
"Apa kamu masih merasa panas?"
"Hm" Alyan kembali mengecup bibir Melviona.
"Kalau begitu bagaimana kalau kamu mandi? untuk mendinginkan diri"
"Tidak perlu" lagi lagi Alyan mengecup bibir Melviona, entah mengapa ia merasa terobsesi dengan bibir itu, berbeda dengan saat ia berciuman dengan Manda di lokasi syuting dan tidak lagi hingga sekarang.
"Mandi lah" Melviona kembali memundurkan kepalanya saat Alyan ingin mengecup bibir nya lagi.
Kini pria itu menatap mata Melviona "tapi aku menginginkan mu"
"Aku tau, tapi tolong. Aku tidak ingin melakukan nya kecuali pada suamiku nanti nya, aku ingin dia yg pertama memiliki ku"
Alyan mengernyit dan menahan tengkuk Melviona. Cup "tak ada pria selain aku yg menjadi pasangan hidup mu"
"Maaf, tapi aku juga tidak ingin membangun keluarga baru" cup, kali ini Melviona yg mengecup bibir Alyan. "Mandi lah, segarkan dirimu kalau perlu berendam lah di bathtub dengan waktu lama"
Alyan melepas tangannya dan berdiri, terlihat jelas bagi Melviona melihat rahang pria itu yg mengeras dan hentakan kaki yg tak biasa di sepanjang jalan kamar mandi.
Melviona hanya tersenyum kecil, lalu berjalan kearah pintu.
Klek, apa ini? Kenapa pintu nya tak bisa dibuka? Klek klek klek klek klek.
Berkali kali Melviona berusaha membuka pintu, tapi sepertinya memang di kunci.
Ya...tentu saja kuncinya berada di kamar mandi bersama Alyan.
"Dasar"
Tok tok tok
"Alyan, bisa kah kamu memberikan ku kunci pintu kamar mu? Aku tidak bisa kembali ke kamar ku kalau begini"
"Aku sedang berendam, jangan menggangu atau aku akan keluar dan tak akan menahan diri lagi"
Glek, Melviona menelan ludah nya, membayangkan hal itu akan terjadi.
"Tidak, jangan sampai dia keluar dengan cepat, ingat pil itu masih memanasi hormon nya, jadi bersabarlah" ucap Melviona dalam hati.
Melviona berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar mandi, hingga setengah jam pria itu masih belum keluar "tenanglah, dosisnya tinggi. Pasti butuh waktu lama untuk meredakan nya" ucap nya lagi.
Melviona pun memutuskan untuk duduk sebentar di atas ranjang menunggu Alyan selesai sambil membaca laporan yg terus-terusan ia bawa kemana mana.
Kriiing! Alarm ponselnya menariknya dari alam mimpi.
04.00
'😊🌞Waktunya beraktivitas 🌞😊'
Begitu lah label alarm ponselnya.
Melviona mematikan nya dan menggeliat. Oh, tidak. Aku ketiduran, begitu pikir nya saat melihat suasana pagi yg tak biasa.
Ia melihat dirinya di balut selimut bewarna abu-abu dengan garis horizontal dan vertikal yg bersatu membentuk kotak-kotak di selimut itu, sudah jelas itu kamar Alyan.
Ia menatap ke samping nya dan menemukan sosok seorang pria yg tengah tertidur memeluk pinggang nya. Ya, itu Alyan. Alyan Alfian.
Dengan hati hati Melviona memindahkan lengan yg melingkari pinggangnya itu dan berjinjit ke arah pintu.
"Dimana kuncinya?" Pikir Melviona, ia menoleh ke sana kemari dalam diam seribu bahasa dan menemukan apa yg ia butuhkan. Ternyata kunci itu berada di atas meja dekat ranjang.
Cklek, pintu nya terbuka. "Selamat tidur Alyan, semoga kejadian kemarin tak melintas di pikiran mu" harap nya dalam hati sebelum mengunci pintu kamar pria itu lagi.
Kriiing! Alarm digital berbunyi dengan kencang nya. Haah~seperti biasa, terasa berat baginya untuk meninggalkan kasur empuk di pagi buta.
