
Hari sudah semakin malam, dan Melviona masih belum beranjak pergi dari rumah sakit, hingga akhirnya ia menemukan titik temu dan memutuskan untuk menginap di RS.
Dan keesokan paginya, Melviona cukup kagum dengan dirinya sendiri yg terbangun tepat pukul 07.00 pagi, padahal ia belum memasang alarm di ponselnya.
Cup, sebelum berangkat kerja, Melviona mengecup kening Kristian dengan lembut.
🌺🌺🌺🌺🌺
"Alyan? Kenapa kau malah berada di sini? Kau bolos?" Alfian sedikit terkejut melihat kedatangan Alyan yg kacau balau dengan rambut bagaikan sangkar burung.
"Yah..."
"Ya? Ada apa dengan mu?"
Alyan mendekat ke arah meja ayah nya "aku mau berhenti sekolah"
"Apa?!!"
"Aku tidak punya semangat belajar"
"Lalu bagaimana dengan perusahaan kita?! Apa kau sudah menyerah!?"
"Justru sebaliknya, aku mau fokus saja pada perusahaan"
Alfian termenung melihat putranya itu "apa karna kejadian dua hari lalu?" Pikir Alfian.
"Tidak boleh, kau hanya akan membuat perusahaan malu" ucap Alfian penuh penegasan.
"..."
"Para pemegang saham tidak akan yakin dengan potensi mu dan memilih untuk bekerja sama dengan perusahaan lain"
Alyan menghela nafas panjang nya dan berbaring di sofa yg ada di sisi ruangan dengan tatapan sayu menatap langit langit ruangan. Sedangkan Alfian hanya terdiam menghadapi tingkah putra nya itu.
"Ayah dengar, kau sudah putus dengan Manda"
"Hm" jawab Alyan singkat.
"Siapa yang minta putus?"
"Manda"
"Manda? Wah, padahal ayah pikir dia begitu jatuh hati pada mu"
"Tau ah"
"Ah, iya. Bagaimana dengan konser lagumu?"
"Di batalin"
"Siapa? Padahal album lagu yg akan kamu rilis itu sangat di nanti-nantikan loh"
"Aku yg batalin. Aku malas"
"Haissh, baru saja kembali ke dunia hiburan, sudah keluar lagi kah?"
"Sudah"
"Kenapa?"
"Malas, wajah tampan ku terlalu mahal untuk di jual di layar lebar"
"Padahal kau sungguh terkenal loh"
"Ya...apa boleh buat, aku juga mau lanjutin usaha ayah"
Alfian menghela nafasnya "bagaimana bisa aku mempercayakan perusahaan ku ini pada anak ku yg malas"
"Aku tidak seperti yang ayah pikirkan"
"Ya, ya, ya, terserah kau saja, toh aku masih punya gadis yang bisa diandalkan"
"Siapa? Melviona?"
Tok tok tok
"Presdir"
"Panjang umur, kami baru saja membicarakan tentang mu Melviona"
"Saya?"
Mendengar nama Melviona di sebut, membuat Alyan kaget dan terlonjak jatuh ke lantai.
"Dia disini?" Pikir Melviona.
"Kemari lah" Alfian berdiri dan berjalan ke arah sofa diikuti oleh Melviona.
"Silahkan duduk"
"Trimakasih" Melviona duduk di sofa panjang yg berhadapan dengan Alyan.
"bagaimana dengan liburan mu?" Tanya Alfian.
"Liburan?" Melviona merasa bingung "saya tidak terlalu menikmati nya karna fokus pada proyek yg saya kerjakan"
"Sayang sekali, padahal kamu bisa pulang dua bulan lagi kemari"
"Saya tidak terlalu familiar dengan kota lain, oleh karena itu saya langsung pulang setelah menyelesaikan pekerjaan saya. Ah ya, apa Presdir akan menghadiri acara pembukaan hotel nya?"
"Uhmm, harus ya?"
"Tentu saja, orang orang begitu menantikan kehadiran anda"
"Aku tau, masalah nya... dokumen dokumen itu membuat mataku sakit" ucap Alfian sambil menunjuk tumpukan dokumen yg ada di atas mejanya "seberapa tekun nya aku untuk menghilangkan dokumen itu dari pandangan ku, tapi seseorang slalu saja datang dan menaruh dokumen baru di sana"
"... biarkan saya saja yang mengurus perusahaan yang ada di sini, Presdir bisa mempercayakan nya pada ku dan berangkat ke Los Angeles besok pagi"
"Hei! Kepercayaan diri itu juga punya batas! Apa kau tidak lihat, tumpukan dokumen itu?" Entah mengapa Alyan merasa kesal dengan Melviona.
"Apa yg ku lakukan? Kenapa aku marah?" Pikir Alyan yg tersadar akan ucapan nya barusan.
Tampak dari sudut bibir Alfian yg sedikit terangkat ke atas, dan sebuah ide yg dipikirnya cemerlang melintas begitu saja.
"Benar, aku harus mengikuti acara pembukaan hotel mewah ku itu, dan kupikir kamu bisa menuntaskan dokumen yg menumpuk itu dengan bantuan Alyan"
"Ha?!" Sontak Alyan terkejut dengan perkataan ayahnya, begitu juga Melviona yg berpikir, mencari tau apa yang ada di pikiran Alfian.
"Alyan sudah belajar banyak, hanya butuh asahan saja darimu. Biasakan?"
