I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 27


Melviona tengah mengganti spray ranjang Alyan. 


"Kamu lagi ngapain?" Tanya Alyan yg baru saja keluar dari kamar mandi memakai jubah mandi. 


"Lagi razia"


"Razia?"


"Haissh...itu mata masih normal kan?"


"Apaan sih, kamu kan bisa tinggal bilang"


Melviona tidak membalas, lalu tiba tiba, Alyan duduk di pinggir ranjang. 


"Kamu ngapain sih, bukan nya pakai baju, malah asik duduk di sini, sana minggir" ucap Melviona.


"aku lagi malas nih, aku istirahat bentar ya" ucap Alyan membaringkan setengah tubuhnya di atas ranjang nya.


Melviona hanya dapat menghela nafasnya melihat Alyan, kemudian ia meletakkan spray yg tak jadi ia pasang di atas ranjang Alyan.


ia berjalan ke arah dinding kamar Alyan yg hanya berupa kaca transparan, dan menutup nya dengan gorden


"besok siang, apa aku bisa keluar sebentar?" tanya Melviona.


"hm? kemana? sama siapa? untuk apa?"


"santai aja bisa nggak? aku mau makan siang bareng Farrel"


"nggak boleh"


"kenapa? kamu masih ingat masalah akhir pekan itu ya..."


".... soal itu, aku bohong kalau bilang nggak ingat, tapi... terlepas dari masalah itu, aku memang nggak mau kamu dekat sama dia"


Melviona kembali menghela nafasnya, dan berjalan ke arah Alyan kemudian duduk di samping Alyan, "aku nggak tau masalah kalian apa, tapi dia juga teman ku"


"tap..."


"mohon jangan libatkan masalah pribadimu, dalam kehidupan ku, aku merasa sangat terbebani dengan hal itu"


"aku ikut"


"ya?"


"aku juga mau ikut"


"tidak, akan bermasalah jika kamu ikut"


"memang nya aku berandalan"


"itu tau"


Alyan yg merasa kesal bangkit dari tidurnya dan kini sudah duduk di samping Melviona.


"kamu ahlinya buat orang DARTING ya"


"nggak juga kok, kamu terlalu memuji"


"haaah...ternyata aku memang harus menyerah soal adu argumen dengan mu"


"itu sudah sepantasnya"


"nih, tolong keringkan rambut ku sekalian" ucap Alyan melempar kan handuk pada Melviona.


"enak banget ya, suruh suruh orang, aku aja belum selesai masang spray" balas Melviona. 


"itu kan bisa nanti, jadi cepat keringkan rambut ku sebelum aku berubah pikiran untuk mengizinkan mu keluar besok siang"


"benarkah?!" seru Melviona. "aku bisa keluar besok! jangan bohong loh!"


"apaan sih, segitu senangnya ketemu dia?"


Melviona naik di atas ranjang, dan duduk di belakang Alyan, kemudian mulai mengelap rambut Alyan.


"sebenarnya ada masalah apa tadi siang?" tanya Alyan.


"hm? ada apa apanya?"


"jelas tadi siang ada masalah di tempat parkiran, memang nya aku segitu bodohnya percaya bahwa bekas tamparan orang, adalah akibat dari terbentur tiang?"


"ah, aha....itu....bukan masalah besar sih, cuma ada nyamuk yang bikin kesal aja, jadinya pas aku mau pukul, malah nyamuknya kabur, dan aku malah menampar pipi sendiri"


"haaah... walaupun kamu masih tetap berbohong, tapi ada satu hal yang aku mau kasih tau, kalau kamu itu payah banget untuk berbohong"


"uuukh mau kamu itu apa sih! dasar kepo!" ucap Melviona sembari menggosok rambut Alyan dengan keras.


"akh, sakit tau" ucap Alyan menoleh ke arah Melviona sambil memegang kepalanya. "padahal tadi udah nyaman nyamannya, malah di kasarin" lanjut Alyan.


"kamu tuh ya, nggak ngerti banget perasaan cewek" ucap Melviona memukul Alyan dengan handuk di tangannya.


"keringkan sendiri!" lanjut Melviona kemudian melempar kan handuk kepada Alyan dengan kasar.


"dia marah" pikir Alyan. 


"eh, gimana spray nya!" seru Alyan saat melihat Melviona keluar dari kamarnya.


