I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 61


Mulai hari itu Alyan memutuskan untuk kembali tinggal di rumah utama selama masa pelatihan nya. Setelah selesai pulang sekolah dan berganti pakaian, ia harus menyusul ayah nya ke perusahaan dan mempelajari apa yang ia lihat.


Selain dari Alfian, sekertaris Ian atau tangan kanan ayahnya itu, juga ikut membantu membimbing Alyan dalam masa pelatihan nya.


Bruk, Alyan melempar kan tubuh nya diatas ranjang kesayangan nya, walau lebih tepat di sayang karna rasa lelah yg sungguh membebaninya.


"Haaaah~" Alyan menghembuskan nafas panjang nya "bagaimana bisa dia masih hidup sampai sekarang ya" gumamnya bila mengingat Melviona yg sepulang kerja seperti manusia tanpa beban "ngomong ngomong sekarang dia sedang apa ya...?"


Drrrrt...


Ponsel Alyan berdering, dan lagi lagi si 'My Honey' memanggil.


Dengan geram Alyan mengangkat panggilan itu dan bersiap siap untuk mencaci maki orang yang membuat hidup nya tambah susah itu.


"Helloo~masih ingat aku kan?"


Suara itu membuat Alyan termenung, memikirkan siapa pemilik suara itu.


"Kau lagi? Kau kan yg masukin nomor ponsel mu ke ponsel ku tanpa aku tau namanya itu"


"Hehehe, gimana? Nggak papa kan?"๐Ÿ˜‹


"Nggak papa apanya?! Kau membuat Manda tambah membenci ku, padahal tadi dia udah mau bicara pada ku!"


"Duuh, beneran deh. Kamu juga nggak suka sama Manda kan?"


"Hah?"


"Aku tau kok, kamu sebenarnya nggak suka sama Manda tapi suka sama cewek lain kan"


"Apa maksudmu?"


"Sebelum itu, perkenalkan. Namaku Joy"


"Joy?"


"Iya, aku sahabat karibnya Manda loh..."


"Sahabat, apa pengkhianat?"


"Sahabat dong, hehe"


"...."๐Ÿ˜‘


"Hahaha, jadi gini. Aku denger kamu sama Manda bertengkar tadi disiang kan"


"Trus"


"Ya...aku mau minta maaf"


"Jadi?"


"Maafin aku ya"


"Terserah"


"Kok gitu, ngomong ngomong, malam itu kamu manis banget loh. Hihihi"


"Apanya? Manjat pohon kayak gitu kau manis katamu? Heh"


"Ah, bu_"


"Aku tau aku tampan. Setiap perlakuan buruk ku seperti hal yang lucu dan manis. Tapi apa itu tidak agak keterlaluan? Aku menari seperti monyet bahkan memanjat pohon. Dan itu yg kau sebut manis?"


"....udah siap kamu ngawur nya?"


"Ha?"


"Kamu denger itu dari mana sih? Kejadian nya nggak kayak gitu"


"Hah?!"


"Jadi, gini..." Joy menceritakan apa yang ia lihat, walau beberapa adegan ia setting untuk membangkitkan suasana gairah malam itu "nah, aku mau nanya. Pas kamu tidurin itu cewek, dia masih perawan nggak?" Tanya Joy, tapi tak ada sahutan dari Alyan.


"Yan?"


"..."


"Halo, Alyan? Masih denger aku kan?"


"Tidak mungkin...." Gumam Alyan, namun dapat didengar oleh Joy lewat telepon.


"Alyan?"


"Katakan padaku. Kau bohong kan? Hahaha, kau sudah mengerjai ku siang tadi. Dan sekarang rupanya kau masih belum bosan ya"


"Eh, sumpahโœ‹itu juga penyebab Manda marah banget dan diemin kamu selama beberapa hari ini"


Tut. Alyan memutuskan sambungan telepon dan keluar dari kamarnya. Ia mengambil sepatu nya dan memakai nya dan langsung melaju kan mobilnya menuju rumah Morsy. Yah... seingat nya hanya Morsy yg tidak meminum bir kemarin.


"Ngapain malam-malam gini?" Morsy sedikit terkejut saat melihat kehadiran Alyan didepan pintu rumahnya.


"Aku mau bertanya serius dengan mu. Jadi kumohon jangan tutupi kebenaran malam itu"


"Eh..?!"


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Los Angeles


Pukul 11.50


"Nona, bagaimana kalau kita bersantai selama seminggu? Saya akan meminta izin pada Presdir" saran Stevan, saat Melviona sedang makan siang di sebuah restoran.


"Stevan, tolong jangan hasut diriku agar malas bersama mu. Itu tidak baik bagi kesehatan" ucap Melviona.


"Kerja terus juga nggak baik untuk kesehatan nona ๐Ÿ˜ญ" ucap Stevan dalam hati.


"Eh, ini beneran kak Melvi?" Tiba-tiba seorang pria datang menghampiri Melviona.


