I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 48


"Alyan, aku...."


"Apa?! Kamu begitu memperhatikan ku, mengkhawatirkan ku, menegur ku, menyemangati ku, kamu..! Kamu membuatku berpikir bahwa kamu menyukai ku, membuat ku berpikir lebih akan perasaan mu terhadap ku, membuat ku ingin melakukan lebih untuk mu, bahkan, bahkan membuat ku berpikir ingin mengikat mu terus di samping ku!!" Alyan mulai mencurahkan seluruh isi hatinya pada Melviona.


"Alyan, maaf...tapi aku tidak berpikir seperti itu, aku bersikap seperti itu padamu karena aku berpikir kamu adalah sahabat ku, melihat tingkah laku mu, membuat ku memiliki sosok Kristian yg lain dalam hidup ku, kamu... maksud ku kita... tidak boleh memiliki perasaan semacam itu"


"Tapi..!"


"Aku tidak akan membencimu, dan kuharap kamu juga tidak membenciku. Kita sahabat bukan?" Melviona mulai melepas genggaman Alyan di kedua bahunya, dan mengelus Wajah pria itu dengan lembut.


Namun Alyan langsung menepis nya "kau tau apa yg paling ku benci? Aku...aku merasa benci saat kau mengatakan kita bersahabat! Aku paling membenci hal itu, juga kau! Aku membenci mu! Di dunia ini, tidak ada yg paling ku benci dari pada dirimu! Kau membuat ku buruk di mata orang-orang yang ada di sekitar ku, kau membuat ku seperti orang yang tidak bertanggung jawab! Membuat ku seperti orang yang sungguh egois!!"


"Alyan, aku..."


"Keluar!"


"?!"


"Ku bilang keluar!"


Dengan cepat Melviona segera keluar dari mobil Alyan, dan dengan cepat Alyan memacu mobilnya pergi dari sana, meninggalkan Melviona.


Alyan pergi tanpa tujuan, ia terus saja melaju kencang tanpa henti, pikiran nya kacau, dan amarah nya meluap luap.


Namun, berbeda dengan hati kecilnya yang terasa sakit dan perih, yg membuat tak dapat membendung air mata yang juga ikut meluap.


"Hiks.... hiks... hiks..." Alyan mulai terisak tak dapat menahan sakit di hati kecilnya.


Air matanya terus mengalir membasahi pipinya, segala hal ia pikirkan untuk menghentikan derai air mata itu, namun tak kunjung patuh akan dirinya.


"Aakh! Sial!" Alyan kembali menyeka air mata yang membasahi pipinya.


Tik Tik Tik


Rintik-rintik hujan mulai turun dari langit mengenai sebagaian muka bumi, namun Alyan tak memedulikan hal itu, hingga yg awalnya hanya berupa gerimis, kini menjadi gemuruh hujan yang mengguyur dengan derasnya, di sertai kilatan petir yang menyambar langit hitam itu.


Ctar!


Lagi lagi petir memecah dengan suara yang sangat kencang.


Orang orang mulai masuk ke dalam rumah dan menutup pintu juga jendela, mengangkat jemuran dan memasukkan kendaraan ke teras rumah.


Begitulah keadaan saat itu, kini jalanan sepi, hanya ada sesekali mobil yg melintas, tak ada sepeda, atau pun motor yang melintas, hanya Alyan yg berbeda saat itu.


Alyan bahkan melanggar rambu lalu lintas, dengan mobil sport nya yg tak memiliki atap, ia terus melaju dengan kecepatan tinggi, menembus derasnya air hujan, dan dingin nya angin, entah mengapa suasana saat itu sama seperti malam, padahal jam baru menunjukkan pukul lima belas.


Ckiiit! PRAKK!!!


Alyan menabrak sebuah tiang listrik, bagian depan mobil nya hancur tak berbentuk, pecahan kaca mobil mengenai wajah tampan pria itu. Kini pria itu tak sadarkan diri di dalam mobilnya dengan darah di sekujur tubuhnya.


🌺🌺🌺🌺🌺


Sudah seminggu Alyan berada di rumah sakit, dan kini ia sudah bisa pulang dengan pengawasan dari keluarga nya.


