I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 19


"Nggak boleh!" Tukas Darlen nyaring. "kamu jangan ngizinin dia pergi! Itu semua modus! Pasti dia pergi untuk menghadiri perjodohannya" lanjut Darlen. 


"Tuh kan, sudah kuduga pasti acara perjodohan, jadi aku langsung melarangnya pergi kalau tidak aku akan langsung memecatnya"


"Eh, pecat?, Bukan nya dia sepupumu? Buat apa kamu pecat dia?"


"Eh, i-itu... Dia...dia...ah, dia karyawan magang di perusahaan ayahku"


"Magang di bagian apa?"


"Uhmm, di bagian perancangan"


"Perancang?" 


"I-iya!"


"Wuaah! Hebat banget!"


"Yaiya lah, namanya aja sepupu Alyan, semua kerabatku pasti orang jenius"ucap Alyan sombong. 


"Jenius sih jenius, tapi... lihat diri sendiri aja masih pengangguran, tinggal nunggu ayah nya memberikan warisan nya" ledek Darlen. 


"Hei! Gini gini aku orang yg bersejarah tau!"


"Iya deh iya, ngomong ngomong, kalau ada waktu aku mau ketemuan sama sepupu mu itu"


"Errrr, a-aku mau ganti baju dulu"


Beberapa hari kemudian, akhir pekan pun tiba. 


"Dia kemana ya?" Gumam Alyan saat jam sarapan pagi sedang berlangsung. 


"Siapa?" Tanya Manda. 


"Ah, bukan siapa siapa" Jawab Alyan. 


"Ngomong ngomong, aku sebenarnya sedikit kasihan pada sepupumu itu, seharusnya hari ini dia kan pergi ke rumahnya untuk menghadiri acara perjodohan nya, tapi kau malah melarangnya" ucap Darlen. 


"Benar juga hari ini dia kan.." pikir Alyan. 


"Acara perjodohan sepupu Alyan?" Tanya Manda. 


"Iya, kemarin Alyan menga..."


BRAK!


Tiba tiba Alyan memukul meja dan berdiri dari tempat nya. 


"Kenapa?" Tanya Brave. 


Alyan langsung berjalan cepat menuju kamar Melviona dan mendapati kamar nya sudah terkunci dari luar. 


"Apa jangan-jangan dia..." 


"Ada apa tuan?" Tanya Chloe yg sedang melintasi depan kamar Melviona. 


"Dimana dia?"


"Dia? Maksud tuan, nona Melviona?"


"Iya, dimana dia"


"Dia sudah pergi saat jam lima dini hari, katanya sih dia ada acara keluarga di rumah"


"Jam lima dini hari?"


"Iya, soalnya butuh waktu 4 jam dari villa agar dapat sampai ke tempat tujuan"


"Siapa yang mengizinkan nya pergi?"


"Sa-saya tidak tau, nona Melviona cepat cepat pergi saat itu"


"Akh, sialan!" Ucap Alyan, mengepalkan tangannya dan meninju dinding. 


"Tu-tuan, saya minta maaf, seha..."


"Dengar, kalian semua harus tamat hari ini" ucap Alyan dingin kemudian kembali ke meja makan. 


"Memang nya ada masalah apa?" Tanya Brave lagi. 


"Hari ini kita berencana pergi kemana?" Tanya Alyan. 


"Eh"


"Kita bisa pergi kemana saja hari ini asalkan itu jauh" lanjut Alyan. 


"Bagaimana kalau kita pergi ke tempat pembuangan sampah yg ada di AS?" Ucap Darlen. 


PLAK!


Tiba tiba morsy yg duduk di sampingnya langsung memukul punggung Darlen dengan keras. 


"Kau mengajak kami pergi jauh jauh ke AS hanya untuk melihat tempat pembuangan sampah mereka?"


"Aduuuh... memang nya kenapa?! Alyan bilang kan kemana saja boleh asalkan jauh!"


"Pergi saja sendiri aku nggak tertarik" ucap Morsy kembali melanjutkan makannya. 


"Gimana kalau ke taman bermain? Sudah lama loh kita nggak kesana bareng." Usul Manda. 


"Boleh juga" ucap brave. 


"Yah... mendingan, dari pada ke tempat pembuangan sampah" ucap Morsy. 


"Haaah...kalian semua jahat" gumam Darlen. 


"Kalau gitu aku siap siap dulu" ucap Alyan beranjak dari duduknya dan pergi ke kamarnya. 


🌺🌺🌺🌺🌺


Ding dong...


"Eh, Kakak? Kok baru nyampe?" Tanya Kristian saat melihat Melviona datang pukul sembilan pagi. 


