona menarik uang di ATM sebesar Rp 5.000.000.00 dan langsung menuju parkiran di mana mobilnya berada.
saat Melviona masuk ke dalam mobil, matanya sekilas melihat farrel sedang membukakan pintu mobil nya kepada seorang gadis yang terlihat seumur an dengan nya, gadis itu masuk ke dalam mobil Farrel dan mereka pun pergi entah kemana. Melviona hanya terdiam, hatinya terasa sakit melihat farrel jalan bersama gadis lain selain dirinya.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Melviona mampir di sebuah konter dan membeli ponsel baru yg harganya murah juga sekalian membeli pulsa dan kuotanya. sesudah itu Melviona kembali ke rumah, saat ia membuka pintu rumahnya, Melviona membulat kan matanya, melihat ruang tamu yg amburadul.
"KRISTIAAAN!" teriak Melviona.
Kristian berlari ke lantai bawah dan melihat kakak nya yg kini sangat murka.
"apa apaan ember di kepala mu itu?!" tanya Melviona dengan nada tinggi, melihat ember plastik berwarna biru di kepala Kristian seperti topi.
"ah ma-maaf, tadi ada....."
GUK GUK GUK!
"anjing?"gumam Melviona.
"tadi ada anjing liar tiba tiba masuk rumah trus buat kekacauan, aku tadinya mau nangkap anjing itu, tapi karna ukuran nya kecil jadi..." Melviona menyingkirkan Kristian dari tengah jalan tangga dan naik ke atas lantai dua, mencari cari asal suara rintihan seekor anjing.
Melviona terkejut melihat seekor anak anjing bertubuh mungil sedang berusaha melepaskan lehernya dari antara anak balkon yg ada di teras lantai dua.
Melviona segera melepas kan anjing itu perlahan dan menggendongnya.
"itu dia! anjing itu! anjing itu yg buat rumah berantakan kak! hukum dia!" teriak Kristian dari belakang Melviona.
"kakak kenapa sih? senyum senyum sama anjing itu? aku aja nggak pernah di senyumin tulus kek gitu. aaaakh curang! binatang buat salah bukan nya di hukum malah disayang, orang buat salah dikit aja udah kayak gunung meletus" ujar Kristian sambil membanting ember dan sapu ke lantai.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Melviona mengeringkan anjing itu dengan hairdryer, lalu menyisir bulunya.
"hm...apa ini yg di sebut karma? gw melihat farrel jalan dengan gadis lain dan sebagai gantinya anjing imut ini jadi milikku!" ucap Melviona senang.
"tapi, nggak mungkin kan anjing ini bisa jadi anjing liar" gumam Melviona "ah,nanti aja di pikirin, aku nyuci dulu".
16.00
Melviona sudah selesai mencuci dan menjemur pakaian nya di teras kamar nya, kemudian kembali melihat anjing kecil tadi yg kini sedang tertidur.
"harus masak makan malam"gumam Melviona keluar dari kamarnya.
Melviona melihat ruangan yang kini sudah rapi dan bersih kembali tapi tidak melihat Kristian.
ia kembali naik ke lantai atas dan melihat Kristian berada di dalam kamarnya, Kristian tengah berbaring di tempat tidur sambil bermain game.
"ha, kakak, kok nggak ngetuk pintu sih"ucap Kristian terkejut saat kakak nya tiba tiba masuk dan menarik ponsel di tangan nya.
"cepat kedapur"ucap Melviona.
"a-apa?"
"cepat kedapur, sekarang juga, kalau tidak jangan harap bisa makan malam"lanjut Melviona.
Kristian segera turun dari ranjangnya dan mengekori kakak nya yg sedang berjalan ke luar menuju dapur.
"cuci sayur ini" ucap Melviona menaruh sayur kangkung di atas meja makan.
Kristian berjalan malas dan mencuci sayuran itu di wastafel.
"ini lagi" ucap Melviona menaruh tomat , wortel, kentang dan ikan yg sudah di iris.
"akh" Kristian mengambil nya dan mencucinya.
"kalau udah, taruh di atas meja makan, ah iya kupas kulit kentang sama wortel nya dan...ini lagi"ucap Melviona menaruh bawang merah dan bawang putih di atas meja.
"cuma di kupas aja kan?" tanya Kristian.
"di iris sekalian"
Kristian hanya pasrah dan selalu mengikuti perintah kakak nya.
"cuma kali ini saja, cuma hari ini saja, Lo harus bersabar ingat! makan malam! ini hanya untuk makan malam, anggap saja Lo lagi kerja part Time di restoran bintang lima"pikir Kristian berusaha menghibur hatinya.
30 menit kemudian.....
kangkung tumis dan ikan balado pun siap. dan mereka pun mulai makan malam. selesai makan Kristian di suruh membersihkan meja makan dan mencuci piring, sedang kan Melviona sedang duduk di sofa ruang tamu sambil membaca buku dengan segelas teh, dan sepiring Snack di atas meja.
"kak" panggil Aldin yang kini sudah duduk di samping kakak nya.
"hm?" tanya Melviona tanpa melirik Kristian.
"kerjaan kakak hari ini apa aja sih?" tanya Kristian.
"buat apa nanya gituan? ngomong ngomong kerjaan mu sudah beres nggak? kalau udah sekarang kamu sikat toilet yg di kamar tamu, dan jangan terlalu banyak pakai cairan pembersih ya" ucap Melviona yg seperti nya sengaja membuat Kristian kesal.
Kristian tidak tahan lagi, ia sudah mengepalkan tangannya dan berusaha menahan emosi nya.