
Melviona mengernyit kesal, terlebih saat Alyan kelihatan lebih terfokus pada Mei Yin yg duduk di samping nya.
Setiap tawa dan suasana hangat mereka membuat Melviona terasa sangat jengkel dan berapi-api di dada nya.
"lihat dia, apakah aku transparan, sehingga dia tidak berbicara atau melirik ku sesekali? oke. anggap saja dia sedang menjaga agar hubungan kami tidak ketahuan, tapi bagaimana dengan Stevan? setidaknya berbicara lah dengan nya, atau suruh dia apa saja agar dia tidak seperti karya seni tiga dimensi disini!" Melviona berbicara banyak dalam hati nya yg sedang kacau, tatapan nya mengarah ke depan saat Alyan berusaha merebut ponsel Mei Yin.
BRAK! Melviona meletakkan sendok nya di atas meja dengan keras.
"ada apa nona?" tanya Stevan.
"tidak ada apa-apa Stevan" jawab nya tersenyum "aku ingin keluar sebentar" ucap nya beranjak dari tempatnya.
Alyan yg menyadari Melviona keluar dari ruangan, segera berdiri menyusul kekasihnya itu, tanpa memedulikan Mei Yin yg bertanya ia mau kemana.
"entah mengapa, senyum nona sama menyeramkan nya saat memecat para pekerja ya? tapi, kenapa tiba-tiba senyum itu muncul? apa ia berencana memecat ku? tidak.." Stevan menggeleng cepat "aku membantu pekerjaan nona dengan sangat baik, aku bahkan sering membelikan nya makanan. tapi kenapa ya...?"
Melihat Stevan yg kelihatan aneh, Mei Yin pun mengajak nya bicara.
"apa kau sekertaris nya?"
"hm? ah ya"
"boleh ku tau nama mu?"
"anda bisa memanggil saya sekertaris Stevan nona" Stevan berdiri dari duduknya.
"aku Mei Yin" Mei Yin ikut berdiri.
"saya tau" Stevan berjalan ke arah meja Melviona.
"uhm...apa kau sudah punya pacar?" Mei Yin kembali bertanya.
Stevan menghentikan langkahnya, dan berbalik menatap Mei Yin.
"apa nona ada urusan penting dengan saya?" seketika nada Stevan menjadi dingin.
"eh, aku cuma bertanya kok. sayang banget kan, kayak nya kau lumayan dewasa juga, harus nya sudah punya istri dong, kalau nggak setidaknya pacar, seperti aku dan_" belum selesai Mei Yin melanjutkan pembicaraan nya, Stevan menyela.
"apa nona berpikir saya akan merasa iri? huh, nona terlalu muda sepuluh tahun untuk membuat saya iri" Stevan mendengus "entah mengapa saya merasa tidak nyaman di dekat nona, saya mohon untuk kedepannya jangan menganggap saya sebagai teman, saya tidak nyaman"
🌺🌺🌺🌺🌺
Melviona naik ke atap perusahaan, melihat gedung tinggi dan pendek lainnya, sambil merasakan angin yang bahkan bersimpati ingin menghiburnya.
"Viona" Alyan berlari kecil ke arah Melviona.
Melviona hanya terdiam, tak menoleh ke arah Alyan yg tersenyum cerah di sampingnya.
Alyan bercelinggak-celingguk, melihat apa kah ada orang lain selain mereka berdua di atas sana, tapi nihil. ternyata para karyawan sangat sibuk ya, sehingga tidak ada waktu bersantai di atap gedung yg nyaman ini.
setelah memastikan tak ada orang, Alyan kembali menatap Melviona, mendekat kan wajah nya, bermaksud untuk mencium bibir nya, namun apa yang ia lihat.
sesuatu yang bening bagai kristal menggenangi mata kekasihnya itu, lalu terjatuh mengalir di pipi lembut nya.
Melviona tak kunjung berkedip, tatapan tegas nya mengarah ke depan tanpa menunjukkan ekspresi yang mewakili air matanya yang mengalir itu.
"sana pergi, hiks..." Melviona menepis tangan Alyan kasar "kekasih mu sedang menunggumu di bawah!"
"hei... ada dengan mu?" Alyan memutar Melviona agar menghadapnya.
"kekasih ku sedang ada di sini, di hadapan ku sekarang ini" Alyan mengusap air mata Melviona.
"hiks... jangan bilang dia sedang ada di belakang ku..." Melviona kembali mengeluarkan air matanya.
Alyan mendengus kesal, lalu memeluk pinggang Melviona "aku sedang memeluknya"
"hiks, eh.." Melviona menyeka air matanya sambil melihat Alyan.
"apa? jangan bilang aku ada dua ya" ucap Alyan lalu mengecup kening Melviona.
"dia sepupuku"
"eh?"
"putri dari kakak kandung ibuku" ucap nya lagi sembari mengecup ujung mata Melviona.
"asin ya"
"ah, apaan sih" Melviona melepas pelukan Alyan dan kembali menghadap balkon sambil melihat ke jalan raya yang begitu ramai.
"kamu cemburu ya" goda Alyan.
"nggak!" dengan cepat, Melviona menatap Alyan dan menjawab nya tanpa ragu "ngapain aku cemburu sama kamu, emang nya cuma kamu yang bisa menggoda cewek?! aku juga bisa cari cowok lain, Stevan lumayan tam_" belum selesai Melviona melanjutkan perkataannya, Alyan sudah menguncinya, menumpukan kedua tangannya di atas balkon dan menatap Melviona dengan tatapan tak senang.
"aku tidak mau membahas ini lagi" ucap nya pelan tapi penuh penegasan.
Alyan mendekat kan wajah nya kearah Melviona, dan mencium bibir gadis itu tanpa aba-aba, sehingga ia hampir kehabisan nafas.
Namun untungnya, Alyan segera melepas nya, meskipun sesuatu yang bewarna merah tampak dari bibir bagian bawah gadis itu. ya, Alyan menggigit bibir Melviona sehingga mengeluarkan darah, Alyan bahkan tak sadar ia berbuat hal itu pada Melviona, saat itu ia merasa sangat kesal saat Melviona mengatakan akan mencari pria lain selain dirinya dan berkesimpulan bahwa ia menggoda Mei Yin.
"bukan kah aku sudah bilang, Mei Yin putri dari kakak kandung ibuku, dia sepupuku" Alyan kembali mencium Melviona.
"Alyan" Melviona berusaha mendorong Alyan yg seperti nya mulai bernafsu.
"ayo kita pulang" ucap Alyan sembari menarik lengan Melviona, namun segera di tahan oleh Melviona sendiri.
"tidak. aku ... banyak kerjaan" ucap nya yg kini merasa takut, kemarahannya lenyap seketika dan yg tersisa hanya air mata yang kembali keluar.
Alyan kembali tersadar saat melihat air mata itu mengalir, hatinya terpukul, tatapan nya kembali menghangat.
ia mendekat mengelus pipi gadis itu, tercengang tak percaya saat melihat bibir Melviona yg berdarah.
"ada apa dengan ku...?" tanya nya dalam hati.
ia menyentuh bibir Melviona lembut dengan ibu jarinya, melihat akibat dari kegilaannya yg sesaat itu.
"tolong jangan membenci ku..." ucap nya lalu memeluk Melviona.