"saya..." Melviona sesekali melirik ke arah Alyan, bagaimana bisa ia langsung menyetujui ide Alfian setelah mengingat kejadian yang memalukan itu.
"aku bisa sendiri" ucap Alyan "tidak perlu repot-repot"
"aku akan memastikan tidak ada kesalahan, ayah bisa mempercayakan nya pada ku"
"Bagaimana bisa ayah mempercayakan nya pada mu, hobi mu di dunia hiburan saja malas, apa lagi ini"
"Aku sudah bilang, aku tidak seperti yang ayah pikirkan! Aku adalah ahli waris perusahaan ini, bukan dia!" Alyan berdiri menunjuk Melviona.
"Aku akan melakukan kewajiban ku, dan tidak boleh ada yang menggangguku TITIK!" Alyan berjalan keluar ruangan meninggalkan ayah nya dan Melviona di dalam sana.
"Ah, maaf. Akhir akhir ini dia me_"
"Tidak apa-apa"
"Jadi.. soal ke Los Angeles"
"Presdir tetap bisa pergi, saya akan mengawasi tuan muda"
"Oh ayolah, kau sudah ku anggap seperti putri ku sendiri, jadi jangan panggil Alyan dengan sebutan Tuan muda lagi, panggil saja namanya langsung"
"Baiklah"
"Kalau begitu semuanya ku serahkan kepada mu, tolong jaga Alyan ya" Alfian berdiri dari duduknya.
"Eh, ba-baik" ucap Melviona yg juga ikut berdiri "saya pamit undur diri" Melviona membungkuk.
"Baiklah"
Melviona berjalan keluar, dan memasuki lift yang baru saja terbuka "tolong jaga Alyan? Apa maksudnya itu? Putranya sudah sebesar itu, di jaga bagaimana lagi?" Pikir Melviona.
Ting! Lift terbuka bersamaan dengan notifikasi SMS yg muncul di layar ponselnya. Melviona keluar dari sana sembari mengecek ponselnya, ternyata pesan dari orang tidak di kenal.
Aku menunggu mu di cafe dekat sekolah. -Manda-
"Manda? Dia tau nomor ponsel ku dari mana?" Gumam Melviona.
Tanpa pikir panjang, Melviona pergi ke tempat yang di beritahu oleh Manda.
Di sana Manda sudah duduk di salah satu meja bulat dengan jus jeruk di depan nya.
"Udah datang" Manda melepas mulutnya dari sedotan minumannya saat melihat Melviona menghampirinya.
"Ada apa?" Tanya Melviona yg kini sudah duduk di depan Manda.
"Nggak ada apa-apa" jawab Manda santai.
"Mau minum apa?"
"...."
"Kalau gitu jus jeruk aja deh" ucap Manda saat Melviona tak menjawab pertanyaan nya.
"Pelayan" Manda memanggil salah seorang pelayan.
"Ya nona?" Pelayan itu datang dengan buku kecil dan pulpen yg slalu ia bawa bawa.
"Jus jeruk satu, itu saja"
"Baik" pelayan itu kembali pergi.
Dan suasana hening kembali melanda.
"Apa hari ini kamu sibuk?"
"Ya"
"Sayang sekali, padahal aku ingin mengajak mu berbelanja"
"Aku tidak terlalu suka berbelanja"
"Oh, aku baru tau kalau ada wanita yang kurang suka berbelanja"
"Aku berbelanja secukupnya saja"
"Secukupnya? Untuk apa hemat, toh pendapatan mu pasti sangat besar kan?"
"Tetap saja, aku lebih suka di rumah"
"Dasar anak rumahan"
"Itu lebih baik dari pada berkeliaran seperti tak punya rumah"
"Uuukh..." Tampak Manda berusaha menahan emosi nya "mari berteman" Manda mengulurkan tangan kanan nya ke depan Melviona.
"Untuk apa?" Tanya Melviona.
"Untuk apa, apanya? Aku hanya mau berdamai dengan mu"
"Oh, begitu. Tapi kenapa tiba-tiba?"
Manda menurunkan tangannya dan melipat kedua tangannya di atas meja sambil menatap jus nya.
"Sebenarnya...sejak awal aku membenci mu hanya karna Alyan terus membicarakan mu pada ku?"
"Alyan? Kapan?"
"Ya... Sekarang nggak lagi"
Tiba-tiba seorang pelayan datang "silahkan minumannya" ucap pelayan itu dan di balas oleh senyum Melviona.
"Sudah sangat lama sekali, tepatnya setahun setelah ibunya meninggal, di mana pertama kalinya aku bertemu dengannya dan jatuh cinta pada pandangan pertama"
"Bukan nya kalian masih anak SD saat itu?"
"Hei, zaman sekarang anak TK juga udah punya pacar tau"
"Masa sih?!"
"Makanya jangan dirumah terus"
"Wah... padahal aku belum pacaran di umur segini"
"Aku juga baru pacaran sama Alyan, dia pacar pertamaku. Tapi sayangnya, belum setahun kami udah putus"
"Kalian udah putus?"
"Iya...makanya kamu bisa mengejar nya sesuka hati mu"
"Hah?"
"Walau hanya sebentar, tapi aku bersyukur pernah menjadi kekasihnya" ucap Manda "aku sadar, ia memperlakukan ku sama setiap harinya, seperti sahabat yg di beri label kekasih"