
"sudah berapa lama adikmu koma?" Tanya Delvin saat perjalanan pulang.
"Hm? Ah, itu...aku juga tidak ingat, adikku koma beberapa hari sebelum sekolah kembali dimulai" jawab Melviona.
"Begitu ya... ngomong ngomong, maaf soal yg tadi"
"Soal apa?"
"Aku nggak tau kalau sebenarnya kamu mau merahasiakan soal sekolah mu"
"Ah..itu ya, tidak apa-apa"
"Hm?"๐
"Lagian, aku juga mau beritahu mereka, hanya saja tadi bukan waktu yg tepat, kamu udah liat kan respon orang tua aku gimana tadi" ucap Melviona tersenyum kecil.
"Maaf" ucap Delvin sambil mengelus tengkuknya.
Melviona hanya tersenyum, sambil melayangkan pandangannya ke arah lain hingga pandangan nya tertahan saat melihat pria berjas hitam di depan sebuah restoran bintang lima.
"Alyan๐คจ"gumam Melviona dan masih dapat di dengar oleh Delvin.
"Hm? Alyan?" Delvin melihat sekelilingnya dan memang benar, ia melihat Alyan dengan pakaian yang tak biasa. "tumbenan dia pakai jas malam malam gini"
"Kenapa?"
"Biasanya tuh, dia make jaket, nggak peduli siang malam dia hobinya make itu terus"
"Oh" Melviona terus menatap gerak gerik Alyan, hingga ia tersadar mata mereka saling berpapasan.
Melviona dengan cepat mengalihkan pandangannya dan mempercepat langkahnya di ikuti oleh Delvin.
Sesampainya di RS, Melviona sudah tidak melihat ke dua orang tuanya lagi dan Dr.Chris.
"Semuanya kemana" gumam Delvin.
"Mungkin dah pulang, kamu juga cepat pulang sana"
"Kok gitu"
"Udah malam tau, nggak liat apa sekarang jam berapa"
Delvin melihat jam tangannya dan ternyata sudah pukul 18.45.
"Belum terlalu malam kok"
"Udaaah sana pulang"
"Galak amat sih" gerutu Delvin sambil berjalan ke arah pintu. "tapi tetep manis kok" lanjut nya kemudian bergegas keluar.
"Nih anak kayak mau di hantam ya" gumam Melviona.
Ia melihat kotak makanan di atas meja, dan tau bahwa itu dari ibunya, dan Dengan cepat Melviona menghabiskan makanannya tanpa sisa.
Hingga beberapa saat kemudian, setelah Melviona menghabiskan seluruh makanan nya, ia baru tersadar bahwa tak ada air di dispenser.
Melviona merasa sangat kesal, di tambah dengan kerongkongan nya yg semakin mengering ingin di banjiri dengan air. Tanpa pikir panjang, Melviona berjalan keluar untuk membeli air di supermarket terdekat.
Setelah membeli beberapa botol air putih, Melviona langsung pergi ke luar supermarket. diperjalanan pulang, Melviona meminum air sambil berjalan.
Buk!
Melviona menabrak seseorang, hingga membuat botol minum yg tengah ia minum tertumpah di pakaian orang itu.
"Viona?"
"ah, A-Alyan?!" Melviona terkejut bahwa pria itu adalah Alyan. "ma-maaf, buka saja jas mu, aku akan mencucinya"
"tidak perlu" balas Alyan dengan suara lesu lalu berjalan pelan meninggalkan Melviona.
"dia kenapa lagi?๐" Melviona yg merasa aneh dengan tingkah Alyan, langsung mengikuti nya.
"kamu ada masalah apa?" tanya Melviona yg kini berjalan di samping Alyan.
Alyan tak menjawab, ia hanya terdiam dengan raut wajahnya yg kelihatan murung.
"hei, Alyan?" panggil Melviona.
"..."