"bodo amat!" balas Melviona dari luar.


keesokan harinya, Melviona mengantar Alyan ke  sebuah perusahaan film, untuk membicarakan lokasi syuting Alyan. 


kemudian Melviona yg sudah memberi kabar pada Farrel kemarin malam, langsung menuju restoran yg sudah mereka sepakati.


"Mel! sini" seru Farrel yg sudah duluan sampai.


"ah, maaf gw terlambat ya, gw traktir deh" ucap Melviona kemudian duduk di bangku yg ada di depan Farrel.


"nggak kok, gw juga baru nyampe, silahkan pesan saja makanan mu, gw traktir"


"ah, tidak, tidak apa-apa, kalau gitu kita bayar masing-masing aja"


"beneran nih? padahal gw kan yg ngajak makan"


"nggak, nggak papa"


setelah selesai memilih menu makanan,  Farrel membuka pembicaraan.


" Lo ada hubungan apa sama Alyan?" tanya Farrel.


"Alyan? jadi mereka udah saling kenal dong" pikir Melviona. "cuman rekan kerja doang kok, memang nya ada apa?"


"bukan apa-apa sih, tapi apa dia pernah bercerita tentang teman masa kecil nya?"


"oh, maksud kamu Manda? aku udah dengar semua dari para pelayan villa"


"bukan, bukan Manda, tapi..." Farrel termenung sebentar, menatap dalam mata Melviona.


"ada apa?" tanya Melviona yg merasa tidak nyaman dengan tatapan mata Farrel. "apa ada sesuatu di wajah ku?" tanya nya. 


"Tidak, maksud ku...ah, kapan Lo balik? Bentar lagi liburan semester kalian bakal usai kan"


"Iya, rasanya nggak sabar banget pengen sekolah, gw udah rindu banget sama buku pelajaran, pasti sekarang buku pelajaran gw yg di rumah sudah menumpuk debunya. Hmm, kira kira udah berapa Senti ya debunya terkumpul?"


"Baru juga di tinggal 3 mingguan, memang di dekat rumah ada pembangunan ya" ucap Farrel. 


"Hm? Nggak kok, kenapa emang nya?"


Farrel menghela nafasnya, dan mengelus rambut Melviona. "jadi orang nggak boleh kutu buku banget"


"???"


"Coba, sesekali menjalin hubungan dengan seseorang. Lo pasti nggak mau kan, kesepian sampai tua"


"Gw udah terbiasa kesepian, lagian kan ada Kristian, karna ada Kristian yg slama ini terus bersama gw, gw jadi tau bagaimana itu keluarga, yaaah walaupun kebiasaan kami kadang bertolak belakang" 


"Bukan kadang, tapi slalu, kebiasaan kalian slalu bertolak belakang, begitu juga dengan takdir kalian,... Melviona.." panggil Farrel kemudian menggenggam tangan kanan Melviona. 


"A-apa?" Tanya Melviona yg juga salting saat Farrel menggenggam tangan nya. 


"Kristian akan dengan cepat menemukan pasangan hidupnya, kemudian berpisah dengan mu dan membangun sebuah keluarga baru. Lalu, bagaimana dengan mu yg tidak memikirkan hal itu? Apa kamu tidak berencana untuk membangun sebuah keluarga juga?


"Hah? Ma-maksud Lo apa sih?" Tanya Melviona. "pake aku-kamu lagi" pikir nya. 


"Aku... bermaksud untuk mengajak mu pac..."


Drrrrt.... Drrrrt....


"Eh, mama nelpon" gumam Melviona saat melihat ponsel nya bergetar. 


"Halo, mah, ada ap..."


"Mel! Adik kamu! Adik kamu Mel...!" Seru yersia di telpon di sertai dengan isakan tangis nya. 


"Ada apa?! Ada apa sebenarnya?!" Tanya Melviona mengebrak meja dan sudah berdiri. 


"Adik kamu!, adik kamu!"


"Kristian kenapa mah?!"


"Kristian kecelakaan!!!"


"Apa?! Sekarang Kristian dimana?!"


"Kristian sudah di larikan di RS, kamu cepat menyusul, papa bakal kirim alamat nya" ucap Walzer. 


Melviona langsung berlari ke parkiran, kemudian alamat RS dimana Kristian di rawat sudah masuk, di ponsel nya. Saat Melviona mau masuk ke dalam mobilnya, Farrel langsung menahan pergelangan tangan Melviona.