"Kamu...."


"Kakak pasti udah lupa aku kan? Hahaha, ini kedua kali kita bertemu sih"


"Waaah, ingatan kakak bagus banget"


"nggak juga kok, kamu kesini bareng siapa?"


"Ah, bareng kembaran ku" Felix bercelinggak-celingguk, mencari seseorang "nah, itu dia" Felix menunjuk seorang wanita yang tengah bertelepon di luar restoran.


"Sury? Itu kembaran kamu?"


"Kakak kenal sama kembaran ku?"


"Ya... sedikit"


"Sury! Disini" Felix melambaikan tangannya ke arah Sury yg memasuki restoran.


"Kak, kami gabung ya"


"Ah, iya boleh"


Sury berjalan ke arah Felix.


"Bukan nya kamu..." Sury tercengang saat melihat Melviona.


"Sudah lama ya" Melviona tersenyum.


"Jadi beneran kamu? Ngapain kamu ke sini? Bukannya kamu guru di London?"


"Sekarang nggak lagi. Silahkan duduk"


"Ini siapa? Kekasih mu?" Sury melirik kearah Stevan.


"Bukan, saya bukan kekasih nona. Saya sekertaris nona"


"Sekertaris? Kamu kerja apa sampai punya sekertaris segala?"


"Nona adalah wakil Presdir perusahaan D.A"


"Wa-wakil apa katamu?!"


"Wakil Presdir"


"Ha?!"


"Sury, kamu membuat orang-orang tak nyaman" Felix menyadarkan Sury dimana mereka tengah berada.


"Ta-tapi bukan nya yg seharusnya mendapatkan posisi itu Alyan"


"Tapi sayang nya, jangan kan mencampuri urusan perusahaan, tuan muda bahkan akan mual bila mendengar hal-hal yang bersangkutan dengan perusahaan"


"Tidak mungkin. Tapi kenapa harus dia yg mendapatkan posisi itu?"


"Itu karna nona pilihan Presdir sendiri, dan saya yakin pilihan Presdir slalu yg terbaik"


"Hah?!"


"Dan sekarang, urusan nona adalah mengurus proyek pembangunan Hotel mewah di perusahaan pusat"


"Apa?!!" Kali ini Sury mengebrak meja.


"Hahaha ๐Ÿ˜… maaf jangan hiraukan dia" ucap Felix saat para pengunjung restoran melihat ke arah mereka.


"Oh, ayolah..." Felix menarik Sury agar mau duduk kembali "aku tidak akan mengakui mu saudara ku bila kamu tidak mendengarkan ku lagi" lanjut Felix sambil mendengus kesal.


"Maksud mu kamu yg mengurus proyek pembukaan hotel mewah itu?" Kini Sury berbicara dengan nada rendah namun cepat.


Melviona mengangguk mengiyakan, dan seorang pelayan datang dengan membawa meja dorong yg di atasnya ada makanan. "Silahkan nikmati makanan anda tuan dan nona" ucap nya.


"Trimakasih" balas Felix tersenyum.


"Hotel yg betriliunan dolar itu?" Sury kembali melempar kan pertanyaan, namun kini yg mengangguk ialah Stevan.


"Aku, aku, tapi aku masih tidak percaya. Bagaimana bisa Presdir menyerahkan proyek penting itu padamu?"


"Seperti yang tadi saya katakan, pilihan Presdir slalu yg terbaik" Stevan mengacungkan jempol nya ke arah Melviona.


"Felix, ada perihal apa sampai kemari?" Tanya Melviona.


"Sama seperti kak Melvi, aku juga sedang mengurus proyek penting di sini. Yah... meskipun tak sepenting proyek yg kakak dapatkan"


"Proyek?"


"Karna aku anak tunggal laki laki, jadi sudah jadi ketentuan kalau aku yg akan mewarisi perusahaan ayahku"


"Oh, ya?"


"Iya, makanya aku belajar nya nggak ke sekolah, aku ambil les privat. Aku sudah mulai berbaur di perusahaan sejak tamat SD"


"Jadi kamu nggak masuk SMP dong"


"Ya...gitu deh"


"Kamu nggak punya banyak teman kan"


"Hahaha, kebanyakan teman teman ku karyawan kantor atau pemegang saham yg lebih dewasa dari ku, seperti kakak"


"Oh"


"Ngomong soal teman... bagaimana kabar Kristian?"


"Sama seperti sebelumnya, dia masih belum sadar"


"Siapa? Siapa Kristian?" Sury bertanya penasaran.


"Kristian sahabat pertama ku, sekaligus adik kak Melvi" jawab Felix.


"Adik? Kamu juga punya adik?" Tanya Sury dan di balas senyuman oleh Melviona.


Sury tersenyum menyeringai kearah Melviona "satu saja menyebalkan, apa lagi kalau dua. Hahaha"


"Sury..." Felix menyadari kata-kata Sury yg membuat Melviona tak senang.