Ia memasuki kamar mandi dengan mata yang masih belum siap terbuka, mengambil sikat gigi dan menyikat giginya, lalu berkumur dan mencuci mukanya.
"Apa ini? Seingat ku aku mengenakan sweater bewarna hijau kemarin, tapi kenapa sekarang baju tidur? Siapa yang membawa ku kekamar ku ya" banyak pertanyaan yang membuat hati Alyan merasa ganjal. Sepertinya harapan Melviona terkabul, Alyan tak mengingat nya.
Sesampainya di sekolah, kejadian aneh membuat Alyan kembali bingung dengan sikap Manda yg diam memerhatikan papan tulis "dia sarapan apa tadi pagi? Tidak biasanya dia serius belajar dan tak berbicara padaku" pikir Alyan.
"Manda" panggil Alyan.
"...."
"Kamu sarapan apa tadi pagi?" Alyan memutuskan untuk bertanya.
"...."
Astaga, ini sudah yg kedua kalinya 😱
"Man_"
"Pak, saya izin ke toilet" Manda berdiri dari bangku nya.
"Silahkan" balas sang guru.
"Di-dia bahkan menghindari ku?!😧" Pikir Alyan.
Kriiing! Bel istirahat berbunyi dan seperti biasa, Alyan, Brave, Morsy dan Darlen berkumpul di satu meja kantin dengan masing-masing nampan makanan yg berisi di hadapan mereka.
"Mana Manda?" Tanya Darlen.
Alyan meletakkan sendok nya, dan memasang wajah serius. "Nah, aku mau tanya soal dia juga nih" Alyan buka bicara.
"Kenapa?"
"Tadi pagi, mata pelajaran pertama, Manda diaaaaam terus"
"Jangan bilang dia mulai serius belajar" Darlen mulai menduga duga.
"Benar"
"Hah?! Astaga, apa kau bisa melihatnya Brave? Bulu kuduk ku berdiri"
"Dan yg paling paling anehnya, untuk pertama kalinya Manda mengacuhkan ku"
"Apa?!"
"Sungguh, aku memanggil nya berkali kali dan dia seperti tak dengar, padahal dia kan duduk di sebelah ku, dia juga menghindari ku, mungkin itu yang membuatnya tak ikut bergabung bersama kita"
"katakan, apa kau buat salah padanya?"
"Tidak kok"
"kau benar-benar lupa kejadian kemarin?" Kini Morsy buka bicara.
"Eh, memang nya kemarin ada kejadian apa?" Tanya Darlen.
"Sudahlah, lebih baik jangan diingat. Kau sangat memalukan kemarin" timpal Brave.
"Apa kemarin aku menelanjangi diri ku di hadapan para gadis-gadis yang ada di sana?!"
Brave menggeleng pelan "tidak, aku akan mengganggap mu orang asing bila kau melakukan hal itu"
"Lalu apa?!"
"Kemarin kau memeluk Mel_" Brave langsung menutup mulut Morsy dengan tangan nya lalu menggeleng.
"Lepaskan" Morsy menepis tangan Brave "memang nya kenapa kalau dia tau yg sebenarnya?! Dia memang tidak pantas untuk Manda!" Morsy berteriak tak jelas.
"Lalu dia akan percaya begitu saja hah?"
"Dia memang harus percaya, dan bukan hanya aku yg menyaksikan itu, kau, Manda dan teman teman nya juga ada di sana melihat dan mendengar semuanya!"
Brave menghela nafasnya "bagaimana pun cara mu menjelaskan nya, Manda juga tidak akan berpisah dari Alyan, walau Alyan memutuskan hubungan nya dengan Manda, tapi aku yakin Manda akan berusaha mempertahankan hubungan nya pada Alyan" ucap Brave "diam lah, Manda hanya akan tambah membenci mu bila tau kau yg membuat Alyan memutuskan hubungan dengan nya" lanjut nya.
Morsy termenung sejenak, menatap Alyan dan mendengus. Ia pun memutuskan untuk diam dan kembali melanjutkan makan nya.
"Woah! Jadi Morsy menyukai Manda 😯" Darlen yg baru mengetahui kenyataan "sejak kapan?!"
"....." Tak ada yang merespon Darlen, semuanya diam membiarkan Darlen yg ingin memuaskan rasa ingin tahunya.