Alyan di paksa ayahnya untuk tinggal di rumah utama, dimana ayah Alyan masih tinggal di sana bersama para pekerja yg mengabdi di rumah itu.


Saat Alyan memasuki rumahnya, semua orang terdekat nya sudah bersiap menyambut kedatangan nya dan mendoakan nya agar cepat sembuh. Rasanya Alyan kembali merasakan kehangatan keluarga semenjak ibunya meninggal.


Walaupun sesaat ia berpikir, orang yang sangat ingin ia jumpai tidak ada di sana.


Tok Tok Tok


"Tuan muda, sudah saatnya sarapan pagi"


Alyan segera keluar dari kamarnya dengan langkah pelan, menuruni anak tangga dan melihat ayahnya sudah duduk di meja makan menunggu dirinya.


"Ayah, selamat pagi" sapa Alyan.


"Slamat pagi, bagaimana tidur mu? Nyenyak?"


"Hm"


"Makan lah yang banyak, ayah ingin kamu bisa beraktivitas seperti biasa nya" ayah Alyan menyendoki makanan ke atas piring Alyan.


"Trimakasih yah" balas Alyan tersenyum.


"Alyan, akhir akhir kamu seperti seseorang yang tidak memiliki gairah hidup"


Sejenak Alyan menghentikan makannya, lalu kembali tersenyum "ayah, siapa yang masak sarapan pagi ini? Rasanya sungguh enak, aku jadi ingin makan tiga piring pagi ini" Alyan kembali menuangkan makanan di atas piring nya.


Sementara ayahnya hanya terdiam, ia tahu setiap senyum yang putranya tunjukkan hanyalah senyum yang paksa yg tak nyata.


Tentu saja, sebagai seorang ayah, Alfian merasakan aura putranya yg tidak seperti biasanya, selama seminggu Alyan berada di rumah sakit, ia selalu mendapati putranya itu termenung menatap keluar jendela, walau Alyan tidak menunjukkan kesedihan nya, namun sebagai seorang ayah yang menyayangi putranya, Alfian dengan mudah mengetahui bahwa ada yg membuat hati putranya itu rapuh dengan perlahan.


"Apa kamu mau pergi ke perusahaan bersama ayah?"


"Hm?"


"Haha, ayah tidak menyuruh mu untuk belajar bagaimana cara menjalankan perusahaan, Ayah hanya ingin kamu keluar jalan jalan"


"Tentu, aku akan bersiap siap dahulu"


Sesampainya di perusahaan, Alyan dan ayah nya di sambut dengan hangat oleh para karyawan, mereka menundukkan kepala setiap kali mereka menjumpai ke dua pria itu.


"Waaah, tuan muda tetap tampan ya"


"Iya, sudah lama sejak terakhir kali ia kemari"


"Apa dia akan menggantikan Presdir mulai hari ini?"


"Aku tidak tau, tapi bila itu memang benar, aku akan mengucap syukur selama masa hidup ku"


"Apa kau tidak punya kerjaan?"


"Maksud ku aku akan mengucapkan nya dalam hati"


Alyan dan ayah nya memasuki ruangan yang sudah hampir menjadi tempat tinggal ayahnya di perusahaan itu. Kenapa tidak? Selama 13 jam, ayahnya berada dalam ruangan kaca itu, itu pun belum terhitung jam saat ia lembur atau menginap di sana.


"Perkenalkan, ini salah satu sekertaris ku sekaligus tangan kanan ayah, panggil saja dia sekertaris Ian"


"Senang bertemu dengan Anda, tuan muda" pria bernama sekretaris ia itu mengulurkan tangannya dan segera di sambut oleh Alyan.


"Senang bertemu dengan mu juga"


"Alyan, kau bisa berkeliling bila kau mau, sekertaris Ian akan menemani mu" ayah Alyan menyarankan.


"Tidak, tidak perlu, aku akan berkeliling sendiri" Alyan segera keluar dari dalam sana.


"Jadi, bagaimana?" Ayah Alyan bertanya.


"Nona yg anda suruh selidiki tidak memiliki hubungan asmara dengan seorang pria"


"Benarkah? Sudah ku duga, dia memang menantu yang terbaik" tampak senyum kecil terukir di wajah Alfian.