
"Semuanya jadi sangat terasa asing ya. Terakhir kali aku kemari, suasananya sangat berbeda, aku tidak menyangka ternyata kamu sangat pandai dalam memilih dekorasi. Sungguh, berbeda dari yang terlihat, ternyata pilihan mu sangat dewasa" puji Alfian.
"Anda sungguh berlebihan, Presdir. Saya hanya berusaha yg terbaik untuk perusahaan" ucap Melviona.
"hohoho, ngomong ngomong, bagaimana dengan produk yg akan di luncurkan kali ini?"
"semuanya berjalan lancar dan cepat, minggu depan produk itu akan di perkenalkan dan diluncurkan"
"wah... sungguh luar biasa, kalau saja kamu putri kandung ku, sekarang aku sedang bersantai di Hawai"
"..."
"sayang sekali bukan, aku tidak menyangka, ternyata kamu sudah punya kekasih"
"eh"
"Stevan yg memberitahu ku, dia bilang dia melihat tanda c*p*ng di leher mu pagi itu, dan kamu mengatakan itu dari kekasih mu. Tapi aku masih penasaran, siapa kekasih mu itu?"
"ehmm, itu..."
"apa aku mengenal nya?"
"ya, maksudku tidak! anda tidak mengenal nya, dia orang Indonesia"
"orang Indonesia? siapa dia? kenapa kalian bisa bertemu di sini?"
"aaa...itu karna dia...dia juga punya urusan bisnis kemari"
"oh, begitu" Alfian menghela nafasnya.
"Dimana Alyan? Aku langsung kemari saat pesawat mendarat"
"Saya pikir dia sedang berada di rumah saat ini"
"Aku dengar dia sudah punya kekasih"
"...saya tidak tau"
"benarkah? apa kamu langsung pulang sehabis kerja?"
"ya"
"syukurlah"
"hm?"
"kupikir mereka sudah tinggal bersama, ternyata tidak ya"
"memangnya kenapa jika mereka tinggal bersama?"
"ya.. kenapa ya? mungkin karna anak muda zaman sekarang tidak dapat mengontrol diri mereka, jadi aku takut mereka akan melahirkan anak di luar nikah"
"...apa yang akan anda lakukan bila anak itu benar benar lahir?"
"uhm, tentu saja diaborsi sebelum lahirkan?"
"tapi anak itu tidak bersalah"
"muncul di saat yang tidak tepat adalah kesalahannya"
"anak itu tidak tau apa-apa, Presdir. Dia_" Melviona menghentikan ucapannya saat Alyan datang.
"ayah" Alyan sedikit terkejut melihat kehadiran ayahnya di ruangan Melviona.
"Panjang umur, kami baru saja membicarakanmu"
"Aku?" Alyan berjalan kearah mereka dan duduk di samping Melviona.
"Ayah dengar kau sudah punya kekasih"
Mendengar perkataan ayahnya, Alyan terdiam sejenak dan menoleh kearah Melviona yang juga diam sembari melihat kearah lain.
"Nona, sudah waktunya" Stevan mengingatkan.
"Baik" Melviona berdiri dari duduknya.
"Mau kemana?" Tanya Alyan.
"Hari ini nona ada jadwal meeting dengan rekan bisnis" jelas Stevan.
🌺🌺🌺🌺🌺
"Maaf membuatmu menunggu" seorang wanita memasuki ruangan VIP yang ada di restoran itu dan Melviona bersama sekertarisnya pun berdiri menyambut kedatangan wanita itu.
"Bukan masalah, kami juga baru saja sampai" ucap Melviona.
"Mari duduk" wanita itu mempersilahkan Melviona bersama sekertarisnya duduk.
Setelah selesai memesan makanan, mereka pun memulai perbincangan mereka.
"Saya bukan apa-apa tanpa kalian yang mau menjadi rekan bisnis saya dalam membentuk perusahaan parfum yang kini sedang berjalan"
"Anda sungguh rendah hati ya, tapi saya bersungguh-sungguh, kemampuan anda sungguh luar biasa, tidak heran Presdir D.A menjadikan mu wakilnya, padahal anda lebih muda dibanding putranya bukan"
"Ini berkat dukungan anda sekalian, Ny. Jia"
Wanita itu tersenyum, menyadari Melviona yg merasa tidak nyaman dengan pujian dan perbandingannya terhadap putra Alfian.
Tok tok tok, seseorang mengetuk pintu.
Dan mereka masuk setelah dipersilahkan.
Para pelayan itu beriringan masuk memenuhi meja makan dengan makanan yang dipesan dan segera pergi.
Namun, baru saja mereka menutup pintu, seseorang kembali membukanya.
"wah, aku tidak salah dengar. ternyata ibu ada disini" dengan girangnya Mei Yin masuk bersama seorang pria yang tak lain ialah Alyan.
"ibu?" Melviona bertanya dalam hati.
"Alyan? kau juga ada disini? ayo kemari, kita makan siang bersama" wanita itu memanggil Alyan yg berdiri didepan pintu.
Alyan tersenyum dan berjalan kearah mereka "minggir" satu kata yang membuat Stevan tersadar bahwa itu ditujukan padanya yang duduk di samping Melviona.
"apa kau tidak dengar?"
Stevan segera beranjak dari tempatnya dan duduk di kursi lain di samping Mei Yin, dan Alyan duduk di samping Melviona.
"eh, kak Melvi?" Mei Yin tersadar dengan kehadiran Melviona.
"apa kamu mengenalnya?" tanya Yun Wei ibu dari Mei Yin.
"ya, aku sering bertemu dengannya, dia pac, maksudku teman kak Alyan"
"oh, pantas saja Alyan begitu ingin duduk di sampingnya, aku sempat berpikir kau tidak ingin berada didekat ku"
"ah, maaf. aku hanya rindu makan bersama dengan Melviona, akhir-akhir ini dia sangat sibuk, jadi kami jarang makan bersama" Alyan tersenyum.
Mei Yin berbisik dikuping ibunya, dan tampak dari raut wajah Yun Wei yg terkejut mengangguk-ngangguk.
Kini ia tau apa yang sebenarnya terjadi diantara keponakannya itu bersama rekan bisnisnya.
Melviona tertunduk malu, menyadari tatapan Yun Wei yang mengisyaratkan bahwa tau semuanya, antara dia dan Alyan, hanya Stevan yang duduk dalam kebingungan disana.
"wah, saya tak menyangka dunia ini begitu sempitnya ya, Nn. Mel" Yun Wei tersenyum.
"ah, hahaha" Melviona hanya tertawa canggung.
"ternyata kak Melvi rekan bisnis ibu ya?"
"ya...dia rekan bisnis yang sangat langka, ngomong-ngomong kenapa kalian bisa tau ibu ada disini?"
"oh, tadi kami mau makan juga di restoran ini, tapi mendengar para pelayan yang membicarakan ibu, aku jadi bertanya ibu ada dimana"
"mereka bicara apa tentang ibu?"
"bukan apa-apa, cuma rasa kagum saja"
"benarkah? haha, ah ya mari makan, makanannya hampir dingin"
Ditengah-tengah aktivitas mereka, Mei Yin mengambil piring Alyan dan memotong steak milik Alyan kecil-kecil.
"makan pelan-pelan ya sayang" Mei Yin mengembalikan piring Alyan.
"ah, trimakasih"
"bukan masalah" Mei Yin tersenyum.
"kamu harus banyak makan sayur, makanan seimbang itu penting loh" Mei Yin menyuruh Alyan agar memakan sayur selada yang ada di piringnya.
Melihat hal itu, lagi-lagi Stevan merasa sangat kesal terhadap Mei Yin, entah mengapa setiap perilaku Mei Yin terhadap Alyan membuat nya naik darah.
Apa ia menyukai Mei Yin? tidak. jangankan hati yg berdebar, ia bahkan berniat melenyapkan Mei Yin dari pandangannya.
Kalau begitu, apa ia gay? ia menyukai Alyan? yah... tidak ada yang tau.
"saya permisi" Stevan berdiri dari duduknya dan keluar.
Menyadari Stevan yang keluar dari ruangan itu, Alyan berniat menyuapi Melviona.
Namun melihat Melviona yang tidak membuka mulutnya bahkan menoleh kearah nya Alyan terdiam sambil berpikir.
Ya, Stevan saja naik darah, apa lagi Melviona yang sepertinya bisa membelah piring nya dengan hentakan garpu dan pisau yang tak wajar.
"katanya hanya sepupu, tapi sepertinya bukan deh" Melviona merasa kesal dalam hati nya yg berapi-api.
Cup, Alyan mengecup pipi Melviona, membuat Melviona bersama dua orang wanita lainnya yg ada disana terkejut.