
Tak lupa, saat di perjalanan Alyan membeli buah buahan dan cake.
Dan setibanya di Ruangan Kristian, ia mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Silahkan masuk" terdengar suara Melviona dari dalam yg mempersilahkan nya masuk.
"Alyan?"
"Jangan salah paham, aku terpaksa karena permintaan ayahku" ucap nya lalu menaruh barang-barang nya dia atas meja.
"Oh, kalau begitu sampai kan trimakasih ku kepada Presdir"
"Hm" jawab Alyan singkat lalu duduk di sofa.
"Mana minumanku?"
"Hm?"
"Aku datang kok nggak di jamu"
"Kamu mau minum apa, kopi, teh, apa susu?" Tanya Melviona.
"Kamu pikir aku masih minum susu?"
"Kristian minum kok"
"Aku beda sama adikmu, aku lebih tampan"
"Idih, tampan nggak membuktikan kalau kamu dewasa loh"
"Siapa bilang tidak, cepat buatkan aku kopi"
"Kopi? Oh, oke"
Tak lama kemudian kopi pun sudah di sajikan di depan Alyan.
"Jadi gimana?" Tanya Melviona yg sudah duduk di depan Alyan sambil memotong buah apel.
"Apanya? Kopi ini?"tanya Alyan balik.
"Bukan, soal perjodohan mu, aku tau loh kamu nggak datang di hari perjodohan mu"
"Dengar dari mana?"
"Ya....itu...di bilang nguping juga bukan sih, soalnya pas mereka bertiga ngobrol, suaranya kedengaran banget"
"Mereka bertiga?"
"Iya, Presdir, Sury dan ayah nya Sury"
"Kamu udah ketemuan sama Sury?"
"Udah, Minggu lalu di restoran yg dekat dengan RS ini, mereka bertiga makan siang di sana"
"Begitu ya... gimana? Cantik kan calon tunangan ku" puji Alyan.
"Cantik, dia orang nya manis, cocok banget sama kamu"
"Aku tau"
"Ngomong ngomong apa Manda dan yg lainnya sudah tau soal ini?"
"Mereka belum tau?"
"Belum"
"Gitu ya..."
Alyan kembali memandangi Melviona yg masih sibuk memotong apel. "ah, iya, Sury udah mulai nginap di villa hari ini" ucap Alyan sambil mengambil sepotong apel di atas piring.
Melviona akhirnya menghentikan kegiatannya dan menaruh pisau di atas meja. "jadi beneran tinggal ya"
"Maksud kamu?"
"Minggu lalu aku juga sempat mendengar Presdir, mengusulkan Sury agar mampir ke villa mu, dan ternyata dia beneran mampir, tinggal malah"
Ucap Melviona seraya mengelap pisau dengan tisu.
"Orang tua macam apa itu"
"Hm?"
"Kamu tau? Pas aku dengar dia nginap di villa aku sempat mikir 'Waakh...niat banget jadiin aku menantu' "
"Hahahaha, ayahnya mungkin sudah sangat menyukai mu"
"Tapi aku tidak, dia sama seperti orang tua yang tidak bertanggung jawab, apa dia nggak takut anaknya bunting?"
"Aku tau, tapi bagaimana kalau tiba-tiba aku di kasih obat?"
"Ya tinggal tahan aja, kalau nggak sana mandi, trus tidur"
"Kalau aku nggak bisa tahan? Maksud obat yang dia kasih dosis nya tinggi banget gimana?"
"Ya... kamu....kamu....aaah! Yg tinggal jaga jarak aja napa sih?! Susah banget di jelasin"
"Pfuut, hahahaha 🤣, lucu banget ngegoda kamu, imut banget tau nggak, hahaha"
"Heh, lucu banget ya😡"
"Ah, ngomong ngomong aku mau nanya, kamu siapa? suruh aku ngejauhin tunangan ku?"
"Hah? Maksud kamu apa sih?"
"Tadi kamu bilang jauhin kan?"
"Itu kan karena kamu orang nya was was banget, dasar gila, jangan jangan kamu lagi mikir aku cemburu lagi kayak beberapa hari yg lalu" ucap Melviona curiga.
"Ya kamu orangnya kayak lagi cemburuan, siapa yang nggak salah paham coba?"
"Hei💢!" Melviona meneriaki Alyan lalu melempari Alyan dengan sepotong apel di atas meja.
"Iya, iya, aku minta maaf"
Alyan mengacak-acak rambutnya yang telah dilempari apel oleh Melviona.
"Di candain malah marah"
"Canda kamu buat orang darting tau nggak!"
"Tuh kan, marah lagi, untuuung... calon tunangan ku bukan dia" celoteh Alyan.
"Siapa juga yang mau jadi tunangan mu?!
"Sury" jawab nya singkat.
"Heh! Aku jadi kasihan sama dia, bisa bisanya dia dapat pria sebodoh dan sok gantengan ini"
"Tapi aku emang ganteng"
"Narsis"
"Ya...itu kan Menur..." Di tengah tengah pembicaraan mereka, tiba-tiba ponsel Alyan kembali bergetar, dan saat ia mengecek ternyata panggilan masuk dari nomor tak dikenal.
"Siapa?" Tanya Melviona saat Alyan bingung mau menjawab panggilan itu.
"Nggak ada nama, nomor spam kali ya"
"Jawab aja dulu, mungkin kerabat jauh kamu lagi ganti nomor"
Alyan langsung menjawab panggilan itu, dan terdengar lah suara seorang wanita.
"Halo, kak?" Tanya wanita itu saat Alyan tak menjawab sapaan nya.
"Ah, i-iya, Sury kan?" Alyan memastikan.
"Iya, ini Sury. Sury hanya mau nanya, kapan kak Alyan pulang?"
"Oh, itu...ini aku mau pulang, kamu udah masak makan malam buat aku kan"
"Kok kak Alyan tau?"
"Ya tau dong, kamu kan calon tunangan ku" lanjut Alyan sambil sesekali melirik Melviona yg tengah termenung.
"Iya, kalau gitu aku tutup dulu ya" Alyan menutup panggilan teleponnya dan berdiri dari duduknya.
"Kalau gitu, aku pulang dulu"
"Eh, iya" Melviona juga ikut berdiri dan mengantar Alyan hanya sampai depan pintu ruangan.
🌺🌺🌺🌺🌺
Sesampainya di villa, Alyan kembali di sambut dengan bahagia oleh Sury.
Namun berbeda dengan sikap manis nya di telpon, ia melewati Sury begitu saja dan menaiki anak tangga.
"Kak?" Tampak wajah Sury kebingungan dengan sikap Alyan.
Alyan menghentikan langkahnya dan menoleh ke bawah ke arah Sury.
Ia menatap Sury tanpa ekspresi, lalu kembali menaiki anak tangga dan memasuki kamarnya.