"halooo! ada orang nggak~!โ
Alyan tetap saja tak menyahut, hingga Alyan duduk di sebuah bangku yg ada di pinggir jalan yg sepi.
"Mel" panggil Alyan yg kini mau bersuara.
"apa?" tanya Melviona yg kini sudah duduk di samping Alyan.
"bagaimana pendapat mu tentang pertunangan di masa sekolah?"
"hm? memang nya kenapa?"
"entahlah, aku cuma mau tau"
"begitu ya..." raut wajah Alyan bertambah murung.
"aku sempat melihat mu berdiri di depan restoran bintang lima tadi"
"oh, aku juga melihat mu... bersama pria brengsek itu"
"kok kamu gitu sih๐? Delvin tuh anak nya baik loh, kamu harus nya bergaul sama anak kayak dia"
"jadi maksudmu pergaulan ku tidak baik?"
"bukan, bukan begitu maksud ku, aku han.."
"Viona, aku slalu tak mengerti dirimu, beberapa hari yang lalu kamu mengasari ku, lalu memusuhi ku dan tidak ingin berteman dengan ku lagi, kemudian kamu kembali mengajak ku berbicara seakan akan tak terjadi sesuatu di antara kita"
"hm? maksud kamu apa sih? sejak kapan aku memusuhi mu?"
"bukan nya tadi di sekolah kamu hanya diam saat aku memastikan kita masih berteman"
"aku diam bukan artinya aku tidak ingin berteman lagi dengan mu"
"jadi.." Alyan menatap lekat Melviona dengan penuh harapan.
"ya jadi, kita masih berteman kan"
seketika raut wajah Alyan berubah drastis, ia mulai tersenyum sendiri sambil sesekali melirik Melviona.
"hmm...jadi..apa sekarang kamu bisa menceritakan apa yang terjadi?" tanya Melviona.
"ayolah, bukan saat nya menceritakan hal konyol saat ini" ucap Alyan sambil tersenyum.
Melihat Tingkah Alyan yg membuat merasa aneh, ia langsung beranjak dari duduknya.
"eh, mau kemana?"
"pulang" jawab Melviona ketus.
Alyan pun langsung menyusul Melviona "kamu marah?"
"nggak"
"waduh, kamu beneran marah๐ya"
"iiih...kamu apaan sih, aku nggak marah tau๐ขโ
"lah, barusan kamu neriakin aku kan"
"pulang sana ah"
"aku anterin ya"
"nggak usah"
"kalau gitu kamu anterin aku"
"enak aja"
keesokan harinya...
Alyan membaringkan kepalanya di atas meja, sambil menatap keluar jendela.
"haissh... padahal baru baikan kemarin, masa hari ini nggak ada matematika sih" gerutu Alyan dalam hati.
"Alyan" panggil Manda yg kini duduk di tempat Melviona dulu.
"๐คจ?"
"mata kamu jeli ya, tau banget kalau hari ini aku Makai make up merek baru" lanjut nya.
"hah?" Alyan langsung bangun dan memperbaiki duduknya. "iya ya? aku nggak tau" jawab Alyan membuat Manda merasa agak kesal.
"nggak tau gimana sih, dari tadi kamu Mandangin aku Mulu"
"maaf tapi...aku lihat nya keluar jendela" balas Alyan sambil menunjuk ke arah jendela kaca besar di samping Manda.
"iiih! kamu sengaja ya!๐ข"
"nggak kok, SUMPAH AKU LIAT NYA KELUAR JENDELA"
Manda tak membalas, ia kembali melihat ke depan dengan raut wajah kesal.
"aduuuh...nanti make up nya rontok loh"
"๐ค๐ข"
"ahahaha, aku becanda kok, memang benar tadi aku liat kamu bukan keluar jendela"
mendengar hal itu, akhirnya Manda kembali melihat Alyan yg tersenyum padanya. "tuh kan, jangan jangan kamu suk..."
kriiing!๐
"bel istirahat! aku keluar dulu ya~"