"Kok baru nyampe katamu? Heh, udah syukur syukur aku datang tau" ucap Melviona. 


"Memang nya kenapa?"


Sedangkan Kristian hanya terdiam kebingungan sambil mengikuti kakak nya dari belakang. 


Sesampainya di ruang tamu, Melviona sangat terkejut melihat pria yg tak lain adalah Farrel, berada duduk di sofa bersama ibunya Kirana. 


"Sayang, kok kamu datang terlambat sih?" Tanya yersia. 


"....." Melviona tidak menyahut, ia masih tak percaya bahwa yg tengah ia lihat ialah Farrel. 


"Ka-kakak?" Panggil Kristian sambil mencolek punggung Melviona. 


"Ah, eh iya, ada apa?" Tanya Melviona. 


"Mama manggil tuh"


"Oooh iya, mah, aku ke kamar dulu ya, beresin koper ku"


"Tapi jangan kelamaan ya, atau kamu suruh aja Kristian, dia sudah bisa lipat kain loh"


"Eh, kok aku?" Gerutu Kristian. 


"Nggak usah mah, lagian Kristian juga kan anak cowok" lanjut Melviona kemudian naik ke tangga dan memasuki kamarnya. 


"Waah, udah lama nggak liat Melvi, makin cantik aja yah" ucap Kirana ibunya Farrel. 


"Haaah...aku khawatir sama anakku yg satu itu" ucap Yersia. 


"Kenapa?" Tanya Kirana.


"Dia nggak pernah pacaran sama sekali, hampir sebagian besar waktunya ia gunakan untuk membaca dan mengerjakan PR" 


"Hah! Sayang banget loh, masa muda itu harus dimanfaatin"


"Iyakan? Tapi untungnya, sekarang dia sudah mulai melupakan mata pelajaran sekolahnya dan fokus bekerja"


"Bekerja?"


"Iya, dia menjadi kepala pelayan di villa anak seorang Presdir"


"Anak seorang Presdir? Pemilik perusahaan?"


"Hm, dia atasan di perusahaan ku dan Walzer"


"Bagus dong, kalau gitu, biar bisa jadi wanita karir kalau udah besar"


"Katanya sih gitu, dia maunya jadi wanita karir yang punya sebuah perusahaan"


"Perusahaan? Masih muda Udah mikirin masa depan aja, anak kayak gitu jarang banget loh, apa lagi anak gadis, beda banget sama anakku satu ini udah anak cowok lagi, di suruh magang di perusahaan ayahnya saja nggak mau!" Lanjut Kirana. 


"Nggak apa-apa kok, pasti suatu saat sedikit demi sedikit Farrel mau mempelajari nya"


"Mudah mudahan sih begitu, tapi aku tidak terlalu berharap, sifat mal.." 


"Mah, Tante aku nengok Melvi dulu ya" sela Farrel yg sudah muak dengan pembicaraan ibu ibu. 


"Ah, dia ada di lantai dua, kamarnya di bagian depan"ucap Yersia. 


"Hm, kalau gitu aku permisi sebentar"


"Farrel, anak orang di jaga loh" ucap Kirana memperingatkan. 


"Apaan sih ma" 


Sesampainya di depan pintu kamar Melviona, Farrel mengetuk pintu. 


Tok tok tok...


"Masuk aja, nggak di kunci kok" ucap Melviona. 


"Mel? Udah siap nggak beres beres nya?"


"Farrel?" 


"Gw masuk ya"


"Ah, i-iya"


Farrel pun masuk, dan duduk di pinggir ranjang Melviona. 


"Gw dengar lo lagi kerja ya?"tanya Farrel. 


"Eh, iya, kok tau?"


"Tante yang kasih tau"


"Oh"


"Btw, lo beneran jadi kepala pelayan di villa anak Presdir"


"Tadinya sih iya, tapi sekarang aku di alihkan jadi perawat nya"


"Perawat?"


"Yaah semacam asisten gitu, tapi gw juga mengurus keperluan nya sehari hari, bahkan mandi pun harus gw yg siapin bajunya"


"Hah?!"


"Gw cuma siapin baju sama celana doang kok, jangan berpikir macam macam"


"Oh, kirain, tapi... Lo nggak di buly kan sama mereka?"


"Nggak juga kok, hanya saja dia nyusahin orang terus"


"Begitu ya..."


"Hmmm, kalian kapan datang?"


"Tadi pukul sembilan kami langsung kemari"


"Langsung kemari? Jadi..."


"Ah,  nanti siang mama bakal sewa apartemen, kami hanya sementara disini"


"Oooh, ahahahah...gitu ya, kalau gitu ayo kita keluar, aku mau masak makan siang"


